![]() | ||||||||||||||||||
| you and me = us ^_^ |
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 November 2011
Minggu, 05 Juni 2011
Menikah
,adalah berani memutuskan untuk berlabuh,ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil...
,adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga......
Selasa, 22 Juni 2010
Aku Pilih Berdusta
Anak : "Ibu... sudah makan ?"
Ibu : "Sudah, dek.. makanlah yang lahap dan kenyang."
Anak : "Bu, kenapa ayah belum juga pulang? Apa ibu sudah telpon ayah, Bu?"
Ibu : "Iya.. sudah, dek.. Ayah sedang menyelesaikan kewajibannya di luar kota. Ayah juga titip salam kangen dan sun sayang buatmu... "
Anak : "Tapi, Bu.. besok adek harus bayar uang sekolah. Apa Ibu ada uang, Bu?"
Ibu : "Oh ya? InsyaAllah ada, Dek... Sudah, makanlah..."
Anak : "Bu... kenapa akhir2 ini, adek sering lihat Ibu melamun, Bu? Ibu juga jadi jarang sekali tersenyum. Kemarin Ibu habis nangis ya, Bu? Adek lihat mata ibu merah..."
Ibu : "Ibu cuma sedang kangen sama ayah, Dek.. Ibu ga papa kok. Kemaren waktu bersih - bersih kamar, mata ibu kena debu. Jadi merah gitu... "
Anak : "Oooo......" (sambil meneruskan makan dengan lahap)
===================================================================
Wanita ternyata sangat pandai berbohong saat langkah - langkahnya mulai tak terkendali oleh keadaan. Berbohong demi senyum orang - orang tercinta. Berbohong karna tak ingin terlihat lemah dan kalah. Berbohong, karna kejujuran yang menyakitkan, lebih ia pilih untuk ditelan sendirian....
*Sudah, dek.. makanlah yang lahap dan kenyang ----> Ketika yang tersisa di meja makan hanyalah sepiring nasi dan sepotong daging.
*Iya.. sudah, dek.. Ayah sedang menyelesaikan kewajibannya di luar kota. Ayah juga titip salam kangen dan sun sayang buatmu... -----> Detik - detik penantian itu sungguh menyiksa. Bahkan hanya dengan sepatah kata lewat sms atau telpon pun tak kunjung dihadirkan sang suami.
*Oh ya? InsyaAllah ada, Dek... Sudah, makanlah... -----> Ibu akan berusaha mencarinya untukmu, sekalipun harus berjuang mencari pinjaman semalaman ini.
* Ibu cuma sedang kangen sama ayah, Dek.. Ibu ga papa kok. Kemaren waktu bersih - bersih kamar, mata ibu kena debu. Jadi merah gitu... ----> Inilah air mata cinta. Yang akan selalu ibu teteskan dengan ikhlas. Suatu hari, jika kau telah mengenal dan berteman dengan 'cinta', kau akan memahaminya.
Ibu : "Sudah, dek.. makanlah yang lahap dan kenyang."
Anak : "Bu, kenapa ayah belum juga pulang? Apa ibu sudah telpon ayah, Bu?"
Ibu : "Iya.. sudah, dek.. Ayah sedang menyelesaikan kewajibannya di luar kota. Ayah juga titip salam kangen dan sun sayang buatmu... "
Anak : "Tapi, Bu.. besok adek harus bayar uang sekolah. Apa Ibu ada uang, Bu?"
Ibu : "Oh ya? InsyaAllah ada, Dek... Sudah, makanlah..."
Anak : "Bu... kenapa akhir2 ini, adek sering lihat Ibu melamun, Bu? Ibu juga jadi jarang sekali tersenyum. Kemarin Ibu habis nangis ya, Bu? Adek lihat mata ibu merah..."
Ibu : "Ibu cuma sedang kangen sama ayah, Dek.. Ibu ga papa kok. Kemaren waktu bersih - bersih kamar, mata ibu kena debu. Jadi merah gitu... "
Anak : "Oooo......" (sambil meneruskan makan dengan lahap)
===================================================================
Wanita ternyata sangat pandai berbohong saat langkah - langkahnya mulai tak terkendali oleh keadaan. Berbohong demi senyum orang - orang tercinta. Berbohong karna tak ingin terlihat lemah dan kalah. Berbohong, karna kejujuran yang menyakitkan, lebih ia pilih untuk ditelan sendirian....
