Tampilkan postingan dengan label blablabla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blablabla. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2011

08 Oktober 2011

Cukup lama kutekuri gundukan tanah kering di depanku. Panasnya cuaca karena musim kemarau, semakin menambah nuansa kering di tengah hari itu.Tanah yang kuingat jelas berwarna merah 5 tahun lalu, kini tlah banyak bercampur batu dan kerikil – kerikil kecil. Kuingat – ingat lagi, kapan terakhir aku mengunjungi tempat itu. Seminggu yang lalu? Sebulan? Tiga bulan? Ah.. saking seringnya, hingga aku sama sekali tak mampu mengingat, kapan terakhir kali menaburkan bunga mawar di atasnya.
Semenit….Dua menit….hingga 10 menit berselang, tak ada doa maupun lafadz – lafadz Illahi yang mengalir dari lisanku. Aku masih begitu asyik menikmati perenunganku, sambil sesekali mencoba menggelar adegan latar yang kulakonkan sendiri. Siang itu, rasanya begitu mudah menghadirkan sosok lelaki hebat yang sangat kucintai dalam hidupku itu. Walau hanya dalam bayang – bayang imajinasiku, ia seakan begitu nyata. Teduh suaranya, lembut belainya, wangi tubuhnya, dan segala tentang dirinya,membuatku semakin hanyut dan sejenak lupa tentang kapan dan di mana aku berada.
Tak terasa, sudah 5 tahun berlalu sejak kepergian lelaki sederhana nan penuh canda tawa itu. Rasanya tak perlu lagi kuceritakan, bagaimana rindu dan air mata ini slalu membuncah dan mengalir untuknya. Sama sekali tak ada maksud hatiku, untuk membuka dan kembali bernostalgi degan segala kisah dan kenang tentang dirinya. Namun di saat – saat seperti ini, sungguh tak mampu kucegah hatiku untuk sekedar menyapa dan tersenyum pada rangkaian kisah yang pernah ada. Saat – saat di mana, Allah memberi hadiah yang begitu indah di 23 tahun hidupku.
Ah.. Bapak… gadismu yang manja dan dulu begitu nakal, ingin mengabarkan sebuah berita bahagia untukmu. Seorang lelaki sederhana nan bersahaja sepertimu, telah memenangkan hatiku. Tapi kau tak perlu cemburu, Pak… Karena Ia sangat cerewet, sama sepertimu. Ia begitu perhatian, serupa sosokmu. Tentu ia juga cerdas dan pandai, seperti dirimu. Dan insyaAllah yang paling utama, ia adalah sosok lelaki solih yang kelak akan selalu membimbingku, berjuang, dan sejalan dalam iman.
Bapak… sungguh tak ada maksud hatiku untuk membuatmu cemburu. Aku masih ingat bagaimana sewot dan sebal rautmu, saat beberapa kali aku berceloteh riang tentang sahabat – sahabat lelakiku semasa masih kanak – kanak dulu. Aku sangat tahu bahwa kau tak ingin, ada lelaki yang lebih spesial di hatiku selain dirimu. Tapi beberapa saat lagi,pak… ketika kedewasaan telah menyapaku, izinkan putri kecilmu ini, untuk memutuskan & melabuhkan hati pada imam pilihannya. Beberapa jam lagi pak… walau tanpa kehadiranmu, ikhlaskanlah seorang wali hakim yang mengambil wewenang untuk menikahkan putrimu ini. Aku berjanji, rasa sayang itu tak akan pernah berubah. Kau tetap lelaki & ayah terhebat yang memiliki tempat tersendiri di hatiku. Dan bersamanya, Pak… kuingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik & solihah, hingga terus bisa mengiringi perjalananmu dengan doa – doaku.

Malam ini, di ruang yang telah berhias bunga – bunga wangi nan cantik ini, di tengah sedu sedan dan air mata bahagia bercampur rindu, kumantabkan hati dalam sebuah harap dan doa, Ya Rabbanaa… persatukanlah aku kelak, dengan mereka yang kucintai, di Jannah-Mu…… aamiin….

Jumat, 03 Juni 2011

Majelis Ilmu

Ada yang begitu kurindukan setiap Jumat menjelang. Selain karna itu pertanda bahwa esok harinya aku bisa bersantai - santai dan mandi siang :-p, ada hal lain yang insyaAllah bermanfaat dan sudah rutin aku jalani selama beberapa bulan terakhir ini. Menghilang dari pukul 11.00 hingga 12.30, kurang lebih satu setengah jam lamanya, selama para lelaki muslim di kantor sedang melaksanakan sholat Jumat, sekaligus istirahat siang.

Di kediaman seorang wanita bertutur kata lembut dan berwajah penuh senyum, kami biasa berkumpul. Meniatkan hati untuk belajar, berbagi, dan saling menimba ilmu. Mbak Nila. Kami biasa menyebutnya begitu. Ibu dari seorang putri cantik berusia 3 tahun dan seorang putra yang masih berusia 5 bulan. Awal perkenalan kami adalah pada Ramadhan tahun lalu, saat kawan - kawan Wikusama Jember (sebutan untuk ikatan alumni SMK-ku dulu) mengadakan buka bersama dan kebetulan tempat yang dipilih adalah di rumah. Mas Novan, yang baru kutahu adalah kakak kelas semasa SMK dulu, datang bersama istri dan putri kecilnya. Istri mas Novan inilah yang kemudian kukenal sebagai Mbak Nila.

Berawal dari sebuah acara aqiqah putra kedua mas Novan dan mbak Nila, yang dihadiri oleh kami yang rata - rata dari kalangan pekerja, disepakatilah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk tetap mendekatkan diri kami pada ilmu - ilmu Allah di tengah lautan kesibukan kami sehari - hari. Hingga disetujuilah sebuah hari di mana kami akan bertemu secara rutin di tiap minggunya.

Dalam majelis ilmu setiap Jumat siang itu, alhamdulillah semakin bertambah saudari - saudari yang kukenal dan datang dari berbagai macam kalangan. Mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswi, hingga dosen dan karyawan . Di waktu yang relatif singkat itu, kami selalu mengawalinya dengan tilawah Qu'ran bersama, dan dilanjutkan dengan tauziyah singkat yang disampaikan oleh Mbak Nila, murobi kami saat ini. Sebisa mungkin, Mbak Nila membawa kegiatan siang itu tidak hanya dari satu arah, darinya saja. Tapi juga dari kami, agar bisa saling berinteraksi dan berbagi pengalaman. Awalnya, kami masih malu - malu. Namun beberapa minggu berjalan, kehangatan dalam berbagi itu mulai bisa kami rasakan. Tak jarang, kami juga saling menyampaikan beberapa permasalahan yang dihadapi.

Kami juga menikmati sebuah program yang kami buat dan kami komitmenkan sendiri. Yakni check list ibadah Yaumiyah (harian), yang akan kami evaluasi setiap minggunya. Ibadah yaumiyah ini berupa tilawah Qur'an, Qiyamul Lail, Ma'tsurat, Shalat Jamaah, Shalat Rawatib, Shalat Dhuha, Hafalan Qur'an, Shoum Sunnah, dan membaca buku yang bermanfaat. Awalnya kami sempat enggan karena berfikir ini akan mengarahkan hati kami pada riya' tentang amal ibadah yang kami kerjakan. Namun mbak Nila menegaskan dan meyakinkan, bahwa ini harus diniatkan agar diri kami selalu termotivasi dari waktu ke waktu. Dan agar masing - masing dari diri kami, dapat menjaga konsistensi dan keistiqomahan dalam beribadah. Fastabiqul khoirot.....

Untuk hafalan Qur'an, kami mengawalinya dari surat pertama di juz 30, An-Naba'. Dan ternyata, surat yang sesungguhnya hanya terdiri dari 40 ayat itu, kurasakan sendiri begitu sulit untuk konsisten menghafalnya. Terlebih jika harus dihadapkan dengan rutinitas kegiatan sehari - hari. MasyaAllah... sedih sekali dan ironis rasanya, jika mengingat begitu mudahnya diri ini menghafal lagu - lagu trend yang dibawakan oleh penyanyi dan band - band masa kini. Sedangkan untuk 40 ayat suci saja, untuk mendapatkan separuh sudah bukan main susah payahnya. Benar kata mbak Nila, memang harus kita niatkan dan mulai dengan cara seperti ini. Memotivasi diri dari luar, sebelum kesadaran itu akhirnya tumbuh alami dan bisa kita nikmati sendiri.

Sudah 2 Jum'at ini, kami tak bisa bertemu dalam majelis ilmu yang rutin kami lakukan tiap minggu itu. Mbak Nila sedang mudik ke kampung halamannya di salah satu desa di kota Malang. Rindu sekali rasanya bisa bertemu, berbagi, dan saling menimba ilmu dengan saudari - saudariku itu. Terlebih, ada sebuah tugas baru yang kami sepakati kemarin. Yakni menyampaikan kultum dan bedah buku secara bergilir tiap minggunya. Ini juga salah satu ikhtiar yang coba ditawarkan mbak Nila, agar kami semua belajar berdakwah dan menyampaikan tauziyah di sebuah majelis. Dan giliran pertama kemarin, jatuh kepada Ukhti Agis, seorang mahasiswi keperawatan di Unmuh Jember. Tak sabar rasanya. Semoga minggu depan, tidak ada halangan, yang akhirnya dapat meringankan langkah kami untuk bisa berkumpul kembali.


"Barang siapa yang melalui suatu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga..” (HR. Imam Tirmidzi dari Abu Hurairoh)

Kamis, 02 Juni 2011

Pak Budi

Bukankah suatu hal yang sangat membahagiakan sekali, jika kau yang bukan siapa - siapa itu, masih diingat bahkan sangat dikenal oleh seseorang di masa lalumu ?

Hal membahagiakan itu, kualami langsung kemarin. Berawal, ketika sebuah kegiatan yang diamanahkan kepadaku -tepatnya kepada kami-, membutuhkan seorang pelatih yang mumpuni di bidang tersebut.
"Yak, jadinya kita pakai sendratari aja mbak... Untuk konsep kasarnya, bla...bla..blaaa... untuk detailnya coba nanti disusun dan didiskusikan ya.... Sekaligus pelatihnya juga...."

Hal - hal seperti ini, memang bukan sesuatu yang baru bagiku. Tapi jujur, 'dunia ini' telah begitu lama aku meninggalkannya. Aku mencoba berfikir dan mencari - cari, kira - kira siapa yang bisa kumintai pertolongan untuk hal ini. Teman - teman teater yang kukenal semasa masih kuliah dulu mungkin bisa membantu dalam hal konsep cerita. Tapi aku tak yakin, mereka kompeten dalam hal seni tari. Dan dari beberapa orang yang kuhubungi pun, ternyata telah banyak yang merantau meninggalkan kota ini. Lalu aku teringat seorang sahabat yang aku tahu pasti telah beberapa kali berpengalaman dalam hal urus-mengurus masalah satu ini. Sahabat berparas ayu yang kukenal sejak masih SMP dulu.
Awalnya, dia merekomendasikan padaku sebuah nama. Yang langsung kuhubungi saat itu juga. Namun sayang, mbak penari yang aku beri tawaran dadakan untuk melatih itu, menolak dengan alasan waktu yang diberikan terlalu singkat. Aku belum menyerah. Kucoba kembali menanyakan alternatif lain pada sahabatku tadi. Hingga muncullah nama itu. Nama yang sebenarnya cukup familiar karena banyak digunakan untuk menamai tokoh di buku - buku pelajaran jaman SD dulu.
"Ada 1 lagi say... ini guruku waktu SD dulu... namanya Pak Budi... beliau ini memang penari juga......"

