Kamis, 06 Desember 2007
Aku bikin berita..
Yaps! Kami dapet tugas bikin straight news.
Dan aku yang notabene bolos waktu materi Jenis2 Tulisan & Teknik Reportase hari Sabtu kmren, mau gak mau tetep kudu kumpulih tuh tugas!
Berbekal tanya kanan - kiri, depan belakang, tentunya tanpa malu2 atau basa - basi, tugas suci itu rampung juga! Alhamdulillah...
Dikasih info pagi, sorenya dah harus dikumpulin + dibahas! Padahal temen2 lain dapet waktu 2 hari! Huaaaa....... (Jangan salahin deh kalo aku ngangkat berita yang neko2! Hehehehe....)
Tapi tenang aja, aku gak bikin keributan atau kekisruhan hingga ada yang bisa dijadiin bahan kok! Cukup dengan muterin kampus di siang bolong ditemani "ega"ku sayang (lha dibatesin cuma sekitar kampus!), aku berusaha cari sesuatu yang bisa diliput. And..bingo! Kebetulan yang disiapin Tuhan dengan sangat cantik, waktu lewat depan PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa), ada rame2 di sana. Aku baru inget, ini kan hari pembukaan Pesta Buku Murah yang diadain FS UKI(Unit Kerohanian Islam), wah..bener2 makanan empuk! =p~
Gak pake pikir lama2 langsung aja "ega" kubelokkan memasuki gerbang PKM dan menuju tempat parkir.
Sampe dalem, banyak buku tentunya! Dan harganya murah, discount up to 70% lho!! Secara belum gajian waktu itu... cuma bisa nahan air liur (yg belum menetes tentunya!)
Ternyata selain bazar buku murah, banyak forum diskusi & talk show juga! Acaranya kan seminggu, mulai 4 - 9 Des' nanti!
Keliling2 seperlunya, trus ditambah tanya2 sama mbak2 panitianya, sambil tak lupa nyolong brosur sebanyak2nya, liputan amatir ala daku pun usai! :D
Sampe kantor, lupa deh kalo belon makan! Mentelengin monitor + maen2 ma "tikus" dan "saudaranya" kurang lebih 1,5 jam and........ eng..ing..eng.... jadilah berita dadakan yang nggilani plus ngisin2i! But tak apalah, namanya juga belajar! (pembelaan mode on)
Sore menjelang malam... evaluasi dimulai. Waaa... punya temen2 pada salah semua! Mereka kebanyakan ngangkat berita olahraga, tapi unsur2 penting dalam straight news terutama 5W + 1H, banyak yang tidak terpenuhi!
Hingga tibalah giliranku, kubacakan (masih dengan pede) di depan forum hasil karya dadakanku itu!5W + 1Hnya sih dah komplit, tapi kata petinggi2 ecpose, tulisanku terjebak sama advetorial & pengumuman. Trus beritanya gak fokus, sisi mana yang ingin diangkat. Kata BF (Bang Fandi) juga, tulisanku belum mengulas implikasi dari pembacanya. Yah.....salah deh........
Tapi gak papa, kesalahan kan gerbang awal menuju kesuksesan! ;)
Oh iya, yang terpenting lagi dari sebuah tulisan adalah news value nya! Ada 6 nilai berita yang kutahu : penting, besar, waktu, kedekatan, tenar, & human interest. Semakin terpenuhi news valuenya, semakin berbobot tuh berita!
Fiuuuuh... nulis tu ternyata sulit pisan euy........
*Gesti mah biasanya nulis sesuka "udel"nya. Asal keluar...asal terlontar! :p
Rabu, 05 Desember 2007
Namanya Anang...
Sosoknya mengingatkanku akan diri ini pada 7 - 8 tahun silam. Di mana usia itu adalah masa2 bahagia seorang anak kecil sepertiku. Berlari dan bergurau ke sana kemari, ditemani beraneka warna mainan! Tak ada susah dan tak ada gelisah...
