Selasa, 31 Maret 2015

Pindah Rumah

Bismillahirrohmanirrohiim...

Setelah bertapa dan tidur cukup panjang, kami akhirnya memutuskan pindah rumah ke sini www.soegesti.com semoga kami betah dan semakin produktif di rumah yang baru :)

Kamis, 12 Februari 2015

Yearning

Aku ingin menari bersamamu lagi, berloncatan di tengah rinai hujan imajinasi sambil sesekali menangis atau menertawai diri.  

Aku ingin memelukmu lagi, mendekap beku dan dinginnya sunyi sambil mengalunkan syair - syair tak berjudul tak bertuan.
Ya.. Aku rindu kamu ....



*foto diambil dari sini : cms.polimoli.com 

Senin, 29 September 2014

Keberkahan Harta

Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu. 
Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.
Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?
Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya. 
Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:
جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره
Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak. Yang haram pun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima. Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux.

Sebuah kisah yang dibagi oleh salah seorang teman via group whatsapp di atas sungguh terasa benar - benar menampar diri saya. Jujur, saya selalu merasa bahwa apa yang saya terima saat ini (materi), rasanya tak sebanding dengan apa yang sudah saya lakukan. Saya selalu merasa kurang dalam memberi, namun nyatanya begitu banyak yang saya terima. Bukan saya ingin mengkufuri nikmat, sungguh bukan. Saya pun yakin bahwa semua itu adalah refleksi nyata akan rahmat dan kasih sayang Alloh kepada saya dan keluarga. Dan hal itu pulalah yang mungkin membuat saya terlihat begitu naif di depan banyak rekan. Tanpa ragu, saya selalu berusaha semampu saya untuk membantu kegiatan - kegiatan di luar tugas utama di tempat kerja. Mungkin ada saja yang menilai bahwa saya ini sok sibuk, sok peduli, sok aktif, hehehe... Tak mengapa. Sekali lagi jujur, semua itu saya lakukan karena saya takut. Saya takut apa yang saya terima kurang keberkahannya karena ketidakseimbangan dengan kontribusi yang sudah saya berikan. Saya takut jika ada hak yang seharusnya bukan milik saya namun ikut saya rasakan. Saya takut, sungguh takut jika ada yang haram di dalam yang halal yang sudah diperjuangkan dan akhirnya ikut merusak semuanya. Astaghfirulloh...astaghfirulloh...astahfirullohaldzhim... Semoga kita semua terhindar dari ketidakberkahan rizqi.

Senin, 25 Februari 2013

Sebuah Fragmen - Merawat Kenangan

Mungkin benar, tak perlu alasan untuk mencintai seseorang.... Tetapi memutuskan untuk menikahinya, pastilah diperlukan sebuah alasan..... Dani Indra Kurniawan. Seseorang yang sempat begitu menyebalkan dan sangat kuhindari, di masa - masa putih abu - abu dulu, ternyata kini menjadi sosok yang menyimpan sejuta alasan itu. Yang aku tahu, dia adalah seseorang yang begitu kerasa kepala, sangat idealis, agak tertutup, tipe pengamat yang sangat mendetail & teliti, pandai, dan yang paling penting dia adalah sosok yang sangat menyayangi keluarganya. Aku sadar, masih banyak hal dari dirinya yang belum kuketahui, karena di hari inilah, langkah kami baru dimulai. Namun... Bismillah.....aku memilihnya, hatiku meyakininya, dan dengan ijin serta ridho Allah, aku ingin untuk terus dan selalu mencintainya...... apa adanya dirinya...... ================================================

Berbagai adu argumentasi, segala perdebatan dalam organisasi, perjuangan bersama melintasi alam, itu semua mungkin bisa mewakili kami. Aku telah mengenalnya di masa itu. Sugesti Nuraini Putranti. Perempuan dengan sifat keras kepala, tegas, tegar -ndak cengeng-, teguh pada pendirian, namun tetap selalu bisa memposisikan dirinya sesuai kodrat seorang hawa. Ai… insyaAllah, tak ada keraguan di hati ini, saat meminangmu untuk menjadi makmum sekaligus ibu bagi anak - anakku nanti. Dan sekali lagi, karena Ai adalah seorang yang keras kepala, itulah yang membuatku ingin mengenal dan memilikinya, lebih dari seorang teman….


Tulisan yang dimuat di halaman terakhir, buku cinderamata pernikahan kami di 9 Oktober 2011

Selasa, 23 Oktober 2012

Tentang Sebuah Perjalanan


“Aku pulang sekarang,ya?”

“Sepertinya belum Mas, aku belum merasakan apa – apa….”

Kurang lebih, itu isi pesan singkatku dengan suami di Rabu siang itu. Aku memang sudah berjanji padanya  untuk selalu mengabarkan setiap kondisi yang terjadi padaku. Sederhana. Karena kami terpisah oleh jarak ribuan kilometer. Dan dalam kondisi siaga seperti saat itu, tentu sebagai seorang suami, ia memiliki beban moral tersendiri. Pun setelah mendengar kabar dariku tentang flek – flek yang mulai keluar, bisa kurasakan kepanikan dalam bahasa smsnya.
Rabu siang tanggal 1 Agustus 2012, sesaat sebelum aku berwudhu untuk sholat Duhur, aku mendapati flek – flek serupa darah berwarna kecoklatan. Ah… apakah sudah waktunya ? Secara usia kandungan memang sudah masuk 9 bulan, tapi apa iya ini tandanya ? Aku mencoba menenangkan diri, dan  memutuskan untuk tetap berwudhu dan sholat. Selesai sholat, aku masih belum benar – benar bisa tenang. Di jam itu, ibuku masih belum pulang dari kantornya. Kuputuskan untuk menelpon ibu mertua, demi menenangkan hati.

“Sudah mulai keluar flek Bu, tapi saya belum merasakan apa – apa….”

“Iya mbak, tapi itu sudah tanda – tanda… tiap wanita berbeda – beda. Ada yang langsung merasakan sakit, ada juga yang tidak. Sudah… sekarang samean tenangkan diri dulu. Tetep ndak papa sholat dan ngaji. Sama terus berdoa supaya dimudahkan semuanya. Ibu juga berdoa dari sini.”

Aha.. jika memang ini tandanya,berarti tak lama lagi…sebentar lagi… kita akan bertemu,nak…. Aku berusaha menenangkan diri sesorean itu. Walau tetap saja, gelisah dan rasa takut kadang menyelinap. Aku putuskan mengikuti saran ibu untuk memperbanyak mengaji. Apalagi kurang 1 juz lagi aku mengkhatamkan bacaan Qur’an ku di awal Ramadhan ini. Ya, Alhamdulillah… walaupun sedang hamil tua, Allah masih memberiku kesempatan & kekuatan untuk tetap menjalankan ibadah puasa. Bermodal keyakinan, insyaAllah kuat! Aku masih bertahan hingga hari itu. Sambil mengaji, kuelus – elus lembut perutku sambil membisikkan, “Adek, keluarnya nunggu Ayah pulang ya,Nak…”