Entah, begitu nama itu disebutkan, aku langsung teringat seseorang. Lelaki berkulit kuning langsat, dengan wajah penuh senyum, dan lelakunya yang sangat lembut. Namanya pun sama, Budi. Beliau adalah guru tari dan teater semasa SD hingga awal SMP ku dulu. Apakah Pak Budi yang dimaksud sahabatku tadi adalah orang yang sama? Aku masih menebak - nebak.

Hingga  kemarin, berbekal alamat yang diberikan sahabatku itu, bersama seorang kawan selepas jam kerja, aku mendatangi langsung rumah Pak Budi. Dengan beberapa kali tanya sana dan sini, akhirnya kami temukan juga rumah mungil di lahan paling ujung  salah satu perumahan di kotaku.
Lelaki yang menyambut kami sore itu, sepertinya sedang sibuk berbenah. Saat melihat kedatangan dan mendengar salam dari kami, serta merta ia tinggalkan beberapa kayu dan perkakas dari tangannya.
"Wah...sebentar ya.... monggo masuk dulu......" sapanya ramah sambil meninggalkan kami untuk membersihkan kedua tangannya.

Aku sebetulnya masih menebak - nebak dan belum yakin sepenuhnya, bahwa Pak Budi yang dimaksud sahabatku itu, adalah orang yang sama dengan seseorang yang aku ceritakan tadi. Tapi setelah sapaan lelaki yang menyambut kami sore itu, aku jadi semakin yakin dan langsung mengamini pradugaku beberapa hari ini. Ya... paras dan senyum yang selalu ramah itu, tak pernah berubah dan masih seperti dulu. Beliau memang Pak Budi, guru tari dan teater semasa aku masih duduk di bangku sekolah dasar dulu. Beliau memang tidak mengajar hingga aku lulus SD. Saat aku masih kelas 4 atau 5, beliau dipindah ke sekolah lain, dan itu memang sekolah sahabatku tadi.
Sambil melepas sepatu dan memasuki rumah beliau, hatiku terus membatin. Apakah beliau masih ingat padaku, salah satu muridnya ini.
"Sebentar, saya kok sepertinya antara ingat dan lupa.... tapi saya ndak asing kok sama wajahnya...." beliau memulai percakapan.

"Hehehe.. saya murid Bapak sewaktu di SD Kepatihan 02 dulu...." pertanyaan beliau kujawab sambil tersenyum.

"Nah...benar kan.... terus, gimana.. gimana.... Gest?"

Ucapan beliau yang barusan ini, sungguh membuatku terkejut sekaligus bahagia. Lebih dari sepuluh tahun telah berlalu, ternyata beliau masih ingat bahkan mengenal namaku. Sore itu pun tak hanya maksud utama kedatangan kami ke sana yang kuutarakan kepada beliau, kami juga jadi saling banyak bercerita tentang kenangan dengan kawan - kawan di masa lalu, serta perjalanan hidup kami hingga saat itu.
Pak Budi yang terakhir kutemui masih dengan 1 bayi dalam gendongannya, ternyata kini sudah memiliki 3 putra. Dan alhamdulillah, beliau beserta istri sama - sama telah diangkat menjadi guru di salah satu sekolah dasar negeri di kotaku.

Kalau bukan karena ada amanah yang diberikan padaku, pasti sore itu aku tak akan ada di sana. Dan tentu saja, kalau bukan karena Faiq, sahabatku, aku mungkin entah kapan baru bisa bertemu lagi dengan salah satu guru favoritku itu.

*Syukran katsiir ya ukhti.... silaturahim yang sempat termakan waktu ini, jadi bisa terjalin kembali, juga karenamu..... :-)

Rabu, 01 Juni 2011

Perjalanan 2

".....untuk Sancaka habis sama sekali mbak, baik yang eksekutif maupun bisnis."

"Kereta lain yang ke arah sana mbak?", aku masih ngotot.

"Maaf, sudah habis terjual seluruhnya......"

Bukan, bukan harus yang berkelas bisnis apalagi eksekutif yang kucari. Apapun jadi. Yang penting, ada kursi yang bisa membawaku ke barat pagi ini. Tapi ternyata, ya sudahlah... Kutinggalkan antrian mengular yang kurang lebih 30 menit sudah aku terlibat di dalamnya. Segera kucari mbak Maya yang katanya sudah duduk manis di kursi tunggu penumpang. Walau beda gerbong, kami memang berangkat dengan kereta yang sama semalam. Tujuannya pun sama. Hanya, dia lebih ke barat sedikit. Aku berniat turun di Kertosono, dan dia hendak mudik ke kampung halamannya, kota Solo.

Awalnya, aku berniat turun di Wonokromo dan lanjut ke Bungurasih. Karena menurut info yang aku terima, tempat yang kutuju itu lebih mudah aksesnya dengan bus. Tapi di tengah jalan tiba - tiba aku berubah fikiran. Mumpung ada teman yang naik kereta ke arah yang sama, kenapa tak kubarengi saja. Itung - itung, ada teman ngobrol di jalan. Dan akhirnya aku memutuskan untuk turun di Gubeng. walau kondisi tiket kereta yang aku inginkan itu, juga belum tentu aku peroleh.
Benar saja, tak hanya kehabisan tiket, aku pun harus melakukan hal nekat demi mendapatkan kendaraan yang bisa mengantarkanku ke tempat tujuan.

"Taxi mbak...?" seorang lelaki yang telah berumur senja menghampiriku.

"Wah.. naek taxi. Eksklusif sekali.... Tapi tak apalah, tak ada salahnya aku tanyakan..." batinku.
"Ke Bungurasih, pinten pak ?"

"75 rebu saja mbak....", sang bapak menjawab santai.

"Alamak... mahal sekali....", batinku berperang.

"Apa mungkin pake argo saja mbak, lebih murah sedikit, tapi ya ndak terlalu jauh selisihnya. Belum nanti kalo tiba - tiba di jalan macet... sama saja...", sang bapak sepertinya memahami perubahan mimik wajahku.

Kuputuskan untuk mencari alternatif lain untuk menuju ke Bungurasih. Dan ide yang akhirnya kupilih ini benar - benar nekat dan sama sekali tak terbayangkan sebelumnya.
Dari pengeras suara, diumumkan bahwa kereta Penataran yang menuju Malang Kota Lama akan berangkat beberapa menit lagi.
"Piye mbak, tak naek ini ae wes ya... terus tak loncat di Wonokromo...", aku berujar sembarangan.
"Ha? Serius? Ckckckckc.... jan walang tenan awakmu iki...." aku hanya bisa meringis menerima tanggapan mbak Maya itu.
Detik demi detik berlalu,
"Trus piye sidane? Nek kamu yakin, ya naek aja..." ucapan yang sama sekali tak kukira meluncur dari lisan mbak Maya.
Tanpa berfikir panjang lagi, "Ya wes, mbak... samean ati2 ya... Aku tak naek ini aja...." setelah melakukan prosesi cium pipi kiri kanan dan mengucap salam, setengah berlari aku menuju jalur 2. Peluit tanda keberangkatan kereta sudah mulai dibunyikan. Beberapa petugas yang berdiri di sepanjang jalur keberangkatan, tampak menatap tak sabar ke arahku. Mungkin mereka membatin, "Cepetan mbak... kelamaan larimu, tak berangkatin ini kereta...."
Dan akhirnya, hupp! Pintu kereta berhasil kuraih. Tak sampai beberapa detik berselang, kereta mulai merayap perlahan, bersamaan dengan nafasku yang tak beraturan.

Hari itu memang musim liburan. Kereta yang bertarif ekonomi ini, tentu saja akan selalu penuh sesak, karena pasti lebih dipilih oleh mayoritas penumpang terutama mereka yang berkantong pas - pasan. Aku memilih berdiri di bagian sambungan kereta dan mendekati pintu, supaya lebih mudah melompat di Wonokromo nanti. Toh tak akan lama, hanya beberapa menit saja.
Saat kereta mulai melambat, gerombolan penumpang tampak berjubel di pinggiran jalur stasiun Wonokromo. Aku sudah resah, takut - takut mereka nanti tiba - tiba memaksakan diri untuk menjejali pintu yang sedari tadi sudah aku persiapkan dengan rapi ini. Membayangkan aku harus terjepit - jepit, atau lebih buruknya belum sempat turun dan kereta terlanjur melanjutkan perjalanannya. Bismillah... ketika lantai stasiun mulai bisa jelas kulihat, sambil sedikit mengangkat bagian bawah rokku, kuputuskan untuk setengah melompat. Sekali lagi, hupp..!! Alhamdulillah, pendaratanku sukses. Dan yang lebih aku syukuri, aku sudah lebih dulu berada di bawah sebelum para penumpang yang berjubel tadi saling dorong satu sama lain untuk bisa memasuki kereta.
Aku pun melenggang santai seolah tak terjadi apa - apa ke arah pintu keluar.

Kelegaanku ini ternyata masih harus disambut oleh bapak petugas stasiun yang menanyaiku di pintu keluar.
"Maaf mbak, bisa tunjukkan tiketnya...?"

"Wah, pak... saya ini tadi kebablasan naek kereta sampe Gubeng. Terus kembali ikut kereta Penataran ini, jadi ndak beli tiket.....", sambil takut - takut aku mencoba menjelaskan. Sebetulnya tak masalah seandainya aku dimintai ongkos tiket di sini, tapi yang lebih aku fikirkan saat itu adalah betapa malunya jika aku sudah terlanjur dianggap penumpang gelap.

"Oh, gitu... mbaknya dari mana?"

"Saya tadi pagi ikut Mutiara Timur, Pak..dari Jember. Ini masih ada tiketnya.", sambil bersiap mengeluarkan tiket dari dalam tas ransel yang kujinjing.
"Oh, kalo gitu, ya sudah mbak, ndak papa.... silahkan...." bapak petugas membukakan pintu keluar untukku.Sekali lagi, aku mengucap Alhamdulillah dalam hati.

Di dalam kendaraan umum yang membawaku ke terminal Bungurasih, kusempatkan mengabari seseorang tentang hasil dari kenekatanku ini tadi.
"Mbak, aku berhasil mendarat di Wonokromo dengan sukses. Walau harus menghadapi bapak petugas tiket dan sedikit bernegosiasi dengannya.... :-p Ini aku dah perjalanan ke Bungur. Samean ati2 ya...."
-sending.........--Message sent-

selang beberapa menit,
-1 message received-
"Woo..ancene, percoyo nek walang awakmu iki... :-D he'em...ati2 juga yo... sukses misinya...! ;-) "
Sambil tersenyum aku memasukkan kembali sony putih milikku ke dalam tas ransel kesayangan.

