Senin, 25 Januari 2010

Dia Ibuku

Braaakkkk!

Gadis kecil itu membanting pintu kamarnya, lalu melompat ke atas tempat tidur. Menangis. Tanpa melepas seragam pramukanya, ia terus sesenggukan di balik bantal dan guling yang selalu menemani tidurnya. Terngiang terus di benaknya kejadian yang ia alami beberapa jam lalu.


Ayo coba anak – anak, masing – masing dari kalian membuat satu buah tulisan yang menceritakan tentang ibu kalian. Setelah itu, ibu akan absen dan yang dipanggil namanya harus membacakan tulisannya di depan sini.....

Ibu Sri guru bahasa Indonesia itu, sengaja memberikan tugas yang menurutnya sangat berhubungan dengan hari itu yang bertepatan dengan hari ibu. Sekaligus sebagai bahan penilaiannya untuk ujian akhir di semester ini.

Ibuku, adalah seseorang yang sangat kuat. Kata ibu, sewaktu masih pendidikan dulu, beliau mampu berlari mengelilingi lapangan bola lebih dari 10 kali. Menyaingi kawan – kawan prianya. Kini, dengan kedua tangan dan peluit di mulutnya ia mampu mengendalikan kota. Dialah ibuku, yang seorang polisi wanita.” Amri, bocah lelaki berbadan kurus dan berkacamata dengan bangga membacakan bait terakhir tulisannya. Tepuk tangan seisi kelas pun ikut mengakhiri ceritanya.


Beda lagi dengan Bela, gadis mungil berambut keriting ini seakan tak mau kalah membanggakan ibunya.

Mamaku sangat cantik. Kata papa, dulu mamaku adalah idola dan pernah menjadi model. Baju mamaku bagus – bagus. Kalo sudah besar nanti, aku ingin seperti mama. Aku akan minta diajari dandan. Aku juga akan minta semua baju – bajunya.” Di akhir cerita, Bela juga menyampaikan profesi mamanya yang seorang pengusaha butik di sebuah kota kecil di Bali.


Aku bangga memiliki bunda. Karena dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tangannya mampu lahirkan anak – anak yang pintar dan cerdas. Bundaku juga pasti adalah seseorang yang pintar. Karna waktu kutanya, ia pernah mendapat beasiswa sekolah di luar negeri. Tak hanya itu, memiliki bunda seorang guru juga semakin memudahkanku waktu mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, hehehe.....” sekali lagi tawa dan tepuk tangan riuh seisi kelas, menyambut cerita Dedy tentang bundanya.


Siang itu, wajah – wajah kecil dan polos mereka mampu bercerita, betapa rasa bangga dan cinta itu berlimpah. Untuk sesosok wanita yang frekuensi keberadaan dan kasih sayangnya paling mendominasi hidup mereka hingga detik itu. Wanita mulia yang dijanjikan surga untuk perjuangannya saat menghadirkan mereka di dunia.

Namun berbeda bagi Fida. Mendung sedari tadi menyelimuti wajah dan hatinya. Namanya memang belum dipanggil untuk maju, tapi hingga detik itu pun ia masih kebingungan harus menuliskan apa di kertasnya yang masih kosong.

Dinda, ibunya adalah seorang wartawan. Elyas, adalah putra seorang bidan. Fahri, Gendis, Gita, dan Hamid semuanya memiliki ibu yang berprofesi hebat dan membanggakan. Sedangkan Fida, hatinya berkecamuk. Haruskah ia berdusta tentang siapa dan bagaimana ibunya? Baginya, wanita itu tidak memiliki profesi yang membuatnya kagum apalagi bangga. Ingin rasanya ia menangis lalu berlari meninggalkan kelas. Berlari dari tugas yang tak mampu ia lakukan.

Krrrrrriiiiiinnnnggggg......................


Baik anak – anak, kita lanjutkan di pertemuan minggu depan. Untuk yang belum maju, tolong disiapkan dengan baik.

Bel akhir pelajaran yang berdering, sedikit membuat hati Fida lega. Setidaknya ia memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan apa yang akan ia tuliskan sekalipun harus berdusta.

