Kamis, 16 Desember 2010
Kalau Suamiku, sih....
Senin, 25 Januari 2010
Dia Ibuku
“Braaakkkk!”
Gadis kecil itu membanting pintu kamarnya, lalu melompat ke atas tempat tidur. Menangis. Tanpa melepas seragam pramukanya, ia terus sesenggukan di balik bantal dan guling yang selalu menemani tidurnya. Terngiang terus di benaknya kejadian yang ia alami beberapa jam lalu.
“Ayo coba anak – anak, masing – masing dari kalian membuat satu buah tulisan yang menceritakan tentang ibu kalian. Setelah itu, ibu akan absen dan yang dipanggil namanya harus membacakan tulisannya di depan sini.....”
Ibu Sri guru bahasa Indonesia itu, sengaja memberikan tugas yang menurutnya sangat berhubungan dengan hari itu yang bertepatan dengan hari ibu. Sekaligus sebagai bahan penilaiannya untuk ujian akhir di semester ini.
“Ibuku, adalah seseorang yang sangat kuat. Kata ibu, sewaktu masih pendidikan dulu, beliau mampu berlari mengelilingi lapangan bola lebih dari 10 kali. Menyaingi kawan – kawan prianya. Kini, dengan kedua tangan dan peluit di mulutnya ia mampu mengendalikan kota. Dialah ibuku, yang seorang polisi wanita.” Amri, bocah lelaki berbadan kurus dan berkacamata dengan bangga membacakan bait terakhir tulisannya. Tepuk tangan seisi kelas pun ikut mengakhiri ceritanya.
Beda lagi dengan Bela, gadis mungil berambut keriting ini seakan tak mau kalah membanggakan ibunya.
“Mamaku sangat cantik. Kata papa, dulu mamaku adalah idola dan pernah menjadi model. Baju mamaku bagus – bagus. Kalo sudah besar nanti, aku ingin seperti mama. Aku akan minta diajari dandan. Aku juga akan minta semua baju – bajunya.” Di akhir cerita, Bela juga menyampaikan profesi mamanya yang seorang pengusaha butik di sebuah kota kecil di Bali.
“Aku bangga memiliki bunda. Karena dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tangannya mampu lahirkan anak – anak yang pintar dan cerdas. Bundaku juga pasti adalah seseorang yang pintar. Karna waktu kutanya, ia pernah mendapat beasiswa sekolah di luar negeri. Tak hanya itu, memiliki bunda seorang guru juga semakin memudahkanku waktu mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, hehehe.....” sekali lagi tawa dan tepuk tangan riuh seisi kelas, menyambut cerita Dedy tentang bundanya.
Siang itu, wajah – wajah kecil dan polos mereka mampu bercerita, betapa rasa bangga dan cinta itu berlimpah. Untuk sesosok wanita yang frekuensi keberadaan dan kasih sayangnya paling mendominasi hidup mereka hingga detik itu. Wanita mulia yang dijanjikan surga untuk perjuangannya saat menghadirkan mereka di dunia.
Namun berbeda bagi Fida. Mendung sedari tadi menyelimuti wajah dan hatinya. Namanya memang belum dipanggil untuk maju, tapi hingga detik itu pun ia masih kebingungan harus menuliskan apa di kertasnya yang masih kosong.
Dinda, ibunya adalah seorang wartawan. Elyas, adalah putra seorang bidan. Fahri, Gendis, Gita, dan Hamid semuanya memiliki ibu yang berprofesi hebat dan membanggakan. Sedangkan Fida, hatinya berkecamuk. Haruskah ia berdusta tentang siapa dan bagaimana ibunya? Baginya, wanita itu tidak memiliki profesi yang membuatnya kagum apalagi bangga. Ingin rasanya ia menangis lalu berlari meninggalkan kelas. Berlari dari tugas yang tak mampu ia lakukan.
“Krrrrrriiiiiinnnnggggg......................”
“Baik anak – anak, kita lanjutkan di pertemuan minggu depan. Untuk yang belum maju, tolong disiapkan dengan baik.”
Bel akhir pelajaran yang berdering, sedikit membuat hati Fida lega. Setidaknya ia memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan apa yang akan ia tuliskan sekalipun harus berdusta.
“Fida.... aku penasaran tentang cerita ibumu, aku tunggu minggu depan ya.. Aku yakin, ibunya Fida adalah ibu yang hebat!” perkataan Intan, semakin merobek hatinya.
======================================***===================================
“Fida... sayang... ayuk ganti baju, sholat terus maem dulu. Baru pulang kok langsung tidur. Kamu sakit, nak?” lembut wanita separuh baya itu bangunkan Fida yang tertidur karna lelah menangis. Dipegangnya dahi putri tercintanya itu. Tidak panas. Dibelainya lembut pipi gadis cilik itu, sambil kembali ia coba bangunkan. Fida menggeliat sebentar. Sebenarnya dia sudah mendengar dari pertama kali ibunya memanggil dan membangunkannya. Namun ia enggan membuka mata. Selain karna gelisahnya siang tadi, juga karena takut ibunya tahu bahwa ia habis menangis.
“Mataku pasti bengkak, dan ibu pasti tanya macam – macam. Aku malas menjawabnya..” gumamnya dalam hati.
“Ayo, nak... sholat trus maem dulu....” ibu belum menyerah.
“Iya bu, bentar lagi... ibu duluan aja. Aku tar nyusul...” Fida menjawab masih dengan ogah – ogahan.
Merasa putrinya sudah bangun walau belum beranjak dari tempat tidurnya, ibu meninggalkan kamar. Menuju dapur, menyiapkan kembali makanan untuk Fida.
Sementara di dalam kamar, setelah memastikan ibunya pergi, Fida baru benar – benar membuka matanya. Terasa sekali matanya yang berat karena terlalu lama menangis tadi.
“Apa yang harus aku karang untuk tulisan itu minggu depan ? Apa mungkin akan kutulis saja, bahwa ibuku bukan siapa – siapa, bukan orang hebat, karna ia hanyalah seorang ibu rumah tangga.... Ah, aku tak mau malu di depan teman – teman hanya karna ibuku. Fida, sang bintang kelas ini, juga harus menunjukkan bahwa ibunya adalah orang hebat!” hatinya kembali bergumam.
Di meja makan, ibunya masih setia menunggu. Fida datang dengan wajah yang sedikit kusut. Sudah berusaha ia basuh mukanya, terutama mata, agar tak tampak habis menangis. Namun tetap saja, gurat – gurat kekesalan dan kesedihan tak bisa ia sembunyikan.
“Mata kamu itu kenapa, Fida?” tanya ibu sambil mengambilkan nasi di piringnya yang masih kosong. Pertanyaan itu tak segera dijawab oleh Fida. Tatapannya menyapu isi meja makan yang tak pernah berubah setiap harinya. Selalu lengkap dan sesuai seleranya. Setidaknya itu sedikit mengobati hatinya.
“Gak papa, bu... tadi kelamaan tidur ‘mengkurep’ kayake..” ujar Fida sambil menyendokkan nasi ke mulutnya. Tak banyak obrolan di meja makan siang itu. Tak seperti biasanya, Fida lebih memilih banyak diam dan menjawab pertanyaan ibunya singkat – singkat saja.
“Tadi di sekolah gimana? Masak gak ada yang istimewa? Tumben – tumbennya anak ibu yang cantik ini gak cerewet kayak biasanya ?” Ibu terus menyerang Fida karna kediamannya itu.
Fida masih bertahan dengan diamnya. Yang ada di benaknya hanya apa dan bagaimana yang harus ia tulis tentang ibunya. Minggu depan seperti akan hadir dihadapnya beberapa menit lagi. Melihat kondisi Fida yang tak wajar, ibu semakin yakin ada sesuatu yang terjadi pada gadisnya itu. Tapi ibu juga memilih diam. Ia tak ingin terlalu memaksa dan bermaksud memberikan kesempatan bagi Fida untuk tenang dengan dunianya sendiri dulu.
Fida memilih segera menuntaskan makan siangnya itu dan ingin segera mengurung diri lagi dalam kamar. “Bu..... kenapa ibu gak kerja sih, bu? Kenapa ibu suka jadi ibu rumah tangga yang cuma diem di rumah?” Wajah polosnya kemudian berlalu meninggalkan meja makan dan ibunya yang terdiam dalam kebingungan.
=====================================***====================================
Hari Minggu, adalah hari yang paling dinanti – nantikan oleh Fida. Karna di hari itulah, bapak selalu meluangkan waktunya untuk jalan – jalan bersama keluarga. Walau hanya sekedar berkeliling kota dengan sedan coklat tua tahun 60an, atau bahkan bertamasya ke pinggiran kota menikmati indah dan hijaunya alam.
Pagi itu pun, mereka berenam telah menikmati lengangnya jalan protokol yang biasanya macet dan bising. Telaga Sarangan, tujuan mereka hari itu.
Fida adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Di usianya yang ke – 4 tahun, ibu hamil adik pertamanya. Tiga tahun kemudian, disusul si bungsu yang hadir ke dunia. Dan Fida ditakdirkan menjadi satu – satunya anak perempuan di keluarganya.
“Ayoo... mana ini anak bapak yang paling cantik kok tumben ga ada suaranya? Biasanya sepanjang jalan nyanyi – nyanyi terus?” bapak mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi tenang. Lelaki berkumis dan berkacamata ini, sesekali melihat cermin yang mampu memantulkan bayangan ketiga putra – putrinya di kursi belakang. Si bungsu pulas tertidur. Putra keduanya, asyik menikmati lolypop yang dibeli sebelum berangkat tadi. Dan Fida sedari berangkat terus melihat keluar jendela, menikmati pematang yang memanjang sambil terus membisu.
Telaga Sarangan siang itu, laksana penyejuk bagi hati dan jiwa yang letih oleh waktu yang terus memburu. Bapak, ibu, Fida, Rio, dan si kecil Ari larut dalam pelukan semesta yang terhampar nyata di hadapan mereka. Mereka tertawa, bercanda, dan terlihat bahagia seperti biasa. Fida pun mulai bisa melebur dengan suasana dan berlari riang ke sana kemari. Walau gelisah sejatinya masih mewarnai hati kecil itu.
