Jumat, 13 Juni 2008

Mengulang Hari

Allahu Rabbi....
Betapa malunya diri, yang hingga kini belum bisa menjadi layaknya mentari bagi bumi...

Beri hamba kesempatan ya Allah,
izinkan hamba tuk berbenah menjadi jauh lebih baik lagi...
Jangan sampai orang berkata,

"Kau bukanlah apa, padahal sudah dewasa......"

Selasa, 10 Juni 2008

Biskit, 15 - 18 Mei 2008 (part 1)

Kamis, 15 Mei 2008

Sore itu mendung hitam menggelayuti langit, menggelitik rasa ragu untuk segera meninggalkan "pos" tempat ku berkarya sehari - hari. Pesan melalui ponsel dari salah seorang rekan senior, menyampaikan bahwa aku ditunggu di sekret (sebutan kami untuk basecamp tercinta) tepat pukul 16 : 30, dan akan segera berangkat ke lokasi bersama rekan - rekan senior lain yang juga menyusul.
Pukul 16:00, kutinggalkan "pos" sambil memastikan semua akan baik - baik saja selama aku tinggal beberapa hari ke depan. Beginilah nasib penjaga pos yang harus bertahan & bersiaga seorang diri setiap harinya. Niat mengambil cuti barang sehari pun, selalu "digandoli" dan baru disetujui jika alasan yang aku kemukakan benar - benar mendesak dan masuk akal. Tak ingin kumembahasnya, karna saat ini aku sudah siap di sekret menunggu rekan - rekan yang katanya juga akan berangkat menyusul.

Setelah personil lengkap, ditambah checking barang bawaan, kami berempat start dari sekret pukul 17:00, namun lebih dulu mengantarkanku ke rumah mengambil barang bawaan yang tentunya sudah kupacking malamnya.
Bang Malik vs Mbak Agnes dan Bang Iga vs aku. Berempat kami menuju Biskit, yang sedianya menjadi tempat orientasi Anggota Baru LPME Ecpose 2008. Dan aku, salah satu pesertanya, baru saja berangkat menyusul karna suatu alasan yang dapat dimaklumi.

Adzan maghrib berkumandang, kami masih bergelut bersama kendaraan di jalanan. Beruntung, rumah salah seorang alumni Ecpose tak jauh lagi. Kami sempatkan mampir untuk menjemput mbak Erlin, sholat Maghrib, sekaligus melengkapi bawang bawaan (merampok berbotol - botol air). Menjelang Isya', kami lanjutkan perjalanan menuju Biskit yang sudah tak jauh lagi. Formasi berubah, karena jumlah kami bertambah. Mbak Erlin membawa satu motor lagi miliknya. Dan aku putuskan untuk membawa motornya, mengingat mbak Erlin yang imut tak mungkin jika harus membonceng aku yang sebesar ini! Formasi saat ini, Bang Malik vs Mbak Agnes (tetep), Aku vs Mbak Erlin, Bang Iga vs motornya sendiri :D

Memasuki kawasan perkampungan, jalanan mulai dipenuhi pasir dan bebatuan. Untuk penerangan jalan, kami hanya mengandalkan lampu motor, karna di sana sangat minim bahkan nyaris tak ada lampu. Rumah penduduk pun bisa dihitung, dan cenderung saling berjauhan satu sama lain. Kiri kanan sepintas yang kulihat, hanya persawahan dan pepohonan besar.
Mendekati lokasi (Biskit), keadaan jalan semakin parah, suasana pun begitu gelap dan sepi. Tak terhitung berapa kali motor yang kami tumpangi harus terpeleset dan nyaris terjatuh karna kondisi tersebut. Mbak Erlin sempat kehilangan sandalnya selama beberapa menit (entah melayang ke mana, kesulitan mencari karena suasana begitu gelap), setelah nyaris terjatuh dari motor karena terpeleset pasir. Fiiuuhh... kalo tadi jadi sameyan yang bawa motor, trus aku bonceng di belakang, bakal jadi gimana ya mbak... :P
Sama sekali tak tertemui olehku orang yang lewat atau berada di luar rumah, padahal saat itu baru jam 7 malam. Sempat merinding juga aku dibuatnya.

