Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2011

Rindu

Rindu itu.....
bisa begini indahnya, ya....?






jaga hati ini Ya Rabbana, karna-Mu, dari-Mu, dan akan kembali pada-Mu,

Rabu, 03 November 2010

Indahnya Belajar Menjadi Dewasa

Waktu dan usia itu berbanding lurus. Perjalanan salah satunya, akan saling
mempengaruhi satu sama lain. Semakin berlalunya waktu, di situ pula lah
bilangan usia akan bertambah. Manusia pasti akan menjadi tua. Itu hukum alam
yang mutlak.
Lalu bagaimana dengan kedewasaan ? Satu variabel kehidupan yang ternyata tidak
bisa disikapi serupa dengan waktu dan usia. Tak salah memang, ungkapan bahwa
kedewasaan itu adalah sebuah pilihan. Karna usia dan waktu, adalah sesuatu
yang pasti mengalir dan terjadi dalam kehidupan kita. Tapi untuk menjadi
seseorang yang dewasa, tiap manusia itu sendirilah penentunya.

Kedewasaan bagiku adalah pencapaian yang tidak pernah mengenal akhir. Dia
adalah serangkaian dari proses demi proses, bagaimana seseorang menghadapi
setiap masalah, cobaan, dan ujian dalam perjalanan hidupnya. Dewasa itu adalah
saat seseorang harus memutuskan memilih antara dirinya atau sekitarnya. Dewasa
adalah saat kau dihadapkan pada sebuah kondisi yang mengharuskanmu berkata
tidak walau itu tak seperti suara hati kecilmu. Dewasa adalah saat kau harus
memaksa dirimu tertawa, sekalipun hati itu memaksamu menangis. Lalu apakah
untuk menjadi dewasa kita harus selalu mengingkari diri sendiri?
Di awal mungkin akan tampak seperti sebuah pengingkaran, tapi itulah ajaibnya
sebuah kedewasaan. Manisnya baru akan terasa saat waktu telah benar - benar
mampu membuka mata dan hati kita.

Hari ini, aku belajar sekali lagi tentang bagaimana sulitnya untuk menjadi
dewasa. Menentukan pemenang dari peperangan antara ego dan akal sehat. Dan di
saat seperti itu, kata kunci yang harus selalu diperjuangkan adalah, kebaikan
bersama. Bukan sekedar kebaikan dan pemenuhan kehendak diri kita sendiri.
Teruntuk seseorang yang telah turut menginspirasiku, terima kasih t'lah membuatku mengerti sekali lagi. Bahwa tak selamanya yang menjadi kehendak kita itu, harus terwujud seluruhnya. Tanpa kita tahu, entah kapan... yang tidak terwujud tadi, akan hadir dalam rupa yang lebih baik dan tentunya di waktu yang lebih tepat dan indah... Percayalah.... :-)


~yang masih dan terus belajar~

Selasa, 02 November 2010

HUJAN

Entah sejak kapan aku mulai begitu menyukai hujan. Kehadirannya selalu memberi warna berbeda di hatiku. Sebuah siklus pengendali dan penyeimbang alam yang diciptakan oleh Tuhan dengan begitu sempurna. Coba kita bayangkan, bagaimana jika tak ada hujan. Berawal dari sumber dan mata air yang akan kekeringan dan tentu berdampak pada ekosistem di sekitarnya. Tapi belakangan, hujan yang aku cintai ini justru membawa bencana. Kehadirannya yang semakin tak menentu dan lebih sering 'jatuh' begitu berlebihan, membawa duka tersendiri bagi beberapa lokasi di negeri ini. Ya, banjir. Namun benarkah banjir itu terjadi murni karna kesalahan sang hujan yang turun tak kunjung henti? Lalu bagaimana dengan ulah manusia yang membuang sampah sembarangan, menggunduli dan mengeksplorasi hutan - hutan lindung, hanya untuk memenuhi nafsu mereka?
Mungkin ini adalah sebuah statement pembelaanku, agar sang hujan yang aku cintai tak menjadi yang semata - mata disalahkan.