“Fida gak seperti biasanya, kenapa ya, dek ?” Bapak berujar sambil menyeruput kopi hangat dan mengamati putra- putrinya yang saling berkejaran.
“Iya, mas.. aku juga menyadarinya dari kemaren. Dia cenderung lebih banyak diam. Tapi aku memang sengaja belum bertanya banyak, biar dia tenang dengan kesendiriannya dulu...” Ibu memilih menyembunyikan apa yang sebenarnya juga mengganggu benaknya belakangan ini. Terutama pertanyaan Fida yang terakhir sebelum meninggalkan meja makan beberapa hari lalu.
“Yawda, aku percaya sama kamu, dek.. Tapi kalo bisa, ndang diselesaikan. Kasihan kalo berlarut – larut. Bentar lagi dia kan mau ujian akhir”
“Inggih, mas... nanti coba aku ajak dia bicara..”
Di bawah pohon asem yang rindang, sepasang suami istri itu menikmati kebersamaan berbalut kehangatan mentari.
======================================***===================================
Siang yang terik, tak membuat langkah gadis cilik bertas biru muda itu melemah. Rasa khawatir dan penasaran, mengalahkan tetes peluh yang membasahi seragam merah putihnya.
Intan, sahabat sekaligus teman sebangkunya tidak masuk sekolah hari itu. Padahal pagi harinya, Fida masih sempat menerima sebuah telepon dari Intan yang mengingatkan untuk membawakan buku catatannya yang dipinjam Fida seminggu lalu.
“Intan sakit apa ya... ?” hati Fida bergumam sambil mengingat – ingat letak rumah Intan. Ia percepat langkah kecilnya, mengingat ijin yang ia sampaikan pada ibu melalui telpon umum di depan sekolah tadi, ia tak akan pulang terlampau siang. Kurang satu blok lagi, lalu terhamparlah deretan rumah megah yang bentuk bangunannya nyaris serupa. Hanya warna dan tatanan taman di halaman depan yang membuat masing – masing rumah itu terlihat berbeda.
Rumah megah bercat hijau dan berpagar tinggi itulah rumah Intan. Tiga kali sudah Fida coba memencet bel di balik pagar, namun masih belum ada tanggapan. Ketika dia membalikkan badannya dan memutuskan untuk pulang, mbak Rat pembantu di rumah itu tiba – tiba keluar dan memanggilnya.
“Maaf ya non... Mbak lagi nemenin non Intan. Dia gak mau makan, mana badannya panas juga.” mbak Rat sedikit tergopoh sambil membuka gembok pagar.
“Intan sakit apa to, Mbak ? Tadi pagi lho, masih telpon aku...”
“Mbak ga tahu juga, non... Tiba – tiba mau berangkat sekolah tadi, badannya panas terus menggigil. Mbak takut, ibu bapak juga lagi ga ada di rumah..” terlihat jelas kekhawatiran di wajah perempuan muda itu.
“Lho?! Tante sama om ke mana ? Tapi tahu kan, Mbak kalo Intan sakit ?” pertanyaan Fida yang terakhir ini, tak sempat terjawab oleh mbak Rat. Karna langkah mereka sudah sampai di tepi tempat tidur Intan yang kini sedang tergolek pucat di balik selimut lumba – lumbanya. Fida menempelkan punggung tangannya ke dahi Intan, seperti yang pernah diajarkan ibunya. Benar. Badannya panas sekali. Kenapa dibiarkan di rumah saja ? Apa dokter sudah datang kemari dan memeriksanya ? Hati Fida bertanya – tanya.
“Bunda... Bunda....” sesekali mulut Intan mengingau dan memanggil bundanya. Fida tampak begitu sedih melihat kondisi sahabatnya itu. Tapi ia juga bingung, karna tak ada yang mampu ia lakukan. Beberapa kali ia memalingkan kepalanya ke arah mbak Rat, berharap dia segera melakukan sesuatu. Tapi beberapa kali pula, yang ia lihat adalah mbak Rat yang bermata sayu dan terus gelisah. Fida tahu, mereka berdua kini berada dalam kebingungan yang sama.
“Ibu sudah coba mbak telpon tadi pagi non.. Kata ibu, non Intan suruh istirahat aja dan ga perlu masuk sekolah hari ini. Mbak juga dipesenin ibu buat kasih non Intan obat penurun panas yang ada di laci obat. Tapi sampe sekarang, panas non Intan semakin menjadi....” mbak Rat akhirnya bercerita.
“Sudah coba telpon tante lagi mbak ? Kenapa ga dibawa ke dokter ?”
“Habis Duhur tadi nomer ibu tiba – tiba ga bisa dihubungi, non... Mbak juga ga berani bawa non Intan gitu aja. Takut dikira lancang, non....”
“Tapi kasihan Intan, Mbak....”
“Iya non, mbak tahu.. tapi mbak musti gimana lagi non... Mbak bingung....” pipi perempuan muda itu mulai basah oleh air mata.
Ya Allah.. apakah tante Ria tidak khawatir dengan kondisi putrinya ? Apakah saat ini dia benar - benar sibuk hingga tak sempat walau hanya menanyakan kabar putrinya yang sedang sakit ? Kasihan Intan... Beri ia kekuatan ya Allah.... Gadis kecil itu terus berdoa dalam hatinya.
======================================***===================================
Lama, perempuan separuh baya itu menekuri serakan kertas di atas tempat tidurnya. Tumpukan kertas yang bukanlah lembaran – lembaran biasa. Karna lembaran – lembaran itulah yang mampu menceritakan perjalanan sekaligus perjuangan wanita ayu yang telah 10 tahun menyandang gelar ibu itu. Diamatinya lagi lembar demi lembar yang merekam namanya begitu jelas. Amaliyah.
Beriring air mata yang terus mengalir, waktu seakan berjalan mundur. Mengantarnya menapaki setiap jengkal kisah di masa lampau. Elu, sanjung, dan puji terasa masih begitu lekat di ingatannya. Ketika beberapa kali dia berhasil mengharumkan nama almamaternya melalui berbagai kompetisi ilmiah. Riuh tepuk tangan penonton, juga terasa masih begitu nyata. Saat semangat dan kegigihannya beberapa kali mampu memenangkan berbagai kejuaraan bulutangkis. Bidang sastra dan musik pun pernah dicicipinya. Amah remaja, memang sangat mencintai aktivitas.
Hingga tatapannya tertahan, pada selembar kertas yang tadinya terlipat rapi dalam amplop. Sebuah
Masih terekam jelas di ingatannya, segala cita dan ambisi yang begitu ingin diraihnya. Amah kecil, selalu berkata lantang setiap ada yang menanyakan tentang apa cita – citanya. ”Aku ingin menjadi ilmuwan !” Dia pun dengan yakin mengatakan, bahwa tak sedikitpun takut kepalanya akan menjadi botak karena harus menyandang gelar profesor. Sungguh Amah kecil yang riang, lincah, dan penuh ambisi.
Fragmen demi fragmen kisah hidup, ia lalui nyaris dengan sempurna. Keluarga yang begitu mencintainya, prestasi yang gemilang, hingga tibalah saat di mana dia harus memutuskan tuk menyempurnakan separuh diennya.
Hasan, lelaki yang ia kagumi karena akhlaq, kecerdasan, dan kelembutan hatinya. Lelaki yang pertama kali dilihatnya saat memasuki kampus kuning itu. Salah satu pengajar yang menjadi idola para mahasiswa, karena kepandaian dan kerendahan hatinya. Awalnya, Amah hanya menjadi begitu tertarik dan antusias pada mata kuliah Psikologi yang dibawakannya. Tapi waktu, justru membawa dan menyuburkan benih – benih kekaguman dalam hatinya menjadi cinta yang sesungguhnya. Hasan lah lelaki yang akhirnya ia pilih tuk mendampingi hidupnya.
Keputusan untuk menikah, adalah perjuangan batin yang dirasakan begitu berat oleh Amah. Berbagai cerita dan pengalaman sahabat, membuatnya yakin bahwa menjadi seorang istri sekaligus ibu, bukanlah sesuatu yang mudah. Peran mulia di mana melalui tangan merekalah, keberlangsungan rumah tangga dan akhlaq turun temurun digantungkan. Tak salah jika ada pepatah yang mengatakan, bahwa kejayaan suatu bangsa tak lepas dari andil seorang wanita, seorang istri, seorang ibu.
Sungguh tak mudah saat dia harus merelakan semua ambisi dan cita – citanya, semua asa serta mimpi yang selama ini telah ia renda nyaris begitu sempurna, dan memutuskan untuk benar – benar mengabdikan dirinya pada keluarga. Murni menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga. ”Aku hanya tak ingin, berbagi nikmat dan pujian dari suami untuk orang lain. Saat dia tak menemui hidangan tersedia di rumah, karna aku masih sibuk menyelesaikan pekerjaanku di kantor. Hingga akhirnya dia harus makan dan membeli masakan di luar rumah. Istri macam apa diriku, jika membiarkan dan tak mampu menyambut suamiku yang lelah setelah bekerja seharian, walau hanya dengan dandanan sederhana dan sesungging senyum manis.Aku pun tak rela, jika cinta dan kasih yang menaungi putra – putriku harus mengalir dari hati selain milikku.... ” Itu yang selalu ia katakan, setiap ada yang kembali menanyakan dan membuatnya ragu pada keputusannya. Ya, Amah telah rela, ia benar – benar ikhlas mengorbankan seluruh mimpi dan ambisinya, demi keluarga, suami, dan anak – anaknya.
”Bukan ibu tak ingin membuatmu bangga, nak.... Sungguh ibu ingin memberikannya secara sempurna. Bukan sekedar materi, puja dan puji, maupun kuasa yang tinggi. Tapi Ibu ingin kau bangga, karna mendapat cinta kasih yang utuh dan tulus dari sesosok wanita sederhana yang kau panggil ibu.... ” Amah larut dalam buai masa lalu dan perih batinnya karena merasa telah mengecewakan buah hati tercinta. Hingga dering telepon dari ruang keluarga membuyarkan semuanya....