Pertempuran melawan gelap dan jalanan itu berakhir juga. Kuikuti Bang Malik yang memarkir motornya di depan rumah salah seorang penduduk. Sambil celingak - celinguk, kuamati lokasi sekeliling. Sama saja. Gelap dan sepi. Tak ada tanda - tanda, keberadaan kawan - kawanku yang sudah berangkat lebih dulu dengan kereta siang tadi.
Teki - teki itu terjawab, setelah mbak Agnes menyuruhku mengikuti Bang Malik. Rumah penduduk tempatku memarkir motor tadi, tentu saja bukan tempat orientasinya. Lokasi yang akhirnya kuketahui bernama Biskit dan berupa tanah lapang dikelilingi pohon - pohonan besar ini, ternyata masih harus dijangkau dengan menyeberangi sungai kecil.

Sampai lokasi, para panitia orientasi langsung menyambutku. Menanyakan alasan keterlambatan, lalu check barang bawaan. Kenak deh aku! Sisir dan sabun muka serta beberapa peralatan lain, diamankan alias disita oleh mereka. Memang di list, yang boleh dibawa hanya peralatan mandi. Tapi sabun muka kan peralatan mandi ya? Ah... seperti tak pernah ikut PLDK (Pendidikan dan Latihan Dasar Kepemimpinan) semasa sekolah dulu aja.
Barang - barang yang semula terpacking rapi, kini berserakan di atas rerumputan. Kumasukkan sekenanya, lalu bergabung bersama rekan - rekan.
Peserta kegiatan tersebut, tak lebih dari 17 orang. Sembilan orang wanita, dan delapan orang pria. Malam itu, kami terbagi dua. Para peserta pria bertugas mendirikan tenda, dan kami para wanita berkutat dengan kompor menyiapkan makan malam. Menu malam itu, mie goreng instan.

Jam 20:00, kami dikumpulkan untuk mengikuti agenda acara diskusi ke-ECPOSE an. Dengan Mbak Erlin dan Mbak Agnes sebagai pemateri, kami diajak untuk tenggelam lebih dalam lagi, mengenal dan memahami segala sesuatu tentang ECPOSE. Mulai dari sejarah, struktur, perjalanan kegiatan, dipaparkan pada kami malam itu. Beratapkan langit dan berselimutkan dinginnya malam, satu dua pertanyaan muncul dari kami mengawali diskusi tersebut.

Break sekitar 1 jam, acara dilanjutkan dengan agenda selanjutnya. Aku menyebut acara ini, "Curhat dan Kenali Aku Lebih Jauh". Karna di sini, setiap peserta diwajibkan membeberkan segala sesuatu tentang dirinya, mulai dari siapa dia, apa kelebihan dan kekurangannya, hingga senior dan teman magang (selain sebagai peserta, sebelum pelantikan, status kami masih anggota magang) yang paling disukai dan tidak disukai. Acara itu berlangsung cukup seru dan ramai. Terbongkar juga siapa yang suka siapa, dan siapa yang alergi siapa. Malam itu kami harus saling membunuh rasa gengsi, sungkan, ataupun malu. Kami harus jujur!
Sekalipun terkadang memang menyakitkan, tapi acara ini tak lebih adalah proses pengenalan lebih jauh satu sama lain, dan bertujuan sebagai bahan koreksi diri. Tentunya ini sangat bermanfaat bagi kami, yang nantinya akan berjuang bersama dalam satu organisasi.

Pukul 23:00 acara diakhiri. Kami dipersilahkan istirahat, dan diingatkan untuk agenda keesokan harinya. Sebelum menuju tenda masing2 untuk merebahkan badan, beramai - ramai kami menuju kali kecil, untuk berwudlu lalu melaksanakan sholat Isya' berjamaah.
Belum selesai sholat Isya' kloter kedua, sebagian peserta yang sudah masuk tenda, dipanggil untuk keluar dan berkumpul. Begitu rekan - rekan selesai sholat, kami semua dibariskan jadi satu. Bisa ditebak lah, apa yang terjadi sesudahnya. Ber-judulkan evaluasi, para panitia mulai "metani" apa saja yang sudah kami lakukan sehari tadi. Dipojokkan atau disudutkan, selalu menjadi ending dari acara evaluasi ini. Tak terlalu kami pikirkanlah, toh itupun yang juga akan kami lakukan jika berada di posisi mereka kelak. Dan bukankah tak terlihat seperti orientasi, jika tak ada ketegangan ? ;)