Terminal Bungurasih, seperti biasa, tak pernah surut dari manusia - manusia. Setelah membeli karcis peron, aku memasuki areal tunggu penumpang yang nyaris tak kutemui satu sudutpun yang kosong.
Ini pertama kalinya aku mengunjungi kota itu. Walau sebenarnya sering jika hanya melewatinya untuk menuju kota yang letaknya lebih ke barat. Bus - bus antar kota dan propinsi telah berjajar dengan rapi di hadapanku. Para kondektur dan calo - calo penumpang pun sedari tadi sudah berteriak -  teriak menanyakan tujuan ke arahku. Sambil tergesa - gesa, kuputuskan untuk memasuki sebuah bus yang tampak sudah lumayan penuh. Dalam hati aku membatin, setidaknya bus ini akan segera berangkat. Yang kuingat tadi, bapak kondektur yang kutanyai bilang, bus ini memang jurusan Kertosono. Tapi dari penumpang yang baru saja naik dan duduk bersebelahan denganku, aku baru tahu bahwa bus yang aku tumpangi ini, jurusan Kediri namun lewat Kertosono. Lalu, teringat ucapan dari seseorang, "Nanti kalo mau turun Kertosono, naek yang jurusan Madiun, Solo, atau Jogja aja ya... Jangan yang jurusan Blitar atau Kediri...."

Aku jadi ragu antara akan tetap melanjutkan perjalanan dengan bus yang sudah terlanjur aku tumpangi ini, atau turun dan naik bus seperti yang dianjurkan. Tapi pasti kondektur dan sopir bus ini akan kecewa, jika harus kehilangan 1 penumpang yang bahkan sudah hampir 10 menit lebih duduk di dalam busnya. Tak apalah, aku naek bus ini saja. Sekalipun nanti harus sedikit lebih jauh dari tempat aku maksud, toh juga masih dalam 1 kota. Yang terpenting, bus ini lewat Kertosono, itu sudah cukup membuatku lega.

Bus yang kutumpangi akhirnya mulai melaju meninggalkan Surabaya dengan muatan yang nyaris overload. Namun entah, pak sopir seakan tak mau melewatkan setiap penumpang yang berdiri di pinggir jalan, seakan tak mau tahu betapa awak - awak di dalam busnya ini sudah saling menghimpit satu sama lain. Aku, dengan sisa tenaga yang aku punya sejak berangkat dini hari tadi, mencoba untuk tetap terjaga. Mengusir rasa kantuk yang sering tiba - tiba menyerang dengan berbincang - bincang bersama seorang gadis kecil yang duduk di pangkuanku........


(bersambung)

Jumat, 29 April 2011

Perjalanan 1

Keputusanku untuk berlabuh di stasiun Gubeng, tak sepenuhnya salah dan sia - sia. Walau harus menerima kenyataan bahwa tiket yang kucari sudah benar - benar ludes tak bersisa, ada sebuah berita penting yang tentu akan kulewatkan jika saja tadi benar kuputuskan untuk berhenti di Wonokromo. 
Pak Tomy, begitu lelaki paruh baya yang bersama denganku mengantri di loket itu , memperkenalkan dirinya. Tujuannya, Jember. Kota kelahiranku. Sebuah undangan reuni dari almamater kampus yang membuatnya menyempatkan diri singgah dan mengunjungi kota suwar - suwir itu.
"Saya alumni UNEJ Fakultas Hukum, angkatan '80, dek..." akunya padaku.
Obrolan kami terus berlanjut, sembari menunggu kapan terputusnya antrian yang mengular itu. Hingga sampailah klimaks dari obrolan dadakanku dengan orang asing yang baru saja kukenal itu.

"Bapak saya dulu juga kuliah di Fakultas Hukum UNEJ, tapi saya kurang tahu pasti angkatan tahun berapa..." seakan ada yang menggelitik hatiku untuk sampaikan pertanyaan itu.

"Oh ya? Siapa namanya? Sekarang di mana?" Pak Tomy menanggapi penuh antusias.

Kukisahkan sedikit tentang lelaki yang begitu kucintai itu padanya. Hingga akhirnya, aku pun teringat sebuah nama.
"Oh iya, kalo Pak Dewanto? Bapak tahu?"

"Ooh... Dewanto yang wartawan plus fotografer itu? Orangnya kocak dan lucu sekali?"

Aku mengangguk mantab sambil tersenyum. "Saya kenal baik dengan beliau. Kami juga pernah hunting foto dan ngecamp di hutan bersama..."

"Wah..adek suka fotografi dan berpetualang juga ya? Tapi sayang ya... sudah almarhum juga Dewanto itu..." ada yang berubah di raut wajah Pak Tomy.

Di detik yang sama, seperti ada palu godam besar yang menghantam ulu hatiku. Pak Dewanto meninggal? Apa benar yang dia maksud adalah Om De yang aku kenal baik itu? Bagaimana jika itu Dewanto yang lain? Tapi semua ciri - ciri dan karakter yang disampaikannnya tadi, memang sama persis dengan sahabat yang sudah seperti ayahku sendiri itu.

"Apa Bapak ndak salah dengar? Pak Dewanto meninggal?" berusaha aku meyakinkan lagi diriku.

"Iya dek... setahu saya dari kabar yang beredar di mailist dan yang disampaikan teman - teman, seperti itu. Almarhum meninggal karena jantung, mungkin malah sudah stroke." suasana obrolan kami, langsung berubah seketika itu.

"Sungguh, saya sama sekali tidak tahu tentang kabar ini, Pak.. Padahal saya satu kota dengan beliau. Memang akhir - akhir ini saya sudah jarang kumpul dengan teman - teman fotografi dan teman - teman yang suka ngeluyur menjelajahi alam. Ya Allah.... Innalillahi wa innailaihi roji'uun....." ada sebersit penyesalan dari kalimat yang meluncur begitu saja dari lisanku.

Pak Dewanto. Aku dan teman - teman lebih sering memanggilnya Om De. Lelaki berkumis tebal dan  berwajah penuh senyum itu, kukenal pertama kali di sebuah seminar fotografi yang diadakan oleh lembaga pers kampus yang pernah aku ikuti dulu. Orangnya ramah, sangat terbuka, suka bercanda, dan yang pasti, sudah makan banyak sekali asam garam dunia fotografi.
Pertemuan keduaku dengan Om De, sekaligus yang membuat kami semakin akrab dan dekat, adalah saat beliau meminta tolong padaku untuk membetulkan komputer di rumah yang ngambek. Ini juga gara - gara teman - teman lain yang sok - sok an mengajukan namaku sebagai pahlawan reparasi. Padahal aku sendiri juga sekedar tahu dan belum tentu juga selalu bisa menyembuhkan penyakit - penyakit yang menyerang komputer.
Aku saat itu sudah ketar - ketir saja bawaannya. Membayangkan bagaimana seandainya aku tidak bisa membantu. Tapi sudah kepalang tanggung, bismillah... aku niatkan saja untuk membantu semampuku. Penyakitnya klasik. Komputer kesayangan Om De itu terjangkit virus yang membuat sistem operasinya tidak berjalan normal. "Wah... bisa dibikin botokan ini ya nduk, virusnya...." masih kuingat jelas celetuk Om De kala itu.
Di malam pembasmian virus itu pula, akhirnya kami berbincang tentang banyak hal. Om De banyak bercerita tentang pengalamannya dalam hal memotret. Dan tentu saja, sudah hunting ke mana saja beliau selama ini. Om De juga memamerkan berbagai macam kamera dan lensa yang beliau miliki. Mulai dari yang masih analog hingga yang super canggih. Semua itu hanya membuatku semakin ngiler tak berdaya. Bagaimana tidak, sedang satu pun kala itu, aku tak punya.

Om De juga bercerita tentang masa - masa kuliahnya. Kecintaan beliau pada alam juga yang membuat beliau pernah menjadi awak aktif dari lembaga pecinta alam di fakultas Hukum UNEJ dulu. Kami semakin nyambung. Lebih - lebih saat tak sengaja kuutarakan pernyataan dan pertanyaan yang sama, seperti yang kusampaikan pada Pak Tomy di atas tadi. Aku bertanya tentang ayahku. Dan siapa yang mengira, ternyata Om De berkisah pernah begitu dekat dengan lelaki yang kucintai itu.
Aku langsung membayangkan. Ayahku yang juga humoris dan suka berpetualang, digabung dengan Om De yang berkarakter serupa, pasti mereka cocok sekali.

Kenangan terakhir dan yang paling berkesan dengan Om De adalah, saat kami hunting dan bermalam di tepi pantai Nanggelan. Sebuah pantai eksotis di kota Jember yang sebelumnya sama sekali tak pernah kulihat dan dengar namanya. Kami bersepuluh kala itu. Rata - rata adalah para fotografer media - media lokal, para mahasiswa pecinta alam, dan aku sendiri yang entah mewakili siapa.
Rombongan Om De berangkat lebih awal. Dan aku sendiri, bersama keempat teman lain, baru berangkat siang harinya. Kami berlima, sama sekali tidak menyangka jika ternyata pantai eksotis yang dijanjikan Om De, harus kami tempuh dengan medan yang tidak mudah. Sudah berasa seperti ninja Hatori saja kala itu. Mendaki gunung, menuruni lembah, menguak padang ilalang, sempat tersesat di kali mati dan rawa - rawa, dan nyaris bermalam di hutan bakau. Entah mitos bahwa dilarang mendaki gunung dalam jumlah ganjil itu benar atau tidak, tapi kami berlima memang sempat tersesat hingga 5 jam lamanya.
Bagai mendapat oase di tengah gurun pasir, kebahagiaan tak terlukiskan saat suara ombak sayup - sayup mulai kami dengar. Ketika kami mulai menginjak bibir pantai, dari kejauhan tampak sinar senter dikelip - kelipkan. Kami berharap itu rombongan Om De yang tentunya sudah tiba dari siang tadi. Dan setelah semakin dekat, serta merta Om De memeluk kami satu persatu. Ada butir bening mengalir di pipinya. Tampak sekali raut khawatir dan haru di wajah beliau. "Oalah rek..rek.. aku ndak mbayangin kalau kalian sampai benar - benar hilang...."
Kawasan Nanggelan memang termasuk kawasan yang dilindungi. Tidak banyak orang yang bisa dengan mudah keluar masuk area ini. Aku sendiri bisa berkunjung hingga bermalam di sana, tentu saja karena ada seorang Om De yang mengajakku.

Itulah sosok Om De. Seorang sahabat dan ayah, yang karakter dan kegigihannya akan selalu kuingat. Sekalipun akhirnya aku sampai di antrian terdepan, mendapati kekecewaan yang kedua karena ternyata tak ada satu tiket pun yang tersisa, dan harus kembali ke stasiun Wonokromo demi lebih mendekati terminal, ada 1 hal penting yang tetap kusyukuri. Seandainya aku tidak bertemu Pak Tomy, tentu saja kabar duka ini entah berapa waktu lamanya, baru akan kudengar.


Selamat jalan Om De... semoga Allah mengampuni dosa - dosa dan menerima seluluh amal ibadah selama di dunia. Semoga Om De mendapat tempat mulia dan bersama dengan golongan orang - orang yang beriman, di sisi Rabb.... AllahummaAmin.....

(bersambung)


----June 2008, Some memorable portraits from Heaven of Nanggelan ----


Rabu, 20 April 2011

Lelaki di balik Meja Kopi

Pagi ini, kembali kulihat sosokmu kawan. Walau selalu, hanya lewat sekelebat bayang yang kutangkap dari atas kendaraan bermotor ini. Di tempat yang sama, di jam yang juga nyaris selalu sama, sosokmu terlihat begitu  tekun dan sabar di balik gelas - gelas dan beberapa toples yang berjajar rapi itu. Yang kalau boleh kutebak, isinya adalah bahan baku utama dari minuman kopi, teh atau susu.
Di antara lalu lalang kendaraan dan angkot yang sesekali berhenti menurunkan atau menunggu penumpang, kau begitu setia dengan aktivitasmu setiap pagi itu. Tak ada raut keluh kesah yang kutangkap, pun wajah bengal dan jahil yang kerap kudapati saat bercengkerama dan berkumpul denganmu bersama kawan - kawan lainnya di kampus.