*Sudah, dek.. makanlah yang lahap dan kenyang ----> Ketika yang tersisa di meja makan hanyalah sepiring nasi dan sepotong daging.
*Iya.. sudah, dek.. Ayah sedang menyelesaikan kewajibannya di luar kota. Ayah juga titip salam kangen dan sun sayang buatmu... -----> Detik - detik penantian itu sungguh menyiksa. Bahkan hanya dengan sepatah kata lewat sms atau telpon pun tak kunjung dihadirkan sang suami.
*Oh ya? InsyaAllah ada, Dek... Sudah, makanlah... -----> Ibu akan berusaha mencarinya untukmu, sekalipun harus berjuang mencari pinjaman semalaman ini.
* Ibu cuma sedang kangen sama ayah, Dek.. Ibu ga papa kok. Kemaren waktu bersih - bersih kamar, mata ibu kena debu. Jadi merah gitu... ----> Inilah air mata cinta. Yang akan selalu ibu teteskan dengan ikhlas. Suatu hari, jika kau telah mengenal dan berteman dengan 'cinta', kau akan memahaminya.
Senin, 05 April 2010
Cara Allah Mencinta
"Aku mencintaimu karna agama yang melekat padamu, jika kau hilangkan agama
dalam dirimu, maka hilanglah pula cintaku padamu....."
itu kata2 imam Nawawi yg sangat menginspirasiku hingga hari ini. Bahwa
keindahan fisik, materi dan apapun yg terlihat mata itu semu adanya. Akan
usang dan sirna seiring berjalannya waktu.
Siapa yg tak suka melihat yg indah2, siapa yg tak gemar berburu yg cantik2,
siapa yg tak mau bergelimang kenikmatan dan kemewahan, tapi apa arti
semuanya jika yang tertinggal hanya kekecewaan saat satu demi satu dari
mereka pergi perlahan, karna ketidak abadiannya.
Notes dari seorang sahabat berikut, mungkin bisa mewakilinya....
============================>>>>
Suatu malam Ade mengajukan pertanyaan kepada suaminya, Akang, “Apa yang
membuat Akang memilih saya menjadi isteri Akang? Bukankah saya tidak
lebih cantik dari teman-teman perempuan Akang yang lain?”
Akang yang mendapat pertanyaan itu hanya menyunggingkan senyum tanpa
menjawab sepatah kata pun. Mungkin pertanyaan itu terlalu retoris karena
disampaikan hanya satu hari setelah pernikahan mereka. Akang pun tetap
sibuk menyemir sepatunya untuk kerja esok hari.
Merasa tak puas hanya mendapatkan senyum manis sang suami, Ade pun
mendekati Akang dan mengulangi pertanyaannya. ”Jawab atuh kang, Ade
butuh jawabannya...?”
Tiba-tiba tangan Akang yang berlumuran semir warna hitam mendarat mulus
di kiri dan kanan pipi Ade yang putih. Ade tak sempat berkelit dan
hasilnya, wajah Ade pun menjadi cemong. Sesaat kemudian Ade pun ngambek
menekuk wajahnya, bibirnya maju beberapa senti. Jawaban yang
diharapkannya tak keluar sedikit pun dari suaminya, justru tangan Akang
yang berlumuran semir hitam yang mewakili jawaban itu.
Melihat isterinya kecewa dan nyaris meneteskan air mata, Akang langsung
menarik tubuh mungil isterinya itu, mendekapnya erat dan kemudian
menghadapkan wajah isterinya tepat dihadapan wajahnya. Hidung mereka
hampir bersentuhan, hanya beberapa mili saja jaraknya. Ia memberi
isyarat hendak mengatakan sesuatu yang serius, bening air di sudut mata
Ade tertahan tak jadi tumpah. Bak kembang yang baru mekar, wajah Ade
berubah cerah menunggu tak sabar gerangan apa yang akan disampaikan
suaminya.
”Andai wajah Ade benar-benar hitam sehitam semir ini, Akang akan tetap
mencintai Ade,” kalimatnya terlalu datar, belum membuat senyum Ade
mengembang. Langit di wajahnya masih sedikit mendung, belum sepenuhnya
cerah. Ade hanya menganggukkan kepalanya agak ke atas seolah sedang
bertanya ”lalu?”