Beberapa kawan sudah tak terdengar lagi celotehnya. Terlelap. Mungkin semua kelelahan, karena menurut cerita, mereka berjalan dari stasiun kemari. Dengan jarak tempuh kurang lebih 4 - 5 km. Tentunya dengan medan yang tak mulus. Beruntung aku mengendarai motor, walau harus terpeleset beberapa kali dan tanganku yang terasa pegal hingga saat itu karna menahan setir. Ah... suasana ini mengingatkanku akan petualangan2 alam semasa masih di Malang dulu. Poncokusumo, Buring, Cuban Rondo, Cuban Talun..... Aku jadi kangen kawan - kawan seperjuangan di OSIS SMK dulu. Mereka yang kini lebih banyak berkutat dengan kesibukan kerja dan kuliah. Adakah yang beberapa kali waktu, masih mengisi waktunya dengan tidur di tengah hutan seperti yang kurasakan malam ini. Kulirik arloji dalam kegelapan. Sudah terlalu larut. Aku harus segera menyusul rekan - rekan, karna jam 4 pagi nanti kami sudah harus bangun untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya....


Jumat, 16 Mei 2008

Tak kusangka. Udara sedingin ini, kutemukan juga di kotaku yang terkenal panas. Kukira, tak ada yang bisa mengalahkan dinginnya Batu, Malang. Di pagi buta itu, kupaksakan mata yang masih tak mau berkompromi, untuk segera terbuka. Kubangunkan beberapa rekan yang masih tertidur. Aku sendiri terbangun, selain karna kedinginan, juga karena seekor binatang (sepertinya semut, entah spesies dan jenis apa) menggigit jari tengah tanganku. Yang pasti semut itu sudah membuat aku begitu kesakitan hingga akhirnya terbangun. Gigitannya panas dan menyisakan perih. Seandainya kutemukan, kutekadkan untuk menggigitnya balik!

Senam pagi akan dimulai pukul 05:00. Kusegerakan langkah menuju kali kecil untuk cuci muka dan wudlu. Tak usah tanyakan bagaimana dinginnya air sungai pagi itu....


===== TO BE CONTINUED =======

Rabu, 04 Juni 2008

Seniman Jalanan

Beberapa minggu belakangan ini, badanku serasa habis di jalan. Travelling keluar kota, bisa kulakukan lebih dari 2 kali dalam seminggu. Fiuuh... tak apalah, demi suatu misi mulia aku rela menjadi hafal rute perjalanan plus nama - nama kecamatan yang kulalui. Aku juga rela, petugas terminal, sopir, dan kondektur bus yang kebetulan beberapa kali aku tumpangi, jadi mengingat sosokku.
Tentang misi tadi, tak ingin kubahas saat ini. Karna perjuangan dan perjalanannya belum berakhir. Nanti saja kukisahkan jika semua telah menjadi pasti. (emang penting yah?! :P )

Dari minggu - minggu ku yang melelahkan itu, ada sedikit fragmen yang ingin aku angkat dan coba ceritakan di sini. Kebanyakan orang menyebut mereka dengan istilah "pengamen", tapi mulai kemarin aku memilih menyebut mereka dengan "seniman jalanan". Tak semua memang, tapi mereka inilah yang ingin aku kisahkan sekarang.
Bermodal gitar, ecek2 (botol kosong diisi pake batu atau apa aku tak tahu!), plus pipa yang dirancang sedemikian rupa hingga menghasilkan bunyi2an menyerupai gendang, dan tentunya suara/vokal (yg entah merdu atau tidak), cukup membuatku meng-apresiasi jiwa seni yang mereka miliki. Ini lepas dari konteks kelayakan hidup, pendidikan, dan sosial lho ya....
Tak jarang aku temui mereka yang bisa perform dengan baik atau setidaknya cukup menghibur perjalanan. Walau tak sempurna, namun aku yakin, jika saja mereka memiliki sarana, pembimbing, dan segala hal lain yang memadai, kisah mereka tidak akan hanya berhenti di sini, sebagai penyanyi jalanan... Dewa, Gigi, Ungu, KangenBand, bahkan Didi Kempot, bisa jadi punya saingan baru!

Aku merasa beruntung, telah menumpangi bus AKAS + AC tarif biasa jurusan Surabaya - Banyuwangi siang itu. Walau akhirnya harus terpanggang dalam bus sekira satu jam lamanya di Porong, aku tak menyesal jika pertemuan dengan seniman jalanan itu yang harus membayarnya. Sosoknya terlihat jelas bukan dari suku Jawa. Rambutnya yang kriwil - kriwil ditambah kulitnya yang berwarna gelap (tentunya bukan karna terpanggang panasnya Surabaya), membuatku berkesimpulan sepertinya dia orang "timuran". Saat bus keluar dari terminal Bungurasih, pria berusia 30an itu baru naik. Senyum dan lakunya ramah, mencari dan memberikan ruang bagi penumpang yang belum mendapatkan kursi. Tak seperti seniman jalanan lainnya, ia baru mulai menyanyi saat suasana dalam bis benar - benar tenang. Tak ada yang mondar - mandir mencari kursi, ataupun asongan yang menjajakan makanan. Seakan dia benar - benar ingin didengarkan.

