Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Agustus 2011

Bintang



Bintang - bintang itu, berkelip isyaratkan sesuatu,
adakah ia merindu..... ? 

Kamis, 28 Juli 2011

Senja

Aku takut menjadi tua.
ketika raga yang renta, tak lagi kuasa berikan manfaat bagi sesama.


Aku tak yakin sanggup hingga berusia senja.
Jika langkah demi langkah, hanya kuhiasi dengan dosa.


Sungguh, aku semakin takut untuk menjadi tua.
Jika tempat tidur di mana kita biasa bercanda,
sofa - sofa usang di mana kita biasa bercengkrama,
ayunan & taman belakang rumah di mana kita biasa saling menggoda,
dapur tempat di mana kita tak pernah mau kalah untuk menjadi yang pertama,


tak kudapati kau di sana........

Minggu, 26 Juni 2011

Matahariku

terkadang ia menyengat, namun tak menyakitkan....
tak jarang ia terasa hangat, namun tak melenakan....
tak berlebihan jika angkuhnya mengikat, sebagai poros beragam kebutuhan....

matahari yang kujumpai itu, bernama Cinta....... :-)


Jumat, 27 Mei 2011

Rindu

Rindu itu.....
bisa begini indahnya, ya....?






jaga hati ini Ya Rabbana, karna-Mu, dari-Mu, dan akan kembali pada-Mu,

Senin, 02 Mei 2011

Jika

Jika saja, mentari itu tak hadir begitu cepat...
ingin rasanya kutak terjaga dari mimpi perjumpaan itu...

Jika saja, malam mau tinggal sedikit lebih lama,
kuingin selalu lukiskan senyumku sebagai kehadiranmu pada keindahan langit semesta....

Jika saja, alunan melodi tak mengenal henti...
ingin slalu kudendangkan nada - nada tentang perjalanan kita....

Jika saja, aku masih diberi waktu tuk terus berkata dalam aksara... aku ingin terus dan tak pernah bosan tuk mengucap, "Jika... jika..dan jika...."

Karna saat ini, hanya di batas itu aku berkuasa.......

Minggu, 17 April 2011

Soe Hok Gie dalam Puisi



MANDALAWANGI – PANGRANGO
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah"
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
-Jakarta 19-7-1966-

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan
di lembah kasih, lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku bicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(hari pun menjadi malam
kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang kita tidak mengerti
seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru

-Selasa, 1 April 1969-



Puisi Terakhir - Soe Hok Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa

Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu... sayangku...

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra

Tapi aku ingin mati di sisi mu... Manis ku...

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayang ku...

Kalian yang pernah mesra,
Yang simpati dan pernah baik pada ku,
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung...

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa




Selasa, 11 November 1969



Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda

Mahluk kecil...
Kembalilah dari tiada ke tiada...
Berbahagialah dalam ketiadaan mu...

Kamis, 17 Maret 2011

Datang lalu Pergi

Satu hal yang sekaligus sangat kusuka dan kubenci darimu adalah memandangi punggungmu.
Menekurinya begitu lama dari tempatku duduk atau berdiri, dan menyadari bahwa kau ada di sini, di sekitarku. Ya, kau dekat.
 Aku juga tak pernah bosan memandangi punggungmu, yang membelakangiku begitu kokoh. Katamu, itu bisa melindungiku dari terpaan angin saat kita berkendara dengan motor beroda dua ini beratus - ratus kilometer jauhnya.
 Tak bisa kutahan pula hasratku untuk memandangi lagi punggungmu, saat kau ada beberapa jarak di depanku. Ketika kita baru saja selesai sholat, kau duduk terpekur begitu lama, dengan kepala tertunduk. Aku tahu pasti, bahwa kala itu kau sedang berdzikir dan mengucap segenap harap, pinta, dan doa kepada Sang Penguasa Semesta.

Namun ada kalanya detik - detik yang tidak mengenakkan itu hadir. Aku masih setia memandangi punggungmu dari tempatku duduk atau berdiri ini. Tapi itu untuk melihatmu pergi menjauh. Meninggalkanku. Walau aku tahu dan mencoba untuk tetap berharap, kau pasti akan datang kembali.


Di bandara itu, di stasiun itu, di terminal itu, di satu tempat yang selalu sama, di mana aku bisa begitu bahagia memandang punggungmu dari kejauhan ketika kau datang, dan gemuruh sesak dalam dada, ketika punggung itu membelakangiku untuk pergi menjauh, sambil berharap - harap dan menerka - nerka, kapan lagi kau akan pulang....