Anang berbeda. Lelaki kecil bertubuh tambun itu, di usia dininya mau tak mau harus ikut mengecap pahitnya jalanan kota! Meminta serta memohon belas kasihan & rasa simpati dari orang - orang yang berlalu-lalang. Menjadi pengemis, bukan pilihannya! Ia terpaksa.... di kala kerjaan sebagai kuli angkut pasar tak mengijinkannya bergabung, selain karna tubuhnya yang masih terlalu kecil, dan orang - orang yang sudah jarang menggunakan jasa mereka. Saat menjadi loper koran pun, entah kenapa enggan ia lakukan...
"Takut mbak... jualan di pinggir jalan.. banyak motor...", ucapnya polos.
Anang adalah anak pertama dari 6 bersaudara. Berangkat dari keluarga yang serba pas - pasan bahkan mungkin teramat kekurangan, Anang hanya mampu bersekolah hingga kelas 5 SD. Ayahnya seorang buruh bangunan... dan ibunya menggeluti dunia yang saat ini dilakoni bersama Anang, putranya. Menjadi pengemis... dari jalan ke jalan, toko ke toko, pasar ke pasar..... sambil menggendong putra terkecilnya tuk meraih rasa iba.....
Dua orang adik Anang yang masih berkesempatan melanjutkan sekolah hingga saat ini, sedang 3 lainnya harus menjalani "lakon" yang sama.
Anang bisa kubilang adalah anak yang bertanggungjawab, karna saat kutanya kenapa memilih mengemis? Dia menjawab dengan jujur, "Untuk makan sekeluarga, hasil bapak sama emak gak cukup!"
Dan saat kembali kutanya apakah orang tuanya yang menyuruh? Dia dengan yakin dan tegas menjawab, "Tidak! Mereka ndak pernah nyuruh... tapi saya kasihan....."
Mungkin itu pula salah satu alasan, kenapa Anang hengkang dari statusnya sebagai seorang pelajar! Dan lebih memilih menyusuri jalanan bersama teriknya mentari, hanya untuk mengharapkan recehan koin dari mereka yang merasa kasihan.
Aku pribadi..adalah orang yang paling "pelit" dan anti ngasih uang sama pengemis2 kecil. Jiwa mereka yang masih sangat muda, tak sepantasnya dikenalkan pada kepasrahan dan kemalasan! Memberi sama artinya dengan mendidik! Itu menurutku! Semakin kita memberi mereka, semakin mereka merasakan nikmatnya meminta2 dan akhirnya kecanduan, parahnya hingga dewasa nanti tak ada kemauan untuk mencari kehidupan yang lebih baik!
Sungguh mengiris hati, seorang anak kecil yang seharusnya belajar di sekolah & menikmati waktunya bermain bersama anak2 seusianya, kulihat berkeliaran di sekitar kampus sambil menengadahkan tangan, apalagi kalo bukan untuk meminta uang!
Saat Anang mendekat dan berujar, "Mbak...njaluk duite mbak... (Mbak..minta uangnya mbak...)", sontak hatiku tergerak tuk mengenalnya lebih jauh. Bukannya memberi uang, aku justru mengajaknya berkenalan & ngobrol ngalor - ngidul.
Percakapan singkat kami, semakin mengingatkan, betapa beruntungnya aku.... yang siang2nya tak harus bergelut dengan sengatan mentari dan malam2nya yang penuh keresahan tentang makan apa esok hari. Aku jauuuuh lebih beruntung dari mereka, itu pasti!
me : "Anang gak kangen belajar sama maen bareng2 temen?"
he : "Yo kangen mbak... pengen...."
me : "Anang masih mau & pengen belajar lagi?"
he : "Mau...tapi nok endi (di mana)... yok opo carane (gimana caranya).... duite emak karo bapak gak mungkin cukup gawe sekolah meneh (uang bapak dan emak gak akan cukup buat sekolah lagi..)"
