Senin, 05 Maret 2012

Sorprendente

Nak... adakah itu kamu?
Serupa tarian kupu - kupu kecil yang kadang menggelitik perut ibu....

Nak... benarkah itu dirimu?
Yang rasanya mungkin, tak jauh berbeda dari lompatan popcorn & gelembung - gelembung udara yang menakjubkan...

Ya...benar...ibu rasa itu memang kamu,Nak...
Karna dalam s'tiap alunan cinta yang ibu bisikkan, ada peluk dan dekapmu di sana....


*17 weeks pregnant

Jumat, 16 Desember 2011

Bontotan?

Sebenarnya sangat sederhana. Ini hanya tentang sekotak nasi, lengkap dengan lauk pauk yang biasanya akan begitu akrab kita lihat di jam - jam makan siang. Entah itu di sekolah, kantor, bahkan mungkin di dalam bis kota yang tengah melaju di keramaian.
Bekal, bontotan, atau apalah kita biasa menyebutnya, adalah salah satu cara yang dipilih oleh mereka yang berusaha pintar dan bijak dalam hal keuangan dan kebutuhan. Kebutuhan untuk memberikan nutrisi bagi tubuh, kebutuhan untuk tetap dan selalu sehat, sekaligus kebutuhan untuk mengendalikan arus keuangan sepintar mungkin.
Bagi kebanyakan orang tua, membawakan bekal bagi putra - putri tercinta, selain lebih ekonomis dari segi finansial, tentunya juga akan lebih menjamin kebersihan dan kualitas makanan yang dikonsumsi buah hati mereka. Dan ternyata pertimbangan ini pun, tak berubah di kalangan para pekerja. Atau malah justru kalangan pekerja inilah yang lebih perhitungan dalam hal ini,ya.. :D


Cukup dengan berkorban untuk bangun lebih pagi dan tentunya sedikit saja rasa repot berkutat di dapur, untuk bisa menghadirkan bekal makan siang ini. Imbalannya, kita tak perlu pusing lagi, berfikir dan mencari tempat makan siang yang mungkin kita sudah merasa bosan dengan menu dan kondisi yang itu - itu saja. Dengan si kotak nasi yang ajaib ini, kita pun tak perlu capek - capek dan berlama - lama meninggalkan pekerjaan kita. Terutama mungkin bagi mereka yang lokasi kantornya jauh dari warung atau para penjaja makanan. Bolehlah jika dibilang, membawa bekal dari rumah juga salah satu jurus ampuh mengatasi bos yang sedikit cerewet dalam hal jam makan siang :P
Dan tentu yang terpenting dari semuanya, dengan menyiapkan sendiri bekal makanan yang akan kita konsumsi, kita akan selalu yakin tentang kebersihan dan kualitas makanan kita. Tanpa perlu khawatir tentang sayuran atau ikan yang belum benar - benar bersih tercuci, cara mengolah masakan yang kurang matang, atau hal - hal lainnya.

Perasaan bosan atau mungkin kondisi yang benar - benar tidak memungkinkan untuk menyiapkan semuanya dari rumah, bolehlah menjadi alasan bagi kita untuk sesekali makan di luar. Toh pun, kita juga pasti butuh bersosialisasi dengan rekan - rekan di luar kepentingan pekerjaan. Dan biasanya di waktu jam makan siang inilah momen ngobrol - ngobrol santai selalu bisa tercipta.


Hummm...jujur jadi kepikiran sama sang kekasih yang berjuang di ibu kota. Bekerja di kota besar yang tentunya menuntut pengorbanan hidup yang juga besar.
Sungguh betapa inginnya aku, bisa selalu menyiapkan untuknya bekal makan siang orisinil buatanku sendiri. Memastikan ia selalu sehat dengan makanan - makanan yang terjamin kualitas & kebersihannya. Sedikit membuat desain icon - icon lucu dengan nasi dan lauk pauknya, demi mencuri secuil senyumnya di tengah hari itu. Sambil sesekali, menyelipkan sepucuk surat di kotak makannya, yang bercerita tentang betapa aku mencintainya..Aiih.... :">


Maaf jika belum bisa menghadirkan itu semua ya, sayang...
Moga saat - saat itu, akan segera tiba, aamiin.....

