Kamis, 17 Maret 2011

Datang lalu Pergi

Satu hal yang sekaligus sangat kusuka dan kubenci darimu adalah memandangi punggungmu.
Menekurinya begitu lama dari tempatku duduk atau berdiri, dan menyadari bahwa kau ada di sini, di sekitarku. Ya, kau dekat.
 Aku juga tak pernah bosan memandangi punggungmu, yang membelakangiku begitu kokoh. Katamu, itu bisa melindungiku dari terpaan angin saat kita berkendara dengan motor beroda dua ini beratus - ratus kilometer jauhnya.
 Tak bisa kutahan pula hasratku untuk memandangi lagi punggungmu, saat kau ada beberapa jarak di depanku. Ketika kita baru saja selesai sholat, kau duduk terpekur begitu lama, dengan kepala tertunduk. Aku tahu pasti, bahwa kala itu kau sedang berdzikir dan mengucap segenap harap, pinta, dan doa kepada Sang Penguasa Semesta.

Namun ada kalanya detik - detik yang tidak mengenakkan itu hadir. Aku masih setia memandangi punggungmu dari tempatku duduk atau berdiri ini. Tapi itu untuk melihatmu pergi menjauh. Meninggalkanku. Walau aku tahu dan mencoba untuk tetap berharap, kau pasti akan datang kembali.


Di bandara itu, di stasiun itu, di terminal itu, di satu tempat yang selalu sama, di mana aku bisa begitu bahagia memandang punggungmu dari kejauhan ketika kau datang, dan gemuruh sesak dalam dada, ketika punggung itu membelakangiku untuk pergi menjauh, sambil berharap - harap dan menerka - nerka, kapan lagi kau akan pulang....



~ sekelumit prosa di pertengahan maret ~

1 komentar:

Bunda Azhima mengatakan...

Keren, mbak... Suka sekali...