Fida.... aku penasaran tentang cerita ibumu, aku tunggu minggu depan ya.. Aku yakin, ibunya Fida adalah ibu yang hebat!” perkataan Intan, semakin merobek hatinya.


======================================***===================================


Fida... sayang... ayuk ganti baju, sholat terus maem dulu. Baru pulang kok langsung tidur. Kamu sakit, nak?” lembut wanita separuh baya itu bangunkan Fida yang tertidur karna lelah menangis. Dipegangnya dahi putri tercintanya itu. Tidak panas. Dibelainya lembut pipi gadis cilik itu, sambil kembali ia coba bangunkan. Fida menggeliat sebentar. Sebenarnya dia sudah mendengar dari pertama kali ibunya memanggil dan membangunkannya. Namun ia enggan membuka mata. Selain karna gelisahnya siang tadi, juga karena takut ibunya tahu bahwa ia habis menangis.

Mataku pasti bengkak, dan ibu pasti tanya macam – macam. Aku malas menjawabnya..” gumamnya dalam hati.


Ayo, nak... sholat trus maem dulu....” ibu belum menyerah.

Iya bu, bentar lagi... ibu duluan aja. Aku tar nyusul...” Fida menjawab masih dengan ogah – ogahan.

Merasa putrinya sudah bangun walau belum beranjak dari tempat tidurnya, ibu meninggalkan kamar. Menuju dapur, menyiapkan kembali makanan untuk Fida.

Sementara di dalam kamar, setelah memastikan ibunya pergi, Fida baru benar – benar membuka matanya. Terasa sekali matanya yang berat karena terlalu lama menangis tadi.

Apa yang harus aku karang untuk tulisan itu minggu depan ? Apa mungkin akan kutulis saja, bahwa ibuku bukan siapa – siapa, bukan orang hebat, karna ia hanyalah seorang ibu rumah tangga.... Ah, aku tak mau malu di depan teman – teman hanya karna ibuku. Fida, sang bintang kelas ini, juga harus menunjukkan bahwa ibunya adalah orang hebat!” hatinya kembali bergumam.


Di meja makan, ibunya masih setia menunggu. Fida datang dengan wajah yang sedikit kusut. Sudah berusaha ia basuh mukanya, terutama mata, agar tak tampak habis menangis. Namun tetap saja, gurat – gurat kekesalan dan kesedihan tak bisa ia sembunyikan.

Mata kamu itu kenapa, Fida?” tanya ibu sambil mengambilkan nasi di piringnya yang masih kosong. Pertanyaan itu tak segera dijawab oleh Fida. Tatapannya menyapu isi meja makan yang tak pernah berubah setiap harinya. Selalu lengkap dan sesuai seleranya. Setidaknya itu sedikit mengobati hatinya.

Gak papa, bu... tadi kelamaan tidur ‘mengkurep’ kayake..” ujar Fida sambil menyendokkan nasi ke mulutnya. Tak banyak obrolan di meja makan siang itu. Tak seperti biasanya, Fida lebih memilih banyak diam dan menjawab pertanyaan ibunya singkat – singkat saja.

Tadi di sekolah gimana? Masak gak ada yang istimewa? Tumben – tumbennya anak ibu yang cantik ini gak cerewet kayak biasanya ?” Ibu terus menyerang Fida karna kediamannya itu.

Fida masih bertahan dengan diamnya. Yang ada di benaknya hanya apa dan bagaimana yang harus ia tulis tentang ibunya. Minggu depan seperti akan hadir dihadapnya beberapa menit lagi. Melihat kondisi Fida yang tak wajar, ibu semakin yakin ada sesuatu yang terjadi pada gadisnya itu. Tapi ibu juga memilih diam. Ia tak ingin terlalu memaksa dan bermaksud memberikan kesempatan bagi Fida untuk tenang dengan dunianya sendiri dulu.

Fida memilih segera menuntaskan makan siangnya itu dan ingin segera mengurung diri lagi dalam kamar. “Bu..... kenapa ibu gak kerja sih, bu? Kenapa ibu suka jadi ibu rumah tangga yang cuma diem di rumah?” Wajah polosnya kemudian berlalu meninggalkan meja makan dan ibunya yang terdiam dalam kebingungan.


