Jumat, 14 Desember 2007

Laput - Debu Jalanan

Melawan panas dan menerjang hujan... begitulah keseharian mereka para "debu jalanan" untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mereka yang lebih sering kita pandang dengan sebelah mata, bertahan hidup dengan meminta & memohon iba kepada orang yang melihat atau sekedar lewat. Dari jalan ke jalan, warung ke warung, hingga kini mulai merambah masuk ke kampus - kampus. Lokasi di mana banyak terdapat muda - mudi yang bergelarkan mahasiswa dan tentunya sebagian besar berasal dari keluarga yang mampu & berkecukupan.
Beberapa dari mereka mengungkapkan latar belakang yang hampir serupa, kenapa harus memilih "profesi" tersebut. Kesulitan ekonomi dan minimnya penghasilan dari pekerjaan yang mereka lakoni, merupakan alasan utama. "Saya jadi pembantu & buruh tapi ndak nutupi buat sebulan. Upah pembantu cuma Rp 150.000/bulan, buruh tembakau cuma dihargai Rp 600,- / kg.", ungkap Bu Ita yang biasanya beroperasi di Jalan Jawa.
Selain dua alasan di atas, banyaknya anggota keluarga juga menjadi alasan kenapa mereka harus menambah penghasilan dengan cara mengemis. Ibu Ita sendiri adalah ibu dari 4 orang anak, dan Halimah salah satu putrinya yang duduk di kelas 2 SD, adalah yang paling sering menemaninya bekerja. Suaminya dulu adalah buruh bangunan dan tukang becak, namun semenjak mengalami kecelakaan kini dia hanya tinggal di rumah.

Masuk Kampus
Jika ditanya kenapa kampus, jawaban mereka adalah karena di daerah pertokoan di pusat - pusat kota atau lebih dikenal dengan segitiga emas, sudah terlalu banyak saingan. Lebih - lebih semenjak diberlakukannya penertiban gepeng dan anjal, gerak - gerik mereka selalu dihantui oleh rasa takut dan was - was akan terciduk operasi SATPOL PP. Anggapan tentang keberadaan mahasiswa yang mampu dan berkecukupan, juga menjadi alasan mengapa mereka memilih kampus sebagai wilayah operasi.
Bu Ita juga menuturkan, tentang waktu atau jam kerja mereka, yakni mulai pagi kira - kira pukul 07:00 hingga menjelang malam (habis waktu Isya'). Itu waktu normal jika mereka merasa cukup dengan pemasukan yang didapat pada hari itu. Namun jika pendapatan belum sesuai dengan yang diharapkan, mereka bisa baru pulang ke rumah hingga pukul 22:00. Sehari itu, biasanya mereka berkeliling dari warung ke warung di area TegalBoto, masuk ke kampus, dan ngepos juga di tempat - tempat tertentu seperti ATM & pinggir jalan.
Ibu Nanik, yang saat ditemui kemaren sedang menyusui putranya yang masih bayi mengungkapkan juga alasan, kenapa mereka betah keluar masuk kampus, "Gak pernah diusir kok dek, paling - paling cuma beberapa kali sama satpamnya, tapi kita ya terus aja!"
Tentang hasil yang mereka terima per harinya, benar - benar membuat saya takjub dan mungkin ini yang membuat mereka bertahan dan lebih memilih menjadi pengemis daripada pekerjaan lainnya. Dalam sehari, rata - rata mereka bisa memperoleh antara 10 hingga 15 ribu rupiah. Bisa dihitung sendiri, berapa penghasilan mereka selama sebulan dari meminta - minta.
Sehubungan dengan adanya penertiban gepeng dan anjal, di masa pemerintahan bupati Jember saat ini, mereka memang merasakan ruang gerak yang semakin sempit dan sulit. Belum lagi jika harus berkejar - kejaran dengan SATPOL PP. "Kalo saya pilih pasrah, ikut mobil aja!", Bu Ita menambahkan. Dan baginya serta putra - putrinya, berurusan dengan SATPOL PP bukanlah hal yang baru, mereka telah terbiasa.

Mereka dan lingkungan sosial
Bisa kita bayangkan bagaimana kehidupan sosial atau masyarakat sekitar memandang keberadaan mereka. Ibu Nanik, wanita separuh baya yang sudah menggeluti "profesi" ini hampir 10 tahun lamanya, menuturkan salah satu duka yang paling sering mereka alami, "Gak jarang kami diusir trus dibentak. Tapi saya sadar kok, siapa saya ini....".
Di sisi lain, ada juga yang begitu baik dan peduli terhadap mereka. Ibu Nanik mengungkapkan, sekelompok mahasiswa UNEJ yang mayoritas dari FISIP bersama dengan Yayasan Pramita Malang sekitar tahun 2000-an , benar - benar memberikan kepedulian penuh terhadap mereka. Baik melalui bimbingan belajar bagi putra - putri mereka yang harus putus sekolah karena masalah biaya, hingga penghimpunan bantuan materi layaknya yayasan sosial.
Dan kepedulian itu mereka rasakan semakin berkurang kini. Walaupun tetap ada beberapa, namun jumlahnya tak sebanding dengan tahun - tahun sebelumnya. "Mahasiswa sekarang ndak kayak dulu, ada beberapa juga sih yang baik, ngajarin anak - anak saya belajar, tapi ndak sebanyak dulu...", bu Nanik menambahkan.
Tentang lingkungan tempat tinggal mereka sendiri, Ibu dari 5 orang anak yang putra - putrinya juga sering terlihat "beroperasi" di Fakultas Ekonomi UNEJ ini menuturkan, tetangga di kanan kiri rumah adalah mereka yang juga menggeluti profesi yang sama, yakni sebagai pengemis. Hanya daerah operasi yang berbeda satu sama lain. Beberapa komunitas mereka bisa kita temui di Talangsari (Puskesmas Jember Kidul) dan Langsepan Kelurahan Kranjingan.
Saat ditanya sampai kapan akan bertahan dengan profesi ini, Bu Ita dan Bu Nanik sependapat, "Gak tahu mbak, sebenarnya kami juga sudah bosen, capek, juga malu. Anak - anak juga kasihan sering diledekin temen - temennya karena emaknya ini pengemis, tapi kami ingin salah satu dari anak kami bisa terus sekolah dan berhasil, biar besok ndak kayak orang tuanya ini." []

5 komentar:

an|na mengatakan...

smakin lama gaya bahasa dalam tulisan makin baguss ;)

mbemz mengatakan...

Waduh... makasih mbak.. :>
Ini kan juga berkat sering baca & belajar dari blognya njenengan.... :)

an|na mengatakan...

jangan bijitu agh.. :-"
aku nulis blog lak sak enak e dewe ges.. qiqiqiqi

z31nt mengatakan...

Gaya menulisnya bagus....
Sekali-sekali dibuat gaya bahasa yang lwucuuu po'o, mosok serius thok....???

mbemz mengatakan...

wedew.. aku gak iso nglucu hare mas! Lha jare arek2 biasane aku ra usah nglucu, mereka liat aku dah ktawa2 dewe! :D Malih ra iso nglucu aku! :p Piye?