~ sekelumit prosa di pertengahan maret ~

Sabtu, 12 Februari 2011

.............................

Mengertilah....
dalam diamku, aku tak pernah berlari...
Percayalah....
dalam diamku, kuhanya ingin terus merenungi...
sudahkah diri ini menjadi seperti,
yang kuingini sendiri pada insan yang kunanti......

karna mungkin,
hanya waktu yang tahu,
kumasih menjaga hati.......

Kamis, 27 Januari 2011

Menyapa Senja

Senja tersapu syahdu oleh gelitik pujangga malam. 
sesyahdu suasana hatiku detik itu,
tak pernah aku meminta dan bermimpi tuk kuasai rasa ini
namun apa dayaku, saat geliatnya tak bisa kuhindari terus menyelusupi nadi. 
aku jatuh hati, semakin dan semakin dalam bersama waktu yang kunanti.......

Jumat, 14 Januari 2011

Kapan

Nanti ya... nanti..... saat nyanyian semangatku s'lalu bisa bangkitkanmu dari lelah dan letihmu...
Nanti ya....nanti..... saat senyumku s'lalu ada menyambut pagi dan mengantar tidurmu....

Nanti ya....sungguh nanti.... saat tak ada lagi hijab antara ku dan dirimu......

Kamis, 22 Oktober 2009

Untukmu Adinda Kecil....

Dik… kemari sayang…
berlarilah ke dalam pelukku,
kuberjanji tuk hadirkan hangat itu untukmu…

Dik… jangan takut manis…
Tak kan ada yang biarkanmu sendiri,
tuk hadapi hari agar terus berseri…

Dik… janganlah bersedih…
Walau tak kan pernah serupa,
rasa sayang ini kan mengalir untukmu seperti bunda…

Dik… menangislah dalam dekapku…
menangislah selagi kau mampu,
walau sejatinya air mata itu, belumlah kuasa artikan dunia dan hatimu yang mungkin beku

Dik… berjanjilah untuk tak marah…
Tak ada yang pergi meninggalkanmu,
Kau hanya butuh waktu, tuk bisa pahami semua itu…

Cantik… sungguh mata itu terlalu cantik,
Biarlah warna - warni pelangi yang semakin meng-indahkannya
Suci… sungguh hati itu terlampau suci,
Cukuplah lantunan doa dan nyanyian surgawi yang menghiasinya…

Suatu hari nanti, ya.. suatu hari nanti…
Kala kau tlah bisa melangkah dengan hatimu,
Kan kukisahkan tentang seorang wanita kuat dan hebat,
yang tak pernah lelah berjuang demi buah hati dan cintanya…

Suatu masa nanti, Dik… sungguh suatu masa nanti…
kala kau tlah menyapa dunia dengan dewasamu,
kan kuajarkan semua yang ku tahu…
Bahwa dengan berbekal ‘solihah’,
kau mampu iringi perjalanan wanita mulia itu



Percayalah, Dik..
Bunda dengan segenap jiwanya,
mencintaimu…..

Jember, 20 Oktober 2009

Senin, 19 Oktober 2009

Wanita Sholehah

Wanita solehah adalah sebaik2 keindahan
menatapnya menyejukkan qolbu
mendengarkan suaranya menghanyutkan batin
ditinggalkan menambah keyakinan

wanita solehah adalah bidadari surga yang hadir di dunia
wanita solehah adalah ibu dari anak2 yang mulia
wanita solehah adalah istri yang meneguhkan jihad suami
wanita solehah adalah penebar rahmat bagi rumah tangga
cahaya dunia dan akhirat

Perhiasaan yang paling indah bagi seorang abdi Allah
itulah ia wanita solehah
ia menghiasi duniaa...

itulah ia wanita solehah
ia menghiasi duniaa...

Aurat ditutup demi kehormatan
Kitab Al Quran didaulatkan
Suami mereka ditaatinya
walau bertahan di rumah saja

karena iman dan juga islam
telah menjadi keyakinan
jiwa raga mampu dikorbankan
harta kemewahan dilabuhkan

Di dalam kehidupan ini
ia memancarkan kemuliaan
Bagai sekuntum mawar yang tegar
di tengah gelombang kehidupan

Aa' Gym - The Fikr

Senin, 03 Maret 2008

SAJAK-SAJAK SAPARDI DJOKO DAMONO


AKU INGIN


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


KAMI BERTIGA

dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata --
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata



MATA PISAU

mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu



TENTANG MATAHARI

Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh, adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata:
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.