Tak kan ada yang menyangkal bahwa “sehat itu indah”…
Kebahagiaan saat kau bisa berjalan dan lalui hari – hari dengan senyum tulus tanpa tersembunyi rasa sakit di baliknya.
Keceriaan saat kau bisa bebas berlari sekaligus tertawa, tanpa beban dan duka. Keindahan yang sempurna, saat siklus kehidupan selalu dimulai dan diakhiri oleh sebuah senyum spirit yang senantiasa menginspirasi.
Sedikit menyitir lirik dari sebuah lagu Opick yang berbunyi,
”bila mungkin ada luka coba tersenyumlah... bila mungkin tawa, coba bersabarlah....”
sedikit banyak memberi suatu bahan tuk bermuhasabah, bahwa tak ada senyum ataupun tangis yang abadi. Tuk itulah, selayaknya kita tidak dibenarkan tuk berlebihan dalam menyikapi setiap kondisi yang terjadi.
Senyum detik ini, belum tentu serupa dengan senyum detik berikutnya. Duka ataupun air mata saat ini, bukan berarti kesedihan yang tak berujung di masa selanjutnya. Mungkin ini juga salah satu jawaban tentang mengapa kita harus selalu zuhud dan mensyukuri setiap keadaan yang kita terima. Rendah hati dan ikhlas dalam menghadapi setiap kisah yang terukir dalam perjalanan hidup.
Hari itu, sama sekali tak terbayangkan, aku akan mengulang ”cerita” dari seorang sahabat dalam kehidupan nyataku. Sahabat yang baru saja pulih dari sakitnya dan kini mulai menjalani aktivitas normal seperti aku dan kawan – kawan yang lain. Sungguh tak pernah terbersit ingin, aku yang tergeletak di atas kasur dengan luka lebam di daerah pergelangan kaki hari itu. Sebuah musibah lebih tepatnya hasil kecerobohan telah kusemai. Peringatan keras untuk siapapun yang di rumahnya, asrama maupun kos terdapat tangga (lebih dari satu lantai) :
1. Dilarang maen HP waktu naik dan turun tangga
2. Dilarang ngelamun
3. Diharamkan berbincang apalagi bercanda dengan rekan, hingga tak menyadari apakah langkahnya telah memijak setiap anak tangga dengan benar.
Semua yang terpapar di atas, bersumber dari kisah nyata dan konkrit korbannya Dan yang tersebutkan terakhir, adalah penyebab utama dari sakit yang aku rasakan saat ini.
Awalnya aku tak begitu khawatir dengan luka dan kondisiku pasca ”tragedi anak tangga” malam itu. Aku pun masih menyempatkan turun ke lantai dasar untuk mengikuti rapat persiapan Hari Listrik Nasional bersama rekan – rekan lainnya. Nyeri dan ngilu, hanya itu yang aku rasakan. Namun seperti biasa, aku selalu berhasil menahan dan menyembunyikan semua itu dari mereka yang menurutku tidak berhak untuk tahu.
Di tengah rapat, aku mulai merasakan ada yang tak beres dengan daerah pergelangan kaki sebelah kananku. Aku tak bisa menemukan mata kakiku. Karna saat aku mencoba meraba bagian yang sakit, bentuk pergelangan dekat mata kaki benar – benar tidak wajar. Aku coba memastikan dengan sedikit membuka kaos kakiku. Dan ternyata benar, yang kutemui.... adalah pergelangan kaki kananku yang membengkak di bagian mata kakinya. Melihat bentuknya yang sama sekali di luar kewajaran, ketakutan dan kekhawatiran mulai menghampiriku. Selesai rapat, aku bergegas kembali ke kamar yang terletak di lantai 4. Sekali lagi kupaksakan kakiku untuk melangkah, karna saat itu aku merasa masih mampu berjalan, walau jelas nyeri yang terasa membuat langkahku sedikit melambat dan tertahan.
Sampai di kamar, aku mencoba untuk tenang dan bersikap normal. Tak ingin ku semakin memperburuk suasana dengan membuat kawan – kawanku gugup maupun bingung. Perlahan dan sambil tersenyum setenang mungkin aku mencoba sampaikan apa yang baru saja terjadi. Ketakutan dan kekhawatiran yang sedari tadi mencoba tuk aku hindari, tak ayal tetap terjadi. Kawan – kawan panik, melihat kondisi kakiku yang semakin memprihatinkan. Bengkaknya, sudah seperti ibu – ibu hamil 9 bulan menurut mereka.
Syukur Alhamdulillah.... Heni, yang baru saja sembuh dari sakitnya, ternyata masih punya sedikit sisa obat yang lalu.
Atas saran seorang rekan, aku juga sempat merendam kakiku dengan air hangat dicampur garam. Menurutnya, itu cukup bisa membantu meringankan luka lebam dan bengkak.
