Ia pun terlihat begitu permisif, terhadap warna dan budaya
Pagi baginya senja....
petang pun tak urung katupkan payung.....
Ketika hijaunya dedaunan, tak mampu lagi menjemput gersang ilalang...
Cinta seakan hadir menjadi hujan....
Adakah itu cinta?
Saat masa lalu tak terbeli... dan esok masihlah mimpi....
Penampilannya begitu sederhana namun tampak bersahaja. Wajah senjanya tersembunyi di balik topi putih lusuh yang dikenakannya. Senyum itu ramah menyambutku.
“Ya, mbak?”
“Mo nyuci motor, pak.” Kubalas tersenyum padanya.
“Bentar ya, mbak.. tinggal dikit lagi. Monggo pinarak dulu...” Ujarnya lalu melanjutkan memoles motor yang telah lebih dulu datang sebelumku.
Tak akan lama, batinku. Motor yang sedang diselesaikan oleh bapak tadi tlah tampak bersih dan mengkilat. Pasti sebentar lagi selesai, dan akan tiba giliran Ega ku tersayang. InsyaAllah masih bisa untuk hadir tepat waktu di kantor.
Siang yang panas itu, pasti memaksa siapapun untuk lebih memilih menikmati waktu santai di rumah. Bertemankan kesejukan, makanan ringan, atau mungkin memanjakan saraf – saraf tubuh yang telah letih berjuang selama sepekan terakhir. Ya, bukankah tak ada yang lebih dinanti di setiap minggu selain akhir pekan tiba ?
Segala kenikmatan dan rekreasi akhir pekan itu, bagi beberapa orang yang terlibat aktivitas dan tanggung jawab yang harus ditunaikan, tentunya mau tak mau tertunda atau lebih indahnya harus dialihkan ke lokasi lain. Dan keputusan untuk membunuh segala rasa ‘aras - arasen’ itu, kembali memberiku hadiah yang manis siang ini.
Bapak yang tak sempat kutanya siapa namanya itu, menetesi hatiku dengan embun – embun kesejukan lewat sedikit dari kisah hidupnya.
“Griyone teng pundi, mbak?” bapak itu membuka obrolan di tengah aktivitasnya memandikan Ega.
“Mboten tebih saking mriki kok, pak..” sahutku sambil mengamati tangan – tangan beliau yang lincah membersihkan sudut – sudut mesin Ega.
“Asli mriki berarti... kulo tebih mbak.. teng Mangli.”
“Ooo... Bendinten wangsul Mangli pak?.”, balasku sambil tersenyum.
“Nggih, mbak... lha wong chedak. Lha niku, ngengkol bendinten!”
Ucapan bapak yang terakhir, kubalas hanya dengan senyuman dan akhirnya membuatku terdiam sesaat. SubhanAllah... begitulah perjuangan seseorang untuk bertahan hidup. Jarak dari Mangli ke sini, memang tak terlalu jauh. Tapi juga bukan jarak yang dekat jika ditempuh dengan sepeda oleh bapak seusia itu. Jarak yang ditempuh pulang pergi, jika ditotal bisa mencapai 30 km. Dan itu dilakukan olehnya setiap hari. Yang membuatku lebih kagum, tak tampak sedikitpun gurat penyesalan ataupun ratapan – ratapan cengeng dan keluh kesah dari wajahnya. Setiap tuturnya terdengar begitu ikhlas dan tanpa beban menjalani rutinitas yang menurutku tidaklah mudah itu.
Dibandingkan dengan aku, tentu beliau lebih hebat. Jauh lebih keren. Bagaimana tidak, di saat orang – orang pusing memikirkan dan berjuang menumpuk harta untuk memenuhi kebutuhan duniawinya, sang bapak memilih bertirakat dan terus berjuang menyemai manfaat di sisa usianya. Saat para pengendara motor (termasuk aku) dengan bangganya menodai kota dengan polusi ampas mesin mereka, beliau memilih berpeluh dan merasakan letih yang teramat sangat.
“Enak lho, mbak... Alhamdulillah saya merasa sehat sampe sekarang!” ujarnya riang.