Sekitar jam 5 sore, ada telepon masuk dari suamiku. Dia memastikan sekali lagi tentang kondisiku hingga sore itu. Aku pun meyakinkannya, bahwa hingga detik itu aku masih merasa biasa – biasa saja. Belum ada yang berubah dan kurasakan, apalagi rasa sakit. Sekali lagi, aku memintanya untuk tenang. Dan yang mengagetkanku, saat kutanya dia ada di mana, dengan santainya dia menjawab, “Nih, aku di kereta.. mo pulang ke sana. Udah, samean ndak usah kaget. Tadi aku juga telpon ibu dulu. Dan beliau yang meyakinkanku untuk pulang. Aku jauh sayang.. kalo nunggu besok atau nunggu kabar sampe samean ngerasa sakit dulu, bisa – bisa ndak nututi. InsyaAllah si dedek ndak lama lagi keluar. Tunggu ayah ya,Nak…”
MasyaAllah… tak terasa air mata ini menetes. Tidak bisa membayangkan bagaimana pontang-pantingnya suamiku di sana. Menerima kabar dariku siang, ujug – ujug sore itu sudah duduk manis di kereta. Padahal aku tahu sendiri, bukan perkara mudah untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain di sana. Di kota sebesar Jakarta, kemacetan sudah menjadi rahasia umum. Belum lagi harus ngurus cuti, beli tiket, nyiapin ini itu… ah,suamiku…… :’)
Rasa tenangku bertambah. Ayah jabang bayi yang masih sering bergerak – gerak aktif di dalam sana, sedang dalam perjalanan pulang. Aku melewati malam itu dengan senyuman.

Menjelang sahur, sekitar pukul 3 pagi, aku merasa ingin buang air kecil. Dan betapa kagetnya aku, saat kudapati flek – flek yang keluar walau belum terlalu banyak, namun semakin jelas. Aku putuskan untuk sms suami. Dan seperti biasa, dia selalu berusaha menenangkanku sambil berpesan untuk tidak berpuasa dulu hari itu. Aku manut, dan memilih untuk melanjutkan tidurku lagi. Namun ternyata aku tidak benar – benar bisa tertidur. Karena aku mulai merasakan sesuatu yang aneh di perutku. Rasa sakit yang belum terlalu kuat, datang dan pergi. Apa ini yang namanya kontraksi ya ? Hatiku bertanya – tanya sendiri.
Setelah sholat Subuh, rasa sakit itu masih ada. Ritmenya pun semakin jelas. Aku sempatkan untuk menanyakan ini pada ibu sebelum beliau berangkat bekerja.
“Kalo sudah semakin sering sakitnya, langsung ke rumah sakit aja ya,mbak… mungkin memang sudah saatnya…” ibu yang berusaha tenang tetap tak mampu menyembunyikan gurat – gurat kekhawatiran.

Setelah memastikan bahwa aku baik – baik saja dan masih bisa ditinggal, beliau berangkat. Dan aku, memutuskan untuk berbelanja sayur ke mlijo di depan gang sambil jalan – jalan pagi. Dalam hati, jika memang sudah dekat saatnya aku harus tetap bisa tenang dan rileks. InsyaAllah itu akan membantu mempermudah jalannya persalinan. Sampai di rumah, gelombang dalam rahimku itu semakin kuat. Namun jaraknya masih sama, kira – kira setiap 10 - 15 menit sekali.
Selesai sarapan, aku memilih untuk rebahan sambil sesekali melirik jam di handphone. Sambil menikmati gelombang cinta yang datang dan pergi, tak henti – hentinya aku bersyukur pada Allah. Karena Dia telah memberiku kesempatan hingga sampai di detik – detik ini.
Tepat pukul 11 siang, sebuah taxi datang. Aku tahu itu suamiku. Setelah sebentar memeluk dan mencium perutku, dia menyuruhku bersiap – siap. Taxi sengaja dipesan sekalian untuk mengantar kami ke rumah sakit. Sambil meringis, aku sambar baju dan jilbab yang sudah kusiapkan. Tanpa istirahat atau sekedar minum air putih dulu, suamiku dan aku langsung berangkat lagi menuju rumah sakit.
Di dalam taxi, gelombang itu semakin kuat. Setiap ia datang, tanpa ragu kuremas tangan suamiku. Dengan tetap tenang, ia mengusap kepalaku sambil membisikkan kata – kata sabar. 

Setibanya di rumah sakit, ibu telah menunggu di pintu masuk. Wajah beliau nampak ikut memucat, melihatku berjalan perlahan sambil sesekali meringis. Ya, ibu mana yang tega melihat anaknya menahan sakit. Sampai di dalam, aku dibaringkan di sebuah ranjang untuk dilakukan pemeriksaan dalam. Kebetulan sekali, bidan yang saat itu memeriksa adalah temanku semasa masih duduk di sekolah dasar, Febriana namanya.
“Masih pembukaan 1,Ges… masih lama. Biasanya kalo anak pertama, bisa sampai 14 jam ke pembukaan lengkap.” jelasnya sambil tersenyum.

Wow, 14 jam ? Tak bisa kusembunyikan rasa kagetku. Itu artinya, aku masih harus bertahan dan menikmati gelombang ini, hingga 14 jam lamanya.
“Gimana, mau tinggal dan nunggu di sini, apa mo pulang ? Monggo terserah samean aja…”
Dalam hati aku berfikir, daripada harus menikmati gelombang ini di sebuah tempat yang berjudul rumah sakit, lebih baik aku pulang. Suasana rumah setidaknya bisa membuat hati lebih santai dan tenang. Ya, dan aku memutuskan untuk pulang lagi. Tas besar berisi perlengkapan bersalin sengaja kutitipkan di sana, karena toh aku nanti akan kembali lagi.

Sampai di rumah, aku dan suami memilih beristirahat di kamar. Berbaring berdua sambil tetap berpegangan tangan. Kami ngobrol banyak hal. Sekali dua kali suami menggodaku dan melontarkan candaan. Aku tahu, dia berusaha menghiburku dan membuatku rileks di tengah perjuangan menikmati gelombang itu. Saat sang gelombang datang, seperti biasa aku langsung meremas kencang tangan suamiku. Tak sedikitpun kutemui  rona keluh kesah di wajahnya atas perlakuanku itu. Sebaliknya, penuh keteduhan sambil sesekali mengusap lembut perutku, ia membisikkan kata – kata sabar dan semangat. Untukku, dan untuk jabang bayi di dalam sana.

Perjuangan itu, berlanjut hingga pukul 4 sore. Saat ibuku datang, jeda waktu datangnya gelombang sudah kurang dari 5 menit sekali. Dan kami pun memutuskan untuk kembali lagi ke rumah sakit sore itu juga.
Sesaat sebelum adzan maghrib, aku sudah berbaring lagi di ranjang yang sama. Bidan yang menangani kali ini berbeda. Bu Puji namanya. Bidan senior yang tak lama lagi memasuki masa purnanya.
“Sudah pembukaan 6,mbak Gesti… sebentar lagi. Ditunggu saja di sini ya…”
SubhanAlloh. Antara percaya dan tidak, bahagia sekali rasanya. Terlebih Bu Puji mengatakan, untuk anak pertama, ini termasuk cepat sekali. Dan biasanya, jika sudah sampai di pembukaan 6, menuju pembukaan lengkap tidak lama lagi. “Terimakasih, Rabb… mohon beri hamba kekuatan lagi dan lagi…”