Mengerti isyarat ”lalu?’ isterinya, Akang pun mengeluarkan barisan
kata-kata yang nampaknya sudah lama tersimpan. ”Cinta Akang bukan cinta
biasa”. Ah, lagi-lagi Ade kecewa, ia memalingkan wajahnya sedikit ke
kiri pertanda protes. Mungkin dalam hatinya Ade berkata, ”punya suami
nggak kreatif banget, jiplak Siti Nurhaliza”.
Tapi Akang pun sebenarnya belum selesai. Kalimat ”cinta Akang bukan
cinta biasa” itu hanya kalimat pembuka rangkaian kalimat yang sudah
tersimpan rapih di kantongnya. Senyum yang lebih manis lagi disuguhkan
ke wajah isterinya dan, ”Akang mencintai Ade bukan karena kecantikan
Ade, bukan karena satu sisi pun di tubuh Ade. Ingat, mungkin tiga puluh
tahun lagi Ade tidak secantik hari ini. Kalau Akang hanya melihat
kecantikan Ade, cinta Akang akan berkurang seiring dengan berkurangnya
kecantikan Ade”.
Wajah Ade tambah cerah. Tapi Akang seperti tak memberi kesempatan
isterinya untuk berkata-kata.
”Jika Ade bertanya, apa yang membuat Akang memilih Ade sebagai isteri
Akang, jawabnya Allah. Allah yang memilihkan Ade untuk Akang. Jadi yang
paling tahu kenapa Ade yang dipilih Akang menjadi isteri, tentu saja
Allah. Sedangkan kecantikan, serta hal-hal fisik lainnya yang ada di
diri Ade, ibarat pakaian yang menghiasi tubuh pemakainya, tak ubahnya
seperti seekor burung merpati, apapun warna bulunya tak mengubah namanya
tetap merpati. Hakikat merpati bukan pada warnanya, melainkan pada
penurut dan kesetiaan yang menjadi sifatnya”.
Ade pun tersipu. Kali ini ia yang benar-benar tak sanggup berkata.
”Sayang, benci, marah, atau cinta itu semestinya diletakkan pada
piringan Allah. Alasnya hanyalah Allah, sebab Allah-lah yang menciptakan
semua rasa itu”.
Senyum Ade tipis manis menghiasi wajahnya. Binar matanya menunggu tak
sabar barisan kata indah suaminya.
”Coba kita tiru cara Allah marah, sayang atau bahkan cinta kepada
hamba-Nya...”
Ade tak sabar mendengarkan,
”Ingat kisah Adam ketika diusir Allah dari surga? Allah bukan marah
kepada Adam, tetapi marah lantaran sikap Adam yang melanggar aturan
Allah. Bahkan boleh jadi, Allah tidak membenci dan melaknat syaitan
karena zatnya, melainkan karena sikapnya yang sombong, membangkang dan
tak mau tunduk kepada Allah. Coba pelajari sejarah Bilal bin Rabbah,
wajahnya tak tampan, kulitnya hitam legam, tetapi Allah mencintainya
karena keimanannya yang tak terbanding. Pelajari juga alasan Allah
menjadikan Abu Lahab sebagai salah satu figur penghuni neraka, adalah
karena sikapnya yang menentang Rasulullah”.
Berguguran bening air dari sudut-sudut mata isterinya. Sementara Akang
belum memberikan tanda-tanda akan menghentikan kalimatnya.
”Dan episode cinta yang meniru cara Allah mencinta ini, dipentaskan
dengan cantik oleh Muhammad Rasulullah bersama para sahabatnya. Ummat
Muhammad mencintai putra Abdullah itu bukan karena ia cucu Abdul
Muthallib, salah seorang yang paling disegani masyarakat Quraisy. Juga
bukan karena Muhammad keponakan Abu Thallib yang cukup terpandang.
Adalah sifat mulia Muhammad yang membuat orang-orang mendekat dan
menjadi sahabatnya serta mengikuti ajarannya”.
***
Akang pun memeluk isterinya seraya berbisik, ”cintai Akang karena Allah
de, cintai Akang sepanjang Akang tetap dekat kepada Allah. Cintai Akang
dengan cara menegur Akang setiap kali menyimpang dan berbuat salah.
