Minggu, 12 Juli 2009

Sang Bapak

Penampilannya begitu sederhana namun tampak bersahaja. Wajah senjanya tersembunyi di balik topi putih lusuh yang dikenakannya. Senyum itu ramah menyambutku.

Ya, mbak?”

Mo nyuci motor, pak.” Kubalas tersenyum padanya.

Bentar ya, mbak.. tinggal dikit lagi. Monggo pinarak dulu...” Ujarnya lalu melanjutkan memoles motor yang telah lebih dulu datang sebelumku.

Tak akan lama, batinku. Motor yang sedang diselesaikan oleh bapak tadi tlah tampak bersih dan mengkilat. Pasti sebentar lagi selesai, dan akan tiba giliran Ega ku tersayang. InsyaAllah masih bisa untuk hadir tepat waktu di kantor.


Siang yang panas itu, pasti memaksa siapapun untuk lebih memilih menikmati waktu santai di rumah. Bertemankan kesejukan, makanan ringan, atau mungkin memanjakan saraf – saraf tubuh yang telah letih berjuang selama sepekan terakhir. Ya, bukankah tak ada yang lebih dinanti di setiap minggu selain akhir pekan tiba ?

Segala kenikmatan dan rekreasi akhir pekan itu, bagi beberapa orang yang terlibat aktivitas dan tanggung jawab yang harus ditunaikan, tentunya mau tak mau tertunda atau lebih indahnya harus dialihkan ke lokasi lain. Dan keputusan untuk membunuh segala rasa ‘aras - arasen’ itu, kembali memberiku hadiah yang manis siang ini.

Bapak yang tak sempat kutanya siapa namanya itu, menetesi hatiku dengan embun – embun kesejukan lewat sedikit dari kisah hidupnya.


Griyone teng pundi, mbak?” bapak itu membuka obrolan di tengah aktivitasnya memandikan Ega.

Mboten tebih saking mriki kok, pak..” sahutku sambil mengamati tangan – tangan beliau yang lincah membersihkan sudut – sudut mesin Ega.

Asli mriki berarti... kulo tebih mbak.. teng Mangli.”

Ooo... Bendinten wangsul Mangli pak?.”, balasku sambil tersenyum.

Nggih, mbak... lha wong chedak. Lha niku, ngengkol bendinten!


Ucapan bapak yang terakhir, kubalas hanya dengan senyuman dan akhirnya membuatku terdiam sesaat. SubhanAllah... begitulah perjuangan seseorang untuk bertahan hidup. Jarak dari Mangli ke sini, memang tak terlalu jauh. Tapi juga bukan jarak yang dekat jika ditempuh dengan sepeda oleh bapak seusia itu. Jarak yang ditempuh pulang pergi, jika ditotal bisa mencapai 30 km. Dan itu dilakukan olehnya setiap hari. Yang membuatku lebih kagum, tak tampak sedikitpun gurat penyesalan ataupun ratapan – ratapan cengeng dan keluh kesah dari wajahnya. Setiap tuturnya terdengar begitu ikhlas dan tanpa beban menjalani rutinitas yang menurutku tidaklah mudah itu.


Dibandingkan dengan aku, tentu beliau lebih hebat. Jauh lebih keren. Bagaimana tidak, di saat orang – orang pusing memikirkan dan berjuang menumpuk harta untuk memenuhi kebutuhan duniawinya, sang bapak memilih bertirakat dan terus berjuang menyemai manfaat di sisa usianya. Saat para pengendara motor (termasuk aku) dengan bangganya menodai kota dengan polusi ampas mesin mereka, beliau memilih berpeluh dan merasakan letih yang teramat sangat.

Enak lho, mbak... Alhamdulillah saya merasa sehat sampe sekarang!” ujarnya riang.

Beliau melanjutkan, “Kalo manut umurnya kanjeng nabi, umur saya di dunia mpun mboten dangu malih. Mergo niku, kulo milih ngisi dinten – dinten niki kaliyan kegiatan ingkang ndhugiaken manfaat, mbak. Kulo mboten purun ngoyo – ngoyo, tapi sia – sia. Terus mensyukuri nikmat dan berjuang jalani hidup sesuai porsi yang dimiliki . Ngoten lak enak to mbak... ” sang bapak mengakhiri ucapannya dengan senyum yang mengembang.


Batinku berbicara. Betapa indah jika hati tiap – tiap insan bisa terasuki kebijakan bapak tadi. Mungkin tak akan ada tragedi saling menyikut, saling tendang, saling gencet, demi mencapai dan memuaskan kebutuhan pribadinya. Benar. Bukankah semua telah memperoleh dan akan berjalan di porsinya masing – masing. Sang Khalik pun, telah menjamin dan menjanjikan yang setara bagi yang mau berusaha.

“Waduh, kulo niki tiyang alit, dudu sopo – sopo, tapi ngomonge katah nggih, mbak! Tapi nggih mung niku kekayaan kulo. Sugih omong! Hehehe...” Bapak itu tertawa sambil memoles ban Ega sehingga lebih terlihat mengkilap.

Mbak, kuliah ?”

Mboten, pak...” aku berusaha menjawab di tengah ketermenunganku.

Lha terus? Mpun ngasto? Wah... hebat nggih. Taksih enom tapi mpun pinter golek rizqi.

Ucapan bapak yang terakhir, sama sekali tak kujawab. Termenung. Aku tenggelam dalam ketermenunganku sambil membatin, “Aku semakin sadar, bahwa aku memang bukan siapa – siapa.....

2 komentar:

mbemz mengatakan...

Ega...Ega.

Da j km iki Ge!!!
panCEn yo??Slama kita peka da j yg bisa d dapat.

Dani mengatakan...

teringat mbah kakung ku :(
luar biasa emang pemikiran dan perjuangan pendahulu kita..aq yakin smua pasti bisa meniru ataupun dapat mengambil manfaatnya karena dalam diri kita juga mengalir garis darah keturunan orang2 terdahulu..
bisa..aku pasti bisa..