=====================================***====================================


Hari Minggu, adalah hari yang paling dinanti – nantikan oleh Fida. Karna di hari itulah, bapak selalu meluangkan waktunya untuk jalan – jalan bersama keluarga. Walau hanya sekedar berkeliling kota dengan sedan coklat tua tahun 60an, atau bahkan bertamasya ke pinggiran kota menikmati indah dan hijaunya alam.

Pagi itu pun, mereka berenam telah menikmati lengangnya jalan protokol yang biasanya macet dan bising. Telaga Sarangan, tujuan mereka hari itu.

Fida adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Di usianya yang ke – 4 tahun, ibu hamil adik pertamanya. Tiga tahun kemudian, disusul si bungsu yang hadir ke dunia. Dan Fida ditakdirkan menjadi satu – satunya anak perempuan di keluarganya.


Ayoo... mana ini anak bapak yang paling cantik kok tumben ga ada suaranya? Biasanya sepanjang jalan nyanyi – nyanyi terus?” bapak mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi tenang. Lelaki berkumis dan berkacamata ini, sesekali melihat cermin yang mampu memantulkan bayangan ketiga putra – putrinya di kursi belakang. Si bungsu pulas tertidur. Putra keduanya, asyik menikmati lolypop yang dibeli sebelum berangkat tadi. Dan Fida sedari berangkat terus melihat keluar jendela, menikmati pematang yang memanjang sambil terus membisu.


Telaga Sarangan siang itu, laksana penyejuk bagi hati dan jiwa yang letih oleh waktu yang terus memburu. Bapak, ibu, Fida, Rio, dan si kecil Ari larut dalam pelukan semesta yang terhampar nyata di hadapan mereka. Mereka tertawa, bercanda, dan terlihat bahagia seperti biasa. Fida pun mulai bisa melebur dengan suasana dan berlari riang ke sana kemari. Walau gelisah sejatinya masih mewarnai hati kecil itu.

Fida gak seperti biasanya, kenapa ya, dek ?” Bapak berujar sambil menyeruput kopi hangat dan mengamati putra- putrinya yang saling berkejaran.

Iya, mas.. aku juga menyadarinya dari kemaren. Dia cenderung lebih banyak diam. Tapi aku memang sengaja belum bertanya banyak, biar dia tenang dengan kesendiriannya dulu...” Ibu memilih menyembunyikan apa yang sebenarnya juga mengganggu benaknya belakangan ini. Terutama pertanyaan Fida yang terakhir sebelum meninggalkan meja makan beberapa hari lalu.

Yawda, aku percaya sama kamu, dek.. Tapi kalo bisa, ndang diselesaikan. Kasihan kalo berlarut – larut. Bentar lagi dia kan mau ujian akhir

Inggih, mas... nanti coba aku ajak dia bicara..

Di bawah pohon asem yang rindang, sepasang suami istri itu menikmati kebersamaan berbalut kehangatan mentari.


======================================***===================================


Siang yang terik, tak membuat langkah gadis cilik bertas biru muda itu melemah. Rasa khawatir dan penasaran, mengalahkan tetes peluh yang membasahi seragam merah putihnya.

Intan, sahabat sekaligus teman sebangkunya tidak masuk sekolah hari itu. Padahal pagi harinya, Fida masih sempat menerima sebuah telepon dari Intan yang mengingatkan untuk membawakan buku catatannya yang dipinjam Fida seminggu lalu.

Intan sakit apa ya... ?” hati Fida bergumam sambil mengingat – ingat letak rumah Intan. Ia percepat langkah kecilnya, mengingat ijin yang ia sampaikan pada ibu melalui telpon umum di depan sekolah tadi, ia tak akan pulang terlampau siang. Kurang satu blok lagi, lalu terhamparlah deretan rumah megah yang bentuk bangunannya nyaris serupa. Hanya warna dan tatanan taman di halaman depan yang membuat masing – masing rumah itu terlihat berbeda.