Suami dan ibuku bergantian menjaga di ruang bersalin. Terus memberikan semangat kepadaku yang  sudah memposisikan diri semanis mungkin di atas ranjang perjuangan.
Satu…dua…tiga…entah sudah berapa kali gelombang itu datang lalu pergi lagi. Ibu menggenggam tanganku kuat – kuat. Sesekali, kudapati ada air mengalir di sudut matanya. Beliau tahu pasti apa yang kurasakan saat itu. Karna, Ya… Beliaupun pernah merasakan hal yang sama saat berjuang melahirkan dulu. Ah, Ibu… beginikah rasanya perjuangan dan pengorbananmu dulu, menjadi perantara hadirnya gadis mungil yang kini terbaring lemah di hadapmu. Merasakan dan memperjuangkan hal yang sama.
Pukul  19.30, Bu Puji melakukan pemeriksaan dalam kembali. Sudah pembukaan 8. Dag..dig..dug… Kurasakan jantungku berdetak semakin kencang mengiringi pasang surut gelombang dalam rahim. Bidan dan perawat yang ada dalam ruangan itu, tampaknya sudah mulai mempersiapkan segala peralatan untuk persalinan.Sebentar lagi, ya…tak lama lagi. Kita akan bertemu malaikat kecil. Seperti apakah sosokmu. Adakah kau seorang bidadari atau pangeran mungil. 

Pukul 20.00, gelombang yang datang semakin hebat dan berjarak dekat. Bu Puji menyampaikan, sepertinya memang sudah saatnya. Sudah pembukaan lengkap. Beliau sempat mengajariku bagaimana cara mengejan. Ya, mengejan harus dilakukan bersamaan dengan gelombang yang datang. Dan letak kekuatannya bukan di leher (atas), tapi di bagian bawah. Serupa saat kita ingin buang air besar.
Gelombang pertama di pembukaan lengkap itu tampaknya akan datang. Satu…dua… Uuuuuuhhhhhhh…. Aku berusaha mengejan sekuat yang aku bisa. Tapi ternyata salah. Aku masih mengejan di bagian atas. Saat gelombang itu datang, memang rasanya spontan ingin mengejan sekuat – kuatnya. Tapi ternyata juga tidak sesederhana dan semudah itu. Kesempatan kedua datang, masih belum berhasil. Menjelang kesempatan ketiga, dokter dan bidan yang hadir di ruangan itu menyarankan untuk dilakukan induksi. Karena setelah ditunggu – tunggu, tiba – tiba sang gelombang menghilang. Jika tak ada gelombang, bagaimana mungkin bisa mengejan. Tentu saja yang juga dikhawatirkan adalah kondisi bayi di dalam jika tidak segera dikeluarkan.
Botol dan selang infus sudah disiapkan. Suami tetap menggenggam erat tanganku. Dalam tatapnya, aku tahu ada sejuta doa dan semangat yang mengiri perjuangan ini. Aku hanya bisa berpasrah, benar – benar berserah diri memohon yang terbaik dari Alloh. Ketika jarum infus sudah disiapkan, tiba – tiba dokter mengatakan untuk membatalkan induksi. Karena kepala bayi yang sudah mulai terlihat dan tanda – tanda kontraksi yang mulai muncul lagi. Alhamdulillah… Kamu memang anak pintar,Nak… hayuk berjuang lagi ya…

Begitu gelombang yang ketiga ini datang, aku berusaha meyakinkan diri, bahwa aku bisa. Bismillahirrohmanirrohiim. Dan, uuuuuhhhh……… dalam hitungan detik, pukul 20.15 lahirlah malaikat kecil kami itu. Laki – laki. Bersamaan pula dengan pecahnya tangis haru. Ibuku menangis. Suamiku yang sedari tadi menopang tubuhku, juga menangis sambil memeluk dan menciumiku. Dan aku, sambil tak henti – hentinya mengucap syukur dan bertasbih, tak mampu lagi berkata apa – apa.
Hangat. Hangat sekali rasanya ketika kurasakan ada sepasang kaki kecil menendang – nendangku dari bawah sana. Setelah sedikit dibersihkan dan diselimuti, ia langsung diletakkan di dadaku. Inilah saat – saat terindah itu. Saat di mana pertama kalinya kedua mata kami bertemu. Saat di mana kulit kami bersentuhan juga untuk yang pertama. Dan yang paling menakjubkan, saat naluri seorang bayi membawanya untuk menemukan puting susu ibunya. Itulah pula pertama kalinya bayi yang masih merah itu menyusu kepadaku. SubhanAlloh… aku telah menjadi seorang ibu.

Kurang lebih hampir 1 jam lamanya proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini) itu. Tak lama setelahnya, bayi kecil kami dibersihkan dan ditimbang. Beratnya 3,2 kg dengan panjang 51 cm. Alhamdulillah, sehat dan sempurna. Memang itulah doa yang selalu kami panjatkan selama proses kehamilan. Sengaja kami tak pernah menanyakan jenis kelamin si jabang bayi setiap jadwal periksa rutin bulanan dilakukan. Lelaki maupun perempuan, sama saja bagi kami. Keduanya merupakan anugerah dan rizqi yang terindah dari Allah. Yang terpenting sehat dan sempurna. Walau kebahagiaan tak terkira, tetap saja tak bisa disembunyikan oleh suami dan ibuku saat mereka mengetahui bahwa bayi kami laki – laki. Ya, ternyata harapan itu walau kecil tetaplah ada. Mereka sempat terbersit ingin putra pertama kami itu laki – laki. Sekali lagi sudah sepantasnyalah kami bersyukur.

Selesai diadzani oleh suami, aku dan bayi mungil itu dibawa ke kamar. Sengaja memang aku meminta kepada pihak rumah sakit untuk melakukan rooming in (rawat gabung) dengan bayiku. Tujuannya tak lain adalah, agar aku bisa selalu dekat & bisa menyusuinya kapanpun dia mau. Dan Alhamdulillah, rumah sakit tempatku bersalin ini, sangat pro ASI. Sehingga niatku untuk benar – benar memberikan ASI eksklusif itu sama sekali tidak dipersulit.

Malam pertama itu, sukses kami lewati bertiga. Aku, suamiku, dan bayi lelaki kami. Lengkap rasanya keluarga kecil ini. Dengan sebuah status baru sebagai seorang ibu, aku tahu ada tanggung jawab besar yang tak mudah, sedang menantiku. Dan yang paling dekat di depan mata adalah, aku ingin bisa memberikan haknya untuk mendapatkan ASI hingga 2 tahun, insyaAllah.
Bayi laki – laki itu, kami beri nama Ibrahim Putra Ramadhan. Dengan harapan, kelak ia pun meneladani kekuatan dan ketegaran bapak para nabi, Ibrahim. Aamiin.