Beliau melanjutkan, “Kalo manut umurnya kanjeng nabi, umur saya di dunia mpun mboten dangu malih. Mergo niku, kulo milih ngisi dinten – dinten niki kaliyan kegiatan ingkang ndhugiaken manfaat, mbak. Kulo mboten purun ngoyo – ngoyo, tapi sia – sia. Terus mensyukuri nikmat dan berjuang jalani hidup sesuai porsi yang dimiliki . Ngoten lak enak to mbak... ” sang bapak mengakhiri ucapannya dengan senyum yang mengembang.
Batinku berbicara. Betapa indah jika hati tiap – tiap insan bisa terasuki kebijakan bapak tadi. Mungkin tak akan ada tragedi saling menyikut, saling tendang, saling gencet, demi mencapai dan memuaskan kebutuhan pribadinya. Benar. Bukankah semua telah memperoleh dan akan berjalan di porsinya masing – masing. Sang Khalik pun, telah menjamin dan menjanjikan yang setara bagi yang mau berusaha.
“Waduh, kulo niki tiyang alit, dudu sopo – sopo, tapi ngomonge katah nggih, mbak! Tapi nggih mung niku kekayaan kulo. Sugih omong! Hehehe...” Bapak itu tertawa sambil memoles ban Ega sehingga lebih terlihat mengkilap.
“Mbak, kuliah ?”
“Mboten, pak...” aku berusaha menjawab di tengah ketermenunganku.
“Lha terus? Mpun ngasto? Wah... hebat nggih. Taksih enom tapi mpun pinter golek rizqi.”
Ucapan bapak yang terakhir, sama sekali tak kujawab. Termenung. Aku tenggelam dalam ketermenunganku sambil membatin, “Aku semakin sadar, bahwa aku memang bukan siapa – siapa.....”
"Mbak, kalo nerjemahin ini gimana?"
Celotehnya yang begitu sering hadir di tengah kesibukanku terkadang sedikit membuatku sebal. Namun ketekunan dan semangatnya yang tak pernah surut untuk terus belajar, membuatku semakin kagum dan merasa malu. Di usianya yang bisa dibilang tak lagi belia, tak ada kata "tidak" untuk tetap dan terus belajar. Dari situ aku semakin tahu, menjadi guru itu ternyata memang tak mudah. Musti ekstra sabar dan mengerti. (Salut dan salam kagumku untuk semua pahlawan tanpa tanda jasa di bumi ini) Lebih - lebih yang jadi murid bukanlah anak - anak yang mungkin dalam hal pemikiran lebih mudah dan "cepet nyandak".
Ya Rahman... maafkan aku yang sempat merasa tidak sabar untuk lebih bersemangat menyamai semangat beliau yang tak pernah padam. Berilah aku kemudahan dan kekuatan untuk tetap bisa menjadi tempat baginya berbagi dan saling belajar. Bukankah tak ada yang lebih indah bagi seorang insan, saat ia mampu memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi sekelilingnya ? Lebih - lebih jika itu untuk seseorang yang bermakna dan dicinta.
SubhanAllah... ibundaku.... terimakasih tlah kembali menginspirasiku......
Sebagai obat kepenasaranku sama filmnya KCB, beberapa hari ini di sela - sela waktu sibuk dan menjelang tidur, kusempatkan untuk membaca bukunya lagi. Ada sebuah paragraf yang membuatku tertarik. Yakni saat Anna mendefinisikan tentang cinta di bedah buku 'Menari Bersama Ombak'. Setelah kucari tahu, paragraf indah itu ternyata merupakan petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M.
=================================================================
Sekali lagi aku membuktikan tentang kebenaran dan kekuatan sugesti. Entah siapa yang terakhir mendengarnya, yang jelas aku pernah tak sengaja berujar, “SubhanAllah, gimana ya.. rasanya di opname… diinfus…. Hiiiiiii….!!!” Walau sangat jelas rasa tak ingin dan gidik ngeri dari hatiku saat mengatakannya, namun rasa penasaran itu memang tak mau pergi. Aku terlalu sering seperti itu. Diam – diam berimajinasi dan membayangkan bagaimana kalau… seandainya… jika….
Dan sayangnya, itu bukan sesuatu yang selalu indah – indah.
