Rabu, 06 Mei 2009

-AIR MATA CINTA-

Ia menetes lagi. Air yang dulu begitu sulit kutemui, bahkan dari diriku sendiri. Masa – masa remaja adalah saat di mana aku begitu merindukan air mata. Aku memang sulit menangis. Bahkan bisa dibilang, aku nyaris tak bisa menangis setelah masa balitaku berakhir.
Aku masih ingat. Saat itu usiaku 8 tahun. Bersama anak – anak tetangga sebayaku, aku selalu menghabiskan waktu sore di kebun belakang rumah. Kami senang bermain petak umpet di balik semak dan pohon – pohon yang besar. Tak jarang pula kami beradu panjat pohon. Siapa yang bisa meraih dahan tertinggi, dialah pemenangnya.
Aku paling menyukai permainan ini. Dan di antara teman – teman perempuanku saat itu, akulah yang paling hebat. Tapi aku belum pernah bisa mengalahkan satu orang teman lelakiku. Kami biasa memanggilnya dengan Aan, begitu saja.
Dia selalu mengalahkanku di detik – detik terakhir pijakan ini hendak menggapai puncak. Aan memang lincah dan gesit. Gerakannya seakan tak pernah meleset, sekalipun dahan yang dipijaknya bergoyang karena ukurannya yang kecil dan letaknya yang cukup tinggi dari permukaan tanah. Aku tak pernah mau kalah dengannya. Setiap ejekan dan sindiran darinya, membuatku selalu berusaha dan berjuang lebih, dan lebih lagi. Karena ‘keakraban’ kami pada dahan – dahan pohon inilah, teman – teman saat itu menjuluki kami ‘kera jantan dan kera betina’. Dan si kera jantan inilah, yang selalu membuatku menjadi nomor 2.
Sore itu, aku begitu berambisi mengalahkannya. Kupingku sudah panas dengan semua celotehnya yang meremehkanku. Tinggal satu dahan lagi, dan.... hup! Berhasil! Aku mendahuluinya meraih dahan ini. Tapi belum sempat aku bersorak girang, pohon rambutan yang biasanya begitu bersahabat denganku ini, tiba – tiba mengeluarkan bunyi ‘krak’ yang cukup keras. Lalu dalam hitungan sepersekian detik, dahan yang kupijak sekaligus tubuh mungilku, terjun bebas ke bumi.
Yang kudengar saat itu hanya teriakan teman – teman. Dan kira – kira beberapa detik kemudian, sepasang tangan kecil menangkap tangan kiriku. Wajah pemilik tangan itu pucat khawatir, namun matanya tetap menyebalkan.
Dasar, betina ceroboh!
Belum sempat aku membalasnya, tubuhku sudah sukses mencium tanah. Tangan kiriku yang berkeringat tak mampu menahan genggaman tangan Aan. Semua teman langsung mengerubungiku. Ada yang berteriak histeris, ada yang menangis, ada pula yang hanya diam tak mampu bersuara. Semuanya panik. Aku yang saat itu berlumur darah di dahi, tangan, dan kaki hanya bisa meringis. Tak sedikitpun air mata kurasakan jatuh mengalir di pipi. Bahkan saat mengetahui bahwa kaki dan tangan kananku patah, sesaat setelah ayah menggendong dan membawaku ke klinik.

Itu adalah salah satu kenangan tentang betapa sombongnya mataku untuk menyapa air mata. Namun kini, kesombongan itu mulai luluh. Aku jadi begitu mudah bahkan sering berair mata. Mungkin ini bisa menjadi hobi baruku. Ya, kini aku jadi gemar menangis. Setelah aku tahu bahwa air mata jauh lebih bisa membuat hati ini lega dan tenang dibanding berteriak – teriak di alam bebas. Setelah aku sadar, bahwa menangis juga mampu menghadirkan kenyamanan, selain hanya berkeluh kesah pada lembaran – lembaran kertas.
Kau pasti ingin tahu mulai kapan aku jadi mudah menangis. Jawabannya, cukup membuatku malu dan bersemu merah. Sejujurnya, aku mulai mengenal air mata lagi (tentunya setelah masa balita dulu) saat dia hadir dalam hidupku. Dia yang mampu hadirkan senyum dan tangisku dalam satu waktu. Dialah lelakiku. Lelaki hebat yang kusayangi dan selalu kutatap senyumnya setiap ku membuka mata dan menyapa pagi. Dialah suamiku tercinta.
Dan, tidakkah kau penasaran tentang siapa lelaki yang berhasil merobohkan dinding - dinding pertahanan air mataku ? Kini akan kumulai untuk mengisahkannya.