Begitu pula cara Akang mencintai Ade...”
dalam dirimu, maka hilanglah pula cintaku padamu....."
itu kata2 imam Nawawi yg sangat menginspirasiku hingga hari ini. Bahwa
keindahan fisik, materi dan apapun yg terlihat mata itu semu adanya. Akan
usang dan sirna seiring berjalannya waktu.
Siapa yg tak suka melihat yg indah2, siapa yg tak gemar berburu yg cantik2,
siapa yg tak mau bergelimang kenikmatan dan kemewahan, tapi apa arti
semuanya jika yang tertinggal hanya kekecewaan saat satu demi satu dari
mereka pergi perlahan, karna ketidak abadiannya.
Notes dari seorang sahabat berikut, mungkin bisa mewakilinya....
============================>>>>
Suatu malam Ade mengajukan pertanyaan kepada suaminya, Akang, “Apa yang
membuat Akang memilih saya menjadi isteri Akang? Bukankah saya tidak
lebih cantik dari teman-teman perempuan Akang yang lain?”
Akang yang mendapat pertanyaan itu hanya menyunggingkan senyum tanpa
menjawab sepatah kata pun. Mungkin pertanyaan itu terlalu retoris karena
disampaikan hanya satu hari setelah pernikahan mereka. Akang pun tetap
sibuk menyemir sepatunya untuk kerja esok hari.
Merasa tak puas hanya mendapatkan senyum manis sang suami, Ade pun
mendekati Akang dan mengulangi pertanyaannya. ”Jawab atuh kang, Ade
butuh jawabannya...?”
Tiba-tiba tangan Akang yang berlumuran semir warna hitam mendarat mulus
di kiri dan kanan pipi Ade yang putih. Ade tak sempat berkelit dan
hasilnya, wajah Ade pun menjadi cemong. Sesaat kemudian Ade pun ngambek
menekuk wajahnya, bibirnya maju beberapa senti. Jawaban yang
diharapkannya tak keluar sedikit pun dari suaminya, justru tangan Akang
yang berlumuran semir hitam yang mewakili jawaban itu.
Melihat isterinya kecewa dan nyaris meneteskan air mata, Akang langsung
menarik tubuh mungil isterinya itu, mendekapnya erat dan kemudian
menghadapkan wajah isterinya tepat dihadapan wajahnya. Hidung mereka
hampir bersentuhan, hanya beberapa mili saja jaraknya. Ia memberi
isyarat hendak mengatakan sesuatu yang serius, bening air di sudut mata
Ade tertahan tak jadi tumpah. Bak kembang yang baru mekar, wajah Ade
berubah cerah menunggu tak sabar gerangan apa yang akan disampaikan
suaminya.
”Andai wajah Ade benar-benar hitam sehitam semir ini, Akang akan tetap
mencintai Ade,” kalimatnya terlalu datar, belum membuat senyum Ade
mengembang. Langit di wajahnya masih sedikit mendung, belum sepenuhnya
cerah. Ade hanya menganggukkan kepalanya agak ke atas seolah sedang
bertanya ”lalu?”
Mengerti isyarat ”lalu?’ isterinya, Akang pun mengeluarkan barisan
kata-kata yang nampaknya sudah lama tersimpan. ”Cinta Akang bukan cinta
biasa”. Ah, lagi-lagi Ade kecewa, ia memalingkan wajahnya sedikit ke
kiri pertanda protes. Mungkin dalam hatinya Ade berkata, ”punya suami
nggak kreatif banget, jiplak Siti Nurhaliza”.
Tapi Akang pun sebenarnya belum selesai. Kalimat ”cinta Akang bukan
cinta biasa” itu hanya kalimat pembuka rangkaian kalimat yang sudah
tersimpan rapih di kantongnya. Senyum yang lebih manis lagi disuguhkan
ke wajah isterinya dan, ”Akang mencintai Ade bukan karena kecantikan
Ade, bukan karena satu sisi pun di tubuh Ade. Ingat, mungkin tiga puluh
tahun lagi Ade tidak secantik hari ini. Kalau Akang hanya melihat
kecantikan Ade, cinta Akang akan berkurang seiring dengan berkurangnya
kecantikan Ade”.
Wajah Ade tambah cerah. Tapi Akang seperti tak memberi kesempatan
isterinya untuk berkata-kata.