Ya Tuhan.... apa yang bisa kulakukan.....? Aku pun tak lebih dari anak muda nekat yang masih mencoba & belajar mencukupi kebutuhanku sendiri. Secara materi pun, aku tak mampu membantu mereka, aku bukan siapa2.....
"Hoi! Bapak2 ...ibu2...sodara2.... yang duduk di 'kursi2 empuk' di sana! Bagi sedikit dunk kenikmatan di meja makan kalian... hangatnya kasur dan selimut sutra kalian... minimal senyum & perhatian kalian untuk mereka....
Apa iya...bisa makan kenyang, sedang ada yang merintih kelaparan...
Apa yakin bisa tidur nyenyak, sementara tubuh2 mereka menggigil kedinginan...."
(buktinya emang bisa kok! -_-)
Mungkin benar... aku salah berceloteh gak jelas di sini! Tapi aku pun sadar... aku tak mampu berbuat apapun selain memberikan doa yang terbaik bagi mereka....
Arrrrrgggghhhh........!!!! What should i do???!!!
"Anang...maaf ya... aku hanya bisa mendoakanmu....semoga roda pedati itu segera berputar! Dan semoga keadilan suatu saat nanti benar - benar bisa 'alergi' sama materi! Tapi tetep berusaha ya... karna pintu tak kan pernah terbuka, jika kita tak pernah mencoba mendorongnya...."
Selasa, 04 Desember 2007
Inilah hidup sobat.....

Hidup memang akan terus sesak dengan pilihan dan pilihan.... Dan dari setiap pilihan itu pula, kan lahir keputusan - keputusan baru yang "berboncengkan" resiko!
Haruskah kita memilih?
Ya! Jawabnya Harus!
Keterpurukan dalam luka dan tangis.... atau keindahan dalam senyum & damainya hati.... itu hanya soal waktu. Pada saatnya nanti pun, keduanya kan saling menggantikan. Tak perlu takut... tak perlu risau..... ataupun resah...... karna inilah hidup.....
Menyakiti atau tersakiti...
Membahagiakan atau dibahagiakan......
Jagostu - Mau Tak Mau
apa yang bisa aku lakukan
Em
jika ia memilih untuk tak tinggal
Dm Am
dan semua terus berjalan
F
getirnya harus tetap kutelan
Em
dan aku sakit harus tetap bertahan
Dm Am
dan semua terus berjalan
F Dm Am 2x
Am F
mau tak mau kuharus
G C Em
melanjutkan yang tersisa
Am D7
meski semua telah berbeda
F G C
dan tak akan pernah ada yang sama
[int] F Dm Am 2x
F
aku bisa memeluknya
Em
tetapi tidak hatinya
Dm Am
ooo... menyakitkan
F
semua telah dengar
Em
segenap hati kumerindunya
Dm
tapi hatinya telah pergi dan
Am G
telah lama mati
Am F
semoga angin berhembus
G C Em
membawakan mimpi baru
Am D7
meski ku tau takkan pernah ada
F G C
yang sanggup mengganti keindahannya
[ending] F Dm Am
4 someone, tak ada "keindahan duniawi" yang kekal & tak bisa tergantikan. Angin pasti berhembus tuk bawa mimpi baru. Hanya Allah...Rabbi.... yang rencana-Nya terpercaya dan akan slalu indah.....
maaf & terimakasih.......
Senin, 03 Desember 2007
01-02 Des'07
Kemaren habis dari Malang.....
Seneng euy....terobati rinduku pada kota nan penuh kenangan itu.....
Saking senengnya... sampek gak bisa dcritain..... :p
Malang... kok aku wes kangen lagi..... T.T
*Sedihnya... 2 hari terpaksa ninggalin kegiatan ECPOSE, mana pas jadwalnya tentang Jenis2 Tulisan & teknik reportase! Hiks....
