“Bapak dan ibuku sudah meninggal, mbak…. tabrakan di Klakah…” Jawaban yang begitu polos ini meluncur dari bibir bocah itu. Bocah lelaki yang suaranya beberapa menit lalu kudengar menggema memenuhi bus jurusan Surabaya – Banyuwangi yang kutumpangi ini.
Muhammad Syahputra. Itu jawabnya saat kutanya siapa namanya. Dia mungkin satu dari ribuan, bahkan mungkin jutaan seniman – seniman jalanan kecil di negeri ini. Bermodal ‘alat musik’ sederhana, berupa kayu kecil yang di ujungnya tergantung beberapa seng yang dipotong bulat sehingga mampu menghasilkan bunyi – bunyian saat digoyang – goyangkan atau ditepukkan ke telapak tangan, ia bekerja dengan menumpang bus – bus antar kota dari pagi hingga malam hari. Perjuangannya tidak mudah, hidupnya keras, terlihat dari raut wajah kecil dan sorot matanya yang sayu namun tetap tajam. Di usianya yang baru 12 tahun, dia harus bekerja menanggung hidup kakek, nenek, dan seorang adik perempuannya yang masih kecil. Ia yatim piatu, yang hidup bersama sepasang orang tua yang tak mampu bekerja lagi.
Bus terus melaju, semakin kencang menyeruak gelap dan dinginnya malam itu. Semakin ke timur, makin banyak pula penumpang yang turun. Bus kian lengang. Tanggul, tempat tujuan Putra masih sekira 45 menit lagi. Sesekali kulihat dan amati wajah bocah kecil di sampingku. Kepalanya mulai terantuk – antuk, dia pasti sangat lelah.
“Tidur aja Put, nanti deket – deket Tanggul mbak bangunin…” Perkataanku disambutnya dengan senyuman dan anggukan kepala.
Aku semakin asyik memandang ke luar jendela. Menelusuri sungai Bondoyudho yang memanjang di sebelah kanan jalan. Sungai yang memiliki aliran cukup unik di setiap pertemuan atau persimpangannya. Ya, seperti air sungai itu. Hidup ini akan terus mengalir bukan ? Di sepanjang alirannya, kita akan dipertemukan dengan banyak sekali kisah. Aliran yang deras ataukah tenang, semuanya tetap akan membawa kita hingga tiba di muara kehidupan dan bertemu lautan hikmah. Putra, adalah setitik dari kisah yang aku temui di sepanjang aliran kehidupanku. Bocah kecil itu, harus merelakan untuk menahan dahaga kasih sayang orang tua terutama ibu di usianya yang masih sangat dini. Belum lagi, roda kehidupan yang terus mengejar dan memaksanya untuk terus berlari lebih dan lebih kencang lagi. Hidup ini benarlah sebuah perjuangan, itu yang diajarkan Putra padaku lewat tatap matanya.
“Kinccrriiinngg…!!!!” Bunyi yang cukup keras, sempat membuat seisi bus yang memang sudah semakin sepi penumpang itu, menatap ke arah kami. Apa yang salah ? Dalam hati aku bergumam. Aku mencoba melihat ke bawah kursi tepat di bawah kaki Putra. Ternyata, senjata sekaligus sahabat yang menemani Putra bekerja setiap hari itu yang terjatuh. Alat musik sederhana dari kayu dan seng. Segera kupungut dan kutengok Putra. Benar saja, dia memang telah terlelap hingga tak sadar barang yang tadi digenggamnya begitu erat, kini terjatuh.
Bus tetap melaju. Tikungan – tikungan yang cukup tajam, tak membuat sang sopir sedikit mengurangi kecepatannya. Tapi kuakui, kau memang sopir yang lihai dan cekatan, pak. Bawa kami dengan selamat hingga tujuan ya…
Bus yang sesekali bermanuver, membuat Putra yang pulas terlelap tiba – tiba terjatuh ke lenganku. Sedikit kubenahi posisi dudukku, agar membuatnya lebih nyaman bersandar dan tak terbangun. Istirahatlah, Put… kutahu kau pasti sangat lelah….