Sampai TOL Gempol, pria ini baru mengangkat suara. Sekali lagi bukan untuk menyanyi, bukan pula memberikan pembukaan untuk mengawali penampilannya. Inilah yang akhirnya mencuri simpatiku padanya. Dengan begitu sederhana, dia memberikan tausiyah ringan tentang hidup, dengan gayanya yang khas-menyelipkan gelak tawa di tengah perkataannya-, lalu akhirnya mengalunlah tembang2 lawas The Bee Gees. Usai lagunya yang pertama, tak serta merta dia melanjutkan ke lagu yang kedua. Sedikit dia bahas dan ulas tentang lagu dan penyanyinya, lalu kembali memberikan tausiyah2 ringan.
Aku yakin, tak hanya aku yang dibuatnya kagum siang itu. Kulihat ekspresi dan antusias penumpang lain yang jadi begitu tenang dan menikmati perjalanan. Istighfar-nya Opick, mengalun indah dan menjadi lagu terakhir yang dibawakan seniman jalanan itu. Sambil memejamkan mata, tak terasa bibir ini ikut melantunkan istighfar..

Ah... jika mengingat tausiyah2 nya tadi, hati kecilku berontak. Kenapa sosok yang di mataku terlihat bijak dan pintar ini, hanya menjadi seorang pengamen? Adakah dia menikmati hidup dan profesinya? Atau lagi - lagi,tentang fenomena terbentur kondisi dan keadaan? Apapun alasannya, kuyakini, pria yang sempat membuatku merenung beberapa saat ini, menjadi pintar dan bijak karena ia telah belajar pada guru dan sekolah yang abadi. Yang aku... bahkan mungkin kebanyakan orang sering lupa dan tak menyadarinya. Tentang sekolah yang tak akan pernah ada kata lulus hingga kita menjemput ajal, yakni kehidupan....

Lima ratus atau seribu rupiah yang biasa keluar dari saku, sepertinya tak pantas untukmu, mas....

Jumat, 23 Mei 2008

Sekedar Oleh - Oleh

Indahnya kebersamaan ini. Pergumulan yang nyaris aku tinggalkan hampir 2 tahun lalu. Mulai dari idealisme, karakter, prinsip, hingga celoteh dan banyolan - banyolan konyol, selalu berhasil menyatukan kami. Menyatukan semua otak dalam perbedaan. Tak ada yang tertindih ataupun mati... semua bertahan, hidup, dan berjalan sendiri - sendiri...

Semua fragmen ini, membawaku pada 2 tahun silam. Tidak sama memang, setidaknya menyerupai. Dan itu tak urung membuatku menikmati nostalgi ini.
Benturan - benturan ide dibumbui angkuhnya egoisme, peluh perdebatan yang tak pernah bosan dan berhenti mengalir... kenapa aku begitu menikmatinya ?

Hingga di suatu detik aku tersadar, aku tak pernah menjadi dan berarti apa - apa di sini. Makin menumpuk agenda tentang batinku yang bertentangan, pun langkahku yang semakin gontai tak terarah.
Ingin berlari, namun hatiku terlanjur ter-tali, oleh jari jemariku sendiri.
Ingin keluar, apa daya kuterlanjur terkungkung & candu akan nikmatnya perjalanan ini...

Haruskah menanti di-larikan atau di-keluarkan?

Selasa, 13 Mei 2008

kemarin dan kini ...

Kemarin, suaramu begitu nyaring..
namun mengapa kini me-nyahdu...?
Kemarin, lakumu begitu yakin...
tapi kenapa kini semakin me-layu....?
Ya..kemarin, kuingat senyummu begitu merekah...
namun yang kutemui, kini kau tak lagi berseri indah...
Kemarin,benar - benar masih kemarin.... hati yang kau sembunyikan itu, masih bertahan dengan kokohnya...
tapi tidak saat kutemui kau lagi kini, sorot mata yg mencerminkan kerasnya hatimu, kini semakin sayu... dan sayu.....

