Kamis, 02 Juni 2011

Pak Budi

Bukankah suatu hal yang sangat membahagiakan sekali, jika kau yang bukan siapa - siapa itu, masih diingat bahkan sangat dikenal oleh seseorang di masa lalumu ?

Hal membahagiakan itu, kualami langsung kemarin. Berawal, ketika sebuah kegiatan yang diamanahkan kepadaku -tepatnya kepada kami-, membutuhkan seorang pelatih yang mumpuni di bidang tersebut.
"Yak, jadinya kita pakai sendratari aja mbak... Untuk konsep kasarnya, bla...bla..blaaa... untuk detailnya coba nanti disusun dan didiskusikan ya.... Sekaligus pelatihnya juga...."

Hal - hal seperti ini, memang bukan sesuatu yang baru bagiku. Tapi jujur, 'dunia ini' telah begitu lama aku meninggalkannya. Aku mencoba berfikir dan mencari - cari, kira - kira siapa yang bisa kumintai pertolongan untuk hal ini. Teman - teman teater yang kukenal semasa masih kuliah dulu mungkin bisa membantu dalam hal konsep cerita. Tapi aku tak yakin, mereka kompeten dalam hal seni tari. Dan dari beberapa orang yang kuhubungi pun, ternyata telah banyak yang merantau meninggalkan kota ini. Lalu aku teringat seorang sahabat yang aku tahu pasti telah beberapa kali berpengalaman dalam hal urus-mengurus masalah satu ini. Sahabat berparas ayu yang kukenal sejak masih SMP dulu.
Awalnya, dia merekomendasikan padaku sebuah nama. Yang langsung kuhubungi saat itu juga. Namun sayang, mbak penari yang aku beri tawaran dadakan untuk melatih itu, menolak dengan alasan waktu yang diberikan terlalu singkat. Aku belum menyerah. Kucoba kembali menanyakan alternatif lain pada sahabatku tadi. Hingga muncullah nama itu. Nama yang sebenarnya cukup familiar karena banyak digunakan untuk menamai tokoh di buku - buku pelajaran jaman SD dulu.
"Ada 1 lagi say... ini guruku waktu SD dulu... namanya Pak Budi... beliau ini memang penari juga......"

Entah, begitu nama itu disebutkan, aku langsung teringat seseorang. Lelaki berkulit kuning langsat, dengan wajah penuh senyum, dan lelakunya yang sangat lembut. Namanya pun sama, Budi. Beliau adalah guru tari dan teater semasa SD hingga awal SMP ku dulu. Apakah Pak Budi yang dimaksud sahabatku tadi adalah orang yang sama? Aku masih menebak - nebak.

Hingga  kemarin, berbekal alamat yang diberikan sahabatku itu, bersama seorang kawan selepas jam kerja, aku mendatangi langsung rumah Pak Budi. Dengan beberapa kali tanya sana dan sini, akhirnya kami temukan juga rumah mungil di lahan paling ujung  salah satu perumahan di kotaku.
Lelaki yang menyambut kami sore itu, sepertinya sedang sibuk berbenah. Saat melihat kedatangan dan mendengar salam dari kami, serta merta ia tinggalkan beberapa kayu dan perkakas dari tangannya.
"Wah...sebentar ya.... monggo masuk dulu......" sapanya ramah sambil meninggalkan kami untuk membersihkan kedua tangannya.

Aku sebetulnya masih menebak - nebak dan belum yakin sepenuhnya, bahwa Pak Budi yang dimaksud sahabatku itu, adalah orang yang sama dengan seseorang yang aku ceritakan tadi. Tapi setelah sapaan lelaki yang menyambut kami sore itu, aku jadi semakin yakin dan langsung mengamini pradugaku beberapa hari ini. Ya... paras dan senyum yang selalu ramah itu, tak pernah berubah dan masih seperti dulu. Beliau memang Pak Budi, guru tari dan teater semasa aku masih duduk di bangku sekolah dasar dulu. Beliau memang tidak mengajar hingga aku lulus SD. Saat aku masih kelas 4 atau 5, beliau dipindah ke sekolah lain, dan itu memang sekolah sahabatku tadi.
Sambil melepas sepatu dan memasuki rumah beliau, hatiku terus membatin. Apakah beliau masih ingat padaku, salah satu muridnya ini.
"Sebentar, saya kok sepertinya antara ingat dan lupa.... tapi saya ndak asing kok sama wajahnya...." beliau memulai percakapan.

"Hehehe.. saya murid Bapak sewaktu di SD Kepatihan 02 dulu...." pertanyaan beliau kujawab sambil tersenyum.

"Nah...benar kan.... terus, gimana.. gimana.... Gest?"

Ucapan beliau yang barusan ini, sungguh membuatku terkejut sekaligus bahagia. Lebih dari sepuluh tahun telah berlalu, ternyata beliau masih ingat bahkan mengenal namaku. Sore itu pun tak hanya maksud utama kedatangan kami ke sana yang kuutarakan kepada beliau, kami juga jadi saling banyak bercerita tentang kenangan dengan kawan - kawan di masa lalu, serta perjalanan hidup kami hingga saat itu.
Pak Budi yang terakhir kutemui masih dengan 1 bayi dalam gendongannya, ternyata kini sudah memiliki 3 putra. Dan alhamdulillah, beliau beserta istri sama - sama telah diangkat menjadi guru di salah satu sekolah dasar negeri di kotaku.

Kalau bukan karena ada amanah yang diberikan padaku, pasti sore itu aku tak akan ada di sana. Dan tentu saja, kalau bukan karena Faiq, sahabatku, aku mungkin entah kapan baru bisa bertemu lagi dengan salah satu guru favoritku itu.

*Syukran katsiir ya ukhti.... silaturahim yang sempat termakan waktu ini, jadi bisa terjalin kembali, juga karenamu..... :-)

1 komentar:

aro-inform mengatakan...

uda lamo tak jumpo faiq, gmn kabarnya dia ya skrg :D
katae wes tunangan sama temen EsEmPe nya .
aku yakin, kalo ketemu sama aku, aku pasti lebih tinggi dari dia skrg ahahaha

*eling mbien tukaran mulu gara2 masalah tinggi badan