Lima tahun yang lalu, kami tak sengaja berjumpa di sebuah even tentang fotografi. Kehadiran seorang fotografer nasional sekaligus lokasi acara yang sengaja dibuat outdoor, membuatku yang mencintai alam liar dan dunia fotografi semenjak SMP, tak ragu untuk segera mendaftarkan diri.
Acara berlangsung sehari penuh dan aku begitu menikmatinya. Hingga tiba di satu sesi acara yang mengharuskan setiap peserta mempraktekkan langsung materi yang sudah didapat sehari tadi. Learning by doing.
Tanpa ragu mataku menerawang liar. Mencoba menemukan ‘spot - spot’ unik sekaligus mencari angle ter-apik. Dan sebuah pohon tua yang cukup besar, mencuri perhatianku. Dari sana, kuyakini target yang aku buru dari tadi akan terekam dengan indah. Anglenya cukup bagus, dan pasti landscape ku nanti akan mencuri decak kagum orang – orang yang hadir di sini.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk mencapai bagian tengah pohon tua ini. Kepiawaianku memanjat saat masih kecil, masih tersisa hingga kini. Setelah mendapat pijakan yang nyaman, kukeluarkan Canon EOS 30D ku dari sarungnya. Aku rekam dan abadikan lukisan hidup di hadapanku sambil tak henti – hentinya berdecak kagum. SubhanAllah... sedemikian indah ciptaan-Nya. Lantas bagaimana indahnya Sang Pencipta ?

Tiga puluh menit bertengger di atas pohon, cukup membuatku pegal. Hingga seorang lelaki yang tak kukenal, tiba – tiba muncul dan ikut – ikutan bertengger di dahan yang sama. “Hmm... ada yang mencoba menjadi plagiat caraku menangkap objek.”, batinku bergumam.
Sengaja kuurungkan niatku untuk turun. Aku ingin mengamati bagaimana hebatnya ‘si plagiat’ ini memainkan kameranya. Beberapa menit berselang, tak ada juga salam maupun sapa darinya. Rasa sebalku bertambah. Betapa cuek, sombong dan tidak sopannya orang ini.
Andri. Andri Syahputra”, ujarnya tiba – tiba sambil mengulurkan tangan. Tak kubalas uluran itu, hanya jawaban ketus yang meluncur dari bibirku.
Panggil aja aku, Priya”.
Tak lama setelahnya, aku memutuskan untuk turun. Tak ada lagi percakapan yang mengalir selain pertukaran nama tadi. Pihak panitia juga sepertinya sudah memanggil para peserta untuk berkumpul kembali.
Tibalah saat penilaian karya peserta hasil ‘learning by doing’ tadi. Dan ternyata, aku menghadapi peserta - peserta yang sepertinya memang telah mahir dan profesional di bidang ini. Hasil jepretan mereka bagus – bagus. Untuk itu, aku mengakui kekalahanku dengan hati lapang. Tiga foto terbaik ditampilkan, dan fotografernya diundang ke depan. Saat sebuah nama disebutkan, aku cukup terkejut. Karena salah seorang lelaki yang berdiri di depan sana adalah Andri Syahputra, lelaki yang tadi juga bertengger bersamaku di atas pohon.
Kuakui karyanya memang indah. Aku malu telah berburuk sangka padanya tadi. Walau posisi membidik targetnya sama denganku, tapi foto yang dia hasilkan jauh berbeda denganku. Dan, hei.. sebentar! Sepertinya aku mengenal nama itu. Tapi siapa ya? Ah... aku selalu payah dalam mengingat nama. Biarlah, yang pasti akan kutemui dia selepas acara ini. Aku ingin minta maaf padanya.