========================================***=================================
Fida terus menatapi tetes demi tetes yang keluar dari botol infus dan mengalir pada nadi Intan sahabatnya. Mulutnya tak henti mengucap doa, agar teman sebangkunya itu bisa segera sembuh dan kembali bercanda dengannya. Positif thypus dan demam berdarah, begitu kata dokter yang memeriksa Intan tadi. Terlambat sedikit lagi saja, mungkin Intan tak akan tertolong. Kadar trombositnya sudah mencapai 20.000, sangat jauh dari batas normal. Dokter pun langsung berinisiatif untuk melakukan transfusi darah melihat kondisi tersebut
”Sabar ya,nak... ayuk terus berdoa buat Intan. Semoga Allah memberinya kekuatan...” wanita bergamis abu – abu itu membelai lembut kepala Fida.
”Iya, Bu... Fida cuma kasihan lihat Intan. Waktu sakit, biasanya sedikit – sedikit aku manggil Ibu. Minta disuapin, minta ditemenin, tapi Intan sekarang...... ” Fida mulai menangis di dekapan ibunya.
”Bundanya Intan ndak ke sini, karena memang beliau belum tahu. Mungkin baterai handphonenya habis, jadi ndak bisa dihubungi. Tapi percayalah pada ibu, begitu beliau tahu, pasti akan langsung datang ke sini. Lagian ada Fida dan ibu kan di sini, Intan ga sendirian...” lembut wanita itu membesarkan hati putrinya.
Fida merasakan kebahagiaan yang begitu melimpah setiap ia berlindung, merasakan hangat peluk dan dekap ibunya. Hati kecilnya mengucap syukur yang tak terkira, karna kapanpun ia mau kebahagiaan itu selalu mampu ibunya hadirkan. Rasanya jarang bahkan hampir tak pernah, Ibu tak ada saat Fida benar – benar membutuhkannya. Ibu selalu ada, tak pernah absen maupun bolos dari setiap tawa bahkan air mata Fida.
Itu pula yang akhirnya membuat Fida berinisiatif menelpon ibunya siang tadi. Resah dan rasa khawatirnya pada Intan, membuatnya tak peduli sekalipun nanti harus dibilang lancang telah berinisiatif seperti itu. Satu hal yang sangat diyakininya. Intan sedang sakit parah dan harus segera dibawa ke rumah sakit.
Hari itu, Fida belajar dua hal berharga. Tak selalu apa yang terlihat indah dan manis, begitu pula rasa sejatinya. Fida sering sekali merasa iri pada Intan. Gadis tunggal itu seakan punya segalanya. Rumah yang indah bak istana, orang tua yang sukses, berbagai macam mainan yang menghibur, dan keindahan – keindahan lain yang sering membuat Fida gigit jari. Tetapi di balik semuanya, Intan justru sangat kekurangan kasih sayang dan perhatian bahkan dari kedua orang tuanya sendiri. Fida benar – benar diajarkan bagaimana caranya untuk selalu mensyukuri apa yang dimiliki.
Hal berharga kedua yang didapat Fida adalah ia disadarkan tentang permata mulia nan indah yang ia miliki dan beberapa waktu lalu sempat ia remehkan keberadaannya. Ibunya. Wanita sederhana yang hanya seorang ibu rumah tangga itu, diyakini Fida justru jauh lebih hebat dan keren dibanding ibu siapapun. Fida menyesal telah salah menilai ibunya. Tangisnya semakin deras, peluknya pun semakin erat. Hatinya tak bisa memungkiri, betapa ia menyayangi bidadari kehidupannya itu.
Ibu dan Fida tinggal di rumah sakit hingga malam harinya. Mereka tak tega meninggalkan Intan sendirian sore tadi. Bunda Intan sendiri baru tiba di rumah sakit jam 9 malam. Tangis dan raut penyesalan tergambar jelas di wajahnya. Setelah memastikan semuanya jauh lebih tenang, ibu segera mengajak Fida pulang. Mengingat esok bukan hari libur, dan Fida harus bersekolah seperti biasanya.
=======================================***==================================
Malam itu, Fida tak bisa langsung merebahkan lelahnya di peraduan. Ia baru ingat, tugas menulis tentang ibu seminggu lalu, harus dikumpulkannya besok. Dipaksanya mata dan tubuh yang lelah untuk tetap terjaga hingga ia tetap dapat duduk tegak di kursi belajarnya. Beberapa bola – bola kertas berserakan di atas meja dan lantai kamar. Remasan kertas yang menjadi saksi betapa Fida telah begitu salah menilai ’profesi’ ibunya. Fida melihat tak ada yang istimewa dari profesi ibu rumah tangga, tak ada yang mampu ia banggakan. Hingga akhirnya, ia harus mengarang berbagai profesi hebat tentang ibunya. Tapi, setiap ia akan mengakhiri tulisannya, hati nurani itu berteriak seakan tak bisa terima dengan semua kebohongan yang ia buat. Dan entah telah berapa puluh tulisan yang ia buat, namun selalu berakhir dalam remasannya dan tergeletak sebagai bola – bola kertas itu.
Itu kemarin. Saat waktu belum pertemukan ia dengan sebuah kisah hikmah yang mampu mengajarkannya tentang arti bersyukur. Selembar kertas putih berukuran folio dan sebuah pena di tangan kanan, telah siap mengantar hati Fida yang tak ragu lagi tuk berkisah tentang betapa hebat ibunya. Tak ada lagi keengganan ataupun rasa malu di hati gadis kecil itu. Semua tumpah, jari jemarinya pun terus menari......
=~~~=*=~~~=*=~~~=*=~~~~
Tatkala hijaunya dedaunan tak kuasa lagi jemput gersang ilalang,
senyummu hadir sebagai hujan....
Ketika derasnya kehidupan, goyangkan jiwa dari keistiqomahan,
kelembutanmu selaksa angin yang dengan sabar bawa mendung pergi perlahan...
Di tanganmu ibu... yang tiada menjadi begitu luar biasa.....
Dan jika saja bukan hanya Allah Rabbku, satu – satunya Tuhan yang berhak di puja,
kuingin menyembah dan bersujud di kakimu....
=~~~=*=~~~=*=~~~=*=~~~~
”Fida... bangun, nak... Sudah subuh....” terdengar ketuk dan panggilan lembut dari luar kamar. Pintu perlahan terbuka, dan muncullah sosok ibu yang masih berbalut mukena. Dihampirinya buah hati yang ternyata begitu nyenyak terlelap di atas meja belajar. Selembar kertas berukuran folio yang telah terisi oleh tulisan, tergeletak rapi di sisinya.
”Kau pasti bekerja keras semalam, nak... Hingga tak sempat memindahkan tubuhmu yang lelah ke tempat tidur....” dipandangnya gadis kecil yang begitu manis terlelap itu dengan penuh iba.
Sebenarnya ibu ingin segera membangunkan Fida, karena adzan Subuh sudah lewat beberapa menit lalu. Namun niat itu terurungkan oleh rasa ingin tahunya pada goresan pena di atas kertas yang tergeletak di sisi putrinya. Dipungutnya kertas itu perlahan,
Pernahkah kalian dengar tentang kisah Abunawas yang cerdik ? Yang selalu bisa memecahkan setiap masalah dengan kelihaian akalnya. Ibuku, jauh lebih hebat daripada itu.
Pernahkah juga kalian tahu tentang kisah Rama dan Shinta dalam wayang jawa ? Tokoh Shinta yang digambarkan sangat lembut dan cantik serta dicintai siapapun yang mengenalnya. Percaya atau tidak, namun aku sangat yakin, ibuku jauh lebih anggun, lebih lembut dan lebih cantik daripadanya.
Tentu kalian juga pernah kan, mendengar kisah Samson manusia kuat dan perkasa itu? Ah, tapi ibuku jauh lebih kuat dan tangguh daripada sekedar Samson.
Kalian tentu bertanya – tanya, lantas seperti apa dan siapakah ibuku ? Manusia mulia yang membantuku hadir di dunia dalam separuh hidup matinya itu, adalah Amaliyah. Ya, Amaliyah, itu saja.
Sebuah nama yang jika mendengarnya saja, hati ini begitu tentram. Sebuah nama yang tak pernah mengeluh saat lantai yang telah susah payah dibersihkannya, kukotori lagi dengan kenakalanku. Sebuah nama yang tak pernah absen menyambutku sepulang sekolah dengan senyumnya, sekalipun muka cemberut dan masam karena lelah yang lebih sering kutunjukkan untuk membalasnya.
Sebuah nama yang begitu sering membohongiku dengan senyumnya, walau sebenarnya aku tahu dia baru saja reda dari tangisnya. Sebuah nama yang selalu mengajarkanku banyak hal dan meyakinkanku tuk tidak pernah menjadi wanita yang biasa – biasa saja.
Ibuku bukan dokter. Ia pun bukan seorang guru, profesor, wartawan, pengusaha, ataupun segala profesi hebat lainnya. Namun, dialah ibuku... wanita terindah yang mengabdikan dirinya utuh bagi keluarga. Aku bangga memilikinya, dan jangan pernah tanyakan seberapa besar rasa sayangku padanya.....
Air bening itu deras mengalir hingga membasahi sebagian mukena putihnya. Hati – hati, ditaruhnya lagi perlahan kertas yang baru saja ia baca, di sisi putri kecilnya yang masih lelap tertidur. Lembut, ia kecup kening gadisnya itu. Tak kuasa pula ia tahan hasratnya tuk memeluk buah hati yang ia sadari semakin tumbuh beranjak remaja.
”Bersandarlah.... bersandarlah, Nak... bahu dan hati ini akan terus ada untukmu, hingga kapanpun.....”, hatinya berbisik.