Rumah megah bercat hijau dan berpagar tinggi itulah rumah Intan. Tiga kali sudah Fida coba memencet bel di balik pagar, namun masih belum ada tanggapan. Ketika dia membalikkan badannya dan memutuskan untuk pulang, mbak Rat pembantu di rumah itu tiba – tiba keluar dan memanggilnya.

Maaf ya non... Mbak lagi nemenin non Intan. Dia gak mau makan, mana badannya panas juga.” mbak Rat sedikit tergopoh sambil membuka gembok pagar.

Intan sakit apa to, Mbak ? Tadi pagi lho, masih telpon aku...


Mbak ga tahu juga, non... Tiba – tiba mau berangkat sekolah tadi, badannya panas terus menggigil. Mbak takut, ibu bapak juga lagi ga ada di rumah..” terlihat jelas kekhawatiran di wajah perempuan muda itu.


Lho?! Tante sama om ke mana ? Tapi tahu kan, Mbak kalo Intan sakit ?” pertanyaan Fida yang terakhir ini, tak sempat terjawab oleh mbak Rat. Karna langkah mereka sudah sampai di tepi tempat tidur Intan yang kini sedang tergolek pucat di balik selimut lumba – lumbanya. Fida menempelkan punggung tangannya ke dahi Intan, seperti yang pernah diajarkan ibunya. Benar. Badannya panas sekali. Kenapa dibiarkan di rumah saja ? Apa dokter sudah datang kemari dan memeriksanya ? Hati Fida bertanya – tanya.


Bunda... Bunda....” sesekali mulut Intan mengingau dan memanggil bundanya. Fida tampak begitu sedih melihat kondisi sahabatnya itu. Tapi ia juga bingung, karna tak ada yang mampu ia lakukan. Beberapa kali ia memalingkan kepalanya ke arah mbak Rat, berharap dia segera melakukan sesuatu. Tapi beberapa kali pula, yang ia lihat adalah mbak Rat yang bermata sayu dan terus gelisah. Fida tahu, mereka berdua kini berada dalam kebingungan yang sama.

Ibu sudah coba mbak telpon tadi pagi non.. Kata ibu, non Intan suruh istirahat aja dan ga perlu masuk sekolah hari ini. Mbak juga dipesenin ibu buat kasih non Intan obat penurun panas yang ada di laci obat. Tapi sampe sekarang, panas non Intan semakin menjadi....” mbak Rat akhirnya bercerita.


Sudah coba telpon tante lagi mbak ? Kenapa ga dibawa ke dokter ?


Habis Duhur tadi nomer ibu tiba – tiba ga bisa dihubungi, non... Mbak juga ga berani bawa non Intan gitu aja. Takut dikira lancang, non....


Tapi kasihan Intan, Mbak....


Iya non, mbak tahu.. tapi mbak musti gimana lagi non... Mbak bingung....” pipi perempuan muda itu mulai basah oleh air mata.

Ya Allah.. apakah tante Ria tidak khawatir dengan kondisi putrinya ? Apakah saat ini dia benar - benar sibuk hingga tak sempat walau hanya menanyakan kabar putrinya yang sedang sakit ? Kasihan Intan... Beri ia kekuatan ya Allah.... Gadis kecil itu terus berdoa dalam hatinya.


======================================***===================================


Lama, perempuan separuh baya itu menekuri serakan kertas di atas tempat tidurnya. Tumpukan kertas yang bukanlah lembaran – lembaran biasa. Karna lembaran – lembaran itulah yang mampu menceritakan perjalanan sekaligus perjuangan wanita ayu yang telah 10 tahun menyandang gelar ibu itu. Diamatinya lagi lembar demi lembar yang merekam namanya begitu jelas. Amaliyah.

Beriring air mata yang terus mengalir, waktu seakan berjalan mundur. Mengantarnya menapaki setiap jengkal kisah di masa lampau. Elu, sanjung, dan puji terasa masih begitu lekat di ingatannya. Ketika beberapa kali dia berhasil mengharumkan nama almamaternya melalui berbagai kompetisi ilmiah. Riuh tepuk tangan penonton, juga terasa masih begitu nyata. Saat semangat dan kegigihannya beberapa kali mampu memenangkan berbagai kejuaraan bulutangkis. Bidang sastra dan musik pun pernah dicicipinya. Amah remaja, memang sangat mencintai aktivitas.