Berlama - lama memandangi hujan dari balik jendela, adalah salah satu cara yang paling sering kulakukan. Setiap rintiknya yang jatuh menyapa bumi, seakan membawa sebuah kisah, pergi ke mana saja ia sehari ini. Rintik - rintik tadi pun begitu ikhlas dan pasrah melepas semua bebannya ke dalam pelukan sang bumi. Menyatu dan melebur seirama, penuh dengan harmoni. Di waktu suka, hujan mampu menambah semangat di hatiku. Menyirami benih - benih kebahagiaan, agar semakin tumbuh subur. Di waktu luka dan duka, hujan dengan kesejukannya, membawa semacam penenang yang meredam segala emosi dan keresahan yang singgah dalam hati.
Dan baru kemarin, aku menemukan sebuah cara unik untuk berekspresi. Khususnya bagi mereka yang ingin melepas semua gundahnya tapi malu dan tak tahu harus bagaimana.
Kuambil kontak motor tersayang. Lalu kukendarai ia, melaju di tengah derasnya hujan. Dan hanya ditengah derasnya hujan, kau bisa menangis sesuka hatimu, tanpa ada seorang pun yang tahu.......

Rabu, 30 Desember 2009

Selamat Jalan Kawan

Detik jarum jam menyadarkanku akan malam yang terus merayap larut. Sunyi dan dingin, gagal mengusikku dari ketermenungan dan lamunan panjang. Ada gundah, yang membuat mata ini terus ingin terjaga. Sebuah duka yang turut membekas begitu dalam demi kisah seorang kawan.....

Sore tadi, kabar itu sampai di telinga ini. Hidup memanglah sebuah misteri Illahi. Setiap jiwa, tak kan pernah tahu kapan ‘pemiliknya’ berniat untuk memperpanjang kontrak hidup, atau memutuskan untuk mengakhirinya saat itu juga. Tiba – tiba. Mungkin itu yang membuat rasa sakit dan sulit menerima ini jadi begitu berlebih. Memang tak seharusnya dan sepantasnya, sesosok manusia yang merupakan lakon dari Sang Sutradara Hidup berkata “Kenapa” atau “Mengapa” atas semua yang telah menjadi kehendak-Nya. Namun kisah ini, kembali ajarkanku tentang betapa lemahnya hati makhluk Allah yang bernama manusia. Yang masih begitu sering mengkufuri nikmat, angkuh terhadap puja dan puji dunia, merasa lebih dari yang lain, dan kesombongan – kesombongan lain karena merasa dirinya merupakan makhluk yang paling mulia. Hingga nyatanya, merekapun tetap menangis dan berkubang dalam sedih saat harus kehilangan....

Kisah ini kembali membuka mata hatiku, bahwa tak ada yang berhak memproklamirkan apapun dan siapapun yang ia sayangi adalah miliknya. Harta, kuasa, keluarga, bukankah semuanya pun hanya singgah sementara? Harta bisa saja lenyap dalam seketika karna keserakahan. Kuasa pun bisa kapan saja luntur karna kedzoliman. Dan keluarga terkasih pun, bisa pergi begitu saja karna takdir-Nya.
Sungguh, tak ada yang abadi. Dialah pemilik mutlak segala apa yang ada di semesta ini.

alladziina idzaa ashobathum musibatun qoolu innalillahi wa innailaihi roojiuun....
Semua telah terekam jelas di Lauhul Mahfudz. Hari, jam, menit, detiknya. Dan tak ada kuasa sesuatu apapun yang mampu melawannya. Terus meratap dan menyesali yang tlah berlalu, tak akan mengembalikan “ia” yang pergi. Jalan terbaik adalah sabar dan mengikhlaskan, karna Sang Khaliq selalu memiliki rencana terindah dan terbaik.

Selamat jalan kawan... semoga Allah mengampuni segala dosa dan menerima semua amalmu semasa di dunia... Ikhlaskan semua yang kau cinta, titipkan pada-Nya. Karna Dia lah sebaik – baik penjaga.