Alhamdulillah, yang telah bersarang dan berloncatan dalam imaji dari November 2009,
akhirnya kutuntaskan pula di Jember, 25 Januari 2010
Kupersembahkan untuk siapa saja yang pernah atau sedang menjadi putri, ibu, dan calon ibu
Rabu, 06 Mei 2009
-AIR MATA CINTA-
Aku masih ingat. Saat itu usiaku 8 tahun. Bersama anak – anak tetangga sebayaku, aku selalu menghabiskan waktu sore di kebun belakang rumah. Kami senang bermain petak umpet di balik semak dan pohon – pohon yang besar. Tak jarang pula kami beradu panjat pohon. Siapa yang bisa meraih dahan tertinggi, dialah pemenangnya.
Aku paling menyukai permainan ini. Dan di antara teman – teman perempuanku saat itu, akulah yang paling hebat. Tapi aku belum pernah bisa mengalahkan satu orang teman lelakiku. Kami biasa memanggilnya dengan Aan, begitu saja.
Dia selalu mengalahkanku di detik – detik terakhir pijakan ini hendak menggapai puncak. Aan memang lincah dan gesit. Gerakannya seakan tak pernah meleset, sekalipun dahan yang dipijaknya bergoyang karena ukurannya yang kecil dan letaknya yang cukup tinggi dari permukaan tanah. Aku tak pernah mau kalah dengannya. Setiap ejekan dan sindiran darinya, membuatku selalu berusaha dan berjuang lebih, dan lebih lagi. Karena ‘keakraban’ kami pada dahan – dahan pohon inilah, teman – teman saat itu menjuluki kami ‘kera jantan dan kera betina’. Dan si kera jantan inilah, yang selalu membuatku menjadi nomor 2.
Sore itu, aku begitu berambisi mengalahkannya. Kupingku sudah panas dengan semua celotehnya yang meremehkanku. Tinggal satu dahan lagi, dan.... hup! Berhasil! Aku mendahuluinya meraih dahan ini. Tapi belum sempat aku bersorak girang, pohon rambutan yang biasanya begitu bersahabat denganku ini, tiba – tiba mengeluarkan bunyi ‘krak’ yang cukup keras. Lalu dalam hitungan sepersekian detik, dahan yang kupijak sekaligus tubuh mungilku, terjun bebas ke bumi.
Yang kudengar saat itu hanya teriakan teman – teman. Dan kira – kira beberapa detik kemudian, sepasang tangan kecil menangkap tangan kiriku. Wajah pemilik tangan itu pucat khawatir, namun matanya tetap menyebalkan.
“Dasar, betina ceroboh!”
Belum sempat aku membalasnya, tubuhku sudah sukses mencium tanah. Tangan kiriku yang berkeringat tak mampu menahan genggaman tangan Aan. Semua teman langsung mengerubungiku. Ada yang berteriak histeris, ada yang menangis, ada pula yang hanya diam tak mampu bersuara. Semuanya panik. Aku yang saat itu berlumur darah di dahi, tangan, dan kaki hanya bisa meringis. Tak sedikitpun air mata kurasakan jatuh mengalir di pipi. Bahkan saat mengetahui bahwa kaki dan tangan kananku patah, sesaat setelah ayah menggendong dan membawaku ke klinik.
Itu adalah salah satu kenangan tentang betapa sombongnya mataku untuk menyapa air mata. Namun kini, kesombongan itu mulai luluh. Aku jadi begitu mudah bahkan sering berair mata. Mungkin ini bisa menjadi hobi baruku. Ya, kini aku jadi gemar menangis. Setelah aku tahu bahwa air mata jauh lebih bisa membuat hati ini lega dan tenang dibanding berteriak – teriak di alam bebas. Setelah aku sadar, bahwa menangis juga mampu menghadirkan kenyamanan, selain hanya berkeluh kesah pada lembaran – lembaran kertas.
Kau pasti ingin tahu mulai kapan aku jadi mudah menangis. Jawabannya, cukup membuatku malu dan bersemu merah. Sejujurnya, aku mulai mengenal air mata lagi (tentunya setelah masa balita dulu) saat dia hadir dalam hidupku. Dia yang mampu hadirkan senyum dan tangisku dalam satu waktu. Dialah lelakiku. Lelaki hebat yang kusayangi dan selalu kutatap senyumnya setiap ku membuka mata dan menyapa pagi. Dialah suamiku tercinta.
Dan, tidakkah kau penasaran tentang siapa lelaki yang berhasil merobohkan dinding - dinding pertahanan air mataku ? Kini akan kumulai untuk mengisahkannya.
Lima tahun yang lalu, kami tak sengaja berjumpa di sebuah even tentang fotografi. Kehadiran seorang fotografer nasional sekaligus lokasi acara yang sengaja dibuat outdoor, membuatku yang mencintai alam liar dan dunia fotografi semenjak SMP, tak ragu untuk segera mendaftarkan diri.
Acara berlangsung sehari penuh dan aku begitu menikmatinya. Hingga tiba di satu sesi acara yang mengharuskan setiap peserta mempraktekkan langsung materi yang sudah didapat sehari tadi. Learning by doing.
Tanpa ragu mataku menerawang liar. Mencoba menemukan ‘spot - spot’ unik sekaligus mencari angle ter-apik. Dan sebuah pohon tua yang cukup besar, mencuri perhatianku. Dari sana, kuyakini target yang aku buru dari tadi akan terekam dengan indah. Anglenya cukup bagus, dan pasti landscape ku nanti akan mencuri decak kagum orang – orang yang hadir di sini.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk mencapai bagian tengah pohon tua ini. Kepiawaianku memanjat saat masih kecil, masih tersisa hingga kini. Setelah mendapat pijakan yang nyaman, kukeluarkan Canon EOS 30D ku dari sarungnya. Aku rekam dan abadikan lukisan hidup di hadapanku sambil tak henti – hentinya berdecak kagum. SubhanAllah... sedemikian indah ciptaan-Nya. Lantas bagaimana indahnya Sang Pencipta ?
Tiga puluh menit bertengger di atas pohon, cukup membuatku pegal. Hingga seorang lelaki yang tak kukenal, tiba – tiba muncul dan ikut – ikutan bertengger di dahan yang sama. “Hmm... ada yang mencoba menjadi plagiat caraku menangkap objek.”, batinku bergumam.
Sengaja kuurungkan niatku untuk turun. Aku ingin mengamati bagaimana hebatnya ‘si plagiat’ ini memainkan kameranya. Beberapa menit berselang, tak ada juga salam maupun sapa darinya. Rasa sebalku bertambah. Betapa cuek, sombong dan tidak sopannya orang ini.
“Andri. Andri Syahputra”, ujarnya tiba – tiba sambil mengulurkan tangan. Tak kubalas uluran itu, hanya jawaban ketus yang meluncur dari bibirku.
“Panggil aja aku, Priya”.
Tak lama setelahnya, aku memutuskan untuk turun. Tak ada lagi percakapan yang mengalir selain pertukaran nama tadi. Pihak panitia juga sepertinya sudah memanggil para peserta untuk berkumpul kembali.
Tibalah saat penilaian karya peserta hasil ‘learning by doing’ tadi. Dan ternyata, aku menghadapi peserta - peserta yang sepertinya memang telah mahir dan profesional di bidang ini. Hasil jepretan mereka bagus – bagus. Untuk itu, aku mengakui kekalahanku dengan hati lapang. Tiga foto terbaik ditampilkan, dan fotografernya diundang ke depan. Saat sebuah nama disebutkan, aku cukup terkejut. Karena salah seorang lelaki yang berdiri di depan sana adalah Andri Syahputra, lelaki yang tadi juga bertengger bersamaku di atas pohon.
Kuakui karyanya memang indah. Aku malu telah berburuk sangka padanya tadi. Walau posisi membidik targetnya sama denganku, tapi foto yang dia hasilkan jauh berbeda denganku. Dan, hei.. sebentar! Sepertinya aku mengenal nama itu. Tapi siapa ya? Ah... aku selalu payah dalam mengingat nama. Biarlah, yang pasti akan kutemui dia selepas acara ini. Aku ingin minta maaf padanya.
Begitu acara berakhir, aku langsung berlari menghampirinya. “Ehm... mas Andri!” agak kikuk aku menyebut namanya.
“Ya ?” yang kupanggil menoleh.
“Emm.. anu.. aku mo minta maaf. Soal yang..... emmm.. di atas pohon tadi!”
Dalam hati aku merutuki diri sendiri. Kenapa aku jadi begitu payah dalam memilih bahasa yang pantas, baik, dan benar? Aku yakin, dalam hati dia pasti tertawa menyaksikan kekonyolanku.
“Ooh.. iya, gak papa, lupain aja! Ternyata ‘kera betina’ ini gak berubah yah? Masih tetep galak dan hebat seperti dulu!”
Apa?! Barusan dia bilang apa? Aku yang sedari tadi tak terlalu berani menatap wajah apalagi matanya, serta merta memelototinya tajam – tajam.
“Maaf, anda bilang apa tadi?”
“Iya. Kamu kan, ‘kera betina’ yang galak itu? Priyanti Kusuma Asmoro.” Dengan tetap kalem dia menjawab pertanyaanku.
Masya Allah! Bahkan dia kini menyebutkan nama lengkap & julukan masa kecilku. Siapa sebenarnya lelaki ini? Kutatap lekat – lekat wajahnya. Tak kutemukan sedikitpun garis – garis wajah seseorang yang pernah kukenal di masa lalu pada wajah itu. Hanya satu yang terasa tak asing bagiku. Mata itu. Mata yang selalu bersinar dan menyorot tajam tetapi begitu menyebalkan. Dan yang memiliki mata seperti itu hanyalah....
“Aan?! Kamu Aan si ‘kera jantan’ itu?!” aku dengan sedikit histeris tapi tetap ragu.
“Bingo!”, ia meringis memamerkan giginya yang putih dan bergingsul.
“Ya Robbi...! Bagaimana mungkin kamu di sini? Kamu beda banget ya, sekarang? Makan apa? Tambah tinggi... berjenggot..blablablabla..