Hingga tatapannya tertahan, pada selembar kertas yang tadinya terlipat rapi dalam amplop. Sebuah surat pemberitahuan tentang keberhasilannya menembus seleksi program beasiswa magister sains di Australia. Bersamaan dengan itu pula, muncullah bayangan Hasan suaminya diikuti Fida, Rio dan si kecil Ari yang bermanja – manja dalam gendongannya. Air mata itu semakin deras mengalir. Teringat kembali ia pada pertanyaan putri sulungnya beberapa hari lalu. Sebuah pertanyaan yang membuatnya kini berada di tengah kebimbangan yang teramat sangat. Adakah ia telah salah membuat keputusan di masa lalu ? Ia telah melukai dan mengecewakan hati bidadari kecilnya. Itu yang terus menghantui benak dan batinnya.


Masih terekam jelas di ingatannya, segala cita dan ambisi yang begitu ingin diraihnya. Amah kecil, selalu berkata lantang setiap ada yang menanyakan tentang apa cita – citanya. ”Aku ingin menjadi ilmuwan !” Dia pun dengan yakin mengatakan, bahwa tak sedikitpun takut kepalanya akan menjadi botak karena harus menyandang gelar profesor. Sungguh Amah kecil yang riang, lincah, dan penuh ambisi.

Fragmen demi fragmen kisah hidup, ia lalui nyaris dengan sempurna. Keluarga yang begitu mencintainya, prestasi yang gemilang, hingga tibalah saat di mana dia harus memutuskan tuk menyempurnakan separuh diennya.


Hasan, lelaki yang ia kagumi karena akhlaq, kecerdasan, dan kelembutan hatinya. Lelaki yang pertama kali dilihatnya saat memasuki kampus kuning itu. Salah satu pengajar yang menjadi idola para mahasiswa, karena kepandaian dan kerendahan hatinya. Awalnya, Amah hanya menjadi begitu tertarik dan antusias pada mata kuliah Psikologi yang dibawakannya. Tapi waktu, justru membawa dan menyuburkan benih – benih kekaguman dalam hatinya menjadi cinta yang sesungguhnya. Hasan lah lelaki yang akhirnya ia pilih tuk mendampingi hidupnya.


Keputusan untuk menikah, adalah perjuangan batin yang dirasakan begitu berat oleh Amah. Berbagai cerita dan pengalaman sahabat, membuatnya yakin bahwa menjadi seorang istri sekaligus ibu, bukanlah sesuatu yang mudah. Peran mulia di mana melalui tangan merekalah, keberlangsungan rumah tangga dan akhlaq turun temurun digantungkan. Tak salah jika ada pepatah yang mengatakan, bahwa kejayaan suatu bangsa tak lepas dari andil seorang wanita, seorang istri, seorang ibu.

Sungguh tak mudah saat dia harus merelakan semua ambisi dan cita – citanya, semua asa serta mimpi yang selama ini telah ia renda nyaris begitu sempurna, dan memutuskan untuk benar – benar mengabdikan dirinya pada keluarga. Murni menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga. ”Aku hanya tak ingin, berbagi nikmat dan pujian dari suami untuk orang lain. Saat dia tak menemui hidangan tersedia di rumah, karna aku masih sibuk menyelesaikan pekerjaanku di kantor. Hingga akhirnya dia harus makan dan membeli masakan di luar rumah. Istri macam apa diriku, jika membiarkan dan tak mampu menyambut suamiku yang lelah setelah bekerja seharian, walau hanya dengan dandanan sederhana dan sesungging senyum manis.Aku pun tak rela, jika cinta dan kasih yang menaungi putra – putriku harus mengalir dari hati selain milikku.... ” Itu yang selalu ia katakan, setiap ada yang kembali menanyakan dan membuatnya ragu pada keputusannya. Ya, Amah telah rela, ia benar – benar ikhlas mengorbankan seluruh mimpi dan ambisinya, demi keluarga, suami, dan anak – anaknya.