Begitu acara berakhir, aku langsung berlari menghampirinya. “Ehm... mas Andri!” agak kikuk aku menyebut namanya.
Ya ?” yang kupanggil menoleh.
Emm.. anu.. aku mo minta maaf. Soal yang..... emmm.. di atas pohon tadi!
Dalam hati aku merutuki diri sendiri. Kenapa aku jadi begitu payah dalam memilih bahasa yang pantas, baik, dan benar? Aku yakin, dalam hati dia pasti tertawa menyaksikan kekonyolanku.
Ooh.. iya, gak papa, lupain aja! Ternyata ‘kera betina’ ini gak berubah yah? Masih tetep galak dan hebat seperti dulu!
Apa?! Barusan dia bilang apa? Aku yang sedari tadi tak terlalu berani menatap wajah apalagi matanya, serta merta memelototinya tajam – tajam.
Maaf, anda bilang apa tadi?
Iya. Kamu kan, ‘kera betina’ yang galak itu? Priyanti Kusuma Asmoro.” Dengan tetap kalem dia menjawab pertanyaanku.
Masya Allah! Bahkan dia kini menyebutkan nama lengkap & julukan masa kecilku. Siapa sebenarnya lelaki ini? Kutatap lekat – lekat wajahnya. Tak kutemukan sedikitpun garis – garis wajah seseorang yang pernah kukenal di masa lalu pada wajah itu. Hanya satu yang terasa tak asing bagiku. Mata itu. Mata yang selalu bersinar dan menyorot tajam tetapi begitu menyebalkan. Dan yang memiliki mata seperti itu hanyalah....

Aan?! Kamu Aan si ‘kera jantan’ itu?!” aku dengan sedikit histeris tapi tetap ragu.
Bingo!”, ia meringis memamerkan giginya yang putih dan bergingsul.
Ya Robbi...! Bagaimana mungkin kamu di sini? Kamu beda banget ya, sekarang? Makan apa? Tambah tinggi... berjenggot..blablablabla..
Jahat ya, baru nyapa aku! Kesibukanmu apa sekarang?” aku memberondongnya dengan begitu banyak pertanyaan dan pernyataan. Tak kubiarkan dia sedikitpun memiliki ruang untuk menjawab. Aan teman kecilku. Bocah lelaki yang selalu jadi rivalku dalam setiap permainan. Kini dia benar – benar berbeda. Wajar jika aku nyaris tak mengenali wajahnya sama sekali.
Jika tak mengingat perutku yang mulai terasa lapar, interview dadakan itu tak akan kubiarkan terhenti. Kusudahi pertemuan itu di sebuah rumah makan bersama teman semasa kecilku dengan bertumpuk pertanyaan.

Singkat cerita, pertemuanku dengan Aan di hari itu menjadi awal bagi jalinan silaturahim kami yang sempat termakan waktu. Kami jadi sering berkomunikasi walau tak terlampau sering bertemu. Kegemaran dan hobi kami yang serupa, membuat kami semakin ‘klop’ dan akrab. Sms, email, dan sesekali telepon. Itulah yang menjadi penghubung kami yang memang terpisah oleh jarak dan waktu. Aku yang saat itu sedang melanjutkan kuliahku di Yogya, dan dia yang menekuni karirnya di sebuah perusahaan surat kabar nasional di Sumatera.
Menjadi seorang fotografer sepertinya, memang memerlukan sebuah ketekunan dan tentunya keberanian. Tapi menurutku peran yang dilakoninya sekarang, sangat keren dan menantang. Bagaimana tidak, dalam satu waktu dia bisa saja hinggap lebih dari satu titik, kota, bahkan pulau. Dan dari itu semua, aku hanya bisa mendengar semua cerita dan tentunya iming – iming darinya.
Persahabatan kami mengalir begitu saja, dan kami menikmatinya. Kami berusaha saling menguatkan dan mengingatkan dalam segala langkah. Walau pertengkaran dan perdebatan tak pernah bisa lepas menghiasi pertemanan ini. Aan tetap menyebalkan. Dia memang pintar dan selalu mengalahkanku seperti dulu.
Tapi tidak di hari itu. Aku merasa, aku telah mengalahkannya.

13 Desember 2003, dia mengirimiku sepucuk surat. Aku sempat dibuatnya heran. Karena saat itu, bukanlah waktu yang tepat untuk seseorang berkirim kartu lebaran. Akupun tidak sedang berulang tahun atau mengalami sesuatu yang bisa menjadi alasan baginya untuk mengirimiku sebuah kartu ucapan selamat atau sejenisnya. Yang membuatku lebih heran lagi, adalah isi suratnya yang seratus persen memberiku teka – teki. Dari selembar kertas A4 yang dikirimnya kepada itu, hanya ada satu kalimat yang ditulisnya. Kalimat itupun hanya terdiri dari dua kata.
“Aku kalah....
Ya, hanya itu yang terekam oleh indraku dari surat itu. Aku hanya bisa bertanya – tanya dalam hati dan berusaha berfikir positif. Hingga malam harinya, dia menghubungiku.
Dah terima suratku ? ” suara dari seberang.
Iya, surat aneh yang sama sekali tak kumengerti.”
Sebentar lagi kamu pasti juga tahu. Sudah dulu ya, jaga diri baek – baek.” Singkat. Hanya itu yang dia sampaikan untuk menjelaskan surat aneh itu.
Seminggu berselang tak juga ada kejelasan maupun kabar darinya berkaitan dengan surat itu. Aku pun memutuskan, untuk menganggap surat yang tak berisi itu adalah salah satu keanehan dan keisengannya padaku. Harusnya aku tak perlu memikirkannya, tapi kenapa aku jadi penasaran dan begitu ingin tahu ?

