Kamis, 03 April 2008

Elegi kemarin sore....

" Seberapa mudahkah kau meyakini, bahwa yang kau rasakan itu cinta.... ? "

Hingga kini, terlalu sulit bagiku untuk bisa menerima atau melontarkan "kata" yang menurutku sakral itu.
Seiring berjalannya usia yang mendewasa, tlah banyak pula roman dan kisah yang kulihat dan temui, bahkan beberapa tak sengaja mampir. Namun nyaris tak bisa kutemui & kuingat, bibir yang dianugerahkan Tuhan untukku ini, melisankan "kata" itu.
Mungkin lebih tepatnya, memang tak pernah.........

Pernahkah aku jatuh cinta?
Entah...
Sekali lagi, terlalu sulit untuk menerjemahkan rasa itu... yang kurasakan sendiri sekalipun! Berbagai macam karakter yang ikut mengisi hari - hari ku hingga kini, tak cukup membuatku belajar, bagaimana mengekspresikan apa yang aku rasakan. Karna memang aku tak tahu.. atau tak mau tahu? Sekali lagi entah......

Satu.. dua... tiga.. dan sekian... terhitung pernah mencoba menawarkan "makna" itu. Dan aku? Selalu dan selalu... dihadapkan pada kondisi serba salah... gak enak.... khawatir... kalau - kalau akhir indah yang diharapkan, justru berganti menjadi mimpi buruk nan suram.
Ketakutanku beberapa kali terbukti. "Kata" itu yang membuatku tak mengenal lagi kawan, "kata" itu yang membuatku menjadi orang lain di tengah sahabat - sahabatku sendiri, "kata" itu pula yang begitu mudah merubah sosok usil dan periang, menjadi seorang yang kaku dan begitu menjaga image dirinya.
Ah... pernah aku begitu membenci "kata" itu dan segala yang berhubungan dengannya. Termasuk siapapun yang berani - berani mencoba, "memainkan"-nya denganku.

Jika suatu hari kau mendengar "kata" itu terlontar untukmu dari sebuah hati, yang pemiliknya terhitung baru saja mengenalmu.... Lebih - lebih jika dia hanya mengharapkanmu untuk sebuah "perjalanan" yang tak pasti dan tak berkomitmen....
Kira - kira apa yang ada dalam bayanganmu?
Dan salahkah jika aku.....dia..... atau siapapun akhirnya berfikir,
"Sebegitu mudahkah?"
"Apa parameternya?"
"Seberapa yakin dan siapkah?"

Sisi kejam dan sadis jiwaku pun, jika tak kuhalangi, bisa saja berfikir, "Dasar tukang obral!"


Terlalu suci... sungguh terlalu agung..... jika fitrah manusia yang telah dianugrahkan Allah itu, menjadi sesuatu yang begitu mudahnya mengalir, hingga akhirnya menjadi tak berharga dan bermakna lagi.
Bukankah lebih indah, jika sesuatu yang suci tadi, diimplementasikan pada objek yang juga memang indah dan pantas!
Siapakah dia?
Tentunya insan yang untuk menemui & mendapatkannya, kau harus melalui semedi panjang dalam doa, perjuangan, dan kesabaran....

1 komentar:

Sahabat Sejati mengatakan...

Salam sahabat !
Benar apa yang kau ucapkan ! Sahabat selalu mendukung untuk kebaikan ! Good Luck !