Jika tak mengingat perutku yang mulai terasa lapar, interview dadakan itu tak akan kubiarkan terhenti. Kusudahi pertemuan itu di sebuah rumah makan bersama teman semasa kecilku dengan bertumpuk pertanyaan.
Singkat cerita, pertemuanku dengan Aan di hari itu menjadi awal bagi jalinan silaturahim kami yang sempat termakan waktu. Kami jadi sering berkomunikasi walau tak terlampau sering bertemu. Kegemaran dan hobi kami yang serupa, membuat kami semakin ‘klop’ dan akrab. Sms, email, dan sesekali telepon. Itulah yang menjadi penghubung kami yang memang terpisah oleh jarak dan waktu. Aku yang saat itu sedang melanjutkan kuliahku di Yogya, dan dia yang menekuni karirnya di sebuah perusahaan surat kabar nasional di Sumatera.
Menjadi seorang fotografer sepertinya, memang memerlukan sebuah ketekunan dan tentunya keberanian. Tapi menurutku peran yang dilakoninya sekarang, sangat keren dan menantang. Bagaimana tidak, dalam satu waktu dia bisa saja hinggap lebih dari satu titik, kota, bahkan pulau. Dan dari itu semua, aku hanya bisa mendengar semua cerita dan tentunya iming – iming darinya.
Persahabatan kami mengalir begitu saja, dan kami menikmatinya. Kami berusaha saling menguatkan dan mengingatkan dalam segala langkah. Walau pertengkaran dan perdebatan tak pernah bisa lepas menghiasi pertemanan ini. Aan tetap menyebalkan. Dia memang pintar dan selalu mengalahkanku seperti dulu.
Tapi tidak di hari itu. Aku merasa, aku telah mengalahkannya.
13 Desember 2003, dia mengirimiku sepucuk surat. Aku sempat dibuatnya heran. Karena saat itu, bukanlah waktu yang tepat untuk seseorang berkirim kartu lebaran. Akupun tidak sedang berulang tahun atau mengalami sesuatu yang bisa menjadi alasan baginya untuk mengirimiku sebuah kartu ucapan selamat atau sejenisnya. Yang membuatku lebih heran lagi, adalah isi suratnya yang seratus persen memberiku teka – teki. Dari selembar kertas A4 yang dikirimnya kepada itu, hanya ada satu kalimat yang ditulisnya. Kalimat itupun hanya terdiri dari dua kata.
“Aku kalah....”
Ya, hanya itu yang terekam oleh indraku dari surat itu. Aku hanya bisa bertanya – tanya dalam hati dan berusaha berfikir positif. Hingga malam harinya, dia menghubungiku.
“Dah terima suratku ? ” suara dari seberang.
“Iya, surat aneh yang sama sekali tak kumengerti.”
“Sebentar lagi kamu pasti juga tahu. Sudah dulu ya, jaga diri baek – baek.” Singkat. Hanya itu yang dia sampaikan untuk menjelaskan surat aneh itu.
Seminggu berselang tak juga ada kejelasan maupun kabar darinya berkaitan dengan surat itu. Aku pun memutuskan, untuk menganggap surat yang tak berisi itu adalah salah satu keanehan dan keisengannya padaku. Harusnya aku tak perlu memikirkannya, tapi kenapa aku jadi penasaran dan begitu ingin tahu ?
Keesokan harinya, sepulang dari kampus dia akhirnya menghubungiku. “Aku 2 jam lagi sampe sana.” begitu yang diucapkannya di telepon. Aku kaget, tapi masih bisa menguasai diri. Fikirku, dia pasti sedang bertugas di dekat sini dan sengaja mampir. Semenjak pertemuanku dengannya di even fotografi dua tahun yang lalu, kami memang belum pernah bertemu lagi. Ada sedikit rasa bahagia yang tanpa permisi muncul dari balik hati. Dan restoran tempat kami pernah ngobrol dan makan waktu itu, menjadi pilihan tempat pertemuan kami.
Sore itu Aan tampil berbeda dari yang pernah kujumpai terakhir. Dia begitu rapi dan terlihat dewasa dengan dandanan seperti itu. Mungkin dia sedang bertugas meliput sebuah acara formal.
“Assalamu’alaikum…. Apa kabar ?” terwujudlah seukir senyum dari sudut bibirnya. Indah. Ah… aku benci desir – desir aneh ini! Bukankah terpesona dengan keindahan senyum seseorang adalah hal yang wajar. Namun mengapa aku jadi begitu kikuk dan seakan merasa berdosa seperti ini. Berulang kali aku berusaha membuang muka saat berbincang dengannya. Hingga detik itu membuatku terpaku.
“Priya.. aku minta maaf sebelumnya jika kamu tidak berkenan. Tujuanku datang kemari, bukan karena suatu tugas atau even apapun. Aku datang untuk sesuatu yang sangat penting bagi langkahku di masa depan.” Aku mendengar nada serius dari apa yang diucapkannya.
“Wah,pasti kamu mo cerita kalo resign dari tempat kerjamu yang lama, trus dapet kerja di Jawa. Iya? Bener kan? Selamat ya... jadi deket ma keluarga kan!” kenapa aku jadi bersemangat dengan dugaanku itu.
Dia tersenyum lagi,”Sok tahu! Makanya, dengerin dulu kalo ada orang mo ngomong!”
Aku hanya menanggapi ucapannya itu dengan meringis.
“Aku kalah, Priya… baru kali ini aku merasa begitu dikalahkan. Tetapi kekalahanku ini justru memberiku kebahagiaan dan lembar baru.” Kedua alisku menyatu ke tengah, pertanda rasa bingungku terhadap apa yang disampaikannya barusan.
“Ini....” Ujarnya sambil menunjuk dadanya. “Aku tak bisa lagi membohonginya…
Ia telah kalah Priya… ia harus mengakuinya. Hati ini tlah terpaku pada keindahan pesona yang dititipkan Allah pada makhluk-Nya yang bernama manusia. Dan aku ingin menjaganya, melindunginya, dengan tulus dan dasar kasihku pada Penciptaku.
Sudah saatnya, aku memiliki seseorang yang bisa mengiringi perjuanganku. Agar langkah ini semakin kuat, agar peluh letihku ini tak terasa mengganggu dengan hadirnya di sisiku Aku memilih kamu, Priya… Hatiku kalah padamu…. “
Deg! Dunia seakan membisu. Detik serasa terhenti dan tak ada kehidupan bergeliat di sekitarku. Aku terdiam cukup lama demi memahami dan menenangkan hatiku yang saat itu terasa kocar – kacir. Air hangat yang meleleh di pipiku, membuatku sadar bahwa ia masih ada di hadapanku. Seseorang yang baru saja membuat sebuah pengakuan dan memintaku menjadi pendamping hidupnya. Sungguh, aku tak mampu berkata - kata. Hanya air mata, ya… air mata yang asing ini mewakili seribu aksara dari lisanku yang tak kuasa berkata. Itulah air mata pertamaku yang mengalir karenanya.
Tiga tahun telah berlalu sejak sore bersejarah itu. Dan kini aku resmi menyandang gelar nyonya / ibu Andri. Kera jantanku itu yang saat ini memenuhi hati dan hari – hariku dengan cinta dan kasihnya. Hidup kami lebih dari cukup untuk sebuah kebahagiaan. Walau hingga kini kami belum dipercaya untuk memiliki generasi penerus, hari – hari kami tetap berwarna. Bang Andri, adalah sosok suami yang sabar dan bertanggung jawab. Dia tak pernah bosan menguatkanku terutama dalam hal momongan. Bang Andri selalu bilang, bahwa anak itu adalah rizqi dan titipan dari Allah. Dan apa yang kami alami saat ini hanya masalah waktu. Mungkin kami memang belum mampu dan siap. Bukankah sabar menunggu lebih baik daripada ketidaksiapan itu malah menjerumuskan kami dalam dosa karena tak bisa menjaga amanah dari Allah dengan baik.
“Aku masih belum menyerah dan akan terus berusaha, masak bidadariku ini gak percaya ma aku?” senyum yang khas itu muncul di wajahnya. Ah… Bang Andri selalu bisa membuatku tenang dan tersenyum lagi. Salah satu hal yang membuatku terus yakin dan kuat, adalah kehadirannya. Dan itu membuatku semakin mencintainya.
Wanita mana yang bermimpi untuk tak memiliki keturunan. Hati kecil para wanita, pasti begitu merindukan dirinya dipanggil dengan julukan “umi, ibu, bunda, ataupun mama”. Aku sering tiba – tiba menangis saat menyaksikan kemesraan seorang ibu dan anaknya, walau itu hanya dalam sebuah acara yang ditayangkan di televisi. Lebih – lebih saat Bang Andri membelai lembut rambutku sambil berujar, “Sabar ya sayang, kita pasti bisa…”. Air mata ini seakan tak mau berhenti mengalir. Tangisku semakin deras dalam pelukannya.
Sebenarnya, untuk apa dan siapa air mata yang kini jadi begitu sering menetes ini? Untuk sebuah kekecewaan dan penyesalankah? Untuk sebuah pengakuan kelemahan dirikah? Belakangan aku baru sadar. Air mata ini sejatinya hadir karena sebuah alasan yang cukup erat dengan diri Bang Andri. Sungguh aku tak ingin mengecewakannya. Betapa aku ingin melihat kebahagiaan selalu hadir di hati dan wajahnya. Aku takut tak bisa menjadi seorang istri yang sempurna baginya.
“Bang, apa abang pernah merasa menyesal telah memilih, Priya?” ujarku suatu pagi saat kami sarapan.
“Maksud mu apa, sayang?” balasnya dengan penuh rasa heran.
“Emm… apa abang tidak pernah berfikir untuk mencari istri lagi misalnya?” suaraku terdengar mulai bergetar.
“Istri lagi? Untuk apa? Satu aja, makannya dah banyak bangeeet dan suka rewel…. Gimana kalo 2 ?!” dia tertawa.