”Bukan ibu tak ingin membuatmu bangga, nak.... Sungguh ibu ingin memberikannya secara sempurna. Bukan sekedar materi, puja dan puji, maupun kuasa yang tinggi. Tapi Ibu ingin kau bangga, karna mendapat cinta kasih yang utuh dan tulus dari sesosok wanita sederhana yang kau panggil ibu.... ” Amah larut dalam buai masa lalu dan perih batinnya karena merasa telah mengecewakan buah hati tercinta. Hingga dering telepon dari ruang keluarga membuyarkan semuanya....

========================================***=================================


Fida terus menatapi tetes demi tetes yang keluar dari botol infus dan mengalir pada nadi Intan sahabatnya. Mulutnya tak henti mengucap doa, agar teman sebangkunya itu bisa segera sembuh dan kembali bercanda dengannya. Positif thypus dan demam berdarah, begitu kata dokter yang memeriksa Intan tadi. Terlambat sedikit lagi saja, mungkin Intan tak akan tertolong. Kadar trombositnya sudah mencapai 20.000, sangat jauh dari batas normal. Dokter pun langsung berinisiatif untuk melakukan transfusi darah melihat kondisi tersebut

Sabar ya,nak... ayuk terus berdoa buat Intan. Semoga Allah memberinya kekuatan...” wanita bergamis abu – abu itu membelai lembut kepala Fida.


Iya, Bu... Fida cuma kasihan lihat Intan. Waktu sakit, biasanya sedikit – sedikit aku manggil Ibu. Minta disuapin, minta ditemenin, tapi Intan sekarang...... ” Fida mulai menangis di dekapan ibunya.


Bundanya Intan ndak ke sini, karena memang beliau belum tahu. Mungkin baterai handphonenya habis, jadi ndak bisa dihubungi. Tapi percayalah pada ibu, begitu beliau tahu, pasti akan langsung datang ke sini. Lagian ada Fida dan ibu kan di sini, Intan ga sendirian...” lembut wanita itu membesarkan hati putrinya.

Fida merasakan kebahagiaan yang begitu melimpah setiap ia berlindung, merasakan hangat peluk dan dekap ibunya. Hati kecilnya mengucap syukur yang tak terkira, karna kapanpun ia mau kebahagiaan itu selalu mampu ibunya hadirkan. Rasanya jarang bahkan hampir tak pernah, Ibu tak ada saat Fida benar – benar membutuhkannya. Ibu selalu ada, tak pernah absen maupun bolos dari setiap tawa bahkan air mata Fida.

Itu pula yang akhirnya membuat Fida berinisiatif menelpon ibunya siang tadi. Resah dan rasa khawatirnya pada Intan, membuatnya tak peduli sekalipun nanti harus dibilang lancang telah berinisiatif seperti itu. Satu hal yang sangat diyakininya. Intan sedang sakit parah dan harus segera dibawa ke rumah sakit.


Hari itu, Fida belajar dua hal berharga. Tak selalu apa yang terlihat indah dan manis, begitu pula rasa sejatinya. Fida sering sekali merasa iri pada Intan. Gadis tunggal itu seakan punya segalanya. Rumah yang indah bak istana, orang tua yang sukses, berbagai macam mainan yang menghibur, dan keindahan – keindahan lain yang sering membuat Fida gigit jari. Tetapi di balik semuanya, Intan justru sangat kekurangan kasih sayang dan perhatian bahkan dari kedua orang tuanya sendiri. Fida benar – benar diajarkan bagaimana caranya untuk selalu mensyukuri apa yang dimiliki.

Hal berharga kedua yang didapat Fida adalah ia disadarkan tentang permata mulia nan indah yang ia miliki dan beberapa waktu lalu sempat ia remehkan keberadaannya. Ibunya. Wanita sederhana yang hanya seorang ibu rumah tangga itu, diyakini Fida justru jauh lebih hebat dan keren dibanding ibu siapapun. Fida menyesal telah salah menilai ibunya. Tangisnya semakin deras, peluknya pun semakin erat. Hatinya tak bisa memungkiri, betapa ia menyayangi bidadari kehidupannya itu.