*Tuk seorang sahabat, ikhlas dan bersabarlah tuk terus melangkah. Bumi akan terus berputar, dan hari pun tak kan berhenti di sini. Jangan berlarut dalam sedih. Percayalah bahwa Allah telah menyiapkan yang terbaik dan akan selalu melimpahkan cinta-Nya bagi hamba yang bersabar. Jangan pernah takut dan ragu, karna kau tak sendiri saudariku..... Kami pun sangat menyayangimu.......



Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.



إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10).

Rabu, 09 September 2009

- Ironi -

Kemarin, katamu kau tak akan pergi,
namun semenit lalu, bayangmu pun sudah tak kutemui...
Baru kemarin, nafasmu sadarkan aku akan sebuah sinergi,
tumpang tindihnya qalbu yang terbalut imaji.....

Ya, baru kemarin...
yang kubilang kelabu, katamu pelangi....
Nyatanya? Kini mentari tak buat langitku warna - warni.....

Ah, cemburuku hanyalah api....
Tak mau lagi kusapa kau walau dalam mimpi
nuraniku semakin menyadari,

Illahi Rabbi,
yang cintanya sejati.. tak menyakiti, dan mengkhianati.....



Untukmu sobat, yang terkungkung cinta duniawi

Minggu, 19 April 2009

17 April 2009

Peluh itu menetes semakin deras. Terik mentari yang biasanya tetap bersahabat, seakan menusuk - nusuk kepalaku kini. La hawlaa walaa kuwwata illa billah..... Hanya itu yang terus mengalir dari lisan ini. Seseorang pernah mengingatkanku bahwa kekuatan fikiran kita, akan menjadi motor yang paling berperan atas terealisasinya sesuatu.
"Aku kuat... aku bisa!" Hatiku terus menerus teriakkan itu.
Tiba - tiba pandangku menerawang. Duniaku menguning. Sejenak di antara ada dan tiada, kurasakan bumi ini bergoyang hebat. Aku tak mampu merasa dan mengindra. Lalu..........
Brukkk! Aku tlah tersungkur lemah terpengaruh gravitasi. Ah... seandainya jatuh bisa ke atas, mungkin tak kan ada rasa sakit itu.
Tak ada yang sempurna dan terlalu hebat di dunia ini. Terlebih makhluk berjudul manusia sepertiku. Semua memiliki limit dan takaran kekuatan. Pun jangan melempar tatapan heran, saat kau temui aku yang biasanya berlari dan meloncat ke sana kemari, kini terkulai lemah.
Aku juga manusia biasa......

Kamis, 05 Maret 2009

050309

Nothing useless!
Sudah semenjak lama aku meyakininya. Pun telah berulang kali aku mencoba mengingkari & memungkiri keyakinan itu sendiri.
100% benar adanya, jika apa yang kita langkahkan dengan niat dan bismillah, apapun hasilnya itulah yang terbaik. Seharusnya tak boleh ada kata "percuma", "sia - sia", ataupun "tak berguna" dalam kamus hati kita. Karena sekali lagi tak ada yang sia - sia.

Sakitnya luka yang ditimbulkan oleh kegagalan, sering kali membuat kita akhirnya buta dan tuli dengan kebenaran yang hakiki. Bahwa selalu ada jalan dan hikmah jika kita mau mencari. Dan apakah itu akan mungkin tuk kita temukan, jika kita hanya berdiam, menangis, ataupun meratap duka apa yang sudah lewat dan masuk daftar kelam menurut diri kita sendiri.

Allah kembali menunjukkan semua fase itu kepadaku hari ini. Dan kembali aku serasa ditampar dengan semua kesombongan, kebodohan, dan keegoisanku. Yang mungkin telah lancang mendakwa lemah apa yang telah Ia coba ujikan padaku. Saat telah berulang kali keluh kesah itu terucap atau pun hanya tertahan dalam batin, keindahan dan keagungan kembali Ia gelar dan limpahkan untuk diri yang terlalu sering kurang bersyukur ini. Masya Allah.....

Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan......