Dari balik jendela angkot yang sempat sebulan lalu setiap pagi kutumpangi, aku pertama kali menangkap sosokmu. Lelaki yang memang sepertinya begitu kukenal, dengan rambut panjang nyaris sebahu tapi dalam balut busana, raut, dan kondisi yang begitu berbeda. Di kampus, di setiap perkuliahan yang kita lewati bersama, aku tahu betul sosokmu yang cuek, apa adanya, sedikit berantakan, nyaris selalu terlambat masuk kelas, gemar tertawa dan berkelakar dengan volume suara yang maksimal, dan tentu saja yang paling kuingat, adalah yang paling sering menggoda dan menjahiliku.
Pagi tadi pun, dari atas kendaraan bermotor beroda dua ini, kau kembali kutemui begitu asyiknya melayani pelanggan - pelangganmu sambil sesekali mengobrol hangat dengan mereka. Sengaja, setiap kali melewati halte itu, aku memperlambat laju motorku, demi memastikan dan meyakinkan diriku sendiri, bahwa itu benar dirimu.

Siapa yang menyangka, lelaki di balik meja kopi dengan segenap kesederhanaan itu adalah dirimu, kawan. Teman sekampus yang kukenal begitu konyol dan lebih sering kudapati tertawa dan berbicara lepas tanpa beban.....

Kamis, 10 Maret 2011

STOP

"PM, pak..!"

Suatu hari nanti, jika kawan ingin berkunjung ke rumahku di kota Jember ini, dan ternyata aku tak bisa menjemput di terminal atau stasiun yang ada, dengan angkot kawan harus memilih yang ber-letter 'E' jika kawan datang dari arah terminal Tawang Alun. Dan pilihlah yang ber-letter 'K' jika kawan datang dari arah terminal Arjasa. Dan jangan lupa, ucapkan dengan lantang kata - kata di atas tadi pada bapak sopir angkot, jika kawan tak ingin terbawa hingga terminal Pakusari (arah Banyuwangi). Atau kalau mau lebih aman lagi, hubungi saja salah satu armada taxi yang ada di kotaku ini :-)
PM sendiri adalah kependekan dari Polisi Militer, ya... sebuah kantor dengan lapangan hijau cukup luas di tengahnya, yang terletak di seberang jalan besar menuju rumahku, jalan Sriwijaya.
Aku yang akhir - akhir ini memang tergabung dalam grup 'angkoters', mau tak mau harus selalu meneriakkan kata - kata itu setiap angkot sudah mulai mendekati daerah rumahku. Sempat terbersit ide nakal, bagaimana jika tiba - tiba aku berteriak "MP, pak... MP...", lalu sopir angkot bingung dan melaju terus tanpa peduli. Ideku itu akhirnya kuurungkan, membayangkan jika akibat keisenganku itu aku harus terdampar hingga terminal Pakusari :-D Aku hanya penasaran, bagaimana para sopir angkot ini seakan sudah punya kamus nama lokasi dan tidak pernah menanyakan lagi apa yang diteriakkan para penumpangnya.
"Ya mbak ? PM itu mana ya? Waduh maaf mbak, saya baru 2 bulan jadi sopir angkot...."
Intinya, tidak pernah aku temui, ada sopir angkot yang bingung menanyakan alamat.

Tiba - tiba ada keinginan hati untuk membuat daftar, nama - nama yang biasa diteriakkan penumpang angkot pada pak sopir, untuk menghentikan kendaraannya. Nama - nama tadi, biasanya adalah nama toko, bengkel, warung makan, jembatan, atau apapun yang pernah atau masih ada di sana. Kenapa aku bilang pernah, karena beberapa nama setelah aku selidiki lebih lanjut, adalah nama sebuah tempat yang sesungguhnya telah ada dari jaman dahulu kala, namun kini sudah tak tampak lagi wujudnya. Hanya karena mungkin asosiasi sopir angkot dan penumpang yang telah terlanjur mengabadikan nama itu dalam benak mereka.

Aku akan mulai dari nama - nama tempat yang biasa kulalui setiap hari, berangkat dan pulang dari kantor, dan dijadikan kata pamungkas yang diteriakkan para penumpang untuk menghentikan angkot.

1. Perhutani
Didengar dari namanya saja pasti sudah jelas, memang julukan ini adalah untuk sebuah kantor Perhutani yang ada di kotaku. Kantor yang berada diposisi 'tusuk sate' sebuah pertigaan ke arah kampus. Biasanya yang banyak berhenti di sini adalah anak sekolahan dan mahasiswa yang tidak sabar menunggu angkot jurusan kampus, dan memilih oper untuk menghemat waktu.

2. RRI
Memang nama sebuah gedung radio, yang terletak persis di pojokan sebuah perempatan. Perempatan ke kanan adalah perumahan Gunung Batu, dan perempatan ke kiri adalah perumahan Bukit Permai namanya. Yang biasanya meneriakkan nama ini adalah penumpang yang memang rumahnya di daerah sekitar sana dan siswa  - siswa SMA 1 yang berjarak kurang lebih 300 meter dari gedung RRI.


3. Kembar
Bukan karena penumpang melihat ada sepasang anak kembar melintas, tapi memang ini biasa diteriakkan setelah angkot mendekati sebuah jembatan cukup besar yang oleh masyarakat kota Jember dikenal dengan sebutan "Gladak Kembar" (Jembatan Kembar). Yang biasa turun di sini adalah para siswa SMP 11 atau para penumpang yang hendak melanjutkan perjalanannya ke arah Kebonsari (pertigaan ke selatan). Banyak juga para bapak - bapak atau ibu - ibu yang hendak belanja ke pasar Kepatihan, salah satu pasar yang cukup besar di kotaku.


4. Wahyu
Sekilas memang biasa digunakan sebagai nama orang. Tapi Wahyu yang ini, adalah nama sebuah salon yang sudah cukup lama berdiri. Pernah beberapa kali aku sengaja mengeluarkan kepalaku dari jendela angkot, untuk melihat seperti apa yang namanya salon Wahyu itu. Tapi berulang kali usahaku itu tak juga membuahkan hasil. Belakangan ini saja baru aku tahu, salon itu sepertinya memang sudah tak ada lagi. Jadi tinggal namanya saja yang masih abadi. Yang biasa berteriak "Wahyu, pak...", hampir semuanya adalah anak - anak sekolahan. Siswa SMP 12 dan SMP 1.

5. Semar
Nah, julukan ini yang hingga detik ini belum aku temukan apa maknanya. Di sekitar tempat pemberhentian itu pun tak kutemui toko atau pedagang yang menjual pernak - perning pewayangan. Lantas, Semar itu terinspirasi dari apa ya? Jika ada yang tahu, tolong kirim surat atau minimal sms aku ya... :-D
Yang aku tahu pasti, penumpang yang banyak berhenti di sini adalah para mbak - mbak yang bekerja di kompleks ruko di sekitar Matahari Plaza. Atau juga biasanya penumpang yang akan jalan - jalan atau shopping di sana.

6. Tanjung
Kalau yang satu ini, adalah nama sebuah pasar yang paling besar di kota Jember. Dan yang biasa meneriakkan nama ini, mayoritas adalah mereka yang memang berkeperluan untuk berbelanja di sana. Salah satu orang yang paling sering kulihat tak pernah absen setiap paginya, adalah Pak Bagong, bapak penjual bakso di ujung jalan Sriwijaya. Senyumnya yang ramah, membuatku tak pernah kesulitan untuk melihat dan langsung mengenalinya.

7. Al-Huda
Al-Huda adalah nama sebuah masjid yang cukup besar di kawasan jalan Gajah Mada. Walaupun letaknya di seberang jalan, tapi masyarakat memang menjadikan namanya sebagai kata pamungkas untuk mengingatkan pak sopir. Yang biasanya turun di kawasan ini datang dari beragam profesi. Mulai dari anak sekolahan (yang akan menuju daerah Gebang, dan harus oper angkot lagi), karyawan kantor perkebunan, atau penumpang - penumpang lain dengan berbagai macam kepentingan entah apa itu.

8. Pelita
Ini bukan program pembangunan yang sering disebut - sebut dalam pelajaran IPS semasa aku masih SD dan SMP dulu. Pelita adalah nama sebuah pasar yang terletak di Jl. Kertanegara. Posisinya persis berseberangan dengan gedung Telkom. Jarang sekali kutemui anak - anak sekolahan yang turun di sini (karna memang tidak ada sekolah daerah situ :-D ), biasanya lebih banyak mereka yang memang akan berbelanja atau para karyawan yang bekerja di gedung Telkom yang tinggi menjulang itu.

9. Mutiara
Nah, Mutiara ini adalah nama salah satu radio dan TV lokal yang ada di kotaku. Walaupun sekarang gedung itu sudah tidak berfungsi lagi, namun namanya biasa aku sebut untuk mengingatkan pak sopir agar menghentikan angkot yang kutumpangi. Hey..hey...aku ? Hehehe... Ya, aku. Aku sendirilah yang biasa turun di tempat ini. Tentunya setelah itu sambil mengumpulkan segenap keberanian, karena posisi 'gedung yang berwarna warni' itu, masih harus kucapai dengan menyeberangi jalanan besar yang sangat ramai ini.

Ahh.. ternyata begitu banyak yang bisa kita nikmati dan abadikan di tengah kebosanan kita pada rutinitas sehari - hari. Di jam - jam itu, orang - orang itu, hingga jalanan yang itu - itu lagi, tentu akan sangat membosankan. Dan parahnya dalam kebosanan itu justru banyak hal yang mungkin kita lewatkan. Semoga kita termasuk dalam golongan mereka yang selalu bisa memanfaatkan dan menikmati waktu, lebih - lebih tetap bisa eksis di tengah - tengah kebosanan yang mendera. Ya, semoga.... ^__^

Rabu, 23 Februari 2011

20 Februari 2011

Kota Malang. Ya, kota bunga berhawa sejuk yang pernah kusinggahi kurang lebih 3 tahun lamanya. Kota di mana aku belajar banyak sekali tentang kehidupan. Kota yang menjadi saksi saat aku berproses dari masa - masa remaja menuju dewasa. Kota di mana aku menemukan dan  belajar begitu banyak hal tentang ilmu, teman, persahabatan, dan cinta. Sekalipun tak dilahirkan di kota ini, tak kupungkiri betapa aku mencintainya. Mencintai setiap jengkal memori yang pernah aku torehkan di sana :-)

Hari Minggu lalu, saat ayam jantan masih lelap dalam buaian mimpi dan belum berfikir akan bernyanyi apa pada kokoknya di pagi hari nanti, kami bersembilan (Aku, Kiki, Linda, Fandi, Fathur, Bogi, Mas Dopo, Mas Arif, dan April sebagai driver yang tangguh) menuju ke barat meninggalkan kota Jember. Bukan untuk mencari kitab suci, kami membawa sebuah misi mulia untuk menghadiri momen penting dan bahagia salah seorang sahabat kami di sana. Ya, di kota sejuta kenangan yang selalu aku rindukan itu, Kota Malang, Denik sahabat kami akan menikah. Semangat sekali kami di pagi buta itu. Sepanjang perjalanan penuh berisi tawa dan kelakar - kelakar menggelikan, terutama dari Kiki salah seorang dari kami yang paling ceria dan seakan tak pernah kehabisan baterai. Mulai terbayang akan ke mana saja kami di Malang nanti, karena selain tujuan mulia tadi, tentu saja nafsu touring dan jalan - jalan yang selalu bergelora, tak boleh dilupakan :-P
'Niki' pun sengaja kubawa serta, demi mengabadikan wajah - wajah keceriaan kami di sana nanti.