*Suatu hari entah kapan, mungkin kau telah menjadi sesuatu saat membaca ini,Le… Ya, inilah perjalananmu & perjuangan kita berdua, yang coba Ibu simpan dalam goresan kata – kata. Ayah maupun Ibu, tak pernah meminta balasan apapun untuk setiap kisah yang telah kita lewati bersama. Jadilah putra yang soleh,Nak.. Ya,cukup itu saja…. J

Selasa, 12 Juni 2012

Sudah Juni(ku) Lagi

Hey, bukankah ini bulan Juni ? Lalu kenapa ? Hehehe.. sepertinya terlalu terlambat untuk sekedar menyadari bahwa ini memanglah bulan Juni. Tapi terserah orang mau berkata apa, yang pasti bulan ini tetaplah bulan yang punya arti tersendiri buatku :-)

Juni adalah bulan di mana aku selalu berusaha untuk sekali lagi merefleksi diri. Memutar dan memusabahi lagi kisah demi kisah yang telah kulampaui. Satu yang pasti, di Juni 2012 ini bilangan usiaku bertambah 1. Dua puluh empat tahun sudah raga dan jiwa yang diamanahkan Allah kepada seorang aku, menapaki kehidupan dunia ini. Bilangannya memang bertambah, namun benarkah sejatinya demikian ? Bukankah setiap berulangnya hari di mana kita dilahirkan, adalah masa di mana seharusnya kita menyadari, bahwa sejatinya kesempatan demi kesempatan yang diberikan untuk "bermain - main & berjuang" di dunia ini dikurangi oleh Pemiliknya satu per satu ? :-)

Tak ada yang pernah bisa menebak tentang kehidupan seseorang. Semuanya terekam dalam Lauh Mahfudz dan merupakan rahasia Illahi Rabbi. Siapalah orangnya yang bisa tahu, akankah senyumnya masih dapat mengembang di hari & tanggal yang sama pada tahun depan. Siapalah orangnya yang bisa merencanakan, akan seperti apa dia harus menyambut hari di mana dia dilahirkan beberapa tahun yang akan datang. Sekali lagi, semuanya adalah misteri.
Lalu masih pantaskah ketika tanggal & bulan kelahiran seseorang berulang di tiap tahunnya, semata - mata hanya disambut oleh sebuah suka cita ?

Ayuk, siapapun yang juga sedang mengulang hari di bulan dan tahun ini, bersama - sama denganku, tunduk khidmat bermuhasabah diri. Mensyukuri setiap hembus kebahagiaan yang masih diberikan oleh Allah hingga detik ini. Mengevaluasi & memohon ampun untuk setiap laku & langkah, beriring tekad untuk terus memperbaiki diri. Serta berjuang untuk setiap ayat - ayat Illahi yang masih sering luput & terlewati.

Karena hari bisa saja terus berulang, namun kesempatan untuk berbenah diri belum tentu akan selalu datang....




- di awal 13 Juniku -

Senin, 11 Juni 2012

Damai


Damai. Itulah yang selalu kurasakan, saat berlama – lama menatap wajahnya yang tenang dalam lelap. Lelaki ini, seakan selalu punya cara untuk sekedar mencuri secuil senyum & perhatianku sekalipun dalam nyenyak tidurnya. Entah itu dengan dengkur lembutnya, wajah polos yang jadi begitu kekanak – kanakan, hingga aroma tubuh yang selalu kurindukan.

Saat – saat seperti itu, lantun syukur seolah tak akan bosan aku sampaikan pada Rabb-ku. Untuk setiap hembus dan detik kebahagiaan yang telah menaungi pernikahan kami yang sudah berjalan 8 bulan ini. Dan tentunya satu lagi, untuk amanah terindah yang dianugerahkan Allah dalam kehidupanku sebagai seorang wanita. Ya, di 8 bulan pernikahan kami, Allah telah mempercayakan sebuah jiwa   baru untuk tumbuh dan berkembang di rahimku. SubhanAllah.... Ada kehidupan dalam kehidupan. Sesuatu yang sebelumnya sudah pernah terbersit di benakku. Namun tak kusangka, keajaiban & keistimewaan menjalani proses kehamilan ternyata lebih indah dari yang kubayangkan.

InsyaAllah tak lama lagi, kami akan menjadi orang tua. Seorang ayah dan seorang ibu. Sebuah status baru yang tentunya menuntut tanggung jawab lebih besar. Sungguh masih kemarin rasanya, di mana saat sebuah status sebagai seorang istri, diamanahkan kepadaku.Dan rasanya masih ingin tersenyum – senyum sendiri tatkala memutar kembali masa – masa ketika kami berdua baru saja menikah. Rasa canggung, malu, bercampur bahagia yang selalu mewarnai hari – hari kami. Benar saja jika Imam Al - Hakim mencatat bahwa Rasulullah pernah bersabda, tidak ada yang lebih indah bagi  dua insan yang saling mencintai, selain pernikahan. Dan kamipun telah membuktikannya. Mulai dari bagaimana kami harus membiasakan diri untuk saling memanggil dengan sebutan sayang. Hingga mencoba untuk tak selalu terkejut tatkala mendapati seseorang yang asing ikut terlelap di tempat tidur yang sama denganku. J
Namun bagaimana jika kebersamaan dalam sebuah pernikahan tadi, ternyata harus dibatasi oleh jarak dan waktu ? Sebuah kondisi di mana seorang suami harus tinggal terpisah dengan istrinya, dan pulang hanya di waktu – waktu tertentu. Ya, dan kami harus menerima kenyataan bahwa itulah yang kami jalani hingga detik ini. Masing – masing dari kami, memiliki sebuah alasan & kondisi yang belum memungkinkan untuk bersatu dan tinggal bersama setiap hari. Jika ditanya bagaimana rasanya,huumm…. Mulai dari ketergantungan akan ponsel setiap hari untuk berkomunikasi, playlist winamp yang dipenuhi lagu – lagu rindu, hingga adegan telenovela yang selalu tergelar di setiap perjumpaan dan perpisahan :D

Yah..kalo bisa memilih, tentu saja kami ingin dekat. Pasutri mana yang betah berjauh – jauhan, terlebih saat segala kemesraan & kebersamaan telah menjadi sesuatu yang halal dan mendatangkan pahala. Dan bukankah disitu pula lah esensi dari sebuah pernikahan? Yakni kebersamaan, pengabdian, dan pengorbanan. Tentu saja aku ingin selalu bisa menjadi orang pertama yang mengusap peluhnya selepas penat & lelahnya dunia menyapa, menjadi orang yang selalu tersenyum dan hadir di sisinya dalam setiap kondisi, dan memastikan ia untuk selalu bisa beristirahat dengan nyaman & tersenyum dalam lelap.

Dan dari perjalanan kami hingga hari ini, bukan berarti kami tidak berikhtiar sama sekali untuk bisa dekat. Terlebih insyaAllah tak lama lagi, seorang malaikat kecil akan hadir mengisi & mewarnai hari – hari kami. Tetapi mungkin Allah masih memiliki rencana lain yang jauh lebih indah dari yang kami kira & harapkan. Terlepas dari semua perjuangan & air mata yang mengiringi langkah kami, tentu saja kami harus tetap bersyukur & tak sepantasnya terus menerus bertanya “mengapa”. InsyaAllah pelangi itu akan segera hadir. Melengkapi kedamaian, yang satu – persatu telah Allah titipkan.


……..Kuakhiri perenungan ini, dengan meletakkan sebuah kecupan kecil di kening lelakiku yang masih tenang dalam lelap. “Terima kasih untuk setiap senyum & kebahagiaan yang telah kau berikan, sayang…. Terlebih untuk sebuah anugerah yang membuatku merasa, akan menjadi wanita yang seutuhnya….
 Aku mencintaimu, suamiku……”

Senin, 05 Maret 2012

Sorprendente

Nak... adakah itu kamu?
Serupa tarian kupu - kupu kecil yang kadang menggelitik perut ibu....

Nak... benarkah itu dirimu?
Yang rasanya mungkin, tak jauh berbeda dari lompatan popcorn & gelembung - gelembung udara yang menakjubkan...