Keesokan harinya, sepulang dari kampus dia akhirnya menghubungiku. “Aku 2 jam lagi sampe sana.” begitu yang diucapkannya di telepon. Aku kaget, tapi masih bisa menguasai diri. Fikirku, dia pasti sedang bertugas di dekat sini dan sengaja mampir. Semenjak pertemuanku dengannya di even fotografi dua tahun yang lalu, kami memang belum pernah bertemu lagi. Ada sedikit rasa bahagia yang tanpa permisi muncul dari balik hati. Dan restoran tempat kami pernah ngobrol dan makan waktu itu, menjadi pilihan tempat pertemuan kami.
Sore itu Aan tampil berbeda dari yang pernah kujumpai terakhir. Dia begitu rapi dan terlihat dewasa dengan dandanan seperti itu. Mungkin dia sedang bertugas meliput sebuah acara formal.
Assalamu’alaikum…. Apa kabar ?” terwujudlah seukir senyum dari sudut bibirnya. Indah. Ah… aku benci desir – desir aneh ini! Bukankah terpesona dengan keindahan senyum seseorang adalah hal yang wajar. Namun mengapa aku jadi begitu kikuk dan seakan merasa berdosa seperti ini. Berulang kali aku berusaha membuang muka saat berbincang dengannya. Hingga detik itu membuatku terpaku.
Priya.. aku minta maaf sebelumnya jika kamu tidak berkenan. Tujuanku datang kemari, bukan karena suatu tugas atau even apapun. Aku datang untuk sesuatu yang sangat penting bagi langkahku di masa depan.” Aku mendengar nada serius dari apa yang diucapkannya.
Wah,pasti kamu mo cerita kalo resign dari tempat kerjamu yang lama, trus dapet kerja di Jawa. Iya? Bener kan? Selamat ya... jadi deket ma keluarga kan!” kenapa aku jadi bersemangat dengan dugaanku itu.
Dia tersenyum lagi,”Sok tahu! Makanya, dengerin dulu kalo ada orang mo ngomong!”
Aku hanya menanggapi ucapannya itu dengan meringis.
Aku kalah, Priya… baru kali ini aku merasa begitu dikalahkan. Tetapi kekalahanku ini justru memberiku kebahagiaan dan lembar baru.” Kedua alisku menyatu ke tengah, pertanda rasa bingungku terhadap apa yang disampaikannya barusan.
Ini....” Ujarnya sambil menunjuk dadanya. “Aku tak bisa lagi membohonginya…
Ia telah kalah Priya… ia harus mengakuinya. Hati ini tlah terpaku pada keindahan pesona yang dititipkan Allah pada makhluk-Nya yang bernama manusia. Dan aku ingin menjaganya, melindunginya, dengan tulus dan dasar kasihku pada Penciptaku.
Sudah saatnya, aku memiliki seseorang yang bisa mengiringi perjuanganku. Agar langkah ini semakin kuat, agar peluh letihku ini tak terasa mengganggu dengan hadirnya di sisiku Aku memilih kamu, Priya… Hatiku kalah padamu….

Deg! Dunia seakan membisu. Detik serasa terhenti dan tak ada kehidupan bergeliat di sekitarku. Aku terdiam cukup lama demi memahami dan menenangkan hatiku yang saat itu terasa kocar – kacir. Air hangat yang meleleh di pipiku, membuatku sadar bahwa ia masih ada di hadapanku. Seseorang yang baru saja membuat sebuah pengakuan dan memintaku menjadi pendamping hidupnya. Sungguh, aku tak mampu berkata - kata. Hanya air mata, ya… air mata yang asing ini mewakili seribu aksara dari lisanku yang tak kuasa berkata. Itulah air mata pertamaku yang mengalir karenanya.