Yang pasti juga..resume menantiku...... >.>
Jumat, 30 November 2007
Selayang Pandang Persma
Begitulah Mbak Agnes PB Ginting (salah seorang pegiat Ecpose) mengawali pertemuan kedua kami tadi malam. Dengan gayanya yang kalem namun tetap berwibawa (i like the way she speak and describe something!), beliau mengantarkan kami untuk mengenal pers yang sesungguhnya. Dunia pers, yang mungkin masih luput dari pemahaman kami.
Berbagai pendapat mengalir dari pemikiran - pemikiran awam kami, mulai dari wadah aspirasi hingga komunitas dalam pemberitaan. Namun pada intinya, pers selalu melakukan / memfokuskan kegiatannya pada 3 hal, yakni mencari, memproses, dan memberitakan! Suasana mulai sedikit memanas, ketika Mbak Agnes mulai memunculkan suatu permasalahan tentang, benarkah tak ada tendensi / maksud terselubung dalam dunia pemberitaan? Apakah benar, pers murni melakukan 3 hal di atas tadi, tanpa ada maksud lain yang ingin diraih.
Kita bisa berkaca pada beberapa harian atau media massa yang kita kenal seperti Kompas, JawaPos, Republika, dll. atau biasa kita menyebutnya sebagai pers umum. Tentunya dalam sistem yang menganut managerial yang lebih kompleks seperti perusahaan2 tersebut, ada unsur / faktor lain yang melatarbelakangi & ingin dicapai dalam suatu pemberitaan.
Perusahaan bisa berdiri juga pasti karena adanya modal yang ditanamkan, dan tentunya ada tujuan & target khusus bagaimana agar kesejahteraan si penanam modal plus sumber daya (karyawan) terpenuhi. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menaikkan oplah, bagaimana? Yakni dengan memuat berita2 yang "hot" dan diburu massa, berita2 boombastis di eranya, sekalipun sebenarnya masih ada & banyak informasi lain yang lebih berkualitas untuk diangkat ke permukaan. Inilah salah satu "maksud" lain yang ingin diraih dalam pemberitaan. Ingin mengejar keuntungan ekonomi!
Faktor politik, ternyata juga melatarbelakangi lho! Terlebih dalam musim2 "pilah - pilih", beberapa relasi politik turut menggunakan media sebagai jembatan atau alat publikasi & promosi pada massa. Karna untuk promosi, tentunya media dianjurkan memuat segala sesuatu yang sifatnya bisa menarik simpati massa, tak kan ditemukan sedikitpun kelemahan & kritikan dari "yang diberitakan".
Nah, dari sini bisa kita telaah, lalu bagaimana suatu informasi bisa diberitakan dengan benar2 obyektif? Jika pers umum sendiri, mau tak mau tetap memiliki maksud dan tujuan lain di dalamnya.
Berarti.... dibutuhkan suatu wadah, di mana di dalamnya belum terkontaminasi oleh kepentingan - kepentingan politik, ekonomi, dan sosial! Wadah yang bisa melihat "sesuatu" dengan lebih obyektif! Dan itulah pers mahasiswa. Pers alternatif yang menjadi kontrol dari pers umum. Pers yang sekilas memang selalu mencari kelemahan & kesalahan pers umum, namun itu semua tak lebih dari upaya kritisasi yang membangun, meluruskan, dan membenarkan! Pers mahasiswalah yang diharapkan, dengan pemikiran - pemikiran kritis dan obyektifnya, dapat menjadi jembatan & pemicu solusi dari masalah yang diangkat.
ECPOSE sendiri, adalah salah satu persma dari ratusan bahkan mungkin ribuan persma yang ada di negeri ini. Dan sebagai wadah aspirasi, sekalipun mustahil untuk menampung dan menyalurkan semua aspirasi mahasiswa maupun masyarakat melalui medianya, ECPOSE tetap berusaha menjadi jembatan yang eksis & selalu obyektif dalam mengupas permasalahan yang ada.