”Jika Ade bertanya, apa yang membuat Akang memilih Ade sebagai isteri
Akang, jawabnya Allah. Allah yang memilihkan Ade untuk Akang. Jadi yang
paling tahu kenapa Ade yang dipilih Akang menjadi isteri, tentu saja
Allah. Sedangkan kecantikan, serta hal-hal fisik lainnya yang ada di
diri Ade, ibarat pakaian yang menghiasi tubuh pemakainya, tak ubahnya
seperti seekor burung merpati, apapun warna bulunya tak mengubah namanya
tetap merpati. Hakikat merpati bukan pada warnanya, melainkan pada
penurut dan kesetiaan yang menjadi sifatnya”.
Ade pun tersipu. Kali ini ia yang benar-benar tak sanggup berkata.
”Sayang, benci, marah, atau cinta itu semestinya diletakkan pada
piringan Allah. Alasnya hanyalah Allah, sebab Allah-lah yang menciptakan
semua rasa itu”.
Senyum Ade tipis manis menghiasi wajahnya. Binar matanya menunggu tak
sabar barisan kata indah suaminya.
”Coba kita tiru cara Allah marah, sayang atau bahkan cinta kepada
hamba-Nya...”
Ade tak sabar mendengarkan,
”Ingat kisah Adam ketika diusir Allah dari surga? Allah bukan marah
kepada Adam, tetapi marah lantaran sikap Adam yang melanggar aturan
Allah. Bahkan boleh jadi, Allah tidak membenci dan melaknat syaitan
karena zatnya, melainkan karena sikapnya yang sombong, membangkang dan
tak mau tunduk kepada Allah. Coba pelajari sejarah Bilal bin Rabbah,
wajahnya tak tampan, kulitnya hitam legam, tetapi Allah mencintainya
karena keimanannya yang tak terbanding. Pelajari juga alasan Allah
menjadikan Abu Lahab sebagai salah satu figur penghuni neraka, adalah
karena sikapnya yang menentang Rasulullah”.
Berguguran bening air dari sudut-sudut mata isterinya. Sementara Akang
belum memberikan tanda-tanda akan menghentikan kalimatnya.
”Dan episode cinta yang meniru cara Allah mencinta ini, dipentaskan
dengan cantik oleh Muhammad Rasulullah bersama para sahabatnya. Ummat
Muhammad mencintai putra Abdullah itu bukan karena ia cucu Abdul
Muthallib, salah seorang yang paling disegani masyarakat Quraisy. Juga
bukan karena Muhammad keponakan Abu Thallib yang cukup terpandang.
Adalah sifat mulia Muhammad yang membuat orang-orang mendekat dan
menjadi sahabatnya serta mengikuti ajarannya”.
***
Akang pun memeluk isterinya seraya berbisik, ”cintai Akang karena Allah
de, cintai Akang sepanjang Akang tetap dekat kepada Allah. Cintai Akang
dengan cara menegur Akang setiap kali menyimpang dan berbuat salah.
Begitu pula cara Akang mencintai Ade...”
Selasa, 24 November 2009
Bukan Maya
Ini tentang hati.
yang kemarin menyapamu dengan gemerlap duniawi....
Seakan terlalu banyak kisah tuk ditekuri,
bukan karna terlalu indah.... bukan pula karna tak layak puji....
semata hanya karna waktu yang melindasnya menjadi memori.....
Geliat warna - warni topeng usik lamunan sang peri senja,
mata indahnya mengedip manja, layaknya lakon di panggung opera
Maukah bertaruh denganku?
Pelataran sukma, pastilah inginkan nyata..bukan maya....
Desau angin surga, membawa bisik - gemerisik palung hati jiwa - jiwa yang bertakwa,
ucapnya.....
"Sungguh, cintai aku hanya karna agama dan akhlaq yang melekat padaku,
karna hanya itu yang tak lekang termakan oleh waktu....."
yang kemarin menyapamu dengan gemerlap duniawi....
Seakan terlalu banyak kisah tuk ditekuri,
bukan karna terlalu indah.... bukan pula karna tak layak puji....
semata hanya karna waktu yang melindasnya menjadi memori.....
Geliat warna - warni topeng usik lamunan sang peri senja,
mata indahnya mengedip manja, layaknya lakon di panggung opera
Maukah bertaruh denganku?
Pelataran sukma, pastilah inginkan nyata..bukan maya....
Desau angin surga, membawa bisik - gemerisik palung hati jiwa - jiwa yang bertakwa,
ucapnya.....