Senin, 02 Februari 2009

Blank

Setetes tak berarti sendiri....
Mengembara dalam sunyi yang tak bertepi
Ia serupa namun tak sama,
saling tautkan asa pada kuasa semesta

Yang terasing biarlah berlari
yang bergeming izinkan terus bermimpi...
Bukankah melodi pun tak slalu punya arti ?

Hitam... putih... abu - abu...
haruskah kupilih satu?
Lantas, bilamana jika ku mau biru?

Mereka bilang ini ironi,
mereka yakin ini hanya sugesti....
Aku yang gamang saat sendiri,
hanya mampu tersenyum tanpa arti...

Biarkan yang berkuasa nurani....
"karna tak kan ada dusta!", itu kata hati
Fiuuhh.....
jika sudah kehendak-Mu, adakah lagi yang mampu berbunyi?

Jumat, 28 Maret 2008

Complicated

Kenapa yang benar justru lebih sering disingkirkan?

Semalam, kumenjadi saksi akan sebuah fenomena yang membuatku bingung. Haruskah menyikapi dengan sukacita atau justru duka mendalam?
Hati kecil merasa, harga diri ku sebagai seorang pemuda yang menuntut ilmu, dilecehkan. Namun di sisi lain, tak bisa kuingkari separuh jiwa yang melonjak - lonjak girang mendapat keistimewaan seperti itu.
Mungkin tak hanya aku, tapi juga kawan - kawan ku lainnya yang juga menempuh mata kuliah yang sama. Dan kurasa, mereka lebih memilih bersuka cita karenanya....

"Udahlah... kalian gak perlu ambil pusing mata kuliah saya. Mo gak pernah masuk, silahkan... Mo masuk sekali terus absennya diisi sampe akhir semester, juga silahkan..... Yang penting waktu ujian dateng, dah cukup!"

Waks???? Sapa coba yang gak melongo, terus habis tu ketawa2 girang diperlakukan seperti itu! Sempet hati mbatin, "Nih dosen gak papa tah? " Sekaligus nyiapin hati, karena biasanya tipe - tipe dosen yang begitu manis di awal seperti ini, punya racun tersembunyi! :P Ayo... kita lihat saja bersama - sama, kawan....

Di pertemuan pertama mata kuliah tersebut, aku memang tidak hadir. Tapi kisah tentang dosen yang super gaul bin funky ini, sudah kudengar dan mengalir deras dari mulut satu kawan dan yang lain. Mengajar sambil putar musik, datang terlambat dan pulang cepat, merupakan ciri khas dosen satu ini. Dalihnya selalu satu, "Saya tidak ingin menyusahkan kalian....."
Jadi penasaran juga sama dosen itu, karena dari pertemuan selama tengah semester ini, dia hanya hadir sekali. Lainnya, tentu saja digunakan teman - teman termasuk aku, bersantai di rumah, atau nongkrong di luar kampus.

Semalam, keinginanku untuk berjumpa langsung dengan dosen yang diidolakan teman2ku itu, akhirnya terwujud. Di pertemuan terakhir sebelum UTS yang akan dilaksanakan minggu depan, dia hadir juga. Sengaja kupilih tempat duduk paling depan, untuk memastikan dan melihat lebih dekat, kebenaran cerita kawan-kawanku. Seperti yang kukira, dia nyaris telat 1/2 jam lamanya. Begitu masuk kelas, kawan-kawan sudah berteriak2 histeris seakan artis idolanya tiba. Sambil berteriak, "Pak, musik pak! Ayo diputar musiknya pak!" Alamak... begitu akrab dan dekat sekali sepertinya hubungan kami dan dia. Tapi maaf kalo aku boleh berkonotasi sedikit negatif, di mataku justru dia cenderung seperti tak punya wibawa......

Request musik yang diinginkan tak terpenuhi, itu pun karena sang dosen tak membawa laptopnya. Dan yang lebih mencengangkan lagi, pertemuan terakhir itu, digunakannya untuk menshare soal pada saat ujian nanti. Tak cukup di situ "surga" bagi kami mahasiswanya. Tanpa meminta kami mencoba dulu untuk mengerjakan, dia sudah sibuk di balik mejanya. Dan baru kuketahui kesibukan itu adalah mengerjakan soal - soal yang diberikannya sendiri, saat salah seorang kawan ku disuruhnya menuliskan jawaban - jawaban itu di papan.
Kelas riuh dengan tawa..teriakan...dan tepuk tangan......
Dan dia seperti biasa, dengan senyum dan gaya "dinginnya" ..........

