Minggu, 08 Februari 2009

Sedikit Nostalgi

"Gimana, masih suka baca puisi ?"
Itulah sebaris kalimat yang masih begitu kuingat dari seorang wanita separuh baya yang sore itu kutemui dan masih tampak begitu cantik. Suatu sore, di sebuah warung sate...
Awalnya aku tak yakin untuk menyapanya lebih dulu. (Maklum, mata dah empat :P ) Tapi kucoba mendekati wanita berjilbab yang duduk di luar warung saat itu.
Dan... bingo! Itu memang ibu guruku semasa di smp dulu. Beliau mengajar mata pelajaran favoritku, Bahasa Indonesia. Walau hanya 1 tahun aku dalam bimbingannya, yakni saat kelas 2, tapi kebersamaan dengan ibu yang cantik ini cukup memberiku kesan. Gaya bicara dan mengajarnya, ketegasannya, cara dia memarahi kami, suaranya yang sangat lantang, ah.. masa - masa di mana aku masih imut - imut. :P

Kalo boleh jujur, dari SD aku selalu memiliki kenangan manis yang berhubungan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bahkan dengan guru Bahasa Indonesiaku semasa masih SD dulu, hingga saat ini masih terjalin silaturahim yang begitu baik. Bahasa Indonesia memang mata pelajaran favoritku. Tapi entah kenapa, aku selalu merasa nilai - nilaiku di mata pelajaran itu tak pernah bagus atau cemerlang. Dengan kata lain, selalu berada di garis aman atau standar - standar saja. Setiap ujian teori bahkan ujian nasional, nilai Bahasa Indonesiaku justru paling rendah di antara mata pelajaran lain yang diujikan. Bagiku, terlalu sulit untuk memilih jawaban - jawaban yang ada. Karena semuanya tampak begitu mirip.
Tapi aku boleh sedikit berbangga hati (gak boleh banyak2!) saat tiba materi yang membahas tentang sastra atau interaksi langsung secara lisan. Di episode ini, setidaknya aku masih sedikit menguasai dan lumayan mengerti. Apalagi yang berhubungan sama tulisan, cerita, percakapan, drama, wah.... 4 jam pelajaran pun, akan terasa berlalu seperti 5 menit saja.

Kita tinggalkan cerita tentang payahnya aku dalam ujian mapel Bahasa Indonesia. Sedikit membahas tentang yang diucapkan Ibu Sri di awal tulisanku tadi, aku memang suka puisi. Awalnya sebatas suka melihat dan membaca. Bagiku terlalu sulit untuk merangkai kata - kata yang sepintas begitu sederhana, menjadi bermakna sangat indah. Hingga kini pun, aku sering dibuat takjub oleh para pujangga atau rekan - rekan yang mendadak menjadi pujangga, dengan puisi - puisi mereka yang begitu menggugah. Kata demi kata, seakan memiliki rahasia dan mengandung beribu makna.
Sementara aku, hingga detik ini pun merasa, apa yang kutulis selalu terlampau sederhana. Kata - katanya lebih banyak yang lugas. Sepertinya memang perbendaharaan kata - kata sastraku masih sangat kurang. Apa aku perlu ngapalin kamus ya? :D

Waktu SD dan SMP dulu, aku memang sering terlibat dalam berbagai perlombaan baca puisi. Kata guru - guruku, termasuk ibu Sri tadi, mereka suka melihatku membacakan sebuah puisi. Bisa menyentuh perasaan katanya. Ini baru katanya lho..... :P Tapi entahlah... dari perlombaan yang kuikuti, bisa dibilang tidak pernah menggondol piala juara! Hehehe.... Eh, pernah kayaknya, itupun juara harapan. :D
Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa aku putus asa alias mutung ? Mungkin sedikit. Tapi kecintaanku pada puisi dan sastra, insyaAllah masih begitu kuat hingga kini. Walau mungkin itu masih hanya mampu kuekspresikan dengan karya - karya amatirku di blog ini. Kenapa aku mem-bold kata 'masih'? Karena aku bercita - cita, suatu hari nanti apa yang aku fikir dan tuliskan, bisa bermanfaat. Bukan puji, materi, atau sebuah pengakuan dari orang banyak tentang keindahannya, tapi lebih pada mampu memberi arti....

3 komentar:

ardhian mengatakan...

Ya bertahaplah. Step by step.

Anyway, klo baca2 di blog yg satu ini. Kok, lebih enjoy baca tulisan yang apa adanya, lugas, lepas, mengalir seperti sebuah cerita. Kalimat per kalimat bikin yg baca terbawa arus si penulis.

(Jadi iri, pingin bisa nulis tanpa harus ada pengandaian2 atau kiasan2).

deje mengatakan...

wah baca kisah ini, jadi inget masa kecil juga. Bu Guru SD ku dulu juga pernah ngirim aku tuk lomba baca puisi tingkat kabupaten, tapi bedanya aku dulu gak begitu suka dengan pelajaran bhs. indonesia.

Eh waktu kelas 5 SD malah mewakili sekolah buat lomba bidang studi, lagi-lagi bahasa indonesia. Hhhhh... aku inget betul waktu itu, disuruh bikin cerpen... hiks bener-bener memalukan (aku gak bisa bercerita).

Belum cukup sampai disitu, ternyata waktu SMP lagi-lagi Bu Guru Bahasa Indonesia mengirim aku lomba penulisan ilmiah. Oh... apa gak ada siswa lain yang lebih kompeten ??

Coba aja mbemz satu SD ama aku, satu SMP ama aku pasti ceritanya beda. SDku, SMPku pasti bisa mewakili kabupaten untuk berkompetisi di tingkat Provinsi bahkan aku yakin di tingkat Nasional.

Tau gak kenapa !!?? Karena kau memiliki modal yang tak kumiliki, kau memiliki kelebihan yang tak kumiliki, so jangan sia-sia kan modal itu. Terus berkarya...! Hidup hanya sekali, buat karya untuk anak-cucu nanti.

Mungkin anak-cucu kita kelak lupa akan keberadaan kita. Tapi paling tidak mereka tahu, bahwa ada sebuah karya yang telah dihasilkan oleh sesepuhnya. Selamat berkarya...! Semangka..!

*maaf komentarnya terlalu panjang...

wahyukurnianto mengatakan...

kalo kenangan sama guru bahasa indonesia kelas 2 SMA kayaknya juga seru tuch .... :p :p