Ya...benar...ibu rasa itu memang kamu,Nak...
Karna dalam s'tiap alunan cinta yang ibu bisikkan, ada peluk dan dekapmu di sana....


*17 weeks pregnant

Jumat, 16 Desember 2011

Bontotan?

Sebenarnya sangat sederhana. Ini hanya tentang sekotak nasi, lengkap dengan lauk pauk yang biasanya akan begitu akrab kita lihat di jam - jam makan siang. Entah itu di sekolah, kantor, bahkan mungkin di dalam bis kota yang tengah melaju di keramaian.
Bekal, bontotan, atau apalah kita biasa menyebutnya, adalah salah satu cara yang dipilih oleh mereka yang berusaha pintar dan bijak dalam hal keuangan dan kebutuhan. Kebutuhan untuk memberikan nutrisi bagi tubuh, kebutuhan untuk tetap dan selalu sehat, sekaligus kebutuhan untuk mengendalikan arus keuangan sepintar mungkin.
Bagi kebanyakan orang tua, membawakan bekal bagi putra - putri tercinta, selain lebih ekonomis dari segi finansial, tentunya juga akan lebih menjamin kebersihan dan kualitas makanan yang dikonsumsi buah hati mereka. Dan ternyata pertimbangan ini pun, tak berubah di kalangan para pekerja. Atau malah justru kalangan pekerja inilah yang lebih perhitungan dalam hal ini,ya.. :D


Cukup dengan berkorban untuk bangun lebih pagi dan tentunya sedikit saja rasa repot berkutat di dapur, untuk bisa menghadirkan bekal makan siang ini. Imbalannya, kita tak perlu pusing lagi, berfikir dan mencari tempat makan siang yang mungkin kita sudah merasa bosan dengan menu dan kondisi yang itu - itu saja. Dengan si kotak nasi yang ajaib ini, kita pun tak perlu capek - capek dan berlama - lama meninggalkan pekerjaan kita. Terutama mungkin bagi mereka yang lokasi kantornya jauh dari warung atau para penjaja makanan. Bolehlah jika dibilang, membawa bekal dari rumah juga salah satu jurus ampuh mengatasi bos yang sedikit cerewet dalam hal jam makan siang :P
Dan tentu yang terpenting dari semuanya, dengan menyiapkan sendiri bekal makanan yang akan kita konsumsi, kita akan selalu yakin tentang kebersihan dan kualitas makanan kita. Tanpa perlu khawatir tentang sayuran atau ikan yang belum benar - benar bersih tercuci, cara mengolah masakan yang kurang matang, atau hal - hal lainnya.

Perasaan bosan atau mungkin kondisi yang benar - benar tidak memungkinkan untuk menyiapkan semuanya dari rumah, bolehlah menjadi alasan bagi kita untuk sesekali makan di luar. Toh pun, kita juga pasti butuh bersosialisasi dengan rekan - rekan di luar kepentingan pekerjaan. Dan biasanya di waktu jam makan siang inilah momen ngobrol - ngobrol santai selalu bisa tercipta.


Hummm...jujur jadi kepikiran sama sang kekasih yang berjuang di ibu kota. Bekerja di kota besar yang tentunya menuntut pengorbanan hidup yang juga besar.
Sungguh betapa inginnya aku, bisa selalu menyiapkan untuknya bekal makan siang orisinil buatanku sendiri. Memastikan ia selalu sehat dengan makanan - makanan yang terjamin kualitas & kebersihannya. Sedikit membuat desain icon - icon lucu dengan nasi dan lauk pauknya, demi mencuri secuil senyumnya di tengah hari itu. Sambil sesekali, menyelipkan sepucuk surat di kotak makannya, yang bercerita tentang betapa aku mencintainya..Aiih.... :">


Maaf jika belum bisa menghadirkan itu semua ya, sayang...
Moga saat - saat itu, akan segera tiba, aamiin.....

Senin, 12 Desember 2011

Rimba Amniotik

Beberapa hari lagi sebelum kehadiranmu, atau bahkan beberapa jam?
Aku tak persis tahu.

Banyak yang ingin kuucapkan, tapi sepertinya kaulah yang sudah tahu.                                             
Sekian lama kita bernapas bersama, bergerak bersama, merasa bersama.                                            
Kau begitu dekat bahkan bersatu dengan tubuhku,                                                                               
tapi tetap saja, di sini aku menanti kehadiranmu.


Perjalananmu kelak hanyalah dari perutku menuju dekapanku.                                                           
Namun itulah perjalanan yang akan mengubah kita berdua.                                                             
Mengubah dunia.
Saat kau tiba, aku tak lagi menjadi manusia yang sama.                                                                        
Dan kau juga akan melihat dunia yang berbeda: terra firma.                                                                  

Selapis kulit saja tabir yang membatasi kita, tapi sungguh berkuasa.

Kau datang, dengan segala kegenapanmu.                                                                                           
Kau datang, bahkan sudah dengan nama.                                                                                                  
Kau datang, dengan segala pelajaran dan kebijaksanaan.
                                                                   
Aku memilihmu karena kita pernah sama-sama berjanji pada satu sama lain, lanjutmu lagi.                         
Saat kita berdua masih sama-sama ingat.                                                                                               
Saat kita berdua masih sama-sama di sisi lain dari koin ini.



Entah bagaimana harus aku mencintaimu.                                                                                             
Kau lebih seperti guru sekaligus sahabat.                                                                                            
Waktu kau tiba dalam bentuk mungil dan rapuh nanti, biarlah alam yang mengajarkanku untuk mencintaimu lagi dari nol.                                                                                                                                         

Seolah kita tak pernah bertemu sebelumnya, seolah kita tak pernah bercakap-cakap bagai dua manusia dewasa, karena dalam bahasa jiwa semua “seolah” yang kusebut barusan tiada guna.                                 
Waktu, usia, dan perbedaan jasad kita, lagi-lagi hanyalah hadiah dari sisi koin di mana kita sekarang tinggal. Hadiah yang harus direngkuh dan diterima.


Sembilan bulan ini mereka bilang aku tengah mengandungmu.                                                                

Aku ingin bilang, mereka salah.                                                                                                      

Kamulah yang mengandungku.                                                                                                                

Seorang ibu yang mengandung anak di rahimnya sesungguhnya sedang berada dalam rahim yang lebih besar lagi.                                                                                                                                                        
Dalam rahim itu, sang ibu dibentuk dan ditempa.                                                                                    
Embrio kecil itu mengemudikan hati, tubuh, dan hidupnya.



Terima kasih telah mengandungku;                                                                                            

menempatkanku dalam rimba amniotik di mana aku belajar ulang untuk mengapung bersama hidup,             
untuk berserah dan menerima apa pun yang kau persembahkan.                                                              
Kini dan nanti.                                                                                                                                 
Manis, pahit, sakit, senang,                                                                                                                      
kau ajari aku untuk berenang bersama itu semua,                                                                                
sebagaimana kau tengah berenang dalam tubuhku dan merasakan apa yang kurasa,                                      
mengecap apa yang kumakan,                                                                                                         
menghirup udara yang kuendus—tanpa bisa pilih-pilih.                                                                             
Kau terima semua yang kupersembahkan bagimu.



Terima kasih untuk perjalanan ini.                                                                                                       

Untuk pilihanmu datang melalui aku.                                                                                                  

Untuk proses yang tak selalu mudah tapi selalu indah.



