Tampilkan postingan dengan label renung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

Ibu atau Istri

Ketika seorang lelaki dihadapkan pada pilihan, ibu atau istrinya, mana yang harus ia dahulukan ?

Tergelitik sekali hati ini, ketika melihat salah satu scene sinema Ramadhan 'Para Pencari Tuhan 5' yang menceritakan tentang bagaimana seorang suami dihadapkan pada kondisi dilematis, harus memilih atau mendahulukan siapa, antara ibu atau istrinya. Azam (Agus Kuncoro) memilih untuk keluar rumah dan pura - pura tidak mendengar apapun, ketika ibu dan Aya (Zaskia) istrinya, memanggil namanya dari dalam kamar mereka pada waktu yang bersamaan. Baginya itu adalah yang paling adil, ketimbang bingung memutuskan harus masuk ke kamar yang mana. Hingga celetuk Azam yang terakhir kudengar, "Ibu dan istriku... keduanya adalah pintu surga yang sama - sama sulit......"
Dan masih banyak scene - scene lain, yang mengisahkan hal serupa. Yang dari kesemuanya, selalu membuatku tersenyum - senyum geli sendiri namun akhirnya merenung dan tergelitik untuk menuliskan ini.

Hasil surveyku terhadap beberapa kawan lelaki, hampir keseluruhan dari mereka, adalah 'anak ibu'. Bukan. Bukan berarti anak ibu yang aku maksud di sini adalah anak manja yang selalu bersembunyi di balik ketiak ibunya. Anak ibu yang kumaksud, adalah mereka yang begitu menyayangi dan sangat dekat sekali dengan ibunya. Ya, sebengal apapun dia, secuek apapun sosoknya, tapi saat dihadapkan pada satu kata, ibu, semua tadi langsung berganti dengan kelembutan dan kasih sayang. Aku pribadi, adalah seseorang yang begitu mengagumi siapapun lelaki yang sangat menyayangi dan memuliakan ibunya. Karena biasanya, dengan sikap dasar itu, mereka pun akan selalu memuliakan wanita, termasuk istrinya nanti.

Lalu bagaimana jika suatu hari nanti kita dihadapkan pada kondisi, memiliki suami yang begitu menyayangi ibunya ? Atau sebaliknya, memiliki ibu mertua yang sangat menyayangi anak lelakinya ? Tak perlu meriang dan panas dingin dulu. Yuk, coba kita pahami lagi bagaimana kedudukan ibu, suami dan kita sebagai seorang istri.
Ibu, adalah seseorang yang mengandung, melahirkan, merawat, serta mendidik suami kita hingga bisa sesempurna saat ini. Suatu hal yang wajar jika seorang ibu begitu mencintai dan menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Bukankah demikian juga yang tercermin dari ibu kita sendiri. Dan dalam Islam, bagi seorang lelaki yang telah menikah, yang paling berhak atas ketaatan dirinya adalah ibunya. Sedangkan yang paling berhak atas ketaatan dan diri seorang istri adalah suaminya. Tentunya ini juga tidak berarti bahwa seorang suami hanya wajib memberikan ketaatan dan perhatian lebih kepada ibunya seorang, karena hak seorang istri kepadanya, juga menuntut sebuah tanggung jawab besar yang harus ditunaikan. Seorang suami yang berbekal ilmu, dan tentunya iman dan taqwa, pasti mampu dengan adil mengkondisikan hal ini sesuai keadaan dan kebutuhan saat itu. Suami jugalah yang wajib mendidik dan mengajarkan pada istrinya, bagaimana adab kepada kedua orang tua. Baik kepada kedua orang tuanya sendiri, maupun kedua orang tua suami. Mendidik melalui teladan yang diberikan, mungkin adalah cara yang terbaik. Dengan suami yang menghormati dan memuliakan orang tua istri, maka seorang istri pun diharapkan juga akan menghormati dan memuliakan orang tua suaminya.

Seorang istri, siapapun dan bagaimanapun sosoknya, pastilah ingin diperhatikan dan disayangi secara utuh. Terlebih oleh seseorang yang telah mengkhitbah dan menikahinya. Dan satu hal penting yang harus disadari oleh seorang istri nanti, bahwa mereka tidak hanya menikahi seorang lelaki saja, melainkan juga apa - apa saja yang suaminya miliki, termasuk orang tua dan seluruh keluarganya. Ibu suami kita nanti, juga adalah ibu kita. Jadi tidak perlu ragu untuk bersahabat dengannya. :-)

Perselisihan dan perbedaan pendapat yang terjadi di tengah perjalanan nanti, tentu adalah hal yang sangat lumrah. Karena justru disitulah letak indahnya sebuah pernikahan. Ketika beragam perbedaan tidak harus selalu dileburkan, melainkan diselaraskan walau tetap dengan warna warninya masing - masing. Dan yang terpenting, dari situlah kita dapatkan hikmah yang mendewasakan.
Jauhkan diri dari segala prasangka. Ikhlaskan setiap langkah hanya untuk beribadah dan mencari keridhoan-Nya. Ketika kita berjuang sekuat tenaga untuk menjadi istri yang baik, ibu suami kita pun pasti dengan otomatis akan menyayangi dan menghargai perjuangan kita. Karna beliau tahu, bersama kita, putra tercintanya pun mendapatkan kebahagiaan.