Tepat pukul 06 : 30 WIBAM (waktu Indonesia bagian Malang), kami tiba. Semerbak hawa sejuk sudah kami rasakan semenjak memasuki Lawang. Ah.. kota ini, setiap kujatuhkan pandang pada sudut - sudut tertentu, selalu saja membuatku tersenyum - senyum sendiri.
Tujuan awal kami pagi itu, tentu saja menuruti hasrat perut yang sudah menggelitik, kami semua kelaparan. :-D Dan betapa bahagianya hatiku, saat mengetahui keputusan akhir yang disepakati adalah mencari tempat makan sekaligus tempat bersih - bersih diri di Sawojajar. Hey...hey.. coba dengar kata - kata yang terakhir itu. Bukankah, itu nama sebuah perumahan tempat almamaterku tercinta berada? Perumahan serupa labirin, karena mereka yang baru pertama kali memasukinya dijamin akan sulit untuk menemukan jalan keluar.  

Velodrome yang menjadi lokasi pilihan kami, sebuah stadion cycling track yang entah saat ini masih digunakan atau tidak.  Selain karena memang banyak sekali pilihan menu makanan di sana (karena selalu ada semacam pasar tumpah di setiap hari Minggu), tentu saja aku bisa sambil memanfaatkan momen itu untuk bernostalgi. :-) Tak banyak yang berubah dengan suasana Minggu pagi di velodrome. Masih begitu ramai dengan mereka yang hendak sekedar berjalan - jalan pagi baik bersama teman, pasangan, maupun keluarga. Mereka yang berjogging, mereka yang bersemangat dalam barisan untuk melakukan senam pagi, dan berbagai macam penjaja dagangan yang sering sekali menggoda mata, mulai dari makanan,pakaian, peralatan dapur, hingga handphone bahkan sepeda motor. 
Tentu saja, pagi itu jadi begitu berwarna - warni. Dan tahukah kawan, mengapa dulu aku begitu gemar berjalan - jalan pagi ke sini? Selain untuk berolahraga dan  kuliner pastinya, hal utama lain yang membuatku ketagihan adalah banyak sekali malaikat - malaikat kecil nan imut bertebaran di pagi itu. Senang dan gemas rasanya memandangi wajah dan tatapan polos mereka. Tak ada beban, tak ada kebohongan, yang tergambar hanya kesucian dan ketulusan. That's why i really love kids..
Seusai sarapan, kami langsung menuju ke lokasi pembersihan diri. Beruntung ada Bogi, yang rumahnya bisa menjadi tempat kami bersinggah dan melepaskan lelah. Thank's boy... :-)

Pukul 10.00 tepat, kami tiba di lokasi acara. Menyaksikan langsung prosesi akad nikah yang selalu, lagi dan lagi, membawa 'warna' itu menyapaku. Haru dan bahagia, tergambar jelas di wajah kedua sahabat kami hari itu. Indahnya mengamati kebahagiaan yang terpancar dari mata mereka yang hatinya telah diikat dalam ikatan yang suci dan halal. Sambil membayangkan, kapan giliran diri ini berada di posisi yang sama dengan mereka :-P
Dan seperti biasa, sesi poto - poto pun tak akan kami lewatkan.....

penampakan Denik, sahabat kami yang cantik :-)
Barokallahulakum..... :-)

Dan... ini lah kamiii.... :-D
Menjelang Duhur, kami pamit. Tentu saja, bukan untuk kembali ke Jember, tapi melanjutkan misi yakni jalan - jalan, hehe.... Keputusan pun telah dibuat, kami akan mengunjungi salah satu wisata alam di kota Batu yang cukup terkenal, Coban Rondo. Sebuah wana wisata air terjun yang terletak di desa Pandesari, kecamatan Pujon, Batu, dengan jarak tempuh sekira setengah jam dari pusat kota Malang

Mendengar namanya saja, tlah cukup membuatku kembali tersenyum - senyum sendiri lagi. Mengingat pernah beberapa pagi, siang dan malam, aku bersama sahabat - sahabatku semasa di SMK dulu, pernah berjuang di sini. Tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit, menahan dingin yang menusuk hingga tulang. Aktivitas dan kegemaran khas muda - mudi seusiaku saat itu. Beberapa villa tua peninggalan Belanda, jajaran pohon pinus yang tertata begitu rapi dan artistik, pohon berbunga menyerupai terompet yang menguning, posko polisi hutan, warung - warung yang berjajar di bagian depan lahan yang biasa digunakan untuk camping, semua masih sama. Dan kenangan - kenangan itu, terus menari - nari di kepalaku.


Tiba di lokasi, telah ramai sekali pengunjung. Aku baru ingat, hari itu memang hari Minggu. Setelah memastikan kendaraan kami terparkir dengan benar (mengingat lahan parkir yang kemiringannya nyaris 45 derajat :-D) dalam barisan tak beraturan, kami memasuki areal wisata. Beberapa meter dari pintu masuk, sebuah papan informasi langsung menyita perhatian kami, lebih tepatnya delapan kawanku. Aku langsung tahu, itu adalah asal mula dari air terjun yang bernama Coban Rondo ini. 


rame - rame


Kisah dibalik Air Terjun Coban Rondo, bermula dari sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi, sedangkan mempelai pria bernama Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Setelah usia pernikahan mereka menginjak usia 36 hari atau disebut dengan Selapan (bahasa jawa). Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro, yang merupakan asal dari suami. Namun orang tua Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena usia pernikahan mereka baru berusia 36 hari atau disebut selapan. Namun kedua mempelai tersebut bersikeras pergi dengan resiko apapun yang terjadi di perjalanan.

Ketika di tengah perjalanan keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono, yang tidak jelas asal-usulnya. Nampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati, dan berusaha merebutnya. Akibatnya perkelahian antara Joko Lelono dengan Raden Baron Kusumo tidak terhindarkan. Kepada para pembantunya atau disebut juga puno kawan yang menyertai kedua mempelai tersebut, Raden Baron Kusumo berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang terdapat di Coban atau air terjun. Perkelahian antara Raden Baron Kusumo dengan Joko Lelono berlangsung seru dan mereka berdua gugur. Akibatnya Dewi Anjarwati menjadi seorang janda yang dalam bahasa jawa disebut Rondo. Sejak saat itulah Coban atau air terjun tempat bersembunyi Dewi Anjarwati dikenal dengan COBAN RONDO. Konon batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri yang merenungi nasibnya. 


pose di sisa2 tenaga

Aku langsung tersenyum geli, setelah membaca ulang asal muasal Coban Rondo itu. Teringat selorohku saat perjalanan berangkat menuju ke Malang pagi hari tadi, menjawab seorang kawan yang bertanya, apa itu coban rondo. Dan dengan entengnya aku berkata "Air terjun yang banyak jandanya...".
"Wah, kalo gitu mari kita cari janda di sana.....", ditimpali seorang kawan yang lain. :-D


terbentang angkuh dan gagah

Jadilah kami di siang menjelang sore itu, menikmati sejuk dan dinginnya percikan - percikan air terjun sambil terus mengagumi indah dan gagahnya bentangan tebing yang mengelilingi areal itu. Dan tentunya yang tak pernah boleh lupa, mengabadikan semua keindahan itu berbalut dengan warna - warni ekspresi kami. 'Niki'ku benar - benar bermanfaat dan bekerja keras seharian itu.
Tepat menjelang ashar, kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan. Selain karena khawatir malam segera menjelang dan esok kami sudah harus kembali beraktivitas, kami juga sudah cukup merasa puas dan telah hinggapnya lelah di wajah - wajah kami.
Petualangan kami hari itu, diakhiri dengan mampir di salah satu kedai bakso yang cukup terkenal di Probolinggo, Bakso Edy. Bagaimana tidak terkenal, sedang bangku yang kududuki saja, bertuliskan "Di sini pernah duduk Adjie Masaid dan Reza Artamevia" lengkap dengan tanda tangan keduanya :-D




Terima kasih teman, tuk warna - warni yang kalian lukiskan di 20 Februari 2011 ini.  Untuk Denik dan Mas Roni, selamat berbahagia. Moga ridho Allah selalu menyertai kalian berdua, dan cepat buatkan kami ponakan yang lucu - lucu ya.. :-D
Dan bagi seseorang, atau siapapun yang merasa pernah melewatkan waktu bersamaku dalam setiap tempat yang kukisahkan pada paragraf - paragraf di atas tadi, aku merindukan kalian..... :-)

Senin, 21 Februari 2011

Curhat Colongan Pagi Ini

"Ya gini ini, mbak... kalo sudah jam 7-an, anak sekolah dah pada berangkat, ya mesti sepi..... Dah terlalu banyak yang punya motor soalnya....."

Begitulah sekilas percakapanku dengan bapak sopir angkot yang tak sempat kutanyai siapa namanya pagi tadi. Jelas, beberapa kalimat yang meluncur dari lisan lelaki paruh baya itu, tak bisa disembunyikan sirat kekecewaan, betapa semakin banyaknya pengguna dan pemilik sepeda motor, membuat mereka secara tidak langsung namun pasti, jadi kehilangan pelanggan/penumpang. Kebanyakan orang memang lebih memilih jalan untuk mengkredit sepeda motor, sambil menikmati cicilan per bulannya dan terus beraktivitas sehari - hari.