Jika benar, ekspresi dari hati pun dapat menjadi doa yang ampuh, sepertinya lain kali aku memang harus lebih berhati – hati dalam mengendalikan imajinasi liarku.
Merasakan sakit memang bukanlah cita – cita bagi siapapun. Tapi percayalah, saat kita berhasil menemukan mutiara di balik lumpur – lumpur yang melelehkan keluh demi kesah, kenikmatan tiada tara itu akan membuat kita selalu merasa beruntung telah melewati setiap episode dengan cermat dan tekun. Kurang lebih seminggu lamanya, Allah memberiku rizqi berupa wisata hati. Ya… waktu yang sangat singkat bagiku untuk berlama – lama menikmati perjalanan gratis berhadiah itu. Dia kembali membawakan kisah untukku tentang senyum, ikhtiar, dan sabar. Tiga hal indah yang sebetulnya telah begitu sering aku tonton, namun entah terkadang masih sulit aku temukan dalam diriku. Seminggu lamanya, Ia juga pertemukan ku dengan begitu banyak wajah – wajah indah anak manusia yang bercahaya dalam doa tulus keikhlasan dan rasa peduli. Sungguh, jika perjalanan seperti ini selalu bisa aku tangkap sempurna tanpa diembel – embeli segala prasangka, betapa beruntungnya aku.
2 Juni 2009 malam, ibu dengan nada khawatir menghubungiku yang memang sudah dua hari lamanya absen masuk kerja dan istirahat di rumah. Beliau mengabarkan tentang hasil cek darah yang aku lakukan sore harinya. Positif Typhus dan trombosit yang berada di kisaran angka 130.000. Masih belum jauh dari normal sebenarnya, tapi dokter yang terakhir memeriksaku, menyarankan pada ibu untuk “mengamarkan” aku malam itu juga.
“Minta tolong adek mbak, siapin baju – baju. Bentar lagi tak jemput…” itu kalimat terakhir yang diucapkan ibu di balik keresahannya.
Bak seseorang yang hendak bepergian dan akan menginap untuk waktu yang lama, adek menyiapkan semua keperluanku. Aku hanya bisa tersenyum lemah, membayangkan betapa liburan ini akan segera aku lewati. Kira – kira seperti apa perjalananku nanti hingga oleh – oleh apa yang akan aku bawa, semua membuatku terus dan terus merenda imajinasi.
Tak berselang lama, ibu datang. Bersama motor kesayangan, ibu memboncengku menuju tempat berlibur itu….
Sampai di UGD, aku berjalan sendiri menuju ranjang yang telah disediakan. Dari pengalamanku semasa kecil yang begitu sering “ngriwuki” ibu dinas, aku tahu sebelum masuk kamar semua pasien harus diinfus dulu di sini. Suasana dan aromanya sama sekali tak asing. Ranjang putih dengan korden memutar sebagai pembatas, tabung – tabung oksigen, seperangkat botol – botol dan jarum suntik, semuanya khas rumah sakit. Aku berbaring di ranjang itu cukup lama. Menunggu perawat yang akan memasukkan jarum infus ke tanganku. Bersamaan denganku, ada seorang bocah kecil yang sepertinya juga akan “ngamar”, dan dia menangis begitu keras di balik gendongan sang nenek, mungkin karena takut diinfus. Aku hanya bisa melemparkan senyumku pada nenek dan cucu itu. Sambil berbaring, aku sempat sedikit berbincang dengan mereka. Ternyata, adek kecil tadi juga terkena demam berdarah. Kasihan. Tubuh mungilnya harus merasakan sakit dan dia hanya bisa menyampaikan semua itu dengan tangisnya.