Itulah sedikit tentang persma, yang bisa aku bagi di sini. Sekalipun semalam harus ijin keluar duluan dari forum karna ada kuliah (nasib jadi anak non reguler.....), setidaknya aku sudah mengenal sedikit tentang dunia pers itu.
SALAM PERSMA!!!!
"Jika saya harus memilih antara, pers tanpa pemerintah atau pemerintah tanpa pers, maka saya akan lebih memilih pers tanpa pemerintah!"
Thomas Jefferson,
Kamis, 29 November 2007
ECPOSE vs Me
Bagi yang belum kenal ECPOSE, ia adalah salah satu UKM di fakultasku, Ekonomi Universitas Jember. Unit kegiatan mahasiswa yang konsentrasinya di bidang jurnalistik ini, sejak awal sudah mencuri perhatian dan minatku. Kesibukan dan rutinitas yang padat, memang sempat berkelebat dan menghantui di langkah awal. Bayangan pagi hingga sore cari duit, dilanjut malam kuliah (Fyi, aku kan anak ekstensi alias Non reguler) memang membuatku ragu untuk tetap terus, atau balik kanan! Tapi... tak ada yang pernah tahu jika kita belum mencoba & membuktikan bukan? Dan bukankah waktu akan lebih bermakna & barokah, jika kita mengisinya dengan hal2 yang bermakna pula? Ini tantangan baru buatku!
Hampir setahun bergelut bersama para jurnalis, sedikit banyak membuatku bernostalgi dengan kenangan dan hobi di masa kecil yang sempat kutinggalkan saat masa rantauku. Hobi dan kegemaranku berceloteh pada diri sendiri lewat kertas - kertas lusuh yang berakhir di tempat sampah.
Surabaya Post, cukup membuatku mengenal & sedikit memahami dunia "tinta" dan broadcasting. Sekalipun di sana, aku tidak bergumul langsung dengan para wartawan, fotografer, editor, redaktur, maupun staf redaksi lainnya, namun kesibukan & cara bekerja mereka yang kucuri & kupelajari diam - diam. Perlahan namun pasti, rasa cinta itu lahir, tumbuh dan akhirnya berkembang. Basic pendidikanku yang teknik, memang seakan jauh dari "cinta" yang kurasakan ini, tapi aku mencoba memandangnya dari sudut yang berbeda. Jurnalistik tentunya & harusnya bisa masuk ke dunia atau basic apapun! Karena menurutku, jurnalistik adalah dasar dari dasar itu sendiri.
Hal inilah yang membuatku manteb dan bertekad saat itu, "aku ingin nulis lagi....."
Dasarnya masih amatir, karya2 tintaku tak lebih dari diary... keluhan sampah..puisi2 murahan.. yang kunikmati, kupuji dan kuhina sendiri. Tak pernah atau mungkin lebih tepatnya belum pernah, aku mencoba membawa "rangkaian kata2" ku ini, agar bisa dilihat, dibaca, & dikenal orang! Entah malu, takut, atau memang tak ada waktu & suasana yang pas untuk melakukan itu. Media2 gratis seperti blog inilah, yang akhirnya menjadi tempat pelampiasanku. Di sini, ada beberapa yang lihat & baca si emang... tapi tetap saja... apa yang mereka nikmati masih berputar tentang diriku. Aku masih ingin, apa yang kutulis... kutuang..dan kukaryakan..bisa memberikan sesuatu yang indah & bermanfaat, terutama bagi orang lain.
Mungkin benar, apa yang beberapa sahabat sarankan untukku. Harus ada satu jembatan, rel, dan parameter yang jelas... agar "kecerewetanku" ini terkendali & tidak mubadzir. Aku butuh wadah di mana aku bisa terus belajar & saling berbagi bersama rekan2 seperjuangan lainnya. Dan mungkin..... insyaAlloh.... serta semoga..... ECPOSE adalah pilihanku yang tepat!