Tak kupungkiri, adanya kendaraan pribadi, membuat seseorang jauh lebih fleksibel dalam hal mobilitas. Terlebih mereka yang termasuk dalam golongan MSSS (Manusia Sangat Super Sibuk). Yang dalam sehari, bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, lebih dari 10 kali :-P Jika ingin melakukan kalkulasi perhitungan dalam bentuk nilai rupiah, tentu saja melakukan cicilan tiap bulan untuk membayar kredit kendaraan, tak kan jauh berbeda dengan biaya yang harus dikeluarkan jika harus berpindah ke sana ke mari dengan menggunakan angkot atau kendaraan umum. Bahkan mungkin lebih hemat. Dengan kendaraan pribadi pun, kita tak perlu khawatir dan resah dalam penantian jika angkot yang dinanti tak kunjung lewat, tak perlu bersusah payah berebut atau berdesak - desakkan ketika kondisi angkot penuh penumpang, dan pastinya kita bebas memutuskan atau memilih bagaimana rute perjalanan sesuai dengan kepentingan dan kesibukan kita. (Masak iya, kita mo ngatur2 angkot buat jalan dan berhenti semau kita! :-D)

Kembali ke curhat colongan pak sopir di atas tadi, selama di perjalanan menuju kantor, aku jadi mencoba melihat keberadaan angkot vs motor pribadi ini dari sudut yang berbeda. Betapa memang keberadaan salah satunya turut mempengaruhi nasib subjek pelaku salah satu lainnya. Aku jadi berfikir, selama menjadi pengguna kendaraan pribadi beroda dua beberapa tahun ini, aku memang bisa dibilang jarang, bahkan mungkin tak pernah merasakan lagi yang namanya naik angkot. Beda dengan jaman masih memakai putih biru dulu. Pagi - pagi sudah berpeluh karena harus berjalan sekira 1 km-an ke ujung jalan besar tempat angkot biasanya lewat. Belum lagi jika harus berlari dan berebut dengan anak - anak sekolahan lainnya. Aku pun masih ingat, saat harus nekat bergelantungan di pinggir pintu bus kota bersama para lelaki berbaju SMA (karena waktu itu aku masih SMP), demi mengejar waktu yang mendekati detik - detik ditutupnya gerbang sekolah. Seru dan lucu sekali jika mengingat masa - masa itu. Aku jadi punya banyak kenalan sopir angkot, bapak - bapak tukang becak, dan anak - anak sekolahan lain yang bernasib sama, menjadi angkoter's setiap harinya :-)
Kebiasaan yang tak kusengaja ini, juga terbukti menjadi salah satu olahraga tak langsung yang menyehatkan. Ya, bukankah jalan kaki juga termasuk cabang olahraga yang sangat bermanfaat? :-)

Dan setelah bekerja dewasa ini, rasanya bisa dihitung kawan - kawan akrabku dari kalangan mereka. Pun, berapa kali aku bisa melontarkan salam atau minimal senyum  pada orang yang kutemui selama di perjalanan berangkat dan pulang. (Suatu kekonyolan saat aku harus tersenyum atau ngobrol sendiri dari atas sepeda motor yang kukendarai :-D)
Ternyata, bergantung pada angkot pun, tak semata - mata berkaitan dengan kata panas, lelah, berdesak - desakkan , dan terlambat. Semua hal tadi, sebetulnya bisa diatasi jika kita mau sedikit saja berperang dengan rasa malas dan mau berdisiplin waktu. Kesibukan sehari - hari pun dijamin akan menyisakan sedikit saja waktu untuk berolahraga, atau bahkan tak ada sama sekali. Dengan naik angkot sesekali, potensi terbakarnya kalori dan lemak - lemak jahat dijamin akan semakin besar. Apalagi jika ditambah harus berjalan kaki. Dan yang terpenting, kita jadi secara tak langsung bersodaqoh pada bapak - bapak sopir dan tukang becak itu. Setidaknya membuat mata air pencarian nafkah mereka sehari - hari, tetap deras mengalir. Atau minimal, dengan salam dan senyum yang kita punya. Bukankah Rasulullah pun bersabda, bahwa tersenyum juga adalah salah satu bentuk amal yang terkecil ? - Apabila kamu tidak dapat memberikan kebaikan kepada orang lain dengan kekayaanmu, berilah mereka kebaikan dengan wajahmu yang berseri-seri, disertai akhlak yang baik -
Dan tentunya, kenikmatan lain yang tak bisa didapat dengan hanya bergantung pada kendaraan pribadi adalah, indahnya silaturrahim. :-)

Aku bersyukur duduk di kursi penumpang saat mendengarkan curahan hati bapak sopir angkot pagi tadi. Walau sisi hati kecilku yang lain sempat terketuk, betapa aku pun pernah berada di posisi mereka yang keberadaannya membawa keresahan tersendiri bagi bapak sopir angkot. Turun dari angkot, selesai mengucapkan terima kasih padanya, aku tersenyum. Dan menyadari bahwa hari ini aku telah belajar lagi satu hal. Bahwa tak selamanya, kehilangan itu selalu menyisakan kesedihan. Dan terima kasih untuk seseorang yang sudah ikut menguatkan dengan kata - katanya, "Bukan belajar hidup susah, tapi belajar bersyukur dalam kondisi apapun....."

Senin, 14 Februari 2011

Long Distance Marriage

Tak pernah terbersit sebelumnya dalam benak, jika suatu hari nanti harus dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit. Cita - cita atau cinta ?
Tak bisakah kita menggapai keduanya bersama? Benarkah harus selalu ada yang dikorbankan?
Ada seorang sahabat yang berujar, tiap orang bolehlah punya cita - cita, namun tanpa cinta, dapat dipastikan hidup mereka akan hampa. Cita - cita bisa disusun kembali bersama cinta di sisi kita. Namun benarkah semudah itu? Bagaimana jika ternyata bersama cinta, ada sebuah penyesalan, kekecewaan, ketidaktulusan, karena cita - cita yang sesungguhnya belum pernah berhasil diraih.

Kemarin, tak sengaja menemukan sebuah artikel tentang LDM (Long Distance Marriage), ya, hubungan pernikahan jarak jauh. Dari cerita dan kisah - kisah di dalamnya, agak serem dan ngeri juga membayangkan. Saat semua tentunya akan begitu indah, manis dan halal dalam sebuah biduk pernikahan, namun nyatanya raga harus terpisahkan dari yang terkasih.
Lalu kira - kira, bagaimana agama sendiri memandang hal tersebut ?

Yang jelas ada sebuah atsar atau contoh dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu kali Khalifah ‘Umar bin Khattab mendengar seorang perempuan berkeluh kesah karena merindukan suaminya yang belum juga kembali dari medan perang, dan ketakutannya akan berbuat dosa karena mengharapkan sentuhan kasih sayang. Maka Khalifah ‘Umar pun bertanya kepada putrinya sendiri, Hafsah, sang Ummul Mu’minun (ibunda kaum beriman) yang juga istri Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berapa lama kiranya seorang istri dapat bersabar ditinggal oleh suaminya. Empat hingga enam bulan, ujar Hafsah. Maka sejak itu, ‘Umar bin Khattab’ menetapkan bahwa seorang prajurit Muslim tidak boleh pergi ke medan perang lebih dari empat bulan.
Di masa ini – bukan perang fii sabililah yang memisahkan suami dari istrinya – maka perlu kita pertanyakan benar se-urgent apa long distance marriage. Tidak sedikit rumah tangga rusak kesuciannya karena si istri atau si suami pergi dalam jangka waktu sangat lama. Di surat kabar, majalah dan media elektronik bertaburan cerita tentang seorang lelaki yang melampiaskan nafsu seksualnya kepada yang haram, karena si istri bekerja sekian tahun lamanya di Saudi Arabia atau tempat-tempat lain. Kita dapati juga berita-berita tentang perempuan-perempuan yang rusak akhlaqnya – berzina dan kemudian hamil - dengan lelaki – lelaki asing di tempat mereka bekerja.

Pernikahan, tentu saja, bukan sekedar sarana memperoleh kepuasan seksual namun melibatkan seluruh fungsi pernikahan yang ditetapkan oleh Syari’ah dan dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya saja, suami adalah pemberi nafkah istri dan anak-anak nya, tapi dia juga seorang Imam yang harus memastikan kelurusan aqidah dan ibadah keluarganya. Dia seorang pelindung yang menjaga anak istrinya dari marabahaya fisik, sekaligus mata air kasih sayang rumah tangga sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu bersikap lembut dan penuh cinta kepada anak-anak dan istri-istrinya.

Rumah Tangga adalah jalinan hak dan kewajiban kepada Allah Ta’ala dan jalinan hak dan kewajiban antara suami dan istri. Suami memikul segerobak tanggung jawab kepada Allah dan kepada istrinya, selain tentu saja memiliki hak-hak atas istrinya yang tak boleh dilanggar oleh siapa pun, termasuk oleh si istri sendiri. Demikian pula, seorang perempuan memikul beban syariah yang luar biasa karena statusnya sebagai istri. Mereka memikul beban tanggung jawab kepada sang suami, sekaligus memiliki segerobak hak yang dia bisa tuntut dari suami nya dan hak ini tak boleh dilanggar oleh siapa pun apa lagi oleh suaminya.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya seorang istri belum dapat dikatakan telah menunaikan kewajibannya terhadap Allah sehingga ia telah menunaikan kewajibannya terhadap suaminya seutuhnya. Dan Jika suami nya memerlukannya sedangkan pada waktu itu dia sedang berada di atas kendaraan, maka tidak boleh ia menolaknya” (HR Thabrani)
Lalu bagaimanakah bergudang-gudang hak dan kewajiban ini bisa tertunaikan dan terpelihara baik bila suami dan istri hidup berjauhan? Memang ada masa nya ketika perpisahan tidak bisa dielakkan misalnya ketika berperang atau berdagang dan seorang istri yang baik didefinisikan dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 34 sebagai “Wanita yang shalihah adalah wanita yang taat pada Allah dan memelihara diri di balik suaminya (saat suami tidak ada) oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…  ”
Namun selayaknyalah long-distance marriage tidak dijadikan norma atau malahan dianggap biasa. Semestinya model rumah tangga seperti ini justru harus dijadikan keadaan darurat yang memaksa baik suami dan istri untuk terus berdoa kepada Allah Ta’ala dan berikhtiar untuk segera berkumpul.

Masalah juga bisa timbul akibat tidak terpenuhinya hak dan kewajiban masing-masing tadi. Suami dan Istri sama-sama memiliki kebutuhan lahir dan batin yang bisa muncul setiap saat dan tentu akan sulit terpenuhi bila berjauhan jarak. Ketika pasangan tidak ada disamping bila tidak disertai kekuatan iman, bisa jadi tergoda.
Ya, sebagaimana disentuh diatas, kesulitan utama saat jauh dari pasangan adalah menjaga diri. Hal inilah yang harus ditanamkan pada masing-masing pasangan untuk menjaga aqidah dan seluruh jiwa dan raga agar tetap memelihara kesucian dan kehormatan diri dan rumahtangga.
Dibutuhkan komitmen luar biasa besar bagi suami dan istri untuk terus memelihara diri agar berjalan dalam syari’ah saat terpisah jauh dari pasangan mereka. Jangan lupa pula untuk memilih lingkungan dan pergaulan yang baik. Bila istri ditinggal suami, maka pastikan tempat tinggal istri memang aman sehingga istri juga bisa menjaga diri.
Selain itu, pasangan harus membuat program komunikasi yang baik. Jangan berpisah begitu saja. Misalnya jadwal kunjungan yang rutin, baik si suami yang pulang ke rumah setiap dua minggu sekali, atau si istri yang berkunjung ke kota atau negara tempat suami bekerja.

Menjalani long distance marriage memang ibarat memakan buah simalakama. Pilihan untuk hidup bersama atau hidup terpisah sama-sama mengandung resiko yang tak ringan. Maka, yang penting pasangan harus bisa menetapkan sebuah pilihan ingin membentuk sebuah keluarga seperti apa. Lalu, mintalah kepada Allah dalam do’a yang sungguh-sungguh agar bisa membentuk keluarga seperti itu. InsyaAllah do’a yang penuh keikhlasan akan dikabulkan Allah.