Ada apa denganmu dara?
adakah mencoba berlari dan me-munafiki diri?
Langitmu masih di sana jeng...
bintangmu tak kan pergi ke mana.....
Sudah lupa kau? Tentang ilmu ikhlas dan sabar.. ?

Di sini... di detik ini... di ruang dan waktu yg nyaris meremang ini...
kutemui refleksi diri, dari sebuah cermin usang....

Senin, 05 Mei 2008

Secangkir Kopi

Kadang coklat, ada pula yang suka hitam. Aromanya khas, bisa manis bisa pahit.
Itulah penampakan secangkir kopi yang menjadi minuman favoritku hingga kini. Tak terhitung berapa orang yang mengingatkanku tentang efek negatif dari kegemaranku itu. Tapi... namanya suka, gimana lagi... :D

Capuccino, kopi asli, kopi susu, kopi kelapa sawit, kopi jahe, kopi cream, kopi mocca... semua jenis minuman yang berembel "kopi", aku suka! Bagiku, selalu ada rasa dan sensasi tersendiri, dalam setiap tegukan secangkir kopi. Ibarat sebuah pelayaran, tegukan pertama bak semilir angin laut yang siap membawa kapalku mengarungi samudera.
Tegukan selanjutnya, berurutan mulai dari saat kau bentangkan layar, mengambil kemudi dan menentukan arah, hingga berjuang bersama hebatnya badai & ombak yang sewaktu - waktu bisa membawamu "ber-temu" dengan karang.
Ah... nikmatnya secangkir kopi.

Sepulang kuliah beberapa minggu yang lalu, kutemukan lagi satu makna baru dari secangkir kopi. Beberapa rekan yang tak sengaja kutemui di parkiran motor, tiba - tiba memanggil, "Mo langsung pulang, Bu? Ayuk ikut ngumpul bareng2, sambil ngopi..."
Aha, kata yang terakhir begitu menyejukkan telingaku. Yup, bisa dibilang cukup lama aku tak menyentuh minuman itu semenjak beberapa bulan yang lalu. Aku kangen wanginya yang khas.
Aku melihat, tak hanya aku wanita yang ada di antara mereka. Dan tanpa berfikir panjang lagi, kuputuskan untuk ikut.

Kujanjikan, kau akan menemui banyak sekali warles (warung lesehan) di sepinggir jalan di daerah kampus. Trotoar yang disulap menjadi "lintasan" meja - meja kecil berhiaskan lampu minyak atau lilin. Sekilas cukup redup dan remang. Namun ini, cukup menjadi tempat favorit muda - mudi di kotaku. Baik yang datang bersama pasangan, maupun yang datang bak segerombolan "si berat" yang hendak merampok bank, seperti kami saat itu.
Kalo dari menu, kita bisa memilih. Ada warles yang menyediakan makanan (biasanya lalapan atau nasi goreng dan sebangsanya), ada juga yang khusus menawarkan menu2 minuman. Dan kami yang memang tidak sedang merasa kelaparan malam itu, tentu saja memutuskan memarkir motor di warles dekat gedung DPR. Aku lupa apa namanya, yang jelas di sana benar - benar khusus menjual minuman. Seperti kopi susu, capuccino, joshua, ketan, dll. Selama aku di Jember, ini kali kedua aku mampir di warung lesehan untuk ngopi. Yang pertama kali, bersama rekan2 Ecpose, di warles yang kami kenal dengan sebutan "Cak Ndan". Lokasinya di sekitar jalan Kalimantan, dekat dengan TogaMas.
Sayang, dari semua warung kopi yang aku datangi di Jember, tak ada warung yang khusus menyediakan beraneka macam kopi saja, seperti yang kutemui dulu di Malang.

Kami larut dalam obrolan santai dan guyonan2, ditemani secangkir minuman yang sudah dipesan masing - masing. Baru kusadar, sebelumnya aku sama sekali tak pernah akrab dengan beberapa orang di antara mereka. Mungkin hanya sekedar tahu dan menyapa. Tapi malam itu, bersama secangkir kopi di depan kami, suasana jadi begitu akrab, cair dan tidak kaku. Satu sama lain, seakan telah mengenal lama. Seseorang yang kubilang tak pernah ngobrol banyak denganku pun, tanpa sungkan dan ragu, beberapa kali melontarkan banyolan dan "gojlokan2" konyol kepadaku.
Secangkir kopi bisa mencairkan dan mengakrabkan suasana. Itu telah kubuktikan.