"Sungguh, cintai aku hanya karna agama dan akhlaq yang melekat padaku,
karna hanya itu yang tak lekang termakan oleh waktu....."
Rabu, 09 September 2009
- Ironi -
Kemarin, katamu kau tak akan pergi,
namun semenit lalu, bayangmu pun sudah tak kutemui...
Baru kemarin, nafasmu sadarkan aku akan sebuah sinergi,
tumpang tindihnya qalbu yang terbalut imaji.....
Ya, baru kemarin...
yang kubilang kelabu, katamu pelangi....
Nyatanya? Kini mentari tak buat langitku warna - warni.....
Ah, cemburuku hanyalah api....
Tak mau lagi kusapa kau walau dalam mimpi
nuraniku semakin menyadari,
Illahi Rabbi,
yang cintanya sejati.. tak menyakiti, dan mengkhianati.....
namun semenit lalu, bayangmu pun sudah tak kutemui...
Baru kemarin, nafasmu sadarkan aku akan sebuah sinergi,
tumpang tindihnya qalbu yang terbalut imaji.....
Ya, baru kemarin...
yang kubilang kelabu, katamu pelangi....
Nyatanya? Kini mentari tak buat langitku warna - warni.....
Ah, cemburuku hanyalah api....
Tak mau lagi kusapa kau walau dalam mimpi
nuraniku semakin menyadari,
Illahi Rabbi,
yang cintanya sejati.. tak menyakiti, dan mengkhianati.....
Untukmu sobat, yang terkungkung cinta duniawi
Kamis, 27 Agustus 2009
Warna
“Wa’alaykumsalam warohmah... hehe, afwan mbk bru bls... iya nih alhamdulillah lbih nikmat puasa ma suami. G terasa cpek pulang pergi Ngawi – Pnorogo. Bgitu liat wajahnya, langsung hilang cpeknya... apalgi pnya anak ya.. psti lbih seru! Hehehe.. ”
SubhanAllah... sebuah pesan balasan dari seorang sahabat yang kuterima di awal Ramadhan, menumbuhkan “warna” itu lagi di hatiku. Warna sama, yang selalu muncul setiap kudengar kabar tentang kerabat yang akan atau telah menyempurnakan separuh diennya. Warna serupa yang selalu hadir saat kulihat senyum dan kebahagiaan di wajah – wajah mereka yang telah bersatu dengan pujaan hatinya dalam ikatan suci pernikahan.
Jika ditilik lagi isi dari pesan singkat di atas tadi, tergambar jelas kekuatan cinta dan kebahagiaan itu. Sahabat yang terbilang berusia satu tahun di bawahku ini, benar – benar berani mengambil sebuah keputusan yang mulia. Keputusan untuk siap menanggung dan menghadapi segala resiko yang terbentang di episode hidup selanjutnya. Dia yang saat ini bertugas di Ponorogo, rela harus pulang pergi setiap hari dari Ngawi demi tetap berkumpul bersama suami tercintanya. Lelah itu pasti tetap tak mampu dihindari. Namun baginya cukup terbayar dengan indah wajah dan kehangatan berkumpul bersama sang suami. Ah, sekali lagi kau membuatku iri, ukhti...
Kami serumah sewaktu masih pendidikan di Malang dulu. Dan aku tahu betul bagaimana karakter terlebih kekerasan hatinya. Prinsip sekaligus komitmen yang ia miliki, sekalipun didera oleh berbagai uji dan coba nyata tetap mampu ia pegang teguh. Kagumku untukmu saudariku. Dan keresahan itu kini terbayar sudah. Bintang yang selama ini kau simpan dan jaga dalam hatimu, dan selalu kau bawa serta dalam alunan doa dan derai air mata di sujud – sujud panjangmu, telah dihadiahkan oleh Allah seperti yang kau impikan. Semoga kebahagiaan dan berkah senantiasa menyelimuti kalian berdua ^_^
Lalu bagaimana dengan “warna” itu? Apa dan siapakah ia? Warna yang selalu hadir itu, tak lain adalah doa. Doa yang tak hentinya mengalir mengiringi setiap jejak langkah menjemput semua mimpi dan harapan. Semoga warna itu tetap terjaga hingga saatnya tiba. Aku percaya, bahwa Allah akan menjaga siapapun dia dengan rencana – Nya yang cantik. Biarlah kini kularut dalam penantian dan “warna” yang kan hiasi hari – hari indahku.....