Senin, 12 Desember 2011

Rimba Amniotik

Beberapa hari lagi sebelum kehadiranmu, atau bahkan beberapa jam?
Aku tak persis tahu.

Banyak yang ingin kuucapkan, tapi sepertinya kaulah yang sudah tahu.                                             
Sekian lama kita bernapas bersama, bergerak bersama, merasa bersama.                                            
Kau begitu dekat bahkan bersatu dengan tubuhku,                                                                               
tapi tetap saja, di sini aku menanti kehadiranmu.


Perjalananmu kelak hanyalah dari perutku menuju dekapanku.                                                           
Namun itulah perjalanan yang akan mengubah kita berdua.                                                             
Mengubah dunia.
Saat kau tiba, aku tak lagi menjadi manusia yang sama.                                                                        
Dan kau juga akan melihat dunia yang berbeda: terra firma.                                                                  

Selapis kulit saja tabir yang membatasi kita, tapi sungguh berkuasa.

Kau datang, dengan segala kegenapanmu.                                                                                           
Kau datang, bahkan sudah dengan nama.                                                                                                  
Kau datang, dengan segala pelajaran dan kebijaksanaan.
                                                                   
Aku memilihmu karena kita pernah sama-sama berjanji pada satu sama lain, lanjutmu lagi.                         
Saat kita berdua masih sama-sama ingat.                                                                                               
Saat kita berdua masih sama-sama di sisi lain dari koin ini.



Entah bagaimana harus aku mencintaimu.                                                                                             
Kau lebih seperti guru sekaligus sahabat.                                                                                            
Waktu kau tiba dalam bentuk mungil dan rapuh nanti, biarlah alam yang mengajarkanku untuk mencintaimu lagi dari nol.                                                                                                                                         

Seolah kita tak pernah bertemu sebelumnya, seolah kita tak pernah bercakap-cakap bagai dua manusia dewasa, karena dalam bahasa jiwa semua “seolah” yang kusebut barusan tiada guna.                                 
Waktu, usia, dan perbedaan jasad kita, lagi-lagi hanyalah hadiah dari sisi koin di mana kita sekarang tinggal. Hadiah yang harus direngkuh dan diterima.


Sembilan bulan ini mereka bilang aku tengah mengandungmu.                                                                

Aku ingin bilang, mereka salah.                                                                                                      

Kamulah yang mengandungku.                                                                                                                

Seorang ibu yang mengandung anak di rahimnya sesungguhnya sedang berada dalam rahim yang lebih besar lagi.                                                                                                                                                        
Dalam rahim itu, sang ibu dibentuk dan ditempa.                                                                                    
Embrio kecil itu mengemudikan hati, tubuh, dan hidupnya.



Terima kasih telah mengandungku;                                                                                            

menempatkanku dalam rimba amniotik di mana aku belajar ulang untuk mengapung bersama hidup,             
untuk berserah dan menerima apa pun yang kau persembahkan.                                                              
Kini dan nanti.                                                                                                                                 
Manis, pahit, sakit, senang,                                                                                                                      
kau ajari aku untuk berenang bersama itu semua,                                                                                
sebagaimana kau tengah berenang dalam tubuhku dan merasakan apa yang kurasa,                                      
mengecap apa yang kumakan,                                                                                                         
menghirup udara yang kuendus—tanpa bisa pilih-pilih.                                                                             
Kau terima semua yang kupersembahkan bagimu.



Terima kasih untuk perjalanan ini.                                                                                                       

Untuk pilihanmu datang melalui aku.                                                                                                  

Untuk proses yang tak selalu mudah tapi selalu indah.



Aku tak sabar untuk mengenalmu lagi.

Lagi dan lagi.


Salah satu fragmen dalam buku Madre,
ditulis ketika Dee sedang mengandung Atisha

Kamis, 08 Desember 2011

^_^


Thank you, Allah......

Selasa, 29 November 2011

....karena Kita.....