“Uuuuh.. Abang ini bercanda mulu’! Priya serius, bang. Kalo memang dengan memiliki istri lagi abang bisa punya keturunan dan bahagia, insyaAllah Priya ikhlas.” mulai ada yang terasa menggenang di sudut mataku.
“Wah.. sayang serius? Bener abang gak papa nikah lagi?!” terdengar nada semangat di ucapannya.
“Hu’uh…” satu per satu air mata ini mulai menetes lagi.
Perlahan terdengar ia menarik nafas panjang, lalu menggenggam tanganku kuat – kuat. “Sayang yakin?” suaranya melembut, dan aku berusaha mengangguk dengan mantab, namun tak berani memandang wajahnya.
“Sayang bener – bener sudah siap?” sekali lagi aku mengangguk, kali ini lebih mantab dan berusaha tersenyum di balik air mataku yang semakin deras mengalir.
“Masalahnya, aku yang belum yakin dan siap, sayang. Tak sepantasnya aku berharap akan sebuah kesempurnaan, saat diriku sendiri belum bisa menjadi wujud yang sempurna itu. Aku pantang untuk dikalahkan dua kali. Cukup hati ini kalah karenamu…. Dan memilikimu, adalah hal yang tak pernah berhenti kusyukuri hingga kini.” kulihat bayangan mataku yang memerah karena tangis, di matanya yang bening. Pagi itu aku kembali menangis dalam pelukannya.
Hari kami terus berlalu. Tentunya dengan tangis dan tawa yang silih berganti. Kami tak pernah berhenti berusaha dan berdoa, untuk meraih kesempurnaan keluarga kami. Saling menguatkan dan memberikan keyakinan, itu yang tak pernah bosan kami lakukan. Hatiku juga mulai terasa lebih ringan dan tak terlalu merasa terbebani seperti dulu. Sedikit demi sedikit aku berhasil meyakini, bahwa titipan itu seberapapun kita mencintainya, wujud dan sejatinya adalah tak abadi. Ada Pemilik mutlak yang lebih berhak memiliki secara utuh. Aku pun tak sepantasnya terlalu menuntut dan memaksakan sesuatu yang memang mungkin belum mampu untuk aku jaga. Allah selalu lebih tahu siapa dan bagaimana diriku. Ia pun tak kan pernah mendhzolimi hamba-Nya.Terbukti aku tetap bisa menyalurkan kasih dan sayangku sebagai ibu kepada anak – anakku yang jumlahnya lebih dari satu. Ya… menjadi seorang guru di salah satu yayasan di kota kecil tempat kami tinggal, cukup menghiburku. Mereka semua memanggilku ibu, dan itu yang sangat menyanjungku. Saat aku meminta satu, Dia justru memberiku lebih dari itu. SubhanAllah…. Lalu masih pantaskah aku menuntut lebih?
Aku dan Bang Andri kini lebih bertawakkal dalam melangkah. Kami yakin, Dia tak pernah menutup mata dari hamba – hambaNya yang terus berusaha dan mendekatkan diri kepadaNya.
Lantas, apakah ini pertanda bahwa air mata itu telah mengering? Sayangnya tidak. Aku masih sering menangis, terutama saat suami tercintaku pergi bertugas ke luar kota bahkan pulau untuk waktu yang lama. Bang Andri terkadang suka cuek dan lupa akan dunia nyata, saat ia telah disibukkan oleh pekerjaannya. Sering tiba – tiba dia tidak menghubungiku hingga berhari – hari. Ponselnya pun seakan tak terjangkau oleh satelit manapun, saat aku mencoba balik menghubunginya. Saat – saat seperti itu, tentu aku hanya bisa menangis. Menangis karena rasa rinduku padanya, dan menangis karena aku merasa cemburu. Bagaimana tidak, saat kasih sayangnya berpaling total karena pekerjaannya. Saat mata beribu kaum hawa dengan bebas silih berganti berlalu di hadapannya.. Ah… aku memang sedikit pencemburu. Tapi bukankah itu pertanda bahwa aku mencintainya? Hihihi… Nakalnya bang Andri, tak jarang dia melakukan itu semua dengan niat memang untuk menguji kesabaranku katanya. Bagaimanapun dirinya, dia adalah salah satu lelaki yang kupercaya di dunia ini selain ayahku.
Potongan – potongan kecil kisah hidupku itu, perlahan kurangkai menjadi sebuah fragmen yang sepertinya mampu bercerita kepadaku anak – anakku kelak. Air mata itu, tak lain adalah air mata cinta. Ia tak selalu pertanda duka dan luka. Hadirnya tak jarang adalah senyum haru dan kebahagiaan pemiliknya. Pun wujudnya yang sering mengisahkan sebentuk rasa syukur akan beribu nikmat dalam diri setiap makhluk yang bernyawa. Aku akan meyakinkan anak – anakku kelak, bahwa air mata yang paling indah dan kekal adalah air mata cinta karena Illahi. Yang menetes karena rasa takut, tunduk, dan patuh kepadaNya. Yang mengalir di setiap sujud panjang perjuangan hamba yang senantiasa memohon kasih sayangNya. Ya… air mata cinta karena Illahi Robbi…..
Jember, 04 Mei 2009 (23:05)
Selasa, 16 Desember 2008
Bidadari Surga
“Hayoo… mandengin sopo?!!”
Gertakan sekaligus sebuah sindiran dari Setyo, membuatku sadar dari lamunan & tasbih sesaatku. Ingin marah rasanya, karna dia telah mengusik indahnya pesona senja saat itu. Yang kemolekannya begitu nyata ditambah hadirnya sesosok manis yang telah mencuri hatiku belakangan ini.
Ya… gadis itulah yang sebenarnya ditanyakan Setyo sedari tadi. Gadis yang sering membuatku bertasbih dan beristighfar, agar Allah tetap menjaga hatiku yang lemah ini, dari pesona yang Ia titipkan pada salah seorang hamba-Nya.
Aku memang sering diam – diam memandanginya, dari kamarku yang terletak di lantai 3 gedung ini. Sebuah apartemen kelas ekonomi, yang mayoritas penghuninya adalah para karyawan dan mahasiswa sebuah universitas swasta yang cukup tenar di kota ini.
Begitu cantik dan mempesonakah ia? Mungkin secara fisik, itu relatif. Tiap orang berhak mengidentifikasikan & menilai berdasarkan pandangan mereka. Tetapi, yang jauh lebih membuatku kagum pada gadis ini adalah, penampilannya yang begitu mulia dan anggun dalam balutan busana muslimah yang menutup auratnya dengan sempurna. Berjilbab pun, seakan bukan penghalang baginya untuk tetap aktif dan lincah dalam beraktivitas. Seperti saat ini, dia yang begitu semangat berlari dan berlompatan ke sana kemari dengan sebuah raket di tangan kanannya. Dia berbeda. Hanya itu yang ada di benakku saat pertama kali mengenalnya, bahkan hingga kini.
“Kenapa gak langsung tembak aja, Wan? Siapa cepat, dia dapat lho... Setahuku banyak juga yang mengincar dia”, Setyo kembali membuyarkan lamunanku.
“Ngawur kowe, Yo! Dia terlalu indah untuk tahu tentang rasa yang mungkin sesaat & belum tentu suci ini!”, entah kenapa ada sedikit gusar dan luapan emosi saat aku menanggapi pertanyaan Setyo tadi.
“Awan.. Awan...! Aku tuh sering bingung dengan jalan fikiranmu!”, ujar Setyo sambil berlalu pergi.
Kamu memang gak ngerti Yo.. bahkan mungkin tidak akan pernah mengerti tentang apa yang aku fikirkan & rasakan. Selama kamu selalu memandang & menilai sesuatu, hanya dari apa yang tampak sesaat. Tanpa mencoba menyelami & menemukan maknanya yang lebih dalam. Yang jelas, tidak! Tidak akan kubiarkan lisan dan seluruh indraku ini dengan lancang melakukan sesuatu yang bisa membuatnya tahu, bahwa hingga kini aku diam – diam mengaguminya. Sungguh tak ingin kusakiti dan kunodai hatinya... hati kami... dengan emosi sesaatku.
===== *** =====
Malam itu begitu indah. Bintang dan bulan berpadu membentuk lukisan menawan tentang angkasa. Kelip – kelip lampu jalan dan kendaraan yang lalu lalang, menambah ‘krasan’ seorang gadis untuk berlama – lama menikmati hobinya. Hampir tiap malam, Mega menghabiskan 2 hingga 3 jam dari waktunya untuk duduk di jendela kamarnya yang terletak di lantai teratas gedung tua ini. Semua tampak begitu menakjubkan dan indah dari atas sini. Baginya, alam di senja dan malam hari adalah klimaks dari siklus semesta, yang selalu bisa hadirkan rasa teduh dan nyaman di hatinya. Ditemani secarik kertas, sebuah pena, dan gitar kesayangannya, tak terhitung berapa buah karya dalam melodi yang ia ‘lahirkan’ setiap ia menjalani ritual panjang di tepian jendela kamarnya. Mega memang terkenal lihai dalam bersilat kata yang konotatif. Suka dan dukanya sering ia tuangkan dalam sebuah puisi dan syair. Belakangan, ia mulai mengasah otak kirinya dengan bermain – main bersama nada. Suaranya yang indah, sering dijadikan kawan – kawannya alat untuk melampiaskan hasrat dan suasana hati. Seperti malam itu, Mega pun sedang bersenandung tentang sebuah elegi kecil dalam sekelumit hidupnya.
Bukan kata & bukan apa yang terlihat mata,
Lain materi pun tak hanya puisi,
Yang menjaga ... dan menjaga ....
peduli hati, dan tak ingin nodai hati....
Sebait yang singkat itu terhenti, saat Ratna teman sekamarnya tiba – tiba duduk di sampingnya.
“Ga.. Andri nitip salam lagi tuh! Dia nanyain tentang surat yang dia kirim kemarin buat kamu.”