Mendekati daerah Tanggul, aku membangunkannya. Tampak dia begitu kaget dan tergambar rasa tidak enak di wajahnya. Saat menyadari dia telah tertidur bergitu nyenyak dan bersandar di lenganku. Aku tersenyum sambil menepuk pundaknya dan menyerahkan ‘senjata’nya yang terjatuh dan kupungut tadi.
“Makasih ya, mbak… Kalo maen ke Tanggul mampir aja ke rumah. Rumahku di belakang pasar. Nanti kalo Mbak keliatan aku ngamen di lampu merah Mangli Jember, panggil aja ya… aku juga kadang ke sana…” dia telah berdiri dan bersiap untuk turun.
“InsyaAllah… Ati2 ya, Put… Salam buat mbah dan Siti adekmu. Tetep terus belajar lho, ya…” perkataanku yang terakhir sebelum ia turun sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mendung tak bergelayut di langit malam itu. Namun tiba – tiba air menetes dari langit hati yang beratapkan haru………
Senin, 26 Oktober 2009
Putra
Kamis, 22 Oktober 2009
Untukmu Adinda Kecil....
Dik… kemari sayang…
berlarilah ke dalam pelukku,
kuberjanji tuk hadirkan hangat itu untukmu…
Dik… jangan takut manis…
Tak kan ada yang biarkanmu sendiri,
tuk hadapi hari agar terus berseri…
Dik… janganlah bersedih…
Walau tak kan pernah serupa,
rasa sayang ini kan mengalir untukmu seperti bunda…
Dik… menangislah dalam dekapku…
menangislah selagi kau mampu,
walau sejatinya air mata itu, belumlah kuasa artikan dunia dan hatimu yang mungkin beku
Dik… berjanjilah untuk tak marah…
Tak ada yang pergi meninggalkanmu,
Kau hanya butuh waktu, tuk bisa pahami semua itu…
Cantik… sungguh mata itu terlalu cantik,
Biarlah warna - warni pelangi yang semakin meng-indahkannya
Suci… sungguh hati itu terlampau suci,
Cukuplah lantunan doa dan nyanyian surgawi yang menghiasinya…
Suatu hari nanti, ya.. suatu hari nanti…
Kala kau tlah bisa melangkah dengan hatimu,
Kan kukisahkan tentang seorang wanita kuat dan hebat,
yang tak pernah lelah berjuang demi buah hati dan cintanya…
Suatu masa nanti, Dik… sungguh suatu masa nanti…
kala kau tlah menyapa dunia dengan dewasamu,
kan kuajarkan semua yang ku tahu…
Bahwa dengan berbekal ‘solihah’,
kau mampu iringi perjalanan wanita mulia itu
Percayalah, Dik..
Bunda dengan segenap jiwanya,
mencintaimu…..
Senin, 19 Oktober 2009
Wanita Sholehah
Wanita solehah adalah sebaik2 keindahan
menatapnya menyejukkan qolbu
mendengarkan suaranya menghanyutkan batin
ditinggalkan menambah keyakinan
wanita solehah adalah bidadari surga yang hadir di dunia
wanita solehah adalah ibu dari anak2 yang mulia
wanita solehah adalah istri yang meneguhkan jihad suami
wanita solehah adalah penebar rahmat bagi rumah tangga
cahaya dunia dan akhirat
Perhiasaan yang paling indah bagi seorang abdi Allah
itulah ia wanita solehah
ia menghiasi duniaa...
itulah ia wanita solehah
ia menghiasi duniaa...
Aurat ditutup demi kehormatan
Kitab Al Quran didaulatkan
Suami mereka ditaatinya
walau bertahan di rumah saja
karena iman dan juga islam
telah menjadi keyakinan
jiwa raga mampu dikorbankan
harta kemewahan dilabuhkan
Di dalam kehidupan ini
ia memancarkan kemuliaan
Bagai sekuntum mawar yang tegar
di tengah gelombang kehidupan
Aa' Gym - The Fikr
Kamis, 17 September 2009
Perempuan
Siapapun wanita itu...
sekuat apapun dia....
semandiri apapun keberadaannya.....
sesombong apapun caranya.....
sekeraskepala bagaimanapun dirinya.......
sehebat apapun posisinya.....
segengsi apapun lagaknya.....
sesempit apapun pintu hatinya.....
setegar apapun karang jiwanya.....