SubhanAllah... sebuah pesan balasan dari seorang sahabat yang kuterima di awal Ramadhan, menumbuhkan “warna” itu lagi di hatiku. Warna sama, yang selalu muncul setiap kudengar kabar tentang kerabat yang akan atau telah menyempurnakan separuh diennya. Warna serupa yang selalu hadir saat kulihat senyum dan kebahagiaan di wajah – wajah mereka yang telah bersatu dengan pujaan hatinya dalam ikatan suci pernikahan.
Jika ditilik lagi isi dari pesan singkat di atas tadi, tergambar jelas kekuatan cinta dan kebahagiaan itu. Sahabat yang terbilang berusia satu tahun di bawahku ini, benar – benar berani mengambil sebuah keputusan yang mulia. Keputusan untuk siap menanggung dan menghadapi segala resiko yang terbentang di episode hidup selanjutnya. Dia yang saat ini bertugas di Ponorogo, rela harus pulang pergi setiap hari dari Ngawi demi tetap berkumpul bersama suami tercintanya. Lelah itu pasti tetap tak mampu dihindari. Namun baginya cukup terbayar dengan indah wajah dan kehangatan berkumpul bersama sang suami. Ah, sekali lagi kau membuatku iri, ukhti...
Kami serumah sewaktu masih pendidikan di Malang dulu. Dan aku tahu betul bagaimana karakter terlebih kekerasan hatinya. Prinsip sekaligus komitmen yang ia miliki, sekalipun didera oleh berbagai uji dan coba nyata tetap mampu ia pegang teguh. Kagumku untukmu saudariku. Dan keresahan itu kini terbayar sudah. Bintang yang selama ini kau simpan dan jaga dalam hatimu, dan selalu kau bawa serta dalam alunan doa dan derai air mata di sujud – sujud panjangmu, telah dihadiahkan oleh Allah seperti yang kau impikan. Semoga kebahagiaan dan berkah senantiasa menyelimuti kalian berdua ^_^
Lalu bagaimana dengan “warna” itu? Apa dan siapakah ia? Warna yang selalu hadir itu, tak lain adalah doa. Doa yang tak hentinya mengalir mengiringi setiap jejak langkah menjemput semua mimpi dan harapan. Semoga warna itu tetap terjaga hingga saatnya tiba. Aku percaya, bahwa Allah akan menjaga siapapun dia dengan rencana – Nya yang cantik. Biarlah kini kularut dalam penantian dan “warna” yang kan hiasi hari – hari indahku.....
Selasa, 14 Juli 2009
130709
Benarkah cinta tak mengenal logika?
Ia pun terlihat begitu permisif, terhadap warna dan budaya
Pagi baginya senja....
petang pun tak urung katupkan payung.....
Ketika hijaunya dedaunan, tak mampu lagi menjemput gersang ilalang...
Cinta seakan hadir menjadi hujan....
Adakah itu cinta?
Ia pun terlihat begitu permisif, terhadap warna dan budaya
Pagi baginya senja....
petang pun tak urung katupkan payung.....
Ketika hijaunya dedaunan, tak mampu lagi menjemput gersang ilalang...
Cinta seakan hadir menjadi hujan....
Adakah itu cinta?
Rabu, 24 Juni 2009
Definisi Cinta
Sebagai obat kepenasaranku sama filmnya KCB, beberapa hari ini di sela - sela waktu sibuk dan menjelang tidur, kusempatkan untuk membaca bukunya lagi. Ada sebuah paragraf yang membuatku tertarik. Yakni saat Anna mendefinisikan tentang cinta di bedah buku 'Menari Bersama Ombak'. Setelah kucari tahu, paragraf indah itu ternyata merupakan petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M.
=================================================================
=================================================================
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.
kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta.
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya.
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur,
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan.
namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.
kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta.
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya.
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur,
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan.
=================================================================
Sumber : Novel Ketika Cinta Bertasbih 2 (Habibburrahman El Shirazy) : hal. 69, cetakan ke-1, Nopember 2007
Sumber : Novel Ketika Cinta Bertasbih 2 (Habibburrahman El Shirazy) : hal. 69, cetakan ke-1, Nopember 2007
-Yang masih terlalu takut untuk mendefinisikan cinta-
Langganan:
Postingan (Atom)