Ibu dan Fida tinggal di rumah sakit hingga malam harinya. Mereka tak tega meninggalkan Intan sendirian sore tadi. Bunda Intan sendiri baru tiba di rumah sakit jam 9 malam. Tangis dan raut penyesalan tergambar jelas di wajahnya. Setelah memastikan semuanya jauh lebih tenang, ibu segera mengajak Fida pulang. Mengingat esok bukan hari libur, dan Fida harus bersekolah seperti biasanya.


=======================================***==================================


Malam itu, Fida tak bisa langsung merebahkan lelahnya di peraduan. Ia baru ingat, tugas menulis tentang ibu seminggu lalu, harus dikumpulkannya besok. Dipaksanya mata dan tubuh yang lelah untuk tetap terjaga hingga ia tetap dapat duduk tegak di kursi belajarnya. Beberapa bola – bola kertas berserakan di atas meja dan lantai kamar. Remasan kertas yang menjadi saksi betapa Fida telah begitu salah menilai ’profesi’ ibunya. Fida melihat tak ada yang istimewa dari profesi ibu rumah tangga, tak ada yang mampu ia banggakan. Hingga akhirnya, ia harus mengarang berbagai profesi hebat tentang ibunya. Tapi, setiap ia akan mengakhiri tulisannya, hati nurani itu berteriak seakan tak bisa terima dengan semua kebohongan yang ia buat. Dan entah telah berapa puluh tulisan yang ia buat, namun selalu berakhir dalam remasannya dan tergeletak sebagai bola – bola kertas itu.


Itu kemarin. Saat waktu belum pertemukan ia dengan sebuah kisah hikmah yang mampu mengajarkannya tentang arti bersyukur. Selembar kertas putih berukuran folio dan sebuah pena di tangan kanan, telah siap mengantar hati Fida yang tak ragu lagi tuk berkisah tentang betapa hebat ibunya. Tak ada lagi keengganan ataupun rasa malu di hati gadis kecil itu. Semua tumpah, jari jemarinya pun terus menari......


=~~~=*=~~~=*=~~~=*=~~~~

Tatkala hijaunya dedaunan tak kuasa lagi jemput gersang ilalang,

senyummu hadir sebagai hujan....

Ketika derasnya kehidupan, goyangkan jiwa dari keistiqomahan,

kelembutanmu selaksa angin yang dengan sabar bawa mendung pergi perlahan...

Di tanganmu ibu... yang tiada menjadi begitu luar biasa.....

Dan jika saja bukan hanya Allah Rabbku, satu – satunya Tuhan yang berhak di puja,

kuingin menyembah dan bersujud di kakimu....

=~~~=*=~~~=*=~~~=*=~~~~


Fida... bangun, nak... Sudah subuh....” terdengar ketuk dan panggilan lembut dari luar kamar. Pintu perlahan terbuka, dan muncullah sosok ibu yang masih berbalut mukena. Dihampirinya buah hati yang ternyata begitu nyenyak terlelap di atas meja belajar. Selembar kertas berukuran folio yang telah terisi oleh tulisan, tergeletak rapi di sisinya.

Kau pasti bekerja keras semalam, nak... Hingga tak sempat memindahkan tubuhmu yang lelah ke tempat tidur....” dipandangnya gadis kecil yang begitu manis terlelap itu dengan penuh iba.

Sebenarnya ibu ingin segera membangunkan Fida, karena adzan Subuh sudah lewat beberapa menit lalu. Namun niat itu terurungkan oleh rasa ingin tahunya pada goresan pena di atas kertas yang tergeletak di sisi putrinya. Dipungutnya kertas itu perlahan,



Pernahkah kalian dengar tentang kisah Abunawas yang cerdik ? Yang selalu bisa memecahkan setiap masalah dengan kelihaian akalnya. Ibuku, jauh lebih hebat daripada itu.

Pernahkah juga kalian tahu tentang kisah Rama dan Shinta dalam wayang jawa ? Tokoh Shinta yang digambarkan sangat lembut dan cantik serta dicintai siapapun yang mengenalnya. Percaya atau tidak, namun aku sangat yakin, ibuku jauh lebih anggun, lebih lembut dan lebih cantik daripadanya.

