Rabu, 04 Juni 2008

Seniman Jalanan

Beberapa minggu belakangan ini, badanku serasa habis di jalan. Travelling keluar kota, bisa kulakukan lebih dari 2 kali dalam seminggu. Fiuuh... tak apalah, demi suatu misi mulia aku rela menjadi hafal rute perjalanan plus nama - nama kecamatan yang kulalui. Aku juga rela, petugas terminal, sopir, dan kondektur bus yang kebetulan beberapa kali aku tumpangi, jadi mengingat sosokku.
Tentang misi tadi, tak ingin kubahas saat ini. Karna perjuangan dan perjalanannya belum berakhir. Nanti saja kukisahkan jika semua telah menjadi pasti. (emang penting yah?! :P )

Dari minggu - minggu ku yang melelahkan itu, ada sedikit fragmen yang ingin aku angkat dan coba ceritakan di sini. Kebanyakan orang menyebut mereka dengan istilah "pengamen", tapi mulai kemarin aku memilih menyebut mereka dengan "seniman jalanan". Tak semua memang, tapi mereka inilah yang ingin aku kisahkan sekarang.
Bermodal gitar, ecek2 (botol kosong diisi pake batu atau apa aku tak tahu!), plus pipa yang dirancang sedemikian rupa hingga menghasilkan bunyi2an menyerupai gendang, dan tentunya suara/vokal (yg entah merdu atau tidak), cukup membuatku meng-apresiasi jiwa seni yang mereka miliki. Ini lepas dari konteks kelayakan hidup, pendidikan, dan sosial lho ya....
Tak jarang aku temui mereka yang bisa perform dengan baik atau setidaknya cukup menghibur perjalanan. Walau tak sempurna, namun aku yakin, jika saja mereka memiliki sarana, pembimbing, dan segala hal lain yang memadai, kisah mereka tidak akan hanya berhenti di sini, sebagai penyanyi jalanan... Dewa, Gigi, Ungu, KangenBand, bahkan Didi Kempot, bisa jadi punya saingan baru!

Aku merasa beruntung, telah menumpangi bus AKAS + AC tarif biasa jurusan Surabaya - Banyuwangi siang itu. Walau akhirnya harus terpanggang dalam bus sekira satu jam lamanya di Porong, aku tak menyesal jika pertemuan dengan seniman jalanan itu yang harus membayarnya. Sosoknya terlihat jelas bukan dari suku Jawa. Rambutnya yang kriwil - kriwil ditambah kulitnya yang berwarna gelap (tentunya bukan karna terpanggang panasnya Surabaya), membuatku berkesimpulan sepertinya dia orang "timuran". Saat bus keluar dari terminal Bungurasih, pria berusia 30an itu baru naik. Senyum dan lakunya ramah, mencari dan memberikan ruang bagi penumpang yang belum mendapatkan kursi. Tak seperti seniman jalanan lainnya, ia baru mulai menyanyi saat suasana dalam bis benar - benar tenang. Tak ada yang mondar - mandir mencari kursi, ataupun asongan yang menjajakan makanan. Seakan dia benar - benar ingin didengarkan.

Sampai TOL Gempol, pria ini baru mengangkat suara. Sekali lagi bukan untuk menyanyi, bukan pula memberikan pembukaan untuk mengawali penampilannya. Inilah yang akhirnya mencuri simpatiku padanya. Dengan begitu sederhana, dia memberikan tausiyah ringan tentang hidup, dengan gayanya yang khas-menyelipkan gelak tawa di tengah perkataannya-, lalu akhirnya mengalunlah tembang2 lawas The Bee Gees. Usai lagunya yang pertama, tak serta merta dia melanjutkan ke lagu yang kedua. Sedikit dia bahas dan ulas tentang lagu dan penyanyinya, lalu kembali memberikan tausiyah2 ringan.
Aku yakin, tak hanya aku yang dibuatnya kagum siang itu. Kulihat ekspresi dan antusias penumpang lain yang jadi begitu tenang dan menikmati perjalanan. Istighfar-nya Opick, mengalun indah dan menjadi lagu terakhir yang dibawakan seniman jalanan itu. Sambil memejamkan mata, tak terasa bibir ini ikut melantunkan istighfar..

Ah... jika mengingat tausiyah2 nya tadi, hati kecilku berontak. Kenapa sosok yang di mataku terlihat bijak dan pintar ini, hanya menjadi seorang pengamen? Adakah dia menikmati hidup dan profesinya? Atau lagi - lagi,tentang fenomena terbentur kondisi dan keadaan? Apapun alasannya, kuyakini, pria yang sempat membuatku merenung beberapa saat ini, menjadi pintar dan bijak karena ia telah belajar pada guru dan sekolah yang abadi. Yang aku... bahkan mungkin kebanyakan orang sering lupa dan tak menyadarinya. Tentang sekolah yang tak akan pernah ada kata lulus hingga kita menjemput ajal, yakni kehidupan....

Lima ratus atau seribu rupiah yang biasa keluar dari saku, sepertinya tak pantas untukmu, mas....

1 komentar:

erdeje mengatakan...

gak tau napa kok tiba2 pingin liat2 blog anak yang satu ini, hehehe... ya sekalian aja kasih komentar, oya 'misi mulia' kan udah 99% tercapai... kapan ceritanya... ? Tp masih sibuk ngejalanin misi tersebut ya? Ya wes dinikmati aja ya, tp ya jangan terus ilang dari peredaran gitu rek... tetep nge-blog lah...
Salam ke pak penjaga 'asrama', hehehe