Aku tak sabar untuk mengenalmu lagi.

Lagi dan lagi.


Salah satu fragmen dalam buku Madre,
ditulis ketika Dee sedang mengandung Atisha

Kamis, 08 Desember 2011

^_^


Thank you, Allah......

Selasa, 29 November 2011

....karena Kita.....


......penaku sepertinya patah, tintaku seakan mengering, untuk apalagi jutaan kata, ketika KAU saja, kini tlah cukup mewakilinya...
you and me = us ^_^

Sabtu, 08 Oktober 2011

08 Oktober 2011

Cukup lama kutekuri gundukan tanah kering di depanku. Panasnya cuaca karena musim kemarau, semakin menambah nuansa kering di tengah hari itu.Tanah yang kuingat jelas berwarna merah 5 tahun lalu, kini tlah banyak bercampur batu dan kerikil – kerikil kecil. Kuingat – ingat lagi, kapan terakhir aku mengunjungi tempat itu. Seminggu yang lalu? Sebulan? Tiga bulan? Ah.. saking seringnya, hingga aku sama sekali tak mampu mengingat, kapan terakhir kali menaburkan bunga mawar di atasnya.
Semenit….Dua menit….hingga 10 menit berselang, tak ada doa maupun lafadz – lafadz Illahi yang mengalir dari lisanku. Aku masih begitu asyik menikmati perenunganku, sambil sesekali mencoba menggelar adegan latar yang kulakonkan sendiri. Siang itu, rasanya begitu mudah menghadirkan sosok lelaki hebat yang sangat kucintai dalam hidupku itu. Walau hanya dalam bayang – bayang imajinasiku, ia seakan begitu nyata. Teduh suaranya, lembut belainya, wangi tubuhnya, dan segala tentang dirinya,membuatku semakin hanyut dan sejenak lupa tentang kapan dan di mana aku berada.
Tak terasa, sudah 5 tahun berlalu sejak kepergian lelaki sederhana nan penuh canda tawa itu. Rasanya tak perlu lagi kuceritakan, bagaimana rindu dan air mata ini slalu membuncah dan mengalir untuknya. Sama sekali tak ada maksud hatiku, untuk membuka dan kembali bernostalgi degan segala kisah dan kenang tentang dirinya. Namun di saat – saat seperti ini, sungguh tak mampu kucegah hatiku untuk sekedar menyapa dan tersenyum pada rangkaian kisah yang pernah ada. Saat – saat di mana, Allah memberi hadiah yang begitu indah di 23 tahun hidupku.
Ah.. Bapak… gadismu yang manja dan dulu begitu nakal, ingin mengabarkan sebuah berita bahagia untukmu. Seorang lelaki sederhana nan bersahaja sepertimu, telah memenangkan hatiku. Tapi kau tak perlu cemburu, Pak… Karena Ia sangat cerewet, sama sepertimu. Ia begitu perhatian, serupa sosokmu. Tentu ia juga cerdas dan pandai, seperti dirimu. Dan insyaAllah yang paling utama, ia adalah sosok lelaki solih yang kelak akan selalu membimbingku, berjuang, dan sejalan dalam iman.
Bapak… sungguh tak ada maksud hatiku untuk membuatmu cemburu. Aku masih ingat bagaimana sewot dan sebal rautmu, saat beberapa kali aku berceloteh riang tentang sahabat – sahabat lelakiku semasa masih kanak – kanak dulu. Aku sangat tahu bahwa kau tak ingin, ada lelaki yang lebih spesial di hatiku selain dirimu. Tapi beberapa saat lagi,pak… ketika kedewasaan telah menyapaku, izinkan putri kecilmu ini, untuk memutuskan & melabuhkan hati pada imam pilihannya. Beberapa jam lagi pak… walau tanpa kehadiranmu, ikhlaskanlah seorang wali hakim yang mengambil wewenang untuk menikahkan putrimu ini. Aku berjanji, rasa sayang itu tak akan pernah berubah. Kau tetap lelaki & ayah terhebat yang memiliki tempat tersendiri di hatiku. Dan bersamanya, Pak… kuingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik & solihah, hingga terus bisa mengiringi perjalananmu dengan doa – doaku.

Malam ini, di ruang yang telah berhias bunga – bunga wangi nan cantik ini, di tengah sedu sedan dan air mata bahagia bercampur rindu, kumantabkan hati dalam sebuah harap dan doa, Ya Rabbanaa… persatukanlah aku kelak, dengan mereka yang kucintai, di Jannah-Mu…… aamiin….

Kamis, 15 September 2011

....Tik....tuk....

....tik....tuk.....tik...tuk.....tik...tuk....
ada bahagia yang menyelinap,

....tik....tuk.....tik...tuk.....tik...tuk....
namun ada pula rasa takut yang senyap - senyap hinggap,
....tik....tuk.....tik...tuk.....tik...tuk....
dan sang waktu, ia tetap saja terus merayap........




Sabtu, 20 Agustus 2011

Semua tentang Kita

Gemuruh yang memecah keangkuhan sunyi....
kita tertawa lepas di bawahnya,
berlarian dan saling berteriak seperti anak kecil,
sahut menyahut seakan tak mau kalah oleh gemuruh air,
ingin tunjukkan pada semesta, bahwa kita ada......

Setapak yang kadang terjal dan mendaki,
kita lalui bersama tanpa sedikitpun peduli.
Kita tahu.... Kita telah sama - sama lelah,
namun senyum dan celoteh itu, yang menguatkan kita untuk terus melangkah...

Beralaskan pasir putih,
dan ombak yang datang dan pergi membawa gelitik buih.
Berbalut semangat dan tawa,
mengalir berjuta mimpi dan cita dari lisan kita
Sambil tak kapok - kapoknya menebak, mana benua Australia.
Lupa waktu,
memandangi laut lepas, seakan kita pun bersama - sama ingin terbang bebas....

Gubug kecil di pinggiran danau yang menjadi saksi.
Bagaimana kita berdebat tentang rajawali,
dan sok peduli mengomentari sampah yang berserak di sana - sini.
Satu yang paling kuingat dalam perjalanan ini.
Kita yang saling menertawakan,
kekonyolanku berteriak histeris tak karuan,
saat kita nekat mencuri jalan,
dan harus meniti jembatan yang cukup tinggi..

Malang ( Coban Rondo - Coban Talun - Coban Pelangi - Coban Rais - Balekambang - Lembah Dieng )
Kita pernah ada dan menoreh senyum di sana.......
 Aku merindukan kita..........

Sabtu, 06 Agustus 2011

Bintang



Bintang - bintang itu, berkelip isyaratkan sesuatu,
adakah ia merindu..... ? 

Rabu, 03 Agustus 2011

Ibu atau Istri

Ketika seorang lelaki dihadapkan pada pilihan, ibu atau istrinya, mana yang harus ia dahulukan ?