Rasa cemburu adalah rasa yang begitu wajar dan sangat manusiawi. Namun jika hal ini bisa sama - sama kita sadari dan pahami, tak ada alasan lagi bagi seorang istri untuk cemburu berlebihan terhadap ibu suaminya, bukan? :-)


~lecutan semangat bagi diri sendiri,untuk terus belajar dan belajar~

Jumat, 13 Juni 2008

Mengulang Hari

Allahu Rabbi....
Betapa malunya diri, yang hingga kini belum bisa menjadi layaknya mentari bagi bumi...

Beri hamba kesempatan ya Allah,
izinkan hamba tuk berbenah menjadi jauh lebih baik lagi...
Jangan sampai orang berkata,

"Kau bukanlah apa, padahal sudah dewasa......"

Kamis, 03 April 2008

Elegi kemarin sore....

" Seberapa mudahkah kau meyakini, bahwa yang kau rasakan itu cinta.... ? "

Hingga kini, terlalu sulit bagiku untuk bisa menerima atau melontarkan "kata" yang menurutku sakral itu.
Seiring berjalannya usia yang mendewasa, tlah banyak pula roman dan kisah yang kulihat dan temui, bahkan beberapa tak sengaja mampir. Namun nyaris tak bisa kutemui & kuingat, bibir yang dianugerahkan Tuhan untukku ini, melisankan "kata" itu.
Mungkin lebih tepatnya, memang tak pernah.........

Pernahkah aku jatuh cinta?
Entah...
Sekali lagi, terlalu sulit untuk menerjemahkan rasa itu... yang kurasakan sendiri sekalipun! Berbagai macam karakter yang ikut mengisi hari - hari ku hingga kini, tak cukup membuatku belajar, bagaimana mengekspresikan apa yang aku rasakan. Karna memang aku tak tahu.. atau tak mau tahu? Sekali lagi entah......

Satu.. dua... tiga.. dan sekian... terhitung pernah mencoba menawarkan "makna" itu. Dan aku? Selalu dan selalu... dihadapkan pada kondisi serba salah... gak enak.... khawatir... kalau - kalau akhir indah yang diharapkan, justru berganti menjadi mimpi buruk nan suram.
Ketakutanku beberapa kali terbukti. "Kata" itu yang membuatku tak mengenal lagi kawan, "kata" itu yang membuatku menjadi orang lain di tengah sahabat - sahabatku sendiri, "kata" itu pula yang begitu mudah merubah sosok usil dan periang, menjadi seorang yang kaku dan begitu menjaga image dirinya.
Ah... pernah aku begitu membenci "kata" itu dan segala yang berhubungan dengannya. Termasuk siapapun yang berani - berani mencoba, "memainkan"-nya denganku.

Jika suatu hari kau mendengar "kata" itu terlontar untukmu dari sebuah hati, yang pemiliknya terhitung baru saja mengenalmu.... Lebih - lebih jika dia hanya mengharapkanmu untuk sebuah "perjalanan" yang tak pasti dan tak berkomitmen....
Kira - kira apa yang ada dalam bayanganmu?
Dan salahkah jika aku.....dia..... atau siapapun akhirnya berfikir,
"Sebegitu mudahkah?"
"Apa parameternya?"
"Seberapa yakin dan siapkah?"

Sisi kejam dan sadis jiwaku pun, jika tak kuhalangi, bisa saja berfikir, "Dasar tukang obral!"


Terlalu suci... sungguh terlalu agung..... jika fitrah manusia yang telah dianugrahkan Allah itu, menjadi sesuatu yang begitu mudahnya mengalir, hingga akhirnya menjadi tak berharga dan bermakna lagi.
Bukankah lebih indah, jika sesuatu yang suci tadi, diimplementasikan pada objek yang juga memang indah dan pantas!
Siapakah dia?
Tentunya insan yang untuk menemui & mendapatkannya, kau harus melalui semedi panjang dalam doa, perjuangan, dan kesabaran....