Malam itu, menjadi malam pertama bagiku absen dalam apel malam. Lebih – lebih ini karena sakit yang menurutku cukup memalukan, karena begitu memperlihatkan kecerobohan dan kelalaianku, yakni jatuh dari tangga...... :P
Yang lebih menyedihkan, aku jadi susah untuk melaksanakan sholat secara normal. Aku harus melaksanakannya dengan duduk, karena kakiku masih begitu sakit saat kucoba untuk sujud dan duduk bersimpuh.
Singkat cerita, seminggu lebih telah berlalu. Berbagai ikhtiar pun telah coba kulakukan. Terimakasih tuk seorang kakak yang baik hati -moga Allah meridhoi stiap langkahnya-, yang sudah meluangkan waktu untuk menemani mencari tukang urut terdekat. Kawan – kawan di asrama yang merelakan motornya untuk kutumpangi sementara, saat berangkat kuliah. Terakhir, sempat membawa kakiku untuk ”difoto”. Sedikit terbersit kekhawatiran, karena bengkak yang ada, tidak mengalami perkembangan secara signifikan. Alhamdulillah, hasilnya untuk organ dalam semua normal. Kesimpulan dari dokter, jaringan lunak yang mengalami kerusakan. Untuk pulih, memang membutuhkan waktu yang lumayan lama. Intinya, tetep harus sabar dan telaten.
Fiuuuh..... tak ada yang tahu bagaimana mentari terbit esok hari. Dan tentunya tak akan ada pula yang pernah bisa menerka, seperti apa hari – hari kita disuratkan. Mengeluh dan meratap memang fitrah kita sebagai hamba sumber segala kelemahan. Tapi buat apa dilakukan, jika itu hanya semakin memberatkan hati dan tak menyudahi masalah.
”Percaya dan yakin sajalah... bahwa di balik setiap kisah pasti terkandung hikmah.”
Tampilkan postingan dengan label hiks T_T. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiks T_T. Tampilkan semua postingan
Jumat, 31 Oktober 2008
Jumat, 16 November 2007
Air Mata T_T
Apa arti air mata untukmu sobat?
Ada yang mengidentikkannya, dengan sosok wanita. Karna air mata itu adalah lambang perasaan....lemah... cengeng... yang didominasi & dimiliki oleh kaum hawa.
Namun benarkah?
Lalu bagaimana dengan sosok lelaki yang sekali waktu kulihat mengalir air dari sudut matanya. Bukan lelaki lagikah ia? Cengengkah ia? Terlalu feminim kah ia?
Terlalu naif jika kita berstatement seperti itu. Karna air mata jika suatu bentuk ungkapan ekspresi jiwa seorang manusia. Tak peduli dia hadir dari golongan hawa maupun adam.
Tak sedikit yang mengatakan, bahwa air mata pula lah yang turut berperan menghapus keresahan & kesesakan hati yang terkadang tak mampu terungkapkan. Air mata juga... yang sering menjadi jawaban, tanda, simbol atau apalah namanya... dari suatu kebahagiaan atau rasa haru.
Jadi... bukanlah suatu dosa atau kesalahan besar.... jika seorang lelaki harus berair mata di suatu waktu. Karna fitrah semua manusia kan berakal dan berhati nurani, betul tidak?
Dan beruntunglah mereka... yang bisa berbagi rasa dengan air mata. Karna di luar sana, banyak juga pribadi - pribadi yang semakin terhimpit dan tersiksa oleh beban dalam jiwa mereka, yang nyatanya tak mampu & cukup terbagikan hanya dengan share/bercerita kepada sahabat... dinding kamar, buku2 bertitelkan diary...., atau objek2 lain yang bisa menjadi pelampiasan. Karna satu hal... mereka tak kuasa menangis.... mereka tak bisa mengekspresikan air mata......
Sang penceloteh di sinipun, sempat bergelar "makhluk tak berperasaan" dari beberapa kawan.
Satu alasan, karna sulitnya mata ini tuk sekedar meneteskan air mata (kecuali kelilipan... :p)
Bisa dibilang, dulu aku terlalu yakin dan sombong dengan kekuatan hatiku. Kesombongan yang kulakukan tuk menyerang statement2 mereka yang mengatakan bahwa wanita itu "lemah"... wanita itu "rapuh".. dan wanita itu "cengeng"... Kuhanya ingin membuktikan, bahwa wanita juga punya hak tuk mendapat gelar "hebat & kuat".
Namun lambat laun kusadar.... aku tak sepenuhnya benar.....
Kulihat ibuku... dia wanita, dan tak jarang kulihat dia menangis bahkan hanya karena hal sepele. Tapi.. tetap kupandang dia sebagai wanita hebat, bukan wanita cengeng atau lemah sekalipun sering kudapati air mata darinya.
Kuteliti sosok wanita2 lainnya... mereka memang sering menangis tuk ungkapkan rasa di hatinya... tapi sekali lagi... mereka sedikitpun tak terlihat lemah di mataku. Karna tak sedikit dari mereka adalah pejuang2 tangguh dalam kehidupan.