Tergelitik sekali hati ini, ketika melihat salah satu scene sinema Ramadhan 'Para Pencari Tuhan 5' yang menceritakan tentang bagaimana seorang suami dihadapkan pada kondisi dilematis, harus memilih atau mendahulukan siapa, antara ibu atau istrinya. Azam (Agus Kuncoro) memilih untuk keluar rumah dan pura - pura tidak mendengar apapun, ketika ibu dan Aya (Zaskia) istrinya, memanggil namanya dari dalam kamar mereka pada waktu yang bersamaan. Baginya itu adalah yang paling adil, ketimbang bingung memutuskan harus masuk ke kamar yang mana. Hingga celetuk Azam yang terakhir kudengar, "Ibu dan istriku... keduanya adalah pintu surga yang sama - sama sulit......"
Dan masih banyak scene - scene lain, yang mengisahkan hal serupa. Yang dari kesemuanya, selalu membuatku tersenyum - senyum geli sendiri namun akhirnya merenung dan tergelitik untuk menuliskan ini.

Hasil surveyku terhadap beberapa kawan lelaki, hampir keseluruhan dari mereka, adalah 'anak ibu'. Bukan. Bukan berarti anak ibu yang aku maksud di sini adalah anak manja yang selalu bersembunyi di balik ketiak ibunya. Anak ibu yang kumaksud, adalah mereka yang begitu menyayangi dan sangat dekat sekali dengan ibunya. Ya, sebengal apapun dia, secuek apapun sosoknya, tapi saat dihadapkan pada satu kata, ibu, semua tadi langsung berganti dengan kelembutan dan kasih sayang. Aku pribadi, adalah seseorang yang begitu mengagumi siapapun lelaki yang sangat menyayangi dan memuliakan ibunya. Karena biasanya, dengan sikap dasar itu, mereka pun akan selalu memuliakan wanita, termasuk istrinya nanti.

Lalu bagaimana jika suatu hari nanti kita dihadapkan pada kondisi, memiliki suami yang begitu menyayangi ibunya ? Atau sebaliknya, memiliki ibu mertua yang sangat menyayangi anak lelakinya ? Tak perlu meriang dan panas dingin dulu. Yuk, coba kita pahami lagi bagaimana kedudukan ibu, suami dan kita sebagai seorang istri.
Ibu, adalah seseorang yang mengandung, melahirkan, merawat, serta mendidik suami kita hingga bisa sesempurna saat ini. Suatu hal yang wajar jika seorang ibu begitu mencintai dan menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Bukankah demikian juga yang tercermin dari ibu kita sendiri. Dan dalam Islam, bagi seorang lelaki yang telah menikah, yang paling berhak atas ketaatan dirinya adalah ibunya. Sedangkan yang paling berhak atas ketaatan dan diri seorang istri adalah suaminya. Tentunya ini juga tidak berarti bahwa seorang suami hanya wajib memberikan ketaatan dan perhatian lebih kepada ibunya seorang, karena hak seorang istri kepadanya, juga menuntut sebuah tanggung jawab besar yang harus ditunaikan. Seorang suami yang berbekal ilmu, dan tentunya iman dan taqwa, pasti mampu dengan adil mengkondisikan hal ini sesuai keadaan dan kebutuhan saat itu. Suami jugalah yang wajib mendidik dan mengajarkan pada istrinya, bagaimana adab kepada kedua orang tua. Baik kepada kedua orang tuanya sendiri, maupun kedua orang tua suami. Mendidik melalui teladan yang diberikan, mungkin adalah cara yang terbaik. Dengan suami yang menghormati dan memuliakan orang tua istri, maka seorang istri pun diharapkan juga akan menghormati dan memuliakan orang tua suaminya.

Seorang istri, siapapun dan bagaimanapun sosoknya, pastilah ingin diperhatikan dan disayangi secara utuh. Terlebih oleh seseorang yang telah mengkhitbah dan menikahinya. Dan satu hal penting yang harus disadari oleh seorang istri nanti, bahwa mereka tidak hanya menikahi seorang lelaki saja, melainkan juga apa - apa saja yang suaminya miliki, termasuk orang tua dan seluruh keluarganya. Ibu suami kita nanti, juga adalah ibu kita. Jadi tidak perlu ragu untuk bersahabat dengannya. :-)

Perselisihan dan perbedaan pendapat yang terjadi di tengah perjalanan nanti, tentu adalah hal yang sangat lumrah. Karena justru disitulah letak indahnya sebuah pernikahan. Ketika beragam perbedaan tidak harus selalu dileburkan, melainkan diselaraskan walau tetap dengan warna warninya masing - masing. Dan yang terpenting, dari situlah kita dapatkan hikmah yang mendewasakan.
Jauhkan diri dari segala prasangka. Ikhlaskan setiap langkah hanya untuk beribadah dan mencari keridhoan-Nya. Ketika kita berjuang sekuat tenaga untuk menjadi istri yang baik, ibu suami kita pun pasti dengan otomatis akan menyayangi dan menghargai perjuangan kita. Karna beliau tahu, bersama kita, putra tercintanya pun mendapatkan kebahagiaan.

Rasa cemburu adalah rasa yang begitu wajar dan sangat manusiawi. Namun jika hal ini bisa sama - sama kita sadari dan pahami, tak ada alasan lagi bagi seorang istri untuk cemburu berlebihan terhadap ibu suaminya, bukan? :-)


~lecutan semangat bagi diri sendiri,untuk terus belajar dan belajar~

Selasa, 02 Agustus 2011

Menyapamu (kembali)

Tak ada yang lebih pantas terucap dari lisan ini selain ungkap syukur tak terhingga, karena Allah telah sekali lagi memberi aku, kamu, dan kita semua kesempatan untuk menyapa Ramadhan.
Selalu ada semangat baru.... selalu ada kisah dan hikmah baru.....selalu ada jiwa - jiwa yang terlahir baru.... Itulah yang kurasakan setiap kali Ramadhan datang. Bagaimana mungkin bahagia tak menyapaku pula di saat - saat seperti ini. Hari - hari yang tak pernah tak kurindukan kehadirannya di sepanjang tahun.

Entah kebetulan atau apa, Ramadhan kali ini dimulai di tanggal 1 Agustus, dengan harinya yang Senin pula. Hari di mana semua orang mengawali aktivitasnya seminggu ke depan. Bagiku, ini terasa pas sekali. Dan pagi tadi, walau masih dengan mata sedikit lengket dan jiwa yang aras - arasen, kupaksakan raga ini membelah dinginnya udara pagi bersama 'Upik' yang kini adalah teman setia ke manapun aku pergi.
Tiba di halaman parkir kantor, tak terlalu banyak yang berbeda. Hanya yang kurasakan, pagi itu terasa sunyi dan lengang. Entah aku yang kepagian, atau memang mayoritas orang lebih memilih 'beribadah' lebih maksimal di awal Ramadhan ini.