Tiga tahun telah berlalu sejak sore bersejarah itu. Dan kini aku resmi menyandang gelar nyonya / ibu Andri. Kera jantanku itu yang saat ini memenuhi hati dan hari – hariku dengan cinta dan kasihnya. Hidup kami lebih dari cukup untuk sebuah kebahagiaan. Walau hingga kini kami belum dipercaya untuk memiliki generasi penerus, hari – hari kami tetap berwarna. Bang Andri, adalah sosok suami yang sabar dan bertanggung jawab. Dia tak pernah bosan menguatkanku terutama dalam hal momongan. Bang Andri selalu bilang, bahwa anak itu adalah rizqi dan titipan dari Allah. Dan apa yang kami alami saat ini hanya masalah waktu. Mungkin kami memang belum mampu dan siap. Bukankah sabar menunggu lebih baik daripada ketidaksiapan itu malah menjerumuskan kami dalam dosa karena tak bisa menjaga amanah dari Allah dengan baik.

Aku masih belum menyerah dan akan terus berusaha, masak bidadariku ini gak percaya ma aku?” senyum yang khas itu muncul di wajahnya. Ah… Bang Andri selalu bisa membuatku tenang dan tersenyum lagi. Salah satu hal yang membuatku terus yakin dan kuat, adalah kehadirannya. Dan itu membuatku semakin mencintainya.
Wanita mana yang bermimpi untuk tak memiliki keturunan. Hati kecil para wanita, pasti begitu merindukan dirinya dipanggil dengan julukan “umi, ibu, bunda, ataupun mama”. Aku sering tiba – tiba menangis saat menyaksikan kemesraan seorang ibu dan anaknya, walau itu hanya dalam sebuah acara yang ditayangkan di televisi. Lebih – lebih saat Bang Andri membelai lembut rambutku sambil berujar, “Sabar ya sayang, kita pasti bisa…”. Air mata ini seakan tak mau berhenti mengalir. Tangisku semakin deras dalam pelukannya.
Sebenarnya, untuk apa dan siapa air mata yang kini jadi begitu sering menetes ini? Untuk sebuah kekecewaan dan penyesalankah? Untuk sebuah pengakuan kelemahan dirikah? Belakangan aku baru sadar. Air mata ini sejatinya hadir karena sebuah alasan yang cukup erat dengan diri Bang Andri. Sungguh aku tak ingin mengecewakannya. Betapa aku ingin melihat kebahagiaan selalu hadir di hati dan wajahnya. Aku takut tak bisa menjadi seorang istri yang sempurna baginya.
Bang, apa abang pernah merasa menyesal telah memilih, Priya?” ujarku suatu pagi saat kami sarapan.

Maksud mu apa, sayang?” balasnya dengan penuh rasa heran.

Emm… apa abang tidak pernah berfikir untuk mencari istri lagi misalnya?” suaraku terdengar mulai bergetar.

Istri lagi? Untuk apa? Satu aja, makannya dah banyak bangeeet dan suka rewel…. Gimana kalo 2 ?!” dia tertawa.

Uuuuh.. Abang ini bercanda mulu’! Priya serius, bang. Kalo memang dengan memiliki istri lagi abang bisa punya keturunan dan bahagia, insyaAllah Priya ikhlas.” mulai ada yang terasa menggenang di sudut mataku.

Wah.. sayang serius? Bener abang gak papa nikah lagi?!” terdengar nada semangat di ucapannya.

Hu’uh…” satu per satu air mata ini mulai menetes lagi.
Perlahan terdengar ia menarik nafas panjang, lalu menggenggam tanganku kuat – kuat. “Sayang yakin?” suaranya melembut, dan aku berusaha mengangguk dengan mantab, namun tak berani memandang wajahnya.
Sayang bener – bener sudah siap?” sekali lagi aku mengangguk, kali ini lebih mantab dan berusaha tersenyum di balik air mataku yang semakin deras mengalir.

Masalahnya, aku yang belum yakin dan siap, sayang. Tak sepantasnya aku berharap akan sebuah kesempurnaan, saat diriku sendiri belum bisa menjadi wujud yang sempurna itu. Aku pantang untuk dikalahkan dua kali. Cukup hati ini kalah karenamu…. Dan memilikimu, adalah hal yang tak pernah berhenti kusyukuri hingga kini.” kulihat bayangan mataku yang memerah karena tangis, di matanya yang bening. Pagi itu aku kembali menangis dalam pelukannya.