Diinfus itu sakit. Terbayar sudah rasa penasaranku. Dan semoga itulah pertama dan terakhir kalinya aku berurusan dengan benda runcing tajam yang tebalnya hanya beberapa mili itu. Setelah sang jarum tertanam di punggung tangan kananku, dibawalah aku menuju istana tempatku berlibur beberapa hari ke depan. Sebuah kamar mungil, dengan satu ranjang dan sebuah kamar mandi di dalamnya. “Wah.. bener – bener nginep di hotel ini!” celetukku diikuti senyuman perawat yang mendorongku di kursi roda tadi. Namun, belum berselang lama aku menikmati tempat tidur baruku itu, tiba – tiba aku merasakan selang kecil yang menghubungkan botol infus dan jarum di tanganku itu basah. Sepertinya bocor. Dan, o lala! Ibu memutuskan, agar jarum infus itu dipindahkan saja. Aku yang sebenarnya sudah jera untuk ditusuk – tusuk lagi, hanya bisa mengangguk dengan pasrah. Rasa sakit yang luar biasa itu, harus aku nikmati lagi. Seorang perawat lelaki memindahkan tusukan jarum ke punggung tangan kiriku. Malangnya, setelah dicoba ternyata pembuluh darah di tanganku pecah. Sang jarum harus bergerilya lagi mencari lokasi. Bagaimana denganku? Tentu saja, masih dengan pasrah. Alhamdulillah, di tusukan yang ketiga tuan jarum mau bersahabat denganku. Dia sepertinya baru merasa nyaman berada di pergelangan tangan kananku. Dan malam itu, adalah malam pertamaku bertemankan botol infus yang terus menetes teratur satu … satu ….
Keesokan paginya, babak baru sudah menantiku. Hari itu kumulai dengan menyapa tuan jarum kembali. Ya, aku harus cek darah lagi. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan trombositku. Cek darah yang akhirnya kulalui setiap pagi ini, jadi terasa biasa bagiku. Sakitnya memang tidak seperti pada saat memasukkan jarum infus, tapi yang namanya berhubungan dengan tuan jarum sebisa mungkin sangat ingin aku hindari. Hasil cek darah pagi itu, membuatku terutama ibu semakin cemas. Angka trombositku menurun menjadi 110.000 saja. Dan penurunannya terus terjadi hingga ke nilai 54.000. Namun, betapa di sini kembali Allah menunjukkan tak terhingga kasih sayang – Nya. Aku yang seharusnya lemah dengan kondisi trombosit seperti itu, masih diberi – Nya kekuatan untuk tetap bercanda, tertawa, dan tentunya makan. Ya, untuk yang terakhir, perawat pun sampai kubuat heran. Nafsu makanku tidak terlalu signifikan berkurang. Menu makanan yang rutin hadir di setiap harinya, selalu berhasil kutuntaskan. Rekan, sahabat, saudara, dan semua yang berkunjung bahkan sering menyeletuk tak percaya bahwa seorang gadis dengan jarum dan botol infus di depannya saat itu, adalah pasien demam berdarah dengan trombosit yang sudah sangat rendah.
Aku yakin, semua hal menakjubkan yang terjadi padaku selama ‘liburan’ kemarin, tak lepas dari doa dan semangat dari mereka yang menyayangiku. Syukur dan rasa terima kasih tak terhingga terus mengalir, karena Allah membuatku sadar akan begitu banyaknya cinta dan kasih sayang di sekelilingku. Terutama untuk wanita tangguh dan hebat yang tak pernah melepaskan perhatiannya untukku, ibundaku tercinta. Telah lama aku tak merepotkannya hingga seperti kemarin :p. Aku pun jadi bisa banyak menghabiskan waktu berdua dengannya.
8 Juni, ba’da maghrib aku bersiap untuk kembali ke rumah. Dokter sudah mengijinkan pulang, walau kondisi trombositku saat itu masih 60.000. Ibu meyakinkan, bahwa aku akan semakin membaik dengan suasana di rumah. Aku pun sudah terlalu lama absen dari rutinitas sehari – hari. Itu yang paling menjadi beban pikiranku, tanggung jawab dan amanah yang seharusnya aku emban.
Alhamdulillah, malam itu aku merasakan kembali nikmatnya kasur, bantal, dan guling di rumah.