Ada hikmah dan kisah baru yang langsung dihadirkan oleh Allah, di awal Ramadhanku ini. Ya, aku, mungkin lebih tepatnya kami, baru saja kehilangan seorang sahabat, kakak, istri, sekaligus ibu yang ketegaran & ketabahannya patut diteladani. Duka menyapa kami.
Mbak Yurike, begitu kami biasa memanggilnya, dipanggil oleh Allah di usianya yang masih begitu muda hari Sabtu lalu. Mbak Rike adalah kakak kelas yang terpaut 4 tahun di atasku saat SMK dulu. Aku sendiri baru mengenalnya saat telah benar - benar hijrah di kota kelahiranku ini. Kala itu, aku bersama rekan sesama alumni yang berdomisili di Jember, mengunjungi mbak Rike untuk menjenguk sekaligus menyampaikan amanah dari rekan - rekan alumni Wikusama yang tersebar di berbagai kota dan provinsi.
Sudah cukup lama memang, mbak Rike harus berjuang dan bertahan dengan Diabetes yang semakin waktu makin melemahkan tubuhnya. Hingga terakhir, ia harus benar - benar bergantung pada suntikan insulin yang tidak pernah boleh telat waktu sekaligus takarannya.
Dengan kondisi kesehatan seperti itu, mbak Rike tidak pernah berhenti untuk terus berkarya. Ia memang sosok perempuan yang lincah dan selalu ingin memanfaatkan setiap peluang yang ia miliki. Terlihat jelas sekali di matanya, ia tak pernah mau bergantung dan menyusahkan siapapun. Kemauannya tinggi, walau sesungguhnya ia sangat menyadari itu tak didukung oleh kondisi fisiknya.
"Aku cuma ndak pengen nganggur dan akhirnya malah ngerasain + kepikiran sama sakitku.... tambah stress..." itu yang selalu ia ucapkan saat kami, sahabat - sahabat dan keluarga, mengingatkan tentang kondisi kesehatannya.

Mulai dari usaha catering yang dikerjakannya seorang diri, reseller peralatan rumah tangga, krupuk, aneka makanan,kue kering, souvenir, dan apapun yang bisa ia jual, semua dilakoninya demi terus bertahan dan melawan sisi lain dari jiwanya yang memaksa untuk kalah dan menyerah pada penyakitnya.Mbak Rike benar - benar mengajarkan padaku tentang keuletan, kerja keras, dan perjuangan dalam hidup. Malu rasanya, jika menyadari diri yang diberi kesempurnaan dan kesehatan ini, masih sering kufur akan nikmat dan mudah mengeluh saat mendapat cobaan.

Yang terbayang pertama kali saat mendengar berita duka ini adalah, Jendra dan Bisma. Dua putra kecil yang dititipkan Allah pada ibu muda ini. Tak tega rasanya membayangkan 2 anak yang masih berada di usia emas, harus kehilangan peluk dan belai mesra kasih sayang seorang ibu. Aku hanya percaya, bahwa Allah adalah Maha Penjaga, Maha Pelindung, dan Maha Kaya. Aku pun yakin, takdir ini adalah yang terbaik bagi mbak Rike juga seluruh keluarga yang ditinggalkan.

Hal penting lain yang juga tak mungkin kulupakan dalam episode ini, adalah tingginya kesetiakawanan dan kepedulian yang diajarkan oleh ikatan alumni SMK ku ini. Aku sendiri yang menyaksikan dengan mata kepala ini, mulai dari mbak Rike masih sakit, hingga terakhir kemarin,  bantuan baik berupa spirit, doa hingga materi tak henti - hentinya mengalir. Tak heran saat kami berpamitan untuk pulang sambil menyerahkan amanah dari teman - teman, Ibu mbak Rike langsung memeluk kami. Tangisnya pun pecah. Beliau menyampaikan ungkap haru & terima kasih atas kepedulian sahabat - sahabat mbak Rike, alumni MOKLET selama ini.
SubhanAllah... sungguh aku bersyukur sekaligus bangga, telah menjadi bagian dari keluarga besar nan hangat ini. Semoga silaturahim ini akan kekal terjaga hingga nanti. Hingga satu persatu dari kita pun, akan memasuki episode yang mbak Rike jalani saat ini. Dan semoga kita masih mampu saling menebarkan kehangatan dan manfaat.

"Selamat jalan sahabat kami...... moga Allah mengampuni segala dosa dan memberikan padamu tempat yang terbaik di sisi-Nya........"

p.s. : "Jendra....Bisma.... tetap jadi anak yang kuat ya.... Percayalah...bunda sangat menyayangi kalian.... Dan bahagiakan bunda di sana, dengan menjadi anak yang soleh......"

Kamis, 28 Juli 2011

Senja

Aku takut menjadi tua.
ketika raga yang renta, tak lagi kuasa berikan manfaat bagi sesama.


Aku tak yakin sanggup hingga berusia senja.
Jika langkah demi langkah, hanya kuhiasi dengan dosa.


Sungguh, aku semakin takut untuk menjadi tua.
Jika tempat tidur di mana kita biasa bercanda,
sofa - sofa usang di mana kita biasa bercengkrama,
ayunan & taman belakang rumah di mana kita biasa saling menggoda,
dapur tempat di mana kita tak pernah mau kalah untuk menjadi yang pertama,


tak kudapati kau di sana........

Selasa, 26 Juli 2011

Menjelang Fajar

Sambil tersenyum dan tersipu malu.... kugoreskan sebuah nyanyian tentang cinta lewat selembar kertas berwarna ungu muda itu...
Aku jatuh cinta.... humm...mungkin! Karna dari kata - kata yang tertuang di sana, terbaca jelas kerinduan... rasa malu..... bahagia..... teraduk dan bersatu dalam sebuah prosa. Ini surat cintaku yang pertama.
Alamak... bagaimana bisa, aku bersyair dengan demikian indahnya? Aku yakin, yang menuliskannya bukan aku yang biasanya, melainkan jiwaku yang lain yang baru saja hadir dari surga dan ungkapkan keindahan di sana.
Indahnya di mabuk asmara.........

Kekhusyukanku terusik oleh sebuah lengan yang tiba2 terjulur ke arahku, dan dengan begitu sigap meraih selembar kertas nan wangi yang membuatku nyaris menjadi seorang pujangga.
Oh tidak.... bapak merebutnya dariku... dan tentunya dengan seribu rasa penasarannya, ingin segera ia baca lembaran yang berada di genggamannya kini. Lembaran yang membuat gadisnya tersipu - sipu malu sedari tadi.
Pucat pasi rasanya wajah ini, kutakut... kumalu jika bapak sampai membacanya. Jika bapak sampai tahu, putrinya ini sedang jatuh cinta.......
Dengan tak kalah sigap aku merampas kembali kertas yang dah mulai agak lungset (lecek red.) dan..berhasil....!!!
Hohoho...jangan remehkan putrimu ini bapak...! Aku masih belum kalah sigap dengan dirimu yang katanya dulu jago karate...

Dengan segera ingin kusimpan kertas itu..atau kalo perlu ingin kurobek2 saja sekalian biar tak ada yang bisa membacanya & merebutnya lagi dariku. Tapi belum sempat kulaksanakan niatku, bapak menghambur ke arahku dan menyerang titik kelemahanku! Aku gelian banget orangnya. Dan....Terjadilah adegan "itik2" yang berlangsung cukup seru itu! Aku hanya bisa tertawa...lemas...dan akhirnya menyerah...... Uuuuuh..... gak adil...gak fear! Aku memilih menyerah daripada harus mati lemas kegelian....
"Hahahaha.... bapak menang.....! Cie.... ada yang lagi kasmaran nih..... ", ucapnya penuh dengan kesombongan.
Hiks... sambil malu2...kubalas meng"itik2" bapak... tapi sayang....beliau gak gelian.
Kami terlarut dalam tawa....dan kehangatan khas ayah dan gadisnya.

Hingga adzan subuh pun berkumandang.........
=========================================


Aaah..... ternyata aku hanya bermimpi. Tak ada bapak di sampingku. Yang kutemui hanya guling, Yama, serta novel2 berserakan yang selalu menemani tidurku.

"Bapak.... kangen aku, ya? Aku juga sangat merindukanmu.... "