Bagi siapapun yang mungkin kini berada dalam kondisi ini, -sedang menjalani LDM, atau baru berkehendak memutuskan ber-LDM- esensi dari semuanya adalah, hidup tetaplah sebuah pilihan. Jikalau memang mungkin teraih seluruh yang kita inginkan, pasti ada salah satu atau bahkan salah dua yang prosentasenya akan menjadi lebih kecil dari yang lain. Yang menjadi target utama adalah, betapa hati dan raga itu sesungguhnya telah terjaga dalam sebuah ikatan yang suci dan halal. Bukankah menikah termasuk dalam ibadah yang sangat bagus untuk disegerakan :-) Tentang jarak yang masih memisahkan, kembali pada kekuatan azzam dan komitmen dari kedua belah pihak. InsyaAllah Rabb, akan menunjukkan jalan dengan kuasa-Nya. Karna bukankah Ia tak akan pernah memberikan masalah tanpa solusi kepada hamba, padahal keadilan dan keseimbangan adalah Maha Sifat-Nya...


sumber + nara sumber : teman, sahabat, saudara, berbagai artikel

Rabu, 02 Februari 2011

Purple Day

Pernahkah mengalami sesi perkuliahan yang rasanya sudah seperti pesta kostum ? Di mana semua hadirinnya, memakai kostum dan pernak pernik yang identik sama. Itu terjadi beberapa hari yang lalu. Di salah satu jam praktikum di kampusku. 
Tepat seusai maghrib, kumasuki halaman kampus yang sudah mulai penuh celoteh dan lalu lalang para mahasiswa kelas sore sepertiku. Jam pertama ini, adalah praktikum di labotorium A yang letaknya di sebelah selatan gedung utama. Kubelokkan motor kesayangan menuju lahan parkir. 
Tak begitu mengamati satu per satu, teman - teman sekelas ternyata sudah membentuk semacam gerombolan di dekat pintu keluar lahan parkir. "Pasti sedang membahas tugas", batinku menggumam. Sesaat setelah memastikan motorku terkunci dengan benar, kuhampiri gerombolan mereka. Sambil mengucap salam, dan meringis khas seperti yang biasa kulakukan untuk menyapa kawan - kawanku.

"Weleh...ungu rekk... janda..janda....", seloroh Hariz, teman sekelas yang paling banyak bicara menurutku.
"Opo ae to yoo....", kutimpali selorohnya sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, datang Ayu, dan disusul oleh Yanti di belakangnya. "Iki dino opo seh? Kok semua cewek2 pada pake ungu?", Pak Soleh ikut bersuara.
Tanpa sadar, kami para perempuan di gerombolan itu, saling mengamati satu sama lain. Terdiam sejenak, lalu tertawa bersama. Kami baru sadar, kami berlima saat itu, Heny, Cici, Ayu, Nurul, dan aku, memakai baju dengan warna yang sama, ungu.
"Wah kudu dipoto sek iki engko... jarang2..." Cici menimpali dengan semangat.
"Iya.. iya... ini tanggal berapa se, kok bisa kita kompakan gini tanpa rencana....Wajib dicatet iki!" Ayu ikut - ikutan tak kalah menggebu.
Sambil masih tersenyum - senyum gerombolan kami mulai memecah dan membentuk barisan tak beraturan, berjalan menuju laboratorium. Karna beberapa menit setelah itu, sebuah sedan berwarna gelap melintas. Dan kami tahu, itu mobil yang biasa membawa Bu Yeni, dosen praktikum kami.

Di dalam laboratorium, dengan lampu penerangan yang cukup, semakin terlihat ungu - ungu bertebaran di mana - mana. Terlihat manis dan cantik sekali ( Sejak kapan aku jadi kagum sama warna ini.. hadeehh... >,< ) Kami sengaja duduk menyebar seperti biasa. Biar adil dan merata, begitu kata teman - teman. Mengingat kaum hawa di kelas kami yang hanya 7 gelintir. Tak berselang lama, Bu Yeni masuk kelas.
"Assalamu'alaykum...." seperti biasa, Bu Yeni memasuki kelas sambil menyapa kami dengan tas ransel besar di punggungnya. 
"Wa'alaykumsalam..... lho yaaa......." serempak, salam yang seharusnya cukup Wa'alaykumsalam itu, jadi mendapat imbuhan kalimat - kalimat seru dari kami. Dan tahu karna apa?
Tanpa kami duga - duga, ternyata Bu Yeni juga memakai baju berwarna ungu............... :D




Senin, 17 Januari 2011

Sandal Jepit

Siapapun orangnya, boleh saja memandang remeh sepasang sandal jepit. Tapi bagiku, sepasang yang dapat dengan mudah dan murah kita dapat itu, punya nilai yang cukup bermakna dalam hari - hariku. Bagaimana tidak, jika pertama kali masuk ruang kerjaku, mereka pula lah yang kucari dulu. Tak tenang dan nyaman rasanya, saat si sepatu lah yang menyelimuti kaki - kakiku ini. Gerah dan, ahh... susah rasanya jika harus kuungkapkan dengan kata - kata. Sekalipun, telah ada surat khusus yang diterbitkan oleh 'Bapak Kepala Sekolah' demi menertibkan pekerja - pekerja yang begitu cinta pada sandal jepit seperti aku ini, tetap saja kehadiran sepasang yang berwarna hitam menawan itu, kucintai dengan setia.

Masih kuingat jelas. Harganya hanya sepuluh ribu rupiah saja. Entah mungkin masih tergantung mahal bagi harga standart sepasang sandal jepit. Tapi toh cukup sepadan dengan jauhnya jarak yang harus kutempuh untuk bisa mendapatkannya. Hehe.. sandal jepit yang sedari tadi kuceritakan ini, adalah satu dari sekian barang yang aku beli dengan sengaja saat berlibur ke Pulau Dewata beberapa bulan yang lalu. Warnanya yang hitam tlah cukup membuatku terpikat untuk tatapan yang pertama. Selain karena memang itu salah satu warna favoritku, sandal berwarna gelap juga tak merepotkan. Karna tentu saja, tak akan begitu terlihat saat tubuhnya telah kotor dan waktunya dicuci (alibi orang yang malas mencuci sandal :-p )

Saat waktu sholat tiba, sepasang sandal jepit adalah salah satu barang yang paling dicari - cari. Sandal jepitku nan cantik itu pun, pernah dipinjam oleh seorang teman untuk berangkat sholat Jumat. Entah apa yang dipikirkan siapapun yang melihat, saat ada seorang lelaki berpawakan tinggi besar melenggang santai di atas sepasang sandal jepit hitam yang menampakkan aura anggun dan cantik. Ah.. kebutuhan dan keterdesakan memang sering membuat orang tak peduli lagi tentang cara berfikir yang normal dan sehat :-D

Di musim hujan seperti sekarang ini, kehadiran sandal jepit menjadi semakin berarti. Demi menghindarkan kaki - kaki dari jamur hingga bau tak sedap karena sepatu atau kaos kaki yang basah. Ya, sandal jepit yang selalu kita injak - injak dan bahkan tak pernah lebih tinggi dari mata kaki kita ini (kecuali jika dipakai untuk melempar kucing atau maling), ternyata juga peduli akan kesehatan.

Sengaja aku membawa - bawa si sandal jepit dalam celoteh di ujung hariku ini. Bukan hanya tuk mengenalkannya pada masa, tapi juga tuk ingatkan diriku sendiri dan kita semua, bahwa tak ada sesuatu sekecil apapun, yang boleh dan bisa kita pandang sebelah mata saja. Apapun itu, tak akan bernilai sia - sia jika kita pandai melihat sisi manfaatnya... :-)

Selasa, 11 Januari 2011

Main sama Ikanku

Mungkin ada yang tanya kenapa tiba - tiba halaman ini jadi dihuni juga sama 5 ekor ikan, hehehe.... (pede banget yak! :-D) Kalo ndak ada yang tanya, ya... anggap aja ini sebuah perkenalan atau pengumuman :-)
Sudah lama sekali sebenarnya, aku pengen punya ikan pribadi (halah!) Maksudnya pribadi, ikan - ikan tadi bisa aku nikmati secara pribadi dan ekslusif. Bukan dinikmati dalam bentuk masakan bakar atau goreng, tapi sepertinya akan terasa begitu asyik, memandangi warna warni mereka yang bermain - main dalam aquarium kecil yang akan kutaruh di sudut kamar tidurku nanti. Aquarium bulat, tak terlalu besar, yang berhias batu - batu karang kecil dan beraneka hiasan laut, dilengkapi dengan lampu dan buih - buih. Aih... pasti cantik sekali...

Tapi niat itu hingga hari ini belum bisa terwujud, demi kekhawatiranku akan nasib ikan - ikan kecil nan cantik itu nantinya. Takut ndak terawat, dan akhirnya berakhir mengapung entah karena aku kelupaan memberi makan, atau lupa ganti air tempat mereka berenang - renang.
Dulu sekali, keluargaku pernah punya aquarium besar. Dan penghuninya hanya seekor ikan berdahi "nonong". Kalau bukan karena ketelatenan bapak, aku tak yakin si dahi "nonong" ini bisa bertahan begitu lama. Tak jarang kami sering melewati waktu bersama, ngobrol tentang apapun, di ruang keluarga sambil sesekali memandangi si dahi "nonong" ini. Asik dan indah memang, mengamati dan menikmati gerak - gerik si ikan. Belum lagi, antusiasnya saat ada jari atau tangan siapapun yang mendekat. Pasti langsung dikira sang tuan akan memberi makan. Dan tahukah kawan, perpisahan kami dengan si dahi "nonong" ini cukup tragis. Bukan karena dia sakit atau bapak kelupaan memberi makan, tapi malang nasib si dahi "nonong" yang akhirnya berakhir di penggorengan. Entah kenapa, tiba - tiba bapak memutuskan untuk memberikan ikan ini pada tetangga depan rumah. Dan ternyata tanpa kami duga, yang terjadi justru adalah pembunuhan berencana itu.....

Biarlah, keinginanku untuk punya ikan pribadi itu, terwujud dulu di rumahku ini. Walau akhirnya tidak benar - benar menjadi ikan pribadi seperti yang aku ingini. Karena siapapun nanti, bisa bermain bersama mereka ^_^ Sepertinya untuk memelihara ikan pribadi, aku harus menunggu sampai ada seseorang yang telaten dan perhatiannya seperti bapak, biar ikan - ikan itu nanti, tidak mati sia - sia di tanganku....... :-D

Senin, 10 Januari 2011

Sekecap Sapa

Assalamu'alaykum...

Wah, kalender duduk di samping layar monitorku sudah berkata, "ini 2011". Tergelitik juga melihat arsip blog di 2010, berhenti di angka 16 saja. Pertanda apakah ini?
Hehehe.. tak bisa kuingkari, produktivitas menulis di tahun lalu sepertinya memang banyak berkurang. Karena apa? Ah... Pasti alasan - alasan klise yang selalu dibawa - bawa untuk membela diri. Tak penting semua alasan - alasan itu, yang jelas, aku ingin si 'tembhemz' ini bisa melangkah lagi melewati angka 16 itu. Tentunya juga bisa terus saling membagi cerita, warna, dan hikmah tentang perjalanan hidup.

Sekecap sapa ini sepertinya memang cenderung judul yang agak dipaksakan. Karena sesungguhnya, aku tak hanya ingin menyapa sekecap saja. Biarlah sekecap itu hanya terasa di awal. Tapi aku ingin bercerita, sungguh aku ingin berkisah, tentang dunia baruku, dunia yang pernah aku tinggalkan, namun kini kucoba beranikan diri memasukinya kembali.