"Perempuan tetaplah perempuan....slalu ingin ditinggikan walau sebenang....."
*Thank's for Nagabonar Jadi 2, yang sudah ciptakan senyum dan airmataku dalam satu waktu...
Rabu, 09 September 2009
- Ironi -
Kemarin, katamu kau tak akan pergi,
namun semenit lalu, bayangmu pun sudah tak kutemui...
Baru kemarin, nafasmu sadarkan aku akan sebuah sinergi,
tumpang tindihnya qalbu yang terbalut imaji.....
Ya, baru kemarin...
yang kubilang kelabu, katamu pelangi....
Nyatanya? Kini mentari tak buat langitku warna - warni.....
Ah, cemburuku hanyalah api....
Tak mau lagi kusapa kau walau dalam mimpi
nuraniku semakin menyadari,
Illahi Rabbi,
yang cintanya sejati.. tak menyakiti, dan mengkhianati.....
Selasa, 08 September 2009
Cinta Ramadhan
Tak ada kata yang lebih indah dan pantas, selain beribu syukur pada Rabbku, Pemilik Kerajaan Cinta yang tak pernah bosan memberiku begitu banyak nikmat dan keindahan hingga detik ini. Terlebih kurasakan, percintaanku dengannya yang semakin mesra dan romantis. Ramadhan.... sungguh kau buai aku dengan nuansa kental ruhiyahmu.
Delapan belas hari percintaanku dengan Ramadhan telah berjalan. Alhamdulillah, tak ada halangan yang terlalu berarti bagiku untuk melaluinya. Allah pun masih memberiku kesempatan beribadah hingga hari ini, komplit! Semoga tak ada ruang yang akhirnya memisahkanku dengan Ramadhan, seperti yang kualami di tahun 2006 lalu. Indahnya, bisa menyempurnakan ibadah puasaku. Dan tentunya tanpa tanggungan hutang di bulan – bulan selanjutnya ^_^
Ramadhan kali ini, Allah kembali mengijinkanku untuk bisa melaluinya di kampung halaman tercinta. Sebuah status baru yang mengharuskanku mengabdi di sini, di tanah kelahiranku. Tentunya yang paling indah, ya bisa merasakan buka, sahur, dan tarawih bersama keluarga tercinta. Tahun ini, aku juga tak sengaja bergabung dengan kelompok pengajian ibu – ibu di musholla tempat kami biasa berjamaah tarawih. Dan bersama mereka, selepas tarawih kami tadarus bersama. Sungguh indah. Mengkaji dan saling mengoreksi satu sama lain setiap bacaan yang salah. Mengingatkan kembali tentang ilmu – ilmu tajwid dan pelafalan huruf – huruf yang pernah aku pelajari dulu. Ramadhan, selalu memberiku ilmu dan kisah – kisah baru.
Aktivitas lain yang aku suka dan nyaris tak pernah terlewatkan, adalah mengikuti setiap episode ‘Para Pencari Tuhan 3’ di waktu sahur dan berbuka. Banyak sekali pesan moral yang aku dapatkan dari film berseri itu. Sering aku dibuat larut dalam haru sekaligus tawa, oleh tiap tokoh yang menurutku memiliki kekuatan karakter masing – masing. Dan bagiku, tayangan – tayangan seperti ini lah yang seharusnya banyak dilahirkan di negeri ini. Tayangan yang menginspirasi, mengedukasi, dan memotivasi.
Kekuatan dan aura Ramadhan juga semakin aku buktikan kini. Dan itu paling terlihat di tempatku beraktivitas sehari – hari. Mereka yang kutahu di bulan – bulan lalu nyaris tak pernah memasuki masjid untuk beribadah, di Ramadhan ini jadi memenuhi masjid di waktu Dhuhur dan Ashar. Ada lagi rekan yang tiba – tiba situs kunjungannya berubah 180 derajat. Tiap hari yang dibaca artikel – artikel Islami sambil diiringi alunan playlist di winamp yang bertemakan rohani. Malam – malamku atau bahkan malam – malam umat muslim di seluruh dunia yang tentunya lebih terasa spesial, karna sebuah kebersamaan untuk membuat raga terjaga dari lelap dan buaian mimpi.
