Rabu, 05 Desember 2007

Namanya Anang...

Namanya Anang...
Sosoknya mengingatkanku akan diri ini pada 7 - 8 tahun silam. Di mana usia itu adalah masa2 bahagia seorang anak kecil sepertiku. Berlari dan bergurau ke sana kemari, ditemani beraneka warna mainan! Tak ada susah dan tak ada gelisah...
Anang berbeda. Lelaki kecil bertubuh tambun itu, di usia dininya mau tak mau harus ikut mengecap pahitnya jalanan kota! Meminta serta memohon belas kasihan & rasa simpati dari orang - orang yang berlalu-lalang. Menjadi pengemis, bukan pilihannya! Ia terpaksa.... di kala kerjaan sebagai kuli angkut pasar tak mengijinkannya bergabung, selain karna tubuhnya yang masih terlalu kecil, dan orang - orang yang sudah jarang menggunakan jasa mereka. Saat menjadi loper koran pun, entah kenapa enggan ia lakukan...
"Takut mbak... jualan di pinggir jalan.. banyak motor...", ucapnya polos.

Anang adalah anak pertama dari 6 bersaudara. Berangkat dari keluarga yang serba pas - pasan bahkan mungkin teramat kekurangan, Anang hanya mampu bersekolah hingga kelas 5 SD. Ayahnya seorang buruh bangunan... dan ibunya menggeluti dunia yang saat ini dilakoni bersama Anang, putranya. Menjadi pengemis... dari jalan ke jalan, toko ke toko, pasar ke pasar..... sambil menggendong putra terkecilnya tuk meraih rasa iba.....
Dua orang adik Anang yang masih berkesempatan melanjutkan sekolah hingga saat ini, sedang 3 lainnya harus menjalani "lakon" yang sama.

Anang bisa kubilang adalah anak yang bertanggungjawab, karna saat kutanya kenapa memilih mengemis? Dia menjawab dengan jujur, "Untuk makan sekeluarga, hasil bapak sama emak gak cukup!"
Dan saat kembali kutanya apakah orang tuanya yang menyuruh? Dia dengan yakin dan tegas menjawab, "Tidak! Mereka ndak pernah nyuruh... tapi saya kasihan....."
Mungkin itu pula salah satu alasan, kenapa Anang hengkang dari statusnya sebagai seorang pelajar! Dan lebih memilih menyusuri jalanan bersama teriknya mentari, hanya untuk mengharapkan recehan koin dari mereka yang merasa kasihan.

Aku pribadi..adalah orang yang paling "pelit" dan anti ngasih uang sama pengemis2 kecil. Jiwa mereka yang masih sangat muda, tak sepantasnya dikenalkan pada kepasrahan dan kemalasan! Memberi sama artinya dengan mendidik! Itu menurutku! Semakin kita memberi mereka, semakin mereka merasakan nikmatnya meminta2 dan akhirnya kecanduan, parahnya hingga dewasa nanti tak ada kemauan untuk mencari kehidupan yang lebih baik!
Sungguh mengiris hati, seorang anak kecil yang seharusnya belajar di sekolah & menikmati waktunya bermain bersama anak2 seusianya, kulihat berkeliaran di sekitar kampus sambil menengadahkan tangan, apalagi kalo bukan untuk meminta uang!
Saat Anang mendekat dan berujar, "Mbak...njaluk duite mbak... (Mbak..minta uangnya mbak...)", sontak hatiku tergerak tuk mengenalnya lebih jauh. Bukannya memberi uang, aku justru mengajaknya berkenalan & ngobrol ngalor - ngidul.

Percakapan singkat kami, semakin mengingatkan, betapa beruntungnya aku.... yang siang2nya tak harus bergelut dengan sengatan mentari dan malam2nya yang penuh keresahan tentang makan apa esok hari. Aku jauuuuh lebih beruntung dari mereka, itu pasti!
me : "Anang gak kangen belajar sama maen bareng2 temen?"
he : "Yo kangen mbak... pengen...."
me : "Anang masih mau & pengen belajar lagi?"
he : "Mau...tapi nok endi (di mana)... yok opo carane (gimana caranya).... duite emak karo bapak gak mungkin cukup gawe sekolah meneh (uang bapak dan emak gak akan cukup buat sekolah lagi..)"
Ya Tuhan.... apa yang bisa kulakukan.....? Aku pun tak lebih dari anak muda nekat yang masih mencoba & belajar mencukupi kebutuhanku sendiri. Secara materi pun, aku tak mampu membantu mereka, aku bukan siapa2.....

"Hoi! Bapak2 ...ibu2...sodara2.... yang duduk di 'kursi2 empuk' di sana! Bagi sedikit dunk kenikmatan di meja makan kalian... hangatnya kasur dan selimut sutra kalian... minimal senyum & perhatian kalian untuk mereka....
Apa iya...bisa makan kenyang, sedang ada yang merintih kelaparan...
Apa yakin bisa tidur nyenyak, sementara tubuh2 mereka menggigil kedinginan...."
(buktinya emang bisa kok! -_-)

Mungkin benar... aku salah berceloteh gak jelas di sini! Tapi aku pun sadar... aku tak mampu berbuat apapun selain memberikan doa yang terbaik bagi mereka....
Arrrrrgggghhhh........!!!! What should i do???!!!

"Anang...maaf ya... aku hanya bisa mendoakanmu....semoga roda pedati itu segera berputar! Dan semoga keadilan suatu saat nanti benar - benar bisa 'alergi' sama materi! Tapi tetep berusaha ya... karna pintu tak kan pernah terbuka, jika kita tak pernah mencoba mendorongnya...."