Hari kami terus berlalu. Tentunya dengan tangis dan tawa yang silih berganti. Kami tak pernah berhenti berusaha dan berdoa, untuk meraih kesempurnaan keluarga kami. Saling menguatkan dan memberikan keyakinan, itu yang tak pernah bosan kami lakukan. Hatiku juga mulai terasa lebih ringan dan tak terlalu merasa terbebani seperti dulu. Sedikit demi sedikit aku berhasil meyakini, bahwa titipan itu seberapapun kita mencintainya, wujud dan sejatinya adalah tak abadi. Ada Pemilik mutlak yang lebih berhak memiliki secara utuh. Aku pun tak sepantasnya terlalu menuntut dan memaksakan sesuatu yang memang mungkin belum mampu untuk aku jaga. Allah selalu lebih tahu siapa dan bagaimana diriku. Ia pun tak kan pernah mendhzolimi hamba-Nya.Terbukti aku tetap bisa menyalurkan kasih dan sayangku sebagai ibu kepada anak – anakku yang jumlahnya lebih dari satu. Ya… menjadi seorang guru di salah satu yayasan di kota kecil tempat kami tinggal, cukup menghiburku. Mereka semua memanggilku ibu, dan itu yang sangat menyanjungku. Saat aku meminta satu, Dia justru memberiku lebih dari itu. SubhanAllah…. Lalu masih pantaskah aku menuntut lebih?
Aku dan Bang Andri kini lebih bertawakkal dalam melangkah. Kami yakin, Dia tak pernah menutup mata dari hamba – hambaNya yang terus berusaha dan mendekatkan diri kepadaNya.
Lantas, apakah ini pertanda bahwa air mata itu telah mengering? Sayangnya tidak. Aku masih sering menangis, terutama saat suami tercintaku pergi bertugas ke luar kota bahkan pulau untuk waktu yang lama. Bang Andri terkadang suka cuek dan lupa akan dunia nyata, saat ia telah disibukkan oleh pekerjaannya. Sering tiba – tiba dia tidak menghubungiku hingga berhari – hari. Ponselnya pun seakan tak terjangkau oleh satelit manapun, saat aku mencoba balik menghubunginya. Saat – saat seperti itu, tentu aku hanya bisa menangis. Menangis karena rasa rinduku padanya, dan menangis karena aku merasa cemburu. Bagaimana tidak, saat kasih sayangnya berpaling total karena pekerjaannya. Saat mata beribu kaum hawa dengan bebas silih berganti berlalu di hadapannya.. Ah… aku memang sedikit pencemburu. Tapi bukankah itu pertanda bahwa aku mencintainya? Hihihi… Nakalnya bang Andri, tak jarang dia melakukan itu semua dengan niat memang untuk menguji kesabaranku katanya. Bagaimanapun dirinya, dia adalah salah satu lelaki yang kupercaya di dunia ini selain ayahku.
Potongan – potongan kecil kisah hidupku itu, perlahan kurangkai menjadi sebuah fragmen yang sepertinya mampu bercerita kepadaku anak – anakku kelak. Air mata itu, tak lain adalah air mata cinta. Ia tak selalu pertanda duka dan luka. Hadirnya tak jarang adalah senyum haru dan kebahagiaan pemiliknya. Pun wujudnya yang sering mengisahkan sebentuk rasa syukur akan beribu nikmat dalam diri setiap makhluk yang bernyawa. Aku akan meyakinkan anak – anakku kelak, bahwa air mata yang paling indah dan kekal adalah air mata cinta karena Illahi. Yang menetes karena rasa takut, tunduk, dan patuh kepadaNya. Yang mengalir di setiap sujud panjang perjuangan hamba yang senantiasa memohon kasih sayangNya. Ya… air mata cinta karena Illahi Robbi…..




Jember, 04 Mei 2009 (23:05)

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Baru kutahu ini adalah rasa
Baru kusadar ini serupa prahara
Keangkuhan luluh,
hilang dari memula

Inikah air mata cinta ?

Anonim mengatakan...

railah air mata cinta itu bukan hanya dalam dunia pena tapi juga dalam kehidupan nyata.

- bukan anonim -

mbemz mengatakan...

mengapa semakin banyak yang menginginkan dirinya tak dikenali?

Inikah salah satu efek air mata itu?

Anonim mengatakan...

agar semua indah pada waktunya...