Ramadhan juga sepertinya melembutkan hati – hati yang sombong dan keras, dalam ikhlas dan tulusnya berbagi. Indahnya..... ^_^
Oh iya, ini mungkin juga termasuk berkah Ramadhan yang aku rasakan. Di bulan nan suci ini, aku secara tak sengaja satu demi satu dipertemukan kembali dengan kawan dan sahabat – sahabat lama di sini. Silaturahim yang sempat termakan waktu, alhamdulillah dapat terjalin kembali. Ah, Ramadhan... kau membuatku jatuh hati. Jatuh hati pada keindahan akhlak insani yang kau naungi. Jatuh hati pada lembutnya hati hadapi hari. Janganlah cepat berlalu, karna ku pasti merindukanmu.....
Tentunya sebuah harap terbersit di hati ini. Semoga semua keistiqomahan, semangat yang memburu, dan lingkungan yang mendukung ini akan bertahan dan tidak lekang oleh waktu. Terkikis begitu saja, setelah Ramadhan berlalu. Semoga saja tidak.
Kamis, 27 Agustus 2009
Warna
“Wa’alaykumsalam warohmah... hehe, afwan mbk bru bls... iya nih alhamdulillah lbih nikmat puasa ma suami. G terasa cpek pulang pergi Ngawi – Pnorogo. Bgitu liat wajahnya, langsung hilang cpeknya... apalgi pnya anak ya.. psti lbih seru! Hehehe.. ”
SubhanAllah... sebuah pesan balasan dari seorang sahabat yang kuterima di awal Ramadhan, menumbuhkan “warna” itu lagi di hatiku. Warna sama, yang selalu muncul setiap kudengar kabar tentang kerabat yang akan atau telah menyempurnakan separuh diennya. Warna serupa yang selalu hadir saat kulihat senyum dan kebahagiaan di wajah – wajah mereka yang telah bersatu dengan pujaan hatinya dalam ikatan suci pernikahan.
Jika ditilik lagi isi dari pesan singkat di atas tadi, tergambar jelas kekuatan cinta dan kebahagiaan itu. Sahabat yang terbilang berusia satu tahun di bawahku ini, benar – benar berani mengambil sebuah keputusan yang mulia. Keputusan untuk siap menanggung dan menghadapi segala resiko yang terbentang di episode hidup selanjutnya. Dia yang saat ini bertugas di Ponorogo, rela harus pulang pergi setiap hari dari Ngawi demi tetap berkumpul bersama suami tercintanya. Lelah itu pasti tetap tak mampu dihindari. Namun baginya cukup terbayar dengan indah wajah dan kehangatan berkumpul bersama sang suami. Ah, sekali lagi kau membuatku iri, ukhti...
Kami serumah sewaktu masih pendidikan di Malang dulu. Dan aku tahu betul bagaimana karakter terlebih kekerasan hatinya. Prinsip sekaligus komitmen yang ia miliki, sekalipun didera oleh berbagai uji dan coba nyata tetap mampu ia pegang teguh. Kagumku untukmu saudariku. Dan keresahan itu kini terbayar sudah. Bintang yang selama ini kau simpan dan jaga dalam hatimu, dan selalu kau bawa serta dalam alunan doa dan derai air mata di sujud – sujud panjangmu, telah dihadiahkan oleh Allah seperti yang kau impikan. Semoga kebahagiaan dan berkah senantiasa menyelimuti kalian berdua ^_^
Lalu bagaimana dengan “warna” itu? Apa dan siapakah ia? Warna yang selalu hadir itu, tak lain adalah doa. Doa yang tak hentinya mengalir mengiringi setiap jejak langkah menjemput semua mimpi dan harapan. Semoga warna itu tetap terjaga hingga saatnya tiba. Aku percaya, bahwa Allah akan menjaga siapapun dia dengan rencana – Nya yang cantik. Biarlah kini kularut dalam penantian dan “warna” yang kan hiasi hari – hari indahku.....