Kegaduhan kami berlanjut. Walau kami tahu ulah kami itu cukup menganggu pasangan muda - mudi di sekeliling kami yang sedang menikmati malam. Hehehe....
Hingga jarum pendek di arloji biru kesayanganku, sudah menunjukkan pukul 20:00. Kami putuskan tuk akhiri per-cengkramaan itu sambil membuat rencana untuk melakukan "kuliner kopi" selanjutnya.

Punya referensi warung kopi yang maknyuuuss.... ?

Senin, 21 April 2008

Tenangku saat...

Pernahkah kau merasakan sebuah "ketenangan" yang menakjubkan? Saat alam dan waktu begitu bersahabat denganmu... saat semua terkontrol & mengalir seperti yang kau mau....
Percaya atau tidak, kau akan sangat menikmati saat - saat itu.

Kemaren malam, aku merasakannya. Ya.. ketenangan yang hadir tiba - tiba dan mungkin selama ini memang begitu aku rindukan.
Bersama "Ega", kuda jantan bermesin yang sudah setahun ini menemaniku, kukencani aspal dan jalanan malam. Daerah kampus yang selalu ramai dan hiruk pikuk di malam minggu itu, sama sekali tak mengusik konsentrasiku untuk terus melaju kencang, mencari celah, lalu tanpa ragu mendahului motor - motor lain yang mayoritas pengemudinya berpasangan. Habis mereka melaju sungguh pelan. Pelan sekali. Mungkin memang sengaja, karna ingin semakin menikmati rangkulan tangan dari yang "bonceng" di belakang.
Ah.. bukan ruang dan waktu yang kuinginkan untuk membahas mereka.

Malam minggu itu, benar - benar kulewati berdua saja dengannya. Percaya atau tidak, suasana sekeliling yang bising, bisa begitu kunikmati dan malah kutemukan ketenangan di dalamnya.
"Kesepian dia keramaian?" Ouw, i don't think so! Karna aku tipikal orang yang alergi dan kurang suka tempat - tempat ramai. Namun entah kenapa, malam itu begitu tenang bersamanya. Bersama "Ega" pacarku.

Aku punya kebiasaan buruk. Sebetulnya asyik bagiku & sangat kunikmati, tapi kupaksakan hati tuk bilang itu buruk. Merugikan orang kah? Ummm... sepertinya tidak juga. Tapi kalo merugikan diri sendiri, sudah pasti.
Aku gemar sekali ngebut saat berkendara. Tak peduli suasana hati kalut maupun normal, ngebut bagiku layaknya tuntutan dan kewajiban saat "Ega" sudah ada di sampingku.
Malam itu pula, kembali kutemukan sebuah ketenangan justru dari hasil perpaduan antara konsentrasi dan bisingnya keadaan. Mungkin aku kecanduan...
Karna saat kau merasakan tubuhmu melayang menantang angin pada kecepatan di atas 80km/jam, di situlah aku temukan ketenangan. Ketenangan yang hakiki, mutlak, bebas... entah bagaimana lagi aku harus menggambarkannya.
Dan dalam waktu sekejap, ketenangan itu bisa hancur, saat kau harus menginjak rem dengan sigap hingga muncul bunyi "berdecit" yang memekakkan telinga, karna seekor kucing putih melenggang santai dengan wajah tanpa dosa menyebrangi jalanan aspal.

Aku tahu, pasti banyak orang yang jantungnya kubuat bekerja lebih giat, saat hobi ngawurku itu kupraktekkan. Dan kalo dipikir-pikir, aku sendiri juga paling mangkel, kalo ada pengendara lain yang super ngawur, lebih - lebih yang tidak punya etika berkendara.
Aku memang suka "ngawur", tapi setidaknya aku masih tahu tempat dan kondisi. Gak mungkin aku "terbang di atas angin", saat sekelilingku sedang macet. Cari benjut namanya! (Benjut karna mungkin akan membuka peluang orang - orang sekitar untuk melemparimu dengan sepatu, sandal, helm, atau barang2 lainnya.)

Hobi seharusnya bisa jadi sesuatu yang bermanfaat dan mendatangkan hal positif bagi subyeknya. Tapi, sudah kuniatkan ini hanya akan jadi hobi "undergroundku" saja. Karna aku tak yakin, bunda akan mengijinkanku terjun di ajang roadrace dan sejenisnya.. :P


* dedicated 4 my luvly Ega, "Maaf jarang merawatmu dengan baik. Sering telat ngasih makan apalagi cuci badan. Dan terimakasih dah menyayangiku dengan sepenuh hati. Jalanan masih menanti kita.... :) "