Tentu kalian juga pernah kan, mendengar kisah Samson manusia kuat dan perkasa itu? Ah, tapi ibuku jauh lebih kuat dan tangguh daripada sekedar Samson.

Kalian tentu bertanya – tanya, lantas seperti apa dan siapakah ibuku ? Manusia mulia yang membantuku hadir di dunia dalam separuh hidup matinya itu, adalah Amaliyah. Ya, Amaliyah, itu saja.

Sebuah nama yang jika mendengarnya saja, hati ini begitu tentram. Sebuah nama yang tak pernah mengeluh saat lantai yang telah susah payah dibersihkannya, kukotori lagi dengan kenakalanku. Sebuah nama yang tak pernah absen menyambutku sepulang sekolah dengan senyumnya, sekalipun muka cemberut dan masam karena lelah yang lebih sering kutunjukkan untuk membalasnya.

Sebuah nama yang begitu sering membohongiku dengan senyumnya, walau sebenarnya aku tahu dia baru saja reda dari tangisnya. Sebuah nama yang selalu mengajarkanku banyak hal dan meyakinkanku tuk tidak pernah menjadi wanita yang biasa – biasa saja.

Ibuku bukan dokter. Ia pun bukan seorang guru, profesor, wartawan, pengusaha, ataupun segala profesi hebat lainnya. Namun, dialah ibuku... wanita terindah yang mengabdikan dirinya utuh bagi keluarga. Aku bangga memilikinya, dan jangan pernah tanyakan seberapa besar rasa sayangku padanya.....



Air bening itu deras mengalir hingga membasahi sebagian mukena putihnya. Hati – hati, ditaruhnya lagi perlahan kertas yang baru saja ia baca, di sisi putri kecilnya yang masih lelap tertidur. Lembut, ia kecup kening gadisnya itu. Tak kuasa pula ia tahan hasratnya tuk memeluk buah hati yang ia sadari semakin tumbuh beranjak remaja.

”Bersandarlah.... bersandarlah, Nak... bahu dan hati ini akan terus ada untukmu, hingga kapanpun.....”, hatinya berbisik.



Alhamdulillah, yang telah bersarang dan berloncatan dalam imaji dari November 2009,

akhirnya kutuntaskan pula di Jember, 25 Januari 2010

Kupersembahkan untuk siapa saja yang pernah atau sedang menjadi putri, ibu, dan calon ibu

8 komentar:

Anonim mengatakan...

teruslah berjuang dengan penamu, ingat pesan Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumudin

semoga setiap goresan pena,
setiap perjalanan huruf yang terangkai dalam kata-kata, dapat menyelamatkanmu kelak

dan ingat pula peringatan Allah pada surat As Shaff ayat 3

:)

mbemz mengatakan...

astaghfirulloh.. astaghfirulloh... ataghfirullohaladzhim....

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang2 yang hanya pandai berkata tanpa makna dan aksi nyata, naudzubillah...

InsyaAllah akan terus berkarya, bukankah sangat dianjurkan untuk mengikat ilmu dengan menuliskannya :)

Anonim mengatakan...

berbagilah lewat tulisan tentang kisahmu,
tulislah luka jika kau terluka,
tulislah sedih jika kau bersedih,
dan tulislah murung jika kau memang sedang murung,
berilah orang lain kesempatan brbuat yg terbaik untuk membuatmu bahagia

anina mengatakan...

nina like this..
tulisan2mu selalu adaa aja yang membuat ku meleleh ges,,,,

mbemz mengatakan...

Mbak Nina, apa kabar? Lama kita ga silaturahim walau lewat dunia maya ya? :)
Matur nuwun dah nyempatkan mampir dan betah2in baca cerpennya sampe selesai :D
Moga bisa memberi manfaat mbak ya... *sun sayang buat Biyu...

mblank mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
mblank mengatakan...

very nice... tetep berkarya ya jeung..... sebenernya semua tulisan blogmu slalu ku ikuti mulai pertama kmu nulis blog ini... chayyoooo :)

Hibban mengatakan...

lagi sebuah tulisan yg lbh dari cukup membangunkan aku,....aku terlupa kirm fatihah buat beliau pagi ini. Maaf ibu.., ALLAH merahmatimu.., Aamiin