"Sudah, cepet disalin lalu kita pulang. Ingat, wajib datang waktu ujian ya! Sekalipun kalian sakit, atau tidak belajar, yang penting datang! Karna hanya itu yang bisa menolong diri kalian sendiri!"

Inilah yang menyebabkan kecamuk hebat di dalam hati seperti yang kuceritakan di atas tadi. Aku gak mau munafik, sebagai mahsiswa yang nyambi, hal itu sangat memudahkanku. Lebih2.. mata kuliah itu bisa dikatagorikan mata kuliah yang produktif dan cenderung sulit. (tung..itung...itung....) Tapi hati kecilku juga ingin berontak. Aku bayar mahal, bukan untuk "didulang" dan dibodohi seperti ini.
Ah... tapi selalu saja aku dihadapkan pada populasi yang terlalu sulit untuk kuterjang. Mempertahankan idealisme, tak lebih dari mengasingkan diri dari mereka. Sok suci..naif... kata - kata itu yang pasti terpikir di benak kebanyakan kawan, bahkan yang tega, tak kan ragu untuk meluncurkannya.....

Aih...aih..... kenapa bukan yang salah yang tersingkir...? :<

Rabu, 24 Oktober 2007

Mereka ladang bagi mbak....

Sebagai manusia biasa... pastilah selalu ada rasa tak puas jika sesuatu berjalan tidak seperti yang kita inginkan. Perilaku mengutuk diri bahkan orang2 sekitar lah..yang akhirnya menjadi jalan pilihan. Harusnya di saat seperti itu.. kita lebih sering bercermin. Sudah berada di jalan yang benarkah kita? Sudah maksimalkah usaha kita tuk raih apa yang kita inginkan tadi? dan jika..jawaban dari pertanyaan2 tadi adalah sudah..... waktunya melalui proses terberat tapi justru paling mudah dilakukan! Nah lo!

Ikhlas dan tawakkal..... cukup mudah didengar dan diucapkan bukan? Tapi siapapun orangnya... aku berani bertaruh.... perlu perjuangan keras tuk bisa melakukan"nya" sepenuh hati.
Cukup ikhlas dan tawakkal lah.... yang bisa kita lakukan...di saat pengorbanan & proses perjuangan yang melelahkan tlah terlewati. Dan hanya dengan "ini" lah... hasil seperti apapun.... akan kita terima dengan legowo.
Kita cukup berpedoman pada... apa yang terbaik menurut kita...belum tentu sama menurut-Nya, begitupun sebaliknya. Bukankah... rencana Alloh lah yang slalu lebih indah?


Aku : "Bu..terkadang..saya merasa kalah & putus asa..... buat apa saya ada dengan dekat....klo ternyata saya pun tidak bisa memberikan yg terbaik bagi orang2 di sekeliling saya...." T_T
Ibu : "Semua itu butuh proses mbak... semua itu butuh waktu.... kalo memang mbak dah berusaha..ya tinggal didoakan & tawakkal aja sama Alloh.... "
Aku : "Tapi kalo saya gak berhasil juga?"
Ibu : "Hidayah itu datangnya dari Alloh. Dan siapa yang akan mendapat hidayah itu, juga adalah orang2 pilihan Alloh. Gak usah khawatir.... tetep berjuang menunaikan kewajiban tuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.... Mereka itu ladang bagi mbak... syukuri saja... Karna kalo mereka gak ada... mbak juga gak punya ladang & tempat tuk menanam & menuai kebaikan....."
Aku : "SubhanAlloh..... Ya Rob..... rahmatilah & sayangilah ibu selalu.... dan juga 'mereka', orang2 yang kusayangi....... Makasih ibu........." (dalam hati.....)