Ibu... wanita2 itu... dan "seseorang" yang unintended di kehidupanku, tlah membuatku sadar dari kesombonganku. Sekalipun aku berhasil menjadi sosok wanita yang "pelit" air mata hingga beberapa tahun lalu... aku sadar, itu bukan solusi dan jalan terbaik. Dan dengan berat hati kuinjak rasa gengsiku tuk katakan... "ternyata aku juga merasa lega setelah menangis...".
Jika ada yang mengatakan, hampir separuh beban yang dirasakan berkurang jika kita mau berbagi dengan orang lain, itu benar....
Dan untuk menghilangkan yang separuhnya lagi... bisa dengan menangis..... ;)
Finally.... siapapun kamu... berasal dri kaum hawa maupun adam... menangislah jika itu mampu membuatmu lebih tenang.... menangislah dengan sederhana, sekadarnya, & sepantasnya.... dan yang terpenting, jangan pernah jadikan air mata sebagai parameter "tangguh" tidaknya seorang manusia.... ^_^
*Gesti yang terus belajar......
Ada yang mengidentikkannya, dengan sosok wanita. Karna air mata itu adalah lambang perasaan....lemah... cengeng... yang didominasi & dimiliki oleh kaum hawa.
Namun benarkah?
Lalu bagaimana dengan sosok lelaki yang sekali waktu kulihat mengalir air dari sudut matanya. Bukan lelaki lagikah ia? Cengengkah ia? Terlalu feminim kah ia?
Terlalu naif jika kita berstatement seperti itu. Karna air mata jika suatu bentuk ungkapan ekspresi jiwa seorang manusia. Tak peduli dia hadir dari golongan hawa maupun adam.
Tak sedikit yang mengatakan, bahwa air mata pula lah yang turut berperan menghapus keresahan & kesesakan hati yang terkadang tak mampu terungkapkan. Air mata juga... yang sering menjadi jawaban, tanda, simbol atau apalah namanya... dari suatu kebahagiaan atau rasa haru.
Jadi... bukanlah suatu dosa atau kesalahan besar.... jika seorang lelaki harus berair mata di suatu waktu. Karna fitrah semua manusia kan berakal dan berhati nurani, betul tidak?
Dan beruntunglah mereka... yang bisa berbagi rasa dengan air mata. Karna di luar sana, banyak juga pribadi - pribadi yang semakin terhimpit dan tersiksa oleh beban dalam jiwa mereka, yang nyatanya tak mampu & cukup terbagikan hanya dengan share/bercerita kepada sahabat... dinding kamar, buku2 bertitelkan diary...., atau objek2 lain yang bisa menjadi pelampiasan. Karna satu hal... mereka tak kuasa menangis.... mereka tak bisa mengekspresikan air mata......
Sang penceloteh di sinipun, sempat bergelar "makhluk tak berperasaan" dari beberapa kawan.
Satu alasan, karna sulitnya mata ini tuk sekedar meneteskan air mata (kecuali kelilipan... :p)
Bisa dibilang, dulu aku terlalu yakin dan sombong dengan kekuatan hatiku. Kesombongan yang kulakukan tuk menyerang statement2 mereka yang mengatakan bahwa wanita itu "lemah"... wanita itu "rapuh".. dan wanita itu "cengeng"... Kuhanya ingin membuktikan, bahwa wanita juga punya hak tuk mendapat gelar "hebat & kuat".
Namun lambat laun kusadar.... aku tak sepenuhnya benar.....
Kulihat ibuku... dia wanita, dan tak jarang kulihat dia menangis bahkan hanya karena hal sepele. Tapi.. tetap kupandang dia sebagai wanita hebat, bukan wanita cengeng atau lemah sekalipun sering kudapati air mata darinya.
Kuteliti sosok wanita2 lainnya... mereka memang sering menangis tuk ungkapkan rasa di hatinya... tapi sekali lagi... mereka sedikitpun tak terlihat lemah di mataku. Karna tak sedikit dari mereka adalah pejuang2 tangguh dalam kehidupan.
Ibu... wanita2 itu... dan "seseorang" yang unintended di kehidupanku, tlah membuatku sadar dari kesombonganku. Sekalipun aku berhasil menjadi sosok wanita yang "pelit" air mata hingga beberapa tahun lalu... aku sadar, itu bukan solusi dan jalan terbaik. Dan dengan berat hati kuinjak rasa gengsiku tuk katakan... "ternyata aku juga merasa lega setelah menangis...".
Jika ada yang mengatakan, hampir separuh beban yang dirasakan berkurang jika kita mau berbagi dengan orang lain, itu benar....
Dan untuk menghilangkan yang separuhnya lagi... bisa dengan menangis..... ;)
Finally.... siapapun kamu... berasal dri kaum hawa maupun adam... menangislah jika itu mampu membuatmu lebih tenang.... menangislah dengan sederhana, sekadarnya, & sepantasnya.... dan yang terpenting, jangan pernah jadikan air mata sebagai parameter "tangguh" tidaknya seorang manusia.... ^_^
*Gesti yang terus belajar......
Langganan:
Postingan (Atom)