“Wa’alaikumussalam warohamtullah wabarokatuh... Ah, males, Na! Aku kurang suka berteman dengan orang yang suka menyombongkan dirinya”, Mega menanggapi sambil memainkan senar – senar gitarnya.
“Sebenarnya lelaki seperti apa yang kamu harapkan, Ga ? Fian, Angga, Satria, Andri... tak satupun yang kamu tanggepin. Apa benar kamu sudah punya seseorang?”
Dengan sesimpul senyumnya yang manis, Mega mencoba menjawab pertanyaan Ratna yang terakhir dengan bijak.
“Aku membenarkan jika ada yang bilang bahwa hidup ini terlalu singkat jika harus dilewati bersama pilihan yang salah, Na.. Dan aku gak mau salah dalam memilih. Yang kulihat, mereka semua sama, hanya mengutamakan emosi dan kepentingan sesaat.”
“Lalu yang kamu mau seperti apa, Ga?” Ratna masih dengan penasarannya.
“Yang jelas, dia yang bisa menjaga hatinya.. menjaga hatiku... Karna fitrahnya kasih sayang itu, tidak menjerumuskan,Na... Hehehe... gak ngerti lah! Wes, kita ganti topik aja!” Mega berusaha mengalihkan pembicaraan mereka, walau tampak jelas dari mimik wajahnya ada yang tertahan. Ya... ada yang dia sembunyikan, namun sebenarnya ingin terungkapkan.
=====***=====
Siang itu, Mega baru saja keluar dari ruang kelasnya. Mata kuliah Mekanika Rekayasa yang baru saja berlalu, membuatnya bersemangat untuk segera sampai di kamar sekaligus ruang kerjanya. Sang dosen sedang bermurah hari ini, karna tanpa segan ia memberikan setumpuk tugas yang harus segera dikumpulkan keesokan harinya. Belum lagi tugas GT (Gambar Teknik) dari seminggu lalu yang tak kunjung usai. Mega hanya bisa tersenyum menikmati semua ini. Ada sebuah harap dan cita – cita besar, yang slalu bisa membuatnya lupa sejenak dengan semua beban dan tanggungjawabnya.
Menjadi mahasiswi teknik sipil, memang bukan pilihannya. Amanat dari bapak yang sangat dicintainya, membuat ia harus rela melepaskan cita – citanya untuk menjadi seorang astronot. Kegilaannya dari kecil pada bintang, bulan, planet, dan benda – benda angkasa, sepertinya menjadi salah satu benih terkuat munculnya cita – cita itu.
“Bapak pengen kamu jadi arsitek, nduk.. Jadi insinyur hebat. Biar bisa bikin bangunan yang kokoh buat bangsamu ini.”
Ah... bicara tentang bapak. Sosoknya yang begitu sederhana namun sangat memegang teguh prinsip. Bapak bukan siapa – siapa, tapi ia begitu peduli tentang bangsa ini. Mega pun tak ragu memutuskan untuk mengamini harapan dan cita – cita bapak. Sekaligus wujud baktinya pada sosok yang ia idolakan itu.
Langkah gadis berjilbab katun hitam itu tertahan tatkala ia dapati langit tiba – tiba menangis dengan derasnya. Jika tak mengingat kertas – kertas bahan tugas yang bertumpuk di tas ransel abu – abunya, sudah pasti ia terjang hujan deras siang itu. Dan kini ia terduduk di lantai lobi kantor pusat, sambil menikmati melodi hujan dan wanginya aroma tanah. Tak jauh dari tempat Mega duduk bersila, ada sepasang mata yang walau sesekali menunduk, sedari tadi jelas mengamatinya. Sepasang mata yang pemiliknya sedang gelisah, bingung untuk melangkah. Lelaki itu tak lain adalah Awan. Dia tahu, ini bisa menjadi peluang emas baginya untuk mendekati gadis berjilbab yang terduduk di lantai ujung lobi sana. Sebuah jas hujan di dalam tasnya adalah senjata yang diyakininya saat ini sangat dibutuhkan Mega. Dan dia bisa alih – alih meminjamkan jas itu sembari mencuri perhatian dan simpatik dari Mega. Pergolakan hebat terjadi di hatinya, hingga ia memutuskan melakukan sesuatu...
“Mega! Pulang bareng yuk! Ini aku ada jas hujan dua. Kebetulan tadi ada teman yang balikin, habis dipinjem kemaren!”
“Eh, Rindang! Ndak ngerepotin? Kebetulan banget, aku juga butuh sampe rumah cepet nih!”
Mega dan Rindang pun, sukses menembus derasnya hujan dengan jas hujan penyelamat itu.
Sementara itu, di sebuah kamar di lantai 3 gedung apartemen tua, aku hanya bisa menggigil menikmati dingin yang hadir dari pakaian yang basah kuyup. Aku pun tak segera beranjak mengganti pakaian dan menghangatkan diri.
“Hujan – hujanan tah, Wan? Tumben gak bawa jas hujan?” Lagi – lagi Setyo membuyarkan lamunanku.
“Ora, Yo.. Jas hujanku tadi tak pinjemin temen.” kujawab dengan begitu datar. Ya... teman yang kukatakan tadi meminjam jas hujan, tak lain adalah Rindang. Aku sengaja ingin memberikan perhatian pada Mega dengan caraku sendiri. Yang menurutku tak akan berlebihan dan melemahkan siapapun. Tak sengaja, di tengah kegalauanku siang tadi tiba – tiba Rindang melintas. Aku pun menitipkan jas hujanku pada gadis itu, tentunya dengan pesan untuk tidak memberitahukan Mega tentang siapa pemiliknya. Ah... Rindang pasti akan menaruh curiga dan sedikit banyak tahu tentang perasaanku, sekalipun tadi aku sudah beralasan bahwa Mega adalah tipe orang yang pasti tidak mau jika aku atau temannya berkorban untuk dirinya. Biar sajalah, yang pasti aku sudah lega bisa kembali membantu Mega, walau selalu dengan cara yang sama. Sembunyi – sembunyi.
Benar – benar tak nyaman kondisi hatiku saat itu. Terhimpit dan tertekan antara naluri, nurani, dan ideologi. Apakah aku terlalu angkuh? Siapa pula yang tak ingin mengecap indahnya fitrah kasih sayang. Aku hanya takut... sangat takut. Aku yang lemah ini, tak bisa menjaga qalbu yang telah diamanahkan Allah untukku. Cukuplah mungkin saat ini, aku dan dia saling mengenal. Walau yang sering terjadi, aku lebih memilih menghindar dan seakan tak mau tahu setiap bertemu atau ada sesuatu yang berhubungan dengannya.
“Ndak cuma sekali aku mergokin kamu sering ngelamun akhir – akhir ini, Wan... Ada apa? Bidadari berjilbabmu itu lagi?”, Setyo yang akhir – akhir ini terkesan begitu menyebalkan, kembali mengusikku.
Aku tidak menanggapi pertanyaannya, dan lebih memilih mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk biru kesayanganku.
“Oalah, Wan... sampe kapan kamu mau memendam perasaanmu ? Lakukan sesuatu lah, biar dia tahu. Inget, Wan.. lelaki itu berhak mencari dan memilih, nanti baru wanita yang memutuskan. ” Setyo terus nyerocos bak bapakku saja. Aku memilih bergeming.
“Tar keburu diambil orang, baru rasa kamu! Daripada kelamaan, nikahin aja sekalian! Bentar lagi kan kita sama - sama wisuda. Saat itu, temuin orang tuanya... langsung diminta! Piye?”
Dasar Setyo, tak pernah berubah. Paling suka bercakap tanpa berfikir lebih panjang. Aku pun hanya menanggapi semua yang dia sampaikan tadi sebagai lelucon dan isapan jempol.
Merasa tak digubris olehku, Setyo meninggalkan kamar. Di depan pintu, dia membalik badannya tiba – tiba, sambil menatapku tajam. Tatapan seorang lelaki. “Wan... aku tahu kamu berbeda dariku dan dari kebanyakan teman – teman kita yang laen. Aku tahu kamu ikhlas dan tulus padanya. Tapi kamu harus berani, Wan... Setidaknya buat ia tahu, itu saja..... Ojo sampe getun mburi....”
Setyo. Kuakui dia tlah menjadi lebih dari sekedar teman sekamar bagiku. Bersamanya selama 3,5 tahun ini, membuat kami saling mengenal dan memahami “dapur” masing – masing. Saat ini sepertinya memang dia yang paling tahu kondisiku. Tak kuingkari kejadian seperti siang tadi, terlampau sering kulakukan. Perhatian yang sengaja kuberikan secara sembunyi – sembunyi, demi menjaga semuanya. Aku tetap tak ingin Mega tahu saat ini tentang perasaanku yang sebenarnya. Tapi...
Ya Rabb.... aku harus bagaimana?
==== *** ====
Mega masih bergelut dengan setumpuk kertas kerjanya, saat tiba – tiba Eternal Flame mengalun dari ponsel NOKIA putih miliknya.
Layar LCD merekam sebuah nama yang membuatnya tersenyum begitu manis. “Mutiara_Hati”.
Dengan sigap Mega menekan tombol berwarna hijau, “Assalamu’alaikum.... dalem, Bu ?
“Ini bapak, nduk... ibumu lagi nemenin Andira belajar. Bapak kangen, piye kabarmu?” sebuah suara teduh dan berwibawa meluncur dari seberang. Betapa sosok pemilik suara ini begitu dirindukan Mega. Bapak yang terlanjur menjadi idola sekaligus tangga – tangga mimpi baginya.
“Alhamdulillah sae, Pak.. Bapak, Ibu, Dira gimana?”
“Semua di sini juga alhamdulillah sehat. Adekmu tambah nakal aja, dah mulai tahu baju bagus. Bawaannya pengen belanja aja tiap hari.” bapak berujar sembari diselingi tawa renyah khasnya.
“Gimana kuliahmu? Bapak sama ibu belakangan sering kepikiran kamu. Kamu bener baik – baik aja to, nduk?” ada nada kekhawatiran dalam pertanyaan bapak yang terakhir.