......penaku sepertinya patah, tintaku seakan mengering, untuk apalagi jutaan kata, ketika KAU saja, kini tlah cukup mewakilinya...
you and me = us ^_^

Sabtu, 08 Oktober 2011

08 Oktober 2011

Cukup lama kutekuri gundukan tanah kering di depanku. Panasnya cuaca karena musim kemarau, semakin menambah nuansa kering di tengah hari itu.Tanah yang kuingat jelas berwarna merah 5 tahun lalu, kini tlah banyak bercampur batu dan kerikil – kerikil kecil. Kuingat – ingat lagi, kapan terakhir aku mengunjungi tempat itu. Seminggu yang lalu? Sebulan? Tiga bulan? Ah.. saking seringnya, hingga aku sama sekali tak mampu mengingat, kapan terakhir kali menaburkan bunga mawar di atasnya.
Semenit….Dua menit….hingga 10 menit berselang, tak ada doa maupun lafadz – lafadz Illahi yang mengalir dari lisanku. Aku masih begitu asyik menikmati perenunganku, sambil sesekali mencoba menggelar adegan latar yang kulakonkan sendiri. Siang itu, rasanya begitu mudah menghadirkan sosok lelaki hebat yang sangat kucintai dalam hidupku itu. Walau hanya dalam bayang – bayang imajinasiku, ia seakan begitu nyata. Teduh suaranya, lembut belainya, wangi tubuhnya, dan segala tentang dirinya,membuatku semakin hanyut dan sejenak lupa tentang kapan dan di mana aku berada.
Tak terasa, sudah 5 tahun berlalu sejak kepergian lelaki sederhana nan penuh canda tawa itu. Rasanya tak perlu lagi kuceritakan, bagaimana rindu dan air mata ini slalu membuncah dan mengalir untuknya. Sama sekali tak ada maksud hatiku, untuk membuka dan kembali bernostalgi degan segala kisah dan kenang tentang dirinya. Namun di saat – saat seperti ini, sungguh tak mampu kucegah hatiku untuk sekedar menyapa dan tersenyum pada rangkaian kisah yang pernah ada. Saat – saat di mana, Allah memberi hadiah yang begitu indah di 23 tahun hidupku.
Ah.. Bapak… gadismu yang manja dan dulu begitu nakal, ingin mengabarkan sebuah berita bahagia untukmu. Seorang lelaki sederhana nan bersahaja sepertimu, telah memenangkan hatiku. Tapi kau tak perlu cemburu, Pak… Karena Ia sangat cerewet, sama sepertimu. Ia begitu perhatian, serupa sosokmu. Tentu ia juga cerdas dan pandai, seperti dirimu. Dan insyaAllah yang paling utama, ia adalah sosok lelaki solih yang kelak akan selalu membimbingku, berjuang, dan sejalan dalam iman.
Bapak… sungguh tak ada maksud hatiku untuk membuatmu cemburu. Aku masih ingat bagaimana sewot dan sebal rautmu, saat beberapa kali aku berceloteh riang tentang sahabat – sahabat lelakiku semasa masih kanak – kanak dulu. Aku sangat tahu bahwa kau tak ingin, ada lelaki yang lebih spesial di hatiku selain dirimu. Tapi beberapa saat lagi,pak… ketika kedewasaan telah menyapaku, izinkan putri kecilmu ini, untuk memutuskan & melabuhkan hati pada imam pilihannya. Beberapa jam lagi pak… walau tanpa kehadiranmu, ikhlaskanlah seorang wali hakim yang mengambil wewenang untuk menikahkan putrimu ini. Aku berjanji, rasa sayang itu tak akan pernah berubah. Kau tetap lelaki & ayah terhebat yang memiliki tempat tersendiri di hatiku. Dan bersamanya, Pak… kuingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik & solihah, hingga terus bisa mengiringi perjalananmu dengan doa – doaku.

Malam ini, di ruang yang telah berhias bunga – bunga wangi nan cantik ini, di tengah sedu sedan dan air mata bahagia bercampur rindu, kumantabkan hati dalam sebuah harap dan doa, Ya Rabbanaa… persatukanlah aku kelak, dengan mereka yang kucintai, di Jannah-Mu…… aamiin….

Kamis, 15 September 2011

....Tik....tuk....

....tik....tuk.....tik...tuk.....tik...tuk....
ada bahagia yang menyelinap,

....tik....tuk.....tik...tuk.....tik...tuk....
namun ada pula rasa takut yang senyap - senyap hinggap,
....tik....tuk.....tik...tuk.....tik...tuk....
dan sang waktu, ia tetap saja terus merayap........