Pasca opname itu ternyata warna – warni rasanya. Yang paling nyata, adalah pipi yang semakin tidak proporsional. Melepas status sebagai pasien, ternyata berat badanku bertambah. Ketembeman pun semakin melekat nyata dalam wajahku. :p Pulang dari RS, aku belum boleh beraktivitas berlebihan. Walau sudah ingin berlari saja rasanya diri ini, tapi aku berusaha bersabar. Dua hari kuhabiskan untuk istirahat total di rumah. Di hari ketiga, bismillah, aku memutuskan untuk memulai aktivitas kembali. Kuakui ini terbilang bandel dan sedikit melanggar titah dokter. Karena kondisi trombosit yang dicek terakhir, masih jauh dari normal, 75.000! :p Tapi kuyakinkan hatiku, bahwa aku kuat dan bisa. Telah banyak yang menanti tuk aku selesaikan. Aku juga sudah kangen sama dunia luar! :D
Detik melangkah, tinggalkan memori masa lalu
peluk kenang tentang ambisi, emosi dan beribu gengsi,
kerucutkan kisah pada sebentuk rasa benci
Malu dikalahkan, enggan dilemahkan....
Sepasang insan berkaca tentang takdir,
debatkan makna kodrat, yang mulai tersingkir...
Aku, diriku dan keegoisanku
dia, dirinya, dan dunianya......
Jubah keangkuhan tertanggalkan,
tatkala mereka ajarkan tentang
ikhlas, sabar, dan tawakal....
Benarkah aku terkalahkan?
Cemburu, rindu, dan rasa malu...
bersatu menggoyah telaga hati
Aku belum kalah, setidaknya pada hatiku sendiri....
Langkah yang menggontai, kukuatkan...
jiwa yang terkulai, kutegarkan....
demi suatu kalimat yang pernah teralun lampau,
"Bukankah setiap kau tersenyum, Aku hadir di sisimu.... ? "
"Ma... suapin yah?!"
Hehehe... gak biasanya aku semanja kemarin. Dan gak biasanya pula ibundaku tercinta langsung mengiyakan permintaanku itu. Mungkin baginya, juga tak setiap hari putri terbandelnya ini minta disuapin makan.
Si adek juga sepertinya terkompori ulahku. Dia me-request hal serupa, minta disuapin makan. :D
Alhasil, ibu mengambil sepiring nasi yang menggunung.
"Wes, ayo dimaem orang tiga..."
SubhanAllah.. kemesraan itu sungguh begitu indah. Andai aku bisa terus menikmatinya setiap saat. Biasanya aku cuma sebatas "ngampung" dan gangguin "icip2" ibu yang lagi makan. Sambil minta beberapa suap. Tapi kemarin, benar - benar kunimati tiap suap dari tangannya sampai tak ada yang tersisa di piring yang awalnya menggunung nasi tadi.
"Ayo..... mbak....", ujarnya sambil menyodorkan tangannya yang telah terisi nasi dan lauk. Aku membuka mulutku lebar - lebar dan "AAeeemmm......." Hihihi.. benar - benar seperti sosokku 10 atau 15 tahun yang lalu. Yang masih harus dikejar ke sana ke mari jika waktu makan tiba. Sungguh berbeda dengan kini. Yang tanpa diingatkan pun, selalu tak pernah absen dalam urusan makan :P
Entah mengapa, ide itu tiba - tiba muncul. Aku kangen dan begitu ingin disuapin ibu. Dan aku pun tak menyangka respon ibu yang demikian semangat hingga tak menyadari betapa banyaknya nasi yang telah ia tumpahkan di sepiring nasi itu. Sekalipun di keroyok bertiga, adek dan ibu menyerah dan gugur lebih dulu dari pertempuran penghabisan nasi itu. Dan aku.. tetaplah yang terus bertahan... hehehe...
Bahkan hingga nasi di piring tidak tersisa pun, aku masih tetap semangat membuka mulutku menanti suapan berikutnya. "Heh, mbak... dah habis ini lho.... nambah lagi ta?"
Ups! Kenapa aku belum merasa kenyang ya? Telor ceplok dan kering tempe yang sungguh biasa, jadi begitu istimewa di lidahku. Apa ini karena bercampur ramuan khusus dari tangan yang menyuapkannya padaku? Ramuan kasih sayang, cinta, dan doa..... ^_^
Tangan ibunda memang ajaib... Mampu merubah sesuatu yang biasa menjadi begitu luar biasa....
"Gimana, nambah lagi ta,mbak?"
Sambil sedikit mesam - mesem, "Hehehe.. kalo ndak ngrepotin.. boleh deh... " :P