Oh iya, sedikit mereview perkenalan sekilas bersama para pengurus & anggota ECPOSE kemaren, ada berbagai macam karakter yang kutemui. Mulai dari yang adem ayem anteng berwibawa, hingga yang njedhal - njedhul gak jelas! :p Buat yang pengen tahu, ikutin terus update kisah ini, karna perjalananku sebagai anggota magang, masih baru dimulai! Dan pastinya akan lebih banyak cerita + ilmu yang kudapatkan dan insyaAlloh bisa kubagikan, selama perjalananku nanti. Doakan sukses ya... ^_^
*Oh..semoga "trouble" bersahabat denganku beberapa bulan ke depan..... >.>
Senin, 26 November 2007
Uang..uang....
Hanya bisa bertanya dalam hati, apa yang mereka lakukan di bawah sana....
Tak lama berselang, datanglah sebuah mobil pick up yang biasa angkut motor hasil curian, penuh dengan anak - anak SD. Yang kalo boleh kunilai dari penampilannya, mereka adalah murid - murid SD pinggiran. Dan yang membuatku semakin bertanya - tanya, gerombolan anak - anak tadi, ikut bergabung bersama gerombolan orang - orang dewasa lain yang lebih dulu hadir sebelum mereka. Sepertinya mereka saling kenal, karena beberapa anak saling panggil & beberapa juga cium tangan.
Tak kupindah posisi berdiriku sambil terus memantau mereka dari beranda atas. Hingga kudengar beberapa anak muda yang terlihat seperti aktivis, mulai berbicara melalui pengeras suara.
"Adek2...bapak2..ibu2.. mari kita berbaris dengan rapi....sambil mengantarkan Mas Sudarno ke Kejaksaan Agung!" Kurang lebih itu yang ia ucapkan, diikuti dengan anak - anak SD dan beberapa orang dewasa yang mulai membentuk barisan.
Beberapa anak muda lain yang sepertinya aktivis tadi, juga terlihat mulai membagi - bagikan poster - poster dan kertas berisi tulisan yang besar - besar.
"HUKUM DIBELI DEMOKRASI TELAH MATI" , "APA BEDANYA KEJAGUNG SAMA KORUPTOR?" , "JUAL BELI HUKUM KAYAK JUAL BELI KRUPUK" ......
dan masih banyak kata - kata lain yang bernada sama, yakni protes tentang mudah dan murahnya hukum saat ini!
Ternyata gerombolan yang membuatku penasaran dan tak beranjak dari posisiku itu sedang melakukan prosesi yang biasa orang sebut - sebut sebagai demo! Dan aku sama sekali tak tahu, siapa "Mas Sudarno" yang selalu di sebut - sebut dalam tiap orasi anak - anak muda tadi!
Hingga akhirnya, barisan itupun mulai berjalan perlahan.... diiringi rasa miris di hatiku....
Karna baru kusadari, di barisan paling belakang, ada segolongan orang - orang (dari penampilannya terlihat jelas mereka orang kampung) yang telah berumur cukup alias berusia senja, dan aku menyangsikan... apa mereka benar - benar tahu & paham dengan apa yang mereka lakukan sekarang. Tak menutup kemungkinan, lelaki - lelaki tua itu... anak - anak SD yang seharusnya masih belajar & bersekolah di jam - jam itu, hanya dijadikan alat peramai atau penarik simpati dengan imbalan beberapa lembar kertas saja.
Jika mereka mendemokan tentang hukum yang bisa dibeli dengan uang.... hati kecilku berorasi tentang.... suara - suara yang juga dengan murahnya diperjual belikan! Ironis lagi, itu justru dihadirkan dari kalangan mereka yang awam.
*Semua kok bisa di "uangkan" ya sekarang ???