Minggu, 21 Desember 2008

Behind of Bidadari Surga

Tak semudah membalik telapak tangan. Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perjuanganku selama beberapa minggu terakhir. Ya... siapapun pasti bisa bercerita... berbicara.. dan menulis. Tapi ternyata, menulis cerpen itu tidak semudah yang aku kira. Harus penuh imajinasi, inspirasi, dan keberanian untuk selalu mencari akan dibawa ke mana akhir dari kisah itu nanti.
Setumpuk aktivitas yang seharusnya tak pantas dijadikan alasan, terbukti menjadi batu sandungan di tengah proses penyelesaian. Beruntung, sedikit semangat dalam hati ini terus menyala. Bahwa apa yang sudah aku awali, aku pula yang harus menuntaskannya. Ini semua pun, tak lepas dari bimbingan dan obor spirit yang tak pernah padam dari sahabat - sahabat terbaikku. Terutama seorang kakak yang tak pernah bosan - bosannya menerorku dengan sms - sms penyemangatnya, agar karya perdana ini segera diterbitkan. Terima kasih pula untuknya atas sebuah judul yang cukup menggugah ini (setidaknya bagiku, hehehe...)

Sangat jauh dari sebuah kata layak apalagi sempurna, untuk sebuah cerita pendek karya seorang amatir sepertiku. Kusadari, terlampau banyak kekurangan di sana - sini yang berpotensi untuk mendapat kritik dan saran yang mampu membuatnya jauh lebih baik lagi. Yang pasti, aku ingin terus menulis. Terus menggoreskan imajinasi yang selalu liar dan sering tak terkendali ini. Semoga aku bisa me-manage waktu, hati, dan kondisiku dengan baik untuk itu. 

Awalnya, kisah ini terinspirasi dari kehidupan nyata seorang kawan yang cukup menggugahku. Keberanian dan keteguhannya dalam mempertahankan idealisme, sekalipun harus terbayarkan oleh luka hati yang tak terobati. Kehidupanku saat ini di sebuah asrama, menginspirasiku pula untuk menorehkannya sebagai latar dalam cerita ini. Sad-ending kujadikan pilihan, karna bagiku cukup menggugah, kondisi hati seseorang saat ia dihadapkan pada sebuah pilihan dan akhirnya harus kehilangan. Sekaligus sebagai pengingat bagi diriku, bahwa tak ada yang lebih bisa menguatkan hati seseorang selain dirinya sendiri. Sebuah lagu dari ST-12 yang kudengar semalam sebelum cerpen ini tuntas, juga cukup memberiku inspirasi.  

Benar bahwa dalam membuat sebuah cerita, kita terlebih dahulu harus memiliki konsep dan kerangka yang jelas. Agar cerita tidak mengembang dan berlarian ke mana - mana :) Jujur ini kualami di tengah - tangah cerita. Hingga akhirnya, kebingungan menentukan ending cerita, membuat proses finishing semakin lama. Penguatan karakter tiap - tiap tokoh pun, menurutku memang hal penting agar pembaca selalu bisa merasakan kedalaman dan kekuatan setiap konflik yang terjadi di dalamnya.
Ah.. nama Pramoedya, Gunawan Muhammad, Ahmad Tohari, Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata... seakan selalu memanggil sekaligus menertawakanku. Melihat semangat ini bak ombak di laut yang pasang dan surut.
Nama mereka juga yang akan slalu menginspirasiku dan membiarkan sedikit nyala semangat di hati ini tetap ada.

Semoga aku dan kita semua, bisa terus berkarya dan memberi makna bagi sekitar kita. Yang tak pernah boleh dilupakan adalah substansi sukses itu di proses, bukan hasil akhir!

Bukankah waktu tak lagi sesuatu, saat proses perjuangan menuju hasil jauh lebih memaknai diri.

2 komentar:

deje mengatakan...

Dalam salah satu bukunta Engkos Kosasih mencuplik ungkapan Isaac Asimov :
Kalau dokter saya mengatakan bahwa hidup saya hanya tinggal 6 menit lagi, saya tidak akan menciut. Saya hanya akan mengetik lebih cepat".

reen@ mengatakan...

Berjuanglah Jeng,
Tar kl udah rilis Cerpennya,
kabar-kabari ya...