“Mega sehat – sehat aja kok, pak.. . Memang tugas akhir – akhir ini tambah banyak, tapi dinikmatin aja. Kan bapak yang sering bilang, ndak perlu ngoyo yang penting niat dan tekun untuk mencapai tujuan!” Mega menimpali sambil tersenyum. Anak dan bapak ini, larut dalam renyah tawa dan keakraban yang begitu menyejukkan.
Bapak menyudahi obrolan malam itu dengan sebuah kalimat yang membuat Mega tak mampu berkata – kata. Kalimat yang begitu jarang ia dengar dari lisan lelaki keras yang begitu ia sayangi ini.
“Ya wes, baek – baek di sana ya, nduk... Jaga diri... Bapak sayang kamu.....”
Deg! Betapa bergetar hati Mega saat itu. Haru dan kebahagiaan bercampur, membuncah dari dirinya. Kalimat yang tak pernah ia sangka itu, meluncur demikian indahnya. Ternyata seucap kata tentang cinta, ada kalanya memang perlu terlisankan. Keduanya terdiam cukup lama, hingga akhirnya...
“Mega juga sayang Bapak.... ” air mata kelegaan mengalir deras di pipi gadis itu.
Jam duduk bergambar conan menunjukkan pukul 21:30. Tempat tidur Ratna teman sekamar Mega masih kosong. Itu artinya dia belum pulang. Karna tak biasanya tempat tidur itu tak berpenghuni di jam – jam seperti ini. Ratna tipe orang yang tak bisa tidur terlalu malam. Sangat berbeda dengan Mega yang hobi memejamkan mata berbarengan dengan kentongan petugas ronda yang berbunyi hingga dua belas kali.
Ada kekhawatiran di hati Mega. Tak ada kabar ataupun sms dari Ratna tentang keberadaannya malam ini.
Berselang sekira 10 menit, keresahan Mega terjawab, sebuah pesan singkat dari nomor asing masuk.
“Ga,tlg jmpt. Aq di dpan stsiun”
Singkat. Mega coba menghubungi balik nomor tadi. Tak ada respon maupun jawaban. Segera ia sambar jilbab dan jaket dari almari sekenanya. Tugas dan kertas – kertas yang berserakan di mejanya ia lupakan dan tinggalkan beitu saja. Sepertinya kekhawatirannya membuat ia lupa bahwa sang dosen tlah menanti hasil kerjanya esok hari. Ia percepat langkah menuruni anak tangga, karena dengan angkutan umum tentunya butuh waktu lebih lama mencapai stasiun. Kenapa Ratna minta dijemput? Bukannya dia bawa motor? Pertanyaan – pertanyaan itu terus berseliweran di benaknya.
===== *** =====
Dari jendela angkot, Mega mencoba menangkap sebuah bayangan gadis berjilbab yang berdiri di samping pintu masuk stasiun. Tak salah lagi itu Ratna. Setelah memberikan ongkos pada sopir, Mega berlari kecil menghampiri Ratna. “Assalamu’alaikum.... ada apa to, Na?” ucapan Mega dibalas dengan sebuah pelukan dari Ratna. Sambil mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf berulang kali, Ratna bercerita. Ternyata selepas mengantar seorang kawan ke stasiun ba’da Maghrib tadi, ban motornya pecah. Tas yang berisi dompet dan ponsel miliknya tertinggal di kos kawan yang baru saja diantarnya pulang tadi. Sms yang dia kirim pada Mega pun, ternyata menggunakan ponsel milik seorang wanita murah hati yang tiba – tiba menghampirinya saat ia kebingungan tadi.
“Oalah... ya wes, motormu sekarang sudah selesai belum? Habis ini kita langsung maem aja ya, pasti kamu belum maem kan?” ujar Mega sambil mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.
“Hehehe... iya, makasih banget ya, Mega..”sekali lagi sebuah pelukan dan ciuman mendarat di pipi Mega.
Mega dan Ratna saat ini telah duduk berhadapan di sebuah warung lesehan favorit mereka. Keduanya sama – sama menunggu lalapan lele. “Sekali lagi thanks banget ya, Ga.... Aku gak bisa bayangin gimana kalo gak ada kamu....” Ratna tuk kesekian kalinya mengucapkan kalimat yang sama.
“Kamu bilang kayak gitu lagi, dapat mangkuk cantik plus mas – mas yang nglayani kita tadi, lho!” Mega menimpali diikuti tawa keduanya.
“Aku minta maaf ya.... Siapa tahu, aku gak bisa bantu kamu lagi, Na... ” ucapan Mega yang terakhir ini, membuat keduanya langsung terdiam. Ratna mencoba menterjemahkan apa makna dari kalimat yang barusan terucap dari lisan Mega. Mega sendiri pun sebenarnya kebingungan, dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Kalimat itu seperti hadir dari alam bawah sadarnya. Dan sepertinya mereka memilih tidak mempermasalahkan kalimat itu. Terlebih, pesanan lalapan lele mereka telah hadir.
Di perjalanan pulang, Mega sengaja menyuruh Ratna bonceng di belakang. Ingin menikmati suasana kota di malam hari katanya. Sepanjang perjalanan, mereka tak berhenti bercerita. Ratna yang paling sering mengusik Mega dengan pertanyaan, siapa pujaan hatinya. Dan lagi – lagi Mega slalu menjawab dengan senyum, “Nanti kamu juga akan tahu sendiri, doain aja ya....”
Hingga sinar yang begitu menyilaukan itu menghantam pandangan mereka. Dan... dimulailah kisah baru...
===== *** =====
Kupu – kupu menari indah menyibak subuh
tersenyumkah... menangiskah.... ?
Demi sebuah kisah di ujung gulita malam
ditemani rinai gerimis pada sebuah jiwa
tersenyumkah... menangiskah.... ?
Semesta gulana, guratkan asa yang hilang dari memula
elok senja tak lagi punya makna
tersenyumkah ... menangiskah.... ?
Saat kembang tak lagi mekar dan mewangi dalam sunyi
perlahan terpoles serupa duka tentang sebuah diri
Kini kutahu, ia tak tersenyum...
Kini kutahu, ia tak menangis...
Ia hanya terdiam.....
===== *** =====
Aku masih terdiam di sudut kamar, saat perlahan kudengar adzan Subuh mengalun. Bantal yang kurasakan telah basah oleh air mata, membuatku semakin tak ingin beranjak. Ingin rasanya aku tak terjaga dari tidurku semalam. Perjumpaanku dengan sesosok bidadari surga membuatku merasa dunia ini benar - benar semu adanya. Ah... mimpiku semalam benar – benar indah. Bilamana akan benar – benar kuraih dirinya. Di duniakah ? Atau kelak di sana ? Kuyakini, hanya sujud – sujudku nanti yang mampu menjawabnya. Kulangkahkan kakiku menuju tempat wudhu.
===== *** =====
Assyifa Mega Nanda. Sebuah nama yang tertulis jelas di hadapku kini, benar – benar membuatku mematung. Hatiku beku. Tak kalah hebat saat pertama kali kudengar kabar tentangnya 2 hari yang lalu. Malam yang sunyi dan dingin kala itu, menjadi saksi tentang menyeberangnya sebuah jiwa pada dunia yang berbeda. Bidadari berjilbabku itu, kini tak mampu lagi kunikmati senyumnya, kudengar merdu suaranya, kuamati santun dan mulia lakunya. Aku kehilangannya di dunia. Terlebih saat aku tlah meyakini bahwa aku memang mencintainya. Mencintai seorang gadis yang sengaja tak kubiarkan untuk tahu tentang hatiku demi alasan sebuah penjagaan hati.
Malam itu, sebuah truk yang mengangkut kayu oleng dan menyenggol motornya dari arah depan. Mega sudah berusaha menghindar, tapi kehadiran truk dari balik tikungan yang cukup tajam, membuat ia juga tak kuasa mengendalikan motornya. Serentak ia banting setir ke arah kiri dan motor pun terjatuh ke sebuah parit mati. Ratna yang berada di belakang, selamat. Kaki kirinya patah karena terjatuh dari motor cukup jauh. Itupun setelah Mega sempat meneriakkan kepadanya untuk segera loncat. Menurut Ratna, kemungkinan Mega menghembuskan nafas terakhirnya di lokasi kejadian. Karena saat terlempar dari motor, helm yang dikenakan Mega terlepas. Anehnya, tak ada sedikitpun darah atau luka di tubuh Mega. Mungkin ia mengalami luka atau pendarahan di dalam karena benturan, begitu menurut dokter. Ratna juga bercerita, bahwa jenazah Mega tersenyum, benar – benar tersenyum.
Tanah merah dan batu nisan di depanku kini mungkin bertanya, mengapa aku masih saja terdiam sedari tadi. Air mata bak pancuran yang begitu deras selayaknya mengalir dari mataku yang nanar. Namun aku tak kuasa. Aku tak mampu. Kurasakan air mata itu kini justru membasahi hatiku. Menyisakan kubangan kesedihan yang tak kunjung mengering. Inikah rasanya kehilangan ?
Ataukah semua akan menjadi berbeda saat aku ikuti saran Setyo sedari dulu untuk mengungkapkan perasaanku padanya? Sekedar membuatnya tahu, tak lebih.....
Semerbak aroma kamboja membuatku tersadar, bahwa siklus kehidupan akan terus berjalan. Lahir, tumbuh, lalu mati. Seperti bunga – bunga itu yang kini berguguran di tanah.
Ya Robbi... maafkan aku yang lancang menghakimi dan menilai takdir-Mu. Perjuanganku tak akan berhenti di sini. Akan terus kupacu jiwa dan ragaku, untuk menemuinya di surga kelak. Sebagai bidadari penyanding kehidupan abadiku.
Sebelum beranjak dari tempat peristirahatan terakhirnya, aku sempatkan untuk membuat sebuah pengakuan di atas batu nisannya.
“Mega.... aku, Awan Arga Qowiyyu, mencintaimu......”
dituntaskan di Malang, 14 Desember’ 08
^_^