Ya,benar. (memang siapa yang menebak :-P) Aku sudah berhasil mencoba merebut kembali status yang sempat aku tanggalkan sendiri dari bahuku beberapa tahun silam. Kini aku resmi kembali menyandang status sebagai seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota kelahiranku. Jika ditanya jurusan apa, bisa dibilang aku memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar (entah benarnya benar - benar salah apa benar - benar ngawur :-D) Setelah sempat menjajal dunia baru di perguruan tinggiku sebelumnya, aku memutuskan untuk berkecimpung lagi dengan tetek bengek yang berbau teknik itu :-)
Aku ingin belajar. Hanya itu yang tertancap kuat demi menyulut keberanian di awal - awal langkahku. Sekalipun harus memulai semuanya dari awal lagi, tak mengapa. Toh, ternyata aku punya banyak kawan senasib yang semangat dan kekuatan tekadnya membuatku tak pernah surut. Nanti, akan aku ceritakan beberapa di antara mereka yang kukenal baik.

Kebanyakan, bahkan mungkin seluruh teman - temanku menuntut ilmu ini adalah para pekerja di pagi harinya. Mulai dari guru, karyawan jasa pengiriman barang, sales marketing dealer motor, pegawai kantor kelurahan, hingga karyawan sebuah  perusahaan rokok di kotaku. Mereka ini ada dalam sekian jumlah orang  yang memutuskan menjadi 'kupu - kupu malam', setelah hari menggilas waktu dan lelah mereka. Bukan hal yang mudah, sungguh bukan. Terlebih bagi mereka yang sudah berkeluarga dan dinanti putra putri kecilnya di rumah. Sebut saja Mas Ali dan Mas Arif. Salah dua dari beberapa kawan lain yang juga sudah berkeluarga di kelas kami. Mereka rela menempuh lebih dari 30 kilometer, melupakan lelah yang mereka rasakan sehari tadi, menahan hasrat untuk bermain - main bersama buah hati, demi mendatangi gedung bertingkat ini dan berniat untuk mendulang ilmu. Dan itu mereka jalani setiap hari, lima kali dalam seminggu. Nyaris tak pernah kudapati mereka absen / bolos kuliah. "Biar kehidupan lebih baik...." begitu rata - rata jawab mereka saat kutanya kenapa memutuskan untuk melanjutkan kuliah.
Ada lagi, Mbak Heny namanya. Perempuan berwajah manis dan selalu ceria ini adalah seorang pengajar di sebuah sekolah negeri di kotaku. Mbak Heny inilah pahlawan absen, tugas - tugas, fotocopy, dan info - info lain tentang perkuliahan. Tanpa pamrih, dia selalu menginfokan kepada kami teman - teman sekelasnya via sms, mengenai apapun yang terjadi di kampus, termasuk siapa dosen yang tidak mandi hari itu (hehehe.. yang terakhir ini bercanda :-P) Belakangan, aku baru tahu. Perempuan enerjik ini, ternyata sudah bersuami. Semakin salut aku padanya.

Kaum hawa lainnya, ada Yanti, Feri, Ayu, Cici, dan Christin. Kelimanya belum menikah, termasuk aku sendiri tentunya :-) Dan dari 7 perempuan di kelasku, sepertinya aku dan mbak Heny lah yang bisa dibilang paling berumur, hehehe...
Kami sekelas ada 40 orang lebih. Tapi tak selalu semuanya hadir saat perkuliahan. Dan dari jumlah itu, masih baru beberapa nama saja yang mampu kuingat. Selebihnya, hanya sesungging senyum yang terlempar saat kami tak sengaja bertemu atau berpapasan di jalan. Dan sejauh ini, jika sudah boleh dan pantas aku berpendapat, aku merasa sangat nyaman dengan teman - temanku yang baru ini. Syukurku pada Allah, t'lah memberiku lagi banyak teman dan saudara. Teman - teman yang slalu bisa hadirkan warna berbeda setelah penat seharian menyerang bersama rutinitas yang terkadang sangat menjemukan. Bersama mereka lah, tawa dan keceriaan itu bisa tiba - tiba hadir walau hanya dari celoteh - celoteh kecil yang tak sengaja dilontarkan salah satu teman kami yang kocak.

Teman - teman yang tak bisa kusebutkan namanya satu per satu (karna memang belum hafal :-P), mereka lah yang kini ikut mengisi kisah dalam hari - hariku. Bahkan mungkin nanti, akan tampil eksklusif ceritanya di halaman - halaman selanjutnya, tunggu saja :-)

Kamis, 16 Desember 2010

Kalau Suamiku, sih....


Suamiku ke luar kota lagi. Terpaksa deh nggak belanja ke pasar, nunggu tukang sayur aja yang biasa beredar di komplek. Waduh! Ibu-ibu, para tetanggaku udah pada ngumpul. Bakalan seru nih. Mereka tengah mengelilingi gerobak sayur yang berhenti tak jauh dari rumahku. Percakapan nggak penting pun meramaikan suasana pagi. Biasalah ibu-ibu... 
"Mbak, suaminya ke luar kota lagi ya??" tanya seorang tetanggaku padaku saat aku baru saja mengucapkan salam pada mereka. Rata-rata tetanggaku masih muda juga, nggak jauh usianya dariku.

"Kalau saya sih, kalau suami saya lagi keluar kota, bawaannya tuh pingin tau aja dia lagi di mana, lagi ngapain..." sahut seorang tetanggaku tiba-tiba.

"Suami mbak suka nelfon nggak?" tanya seorang tetanggaku yang lain padaku.

Duh, ibu-ibu sukanya ngurusin orang lain aja deh, gumamku dalam hati. Aku sih hanya bisa tersenyum.

"Kalau suami saya nih ya... " kata tetangga depan rumahku, "Mesti diingetin dulu sebelum berangkat . Ntar kalo udah nyampe telfon ya..?" Gitu... Kalo nggak diingetin bisa nggak ada kabar sampe pulang lagi ke rumah.

"Iya memang... mereka nyantai aja, tapi kita yang khawatir di rumah." sambung yang lain.

Dalam hati, kalau suamiku sih... tiap ke luar kota tujuannya jelas, bagian dari pekerjaannya. Jadi gimana mau khawatir? Emang sih dia nggak pernah nelfon aku untuk ngasih tau dia sedang apa. Tapi cukup hanya dengan miscall aku, aku tahu kok dia ngapain aja.

Tiap pagi jam 3 dia miscall, tanda dia udah bangun, mau sholat malem. Jam 5 miscall lagi tanda dia udah sholat subuh, mau ngaji. Miscal Jam 7 tandanya dia udah makan, udah siap mau beraktivitas. Miscall jam 12 tandanya dia mau sholat zhuhur trus makan siang. Miscall jam 3 sore tandanya dia mau sholat ashar. Miscall jam 6 tandanya dia mau sholat maghrib dan diam di masjid sampe isya. Jam 8 malam dia miscall lagi tanda dia udah makan malam. Kalau deringnya lama tandanya dia mau ngobrol sama aku atau anak-anak. Kalau nggak, ya berarti dia capek banget, mau langsung tidur.


"Kalau suami saya itu ada lucunya juga... " kata tetanggaku yang sedang memilih2 sayur bayam, 
"Kadang-kadang tengah malem dia nelfon ke rumah, cuma mo bilang selamat tidur aja. Hi hi..."

"Wah, Kalo suami saya sih, suka nggak sensi. Kalo saya nelfon bilang lagi kangen sama dia, dia cuma bilang 'besok juga aku pulang' Mbok ya bilang kangen juga gitu lho. Nggak sensi deh, nggak romantis!" gerutu seorang tetanggaku. 
 "Kalau suami mbak? Romantis nggak?" tanyanya padaku.

Walah?! Aku hanya tertawa kecil, lebih sibuk memilih ikan daripada ikut nimbrung percakapan mereka.

"Eh jangan salah. Jeng ini suaminya romantis buanget." bela tetangga sebelah rumahku lagi.

Lha?! Aku jadi bingung. Kok malah dia yang lebih tahu.

"Pernah nih..." lanjutnya, "Pagi-pagi Jeng ini bikin kopi anget. Suaminya lagi duduk - duduk di depan rumah. Saya lagi nyapu halaman. Abis diminum sedikit sama suaminya, dia minta Jeng ini nyicipin. Ternyata kopinya itu pahit, lupa dikasih gula. Tapi gelasnya langsung ditarik sama suaminya. Tau nggak kata suaminya? Katanya gini... 'Udah nggak papa, abis dicicipin dinda tadi, langsung manis tuh..' Gituuu..."

Waaa?! Semua orang memandangku... rasanya wajah ini sudah memerah jambu. Tapi aku jadi inget kejadian sore itu. Hi hi hi. Lucu juga.

"Waduh waduh... nggak nyangka lho mbak." komentar tetanggaku.

"Makanya jangan kayak nuduh suami orang nggak romantis gitu dong." sahut tetanggaku yang lain.

"Kalo suami saya mah jauh dari romantis. Kalo saya lagi pusing, pinginnya kan dimanja, dipijetin. Eee.. ini malah disuruh minum obat. Kalo nggak ada, beli sendiri ke warung.." gerutu seorang tetanggaku.

"Yah betul atuh. Kalo pusing mah minum obat, masa minum racun!" sahut si akang tukang sayur yang ternyata mengikuti perbincangan pagi itu. Tawa ibu-ibu pun menyambut ceplosannya. Aku jadi ikut ketawa juga. Tukang sayurnya ikut-ikutan aja deh.

Pikir-pikir, Kalo suamiku sih... kalo nemenin belanja, selalu ngangkatin barang - barang belanjaan. Kalo aku masak pagi - pagi untuk sarapan, dia pasti nemenin aku duduk di ruang makan walaupun sebenernya dia masih ngantuk, nggak tega katanya kalo aku sendirian di dapur. Kalo aku lagi males nyetrika, dia bilang 'Udah besok aja', padahal baju itu mo dipake besok itu juga. Emang sih dia nggak bantuin nyetrika. Tapi aku kan jadi nggak beban.

Tapi apakah suamiku romantis, aku masih ragu... Pernah suatu kali saat suamiku berada dalam perjalanan ke luar kota. Aku lagi iseng nih ceritanya.
Aku sms dia, "Abang, malam ini gelap ya? Oh iya, kan bulannya lagi ke luar kota."  
Dan tak berapa lama dia membalas, "Nggak ada bulan tuh disini, Nda. Gelap juga, sama..." He he he... ternyata dia nggak ngerti maksudku.

Tapi ah, ngapain aku pikirin. Romantis gak romantis, tetep cinta kok. Tiba-tiba hp-ku berbunyi di kantong gamisku.

"Wah, ada sms ya, Jeng? Pasti dari suaminya..." goda tetangga sebelah rumahku.

"Iya... tadi pagi saya sms nanyain gimana pagi di sana. Ini pertama kalinya dia datang ke kota itu." jawabku sambil membaca apa yang tertulis di layar hp-ku itu.

"Apa jeng katanya?" usik tetanggaku yang penasaran melihat aku tersenyum geli.

"Nggak penting kok." jawabku sambil memasukkan semua belanjaanku ke dalam plastik dan membayarnya. "Yuk, ibu-ibu... assalaamu'alaykum...." aku pun pamit pulang ke rumah.

Hmmm, masih dengan senyuman ini... tak bisa hilang kata-kata yang terbaca di layar hp itu dari benakku, jawaban saat kutanya keadaan pagi di kota tempat ia sedang berada.

"Dinda sayang... bagaimana hari bisa pagi di sini, sementara matahari terbit di mata dinda